Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Damar.


__ADS_3

 “Dita,” panggil Dewa.


“Iya kak,” sahut Dita sambil mengangkat wajahnya. “Ada apa kak?”


“Kita jalankan rencana Sascha. Setelah ini kamu harus keluar dari dunia entertainment. Ini sangat gawat sekali. Kamu harus ikut kami,” pinta Dewa.


“Bukankah Pak Herman bisa menangani kasus ini?” tanya Sascha.


“Aku tidak bisa memakai dia pasti. Aku harus mengambil tindakan terhadap adikku,” jawab Dewa dengan tegas.


“Memangnya apa masalahnya apa?” tanya Sascha yang mulai curiga.


“Apakah kamu tahu kalau Pak Herman sepertinya menyembunyikan sesuatu?” tanya Dewa balik.


“Maksud kakak apaan sih? Kok aku bingung? Bukannya kemarin masalah Dita selesai ditangani oleh Pak Herman?” tanya Sascha yang tidak paham dengan Dewa.


“Pak Herman menyembunyikan sesuatu. Aku yakin Pak Herman  bekerja sama dengan Lita,” jawab Dewa.


Sascha mencoba menganalisis keadaan dan melihat wajah Dewa yang berubah serius, “Oh... iya... aku ingat pas waktu Pak Herman mengatakan kalau ancaman dan pemerasan tidak bisa dipidanakan. Ini sangat aneh sekali.”


“Itu benar. Di sinilah aku mulai curiga dengan Pak Herman,” ucap Dewa.


“Padahal ada undang-undangnya,” sahut Dita.


“Aku sudah menyuruh orang untuk mengikutinya,” ujar Dewa.


“Jadi, Nasibnya Dita bagaimana?” tanya Sascha.


“Pokoknya harus ikut dengan kami,” jawab Dewa.


“Baiklah. Aku ikut dengan kalian. Ini juga demi kebaikanku. Jujur aku baru merasakan mentalku down seperti ini,” ucap Dita yang menunduk.


“Aku tahu itu. Mereka sengaja membuat mental kamu down seperti itu. Lita memang sengaja Putri yang disembunyikan oleh Cathy untuk menyerang kamu. Dia memang memiliki akal licik yang tidak bisa terbaca,” beber Sascha setelah membaca informasi dari Cathy.


“Sebentar... aku boleh tanya,” sela Dewa yang memandang wajah Sascha.


“Apa itu?” tanya Sascha yang mengangkat wajahnya.


“Berapa anaknya Cathy sebenarnya?” tanya Dewa yang mulai ingin tahu.


“Dua,” jawab Sascha. “Mereka adalah Lita dan Livi. Sebenarnya mereka kembar. Tapi enggak tahu kenapa mereka terpisah.”


“Oh... aneh,” celetuk Dewa.


“Ya... memang sangat aneh sekali,” ucap Sascha.


“Lalu, bagaimana dengan jadwal syutingku ini?” tanya Dita sambil menatap wajah Dewa.


“Hmmp... apakah ada scene yang penting?” tanya Dewa.


“Ada,” jawab Dita.

__ADS_1


“Lebih baik aku ikut denganku. Aku yang menjagamu dari mereka,” seru Sascha yang mendapatkan izin dari Dewa.


“Pergilah kalian!” usir Dewa sambil beranjak berdiri.


“Kok kakak mengusirku?’ tanya Dita.


“Aku mau tidur sendiri. Besok pagi kamu harus mengembalikan kakakmu itu dengan utuh,” jawab Dewa dengan tegas.


Mata Dita membulat sempurna. Bagaimana bisa ia mengambil Sascha dari sisi sang kakak? Dita ingin protes ke Dewa. Namun Dewa terlebih dulu kabur.


“Apakah kakak betah tinggal bersama kakakku yang sangat keras kepala?” tanya Dita.


“Memangnya kamu kenapa? Hampir tiap hari kalian selalu berantem. Jujur aku sangat pusing sekali mendengar kalian berantem,” keluh Sascha.


Dita menahan tawanya sambil menatap wajah Sascha. Sascha hanya menggelengkan kepalanya menatap wajah Dita. Kemudian Sascha berdiri dan bersiap-siap untuk berdiri.


“Ayo kita pergi,” jawab Sascha. “Sebelum Kak Dewa bangun dan memenjarakanku di kamar.”


“Baiklah,” balas Dita yang mengambil tasnya.


Mereka akhirnya pergi meninggalkan apartemen itu. Di dalam perjalanan menuju ke lokasi syuting, ada sebuah mobil berwarna hitam mengikuti mereka. Dita tidak sengaja melihat mobil itu melalui kaca spion. Dita menatap wajah Sascha sambil merasakan tubuhnya bergetar.


“Kakak,” panggil Dita.


“Ada apa?’ tanya Sascha.


“Ada yang mengikuti kita,” jawab Dita yang mulai pucat.


“Aku tahu itu,” ucap Sascha. “Sepanjang perjalanan ke Tokyo hingga ke New York aku selalu diikuti. Aku sendiri bingung apa yang dilakukan oleh orang itu.”


Sascha sungguh kesal jika hidupnya ada yang mengikuti seperti ini. Mau tidak mau Sascha harus memancingnya untuk keluar. Ia sudah muak dengan semua ini.


“Aku harus melawannya!” geram Sascha.


“Ini bahaya sekali,” ucap Dita.


“Tapi mau bagaimana lagi? Jika aku tidak mendapatkan orang itu Orang itu akan mengejarku hingga ke ujung neraka sekalipun,” kesal Sascha.


“Jadi bagaimana kakak?” tanya Dita.


“Masa kamu takut sama mereka. Kamu adalah seorang putri dari Mama Tarra. Yang dimana mana Tarra adalah seorang ketua mafia Black Tiger. Kamu enggak boleh takut itu,” sahut Sascha.


“Aku enggak takut dengan itu semuanya. Tapi mentalku yang tidak kuat menghadapi semua ini,” jelas Dita.


“Ya... aku paham itu. Apakah kamu masih trauma dengan peristiwa itu? Yang dimana Santi telah menyakitimu,” tanya Sascha.


“Itu benar Kak,” jawab Dita. “Aku takut. Aku masih trauma dengan masalah itu.”


“Ya... aku paham. Sepertinya kita harus mencari solusi. Agar rasa trauma itu menghilang,” saran Sascha yang peduli dengan Dita.


“Aku harus bagaimana kak?’ tanya Dita.

__ADS_1


“Kamu harus pergi ke psikolog. Nanti mereka akan memberikan banyak tips untuk menghilangkan rasa taruna itu,” jelas Sascha.


“Bagaimana caranya aku harus pergi mencari psikolog?” tanya Dita.


“Tenanglah,” jawab Sascha. “Jangan terlalu terburu-buru seperti ini. Cepat atau lambat kamu akan menemukan seorang psikolog yang bagus di New York. Sekarang selesaikan syuting kamu itu.”


“Baiklah,” balas Dita.


Sesampainya di tempat syuting. Dita melihat Sascha sambil berpamitan lalu keluar dari mobil. Sementara Sascha sendiri memilih untuk berada di dalam mobil. Ia masih melihat pergerakan dari mobil itu.


Saat Sascha sedang silent, mobil itu terlihat masih berada di sana. Sascha tidak melihat orang yang keluar dari dalam mobil tersebut. Sascha menjadi kesal lalu menancapkan gasnya. Ia sengaja memancing orang itu untuk pergi ke suatu tempat.


Namun sebelum menancapkan gasnya, Sascha meminta Almond dan Marty mengikutinya. Mereka berada di dalam mobil yang berbeda, Lalu mereka sengaja berjalan menutup akses mobil itu. Jadi posisi mobil itu berada di tengah.


Sascha sudah melesat jauh hingga ke tempat sepi. Wanita berparas cantik itu mengambil sebuah pistol di dalam dashboard. Ia tidak akan lupa dengan pesan dari Dewa. Agar selalu mengingat ke arah dashboard ketika dalam bahaya.


Setelah mengambil pistol itu, Sascha menyembunyikan pistol itu di belakang sepunggungnya. Untung saja Sascha memakai jas berwarna coklat.


“Aku tidak akan membiarkan kamu lolos dari genggamanku. Aku akan menyelesaikan masalah ini!” geram Sascha yang tidak akan melepaskan sang pengintai.


Sascha akhirnya keluar dari mobil. Ia langsung mendekati mobil sport berwarna hitam. Kemudian Sascha mendekatinya dan menggebrak mobil itu sambil berteriak, “Keluar kamu!”


Tanpa disadari oleh Sascha, Dewa berhenti di belakang mobil Marty. Ia keluar sambil menatap wajah Sascha yang sudah berubah menjadi marah. Tidak sengaja Dewa mengukur kadar amarah milik Sascha. Ia langsung menelan salivanya dengan susah payah.


“Waduh... si rubah kecilku,” ucap Dewa yang mulai ketakutan.


Pria yang berada di dalam mobil itu langsung keluar. Lalu Pria itu keluar sambil menatap Sascha, “Hello Sascha!”


“Kamu siapa?’ tanya Sascha.


“Aku Damar! Suami Ari Cathy. Aku mengejarmu hanya ingin mengatakan sesuatu,” jawab Damar nama pria itu.


“Sesuatu apa?” tanya Sascha sambil mengaktifkan tanda alarm dalam bahaya.


“Aku ke sini hanya untuk meminta kamu untuk melepaskan Khans Company,” jawab Damar.


“Oh... hanya itu,” ejek Sascha.


“Iya... hanya itu,” ujar Damar yang meminta Sascha melepaskan Khans Company.


“Sekarang aku tanya sama kamu! Apa hubungan kamu dengan Khans Company?” tanya Sascha yang memiliki keberanian.


“Karena Khans Company milikku sekarang,” jawab Damar.


“Janganlah kamu bermimpi terlalu tinggi. Yang berhak memiliki Khans Company adalah keturunan dari keluarga Khans. Paman kamu memiliki darah Khans yang mengalir dari dalam tubuhmu?” tanya Sascha yang mulai menatap tajam ke arah Damar.


Seketika Damar tercekat dan tidak bisa menjawab. Ia adalah seorang pria berasal dari Asia, Ia juga tidak memiliki darah Khans Company. Ia adalah seorang karyawan yang memiliki ambisi untuk menguasai Khans Company. 


“Damar,” panggil Sascha. “Jangan pernah bermimpi tinggi. Aku hanya memperingatkan kamu. Jika kamu bermimpi tinggi. Kamu akan jatuh dan sakit.”


“Apa yang kamu bilang?” tanya Damar yang tidak terima

__ADS_1


“Aku hanya bilang sesuai dengan kenyataan. Kamu jangan bermimpi terlalu jauh. Jika kamu sakit... Kamu akan jatuh kesakitan,” jawab Sascha tersenyum sinis.


“Kamu!” bentak Damar.


__ADS_2