Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PERGI KEMANA?


__ADS_3

"Keluarga si korban telah diancam oleh Jackie. Jika lapor polisi, Jackie membunuhnya," jelas Leo.


'Agen mata-mata berkedok sebagai mafia yang menjual organ tubuh manusia. Aku sangka agen mata-mata itu hanya menjual para gadis saja," ucap Bima sambil tersenyum. "Seketika jiwa playboy aku keluar."


"Astaga... Kak Bima?" pekik Sascha.


"Hmmp... memang begitu jiwa psikopatnya Bima muncul jika mendengar banyak perempuan," jawab Ian.


"Oh.. ya... sepertinya kamu harus membunuh itu Daffa," suruh Ian ke Bima.


"Oh ya dokter yang paman kirimkan untuk menangani aku siapa? Apakah jangan-jangan mafia?" tanya Dewa.


"Bukan. Mereka bukan mafia," jawab Kobe. "Dia temanku. Negara Jepang setiap tahun mengadakan tukar pelajar. Aku mendapatkan bagian pergi ke Amerika. Nah disinilah mereka mengenalku."


"Hmmmmp," sahut Dewa.


"Tapi apakah mereka tahu kalau kamu adalah seorang mafia?" tanya Devan.


"Mereka tidak tahu siapa aku. Setelah selesai pertukaran pelajar. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah," jawab Kobe.


Mereka akhirnya paham dengan apa yang dikatakan oleh Kobe. Mereka langsung berdiskusi tentang masalah ini. Mereka memutuskan untuk merubah rencana. Alhasil Dewa memutuskan menjalankan rencana Kobe. Yang dimana Dewa akan memalsukan kematiannya.


"Sascha akan memakai beberapa pengawal yang sudah disediakan oleh kakek. Kakek sudah mengirimnya siang ini juga dengan beberapa macam skill yang ada," jelas Kobe.


"Aku keberatan!" seru Dewa yang menahan perihnya di tubuh.

__ADS_1


"Kenapa keberatan? Bukannya hal ini sangat bagus buat kita?" tanya Gerre.


"Kenapa harus kakek turun tangan?" tanya Dewa.


"Karena kakek memang sayang kalian," jawab Tara.


"Kenapa kakek meminjamkan pengawalnya untuk kita?" tanya Dewa.


"Kakek tahu kalau musuh kita bukan musuh sembarangan," jawab Tara. "Sudahlah jangan katakan kamu menolaknya. Percuma kamu mengatakan seperti itu."


"Aku memang menolaknya. Tapi kenapa kakek harus turun tangan meminjamkan pasukannya? Sedangkan kakek mengetahui Black Tiger terancam bahaya. Apakah kamu enggak tahu kalau kakek menyusupkan beberapa mata-matanya yang masuk ke dalam Black Tiger? Jika ada masalah, mereka akan turun tangan," ucap Kobe.


Dewa menganggukan kepalanya. Ia sekarang paham apa yang dilakukan sang kakek. ia tidak menyangka sebegitu sayangnya Kakek Aoyama kepada dirinya.


"Hmmmp... aku paham. Terima kasih kakek," ucap Dewa.


"Baiklah. Kita jalankan rencana. Sascha akan beristirahat seminggu di markas sini," jawab Dewa.


"Bukannya besok?" tanya Ian.


"Kamu ini sangat aneh sekali. Bukannya besok itu hari berduka tentang kematianku! Kalian payah sekali," jawab Dewa.


"Ya... aku mengerti dan paham semua ini," jelas Bima.


Mereka menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis. Malam itu juga mereka bubar dari tempatnya. Dewa yang melihat mereka ubar berubah menjadi sendu. Sascha menoleh dan tidak sengaja melihat kesedihannya Dewa.

__ADS_1


"Maafkan aku!" ucap Sascha yang menyesal. "Seharusnya aku tidak meninggalkan kamu di lobby."


"Enggak jadi masalah. Semuanya ini musibah. Lalu saat kamu datang. Aku sengaja memakai hati untuk mengajak kamu ke UGD. Agar kamu bisa menyelamatkanku," jelas Dewa.


"Makanya sedari tadi perasaanku enggak enak," ucap Sascha sembari memegang tangan kekar Dewa.


"Karena perasaan kita menyatu menjadi satu," ujar Dewa.


Tak lama ponsel Dewa berdering. Ia menatap wajah Sascha sembari tersenyum, "Yang... angkatin dong!"


Sascha tersenyum manis sambil menatap wajah Dewa. Ia segera meraih ponsel itu dan menatap nama yang tertera di layar.


"Tadi Kak Timothy enggak datang ya?" tanya Sascha.


"Enggak. Timothy memang berada di kantor," jawab Dewa. "Aku menyuruhnya disana hingga masalah si nenek sihir itu telah selesai."


Sascha segera mengangkatnya dan menunggu Timothy berbicara. Hanya beberapa detik kemudian Timothy mengatakan kalau sistem keamanan DT Groups dijebol sama seseorang. Timothy menyuruh Tim Kobra segera beraksi.


Sascha segera mematikan ponsel itu dan menatap wajah Dewa. Tatapan tersebut ternyata sulit diartikan dan wajahnya mulai berubah sangat aneh sekali.


Dewa yang mengetahui akan hal itu langsung menganggukan paham dan mengerti ada masalah.


"Masalah besar," ucap Dewa.


"Aku pergi dulu ya. Mumpung ada bang Kobe," sahut Sascha.

__ADS_1


"Pergi kemana?" tanya Dewa.


__ADS_2