
"Mau pergi ke kantor. Sistem keamanan dijebol sama seseorang. Aku akan mengaktifkan tim Kobra tanpa Kak Choi," jawab Sascha.
Dewa menganggukan kepalanya dan membiarkan Sascha pergi. Ketika melangkahkan kakinya Sascha tersenyum manis sambil menatap Dewa.
"Semangat ya!" seru Dewa.
Sascha menganggukan kepalanya. Ia akan berusaha menghabisi satu persatu musuh-musuhnya. Ia sudah geram dengan ancaman dmi ancaman yang lainnya.
Saat keluar dari kamar, Kobe segera memberikan jubah hitam. Sascha yang meraihnya menjadi bingung.
"Sudah saatnya kamu bangkit. Malam ini hingga beberapa malam ke depan aku akan mendampingi kamu menghabisi musuh yang sedang berkeliaran dimana-mana," ucap Kobe.
"Apakh aku harus membunuh?" tanya Sascha.
"Menangkap mereka satu persatu dan membawanya kesini!" titah Kobe.
"Hmmp.. apakah Kak Dewa tahu?" tanya Sascha.
"Tahu. Kamu tenang saja. Seandainya Dewa tida terbaring saat ini. Dewa akan bergabung dengan kita," jawab Kobe.
Ceklek.
Pintu tebuka.
__ADS_1
Dewa berjalan lalu menghampiri mereka berdua. Ia menatap Sascha sembari memasang wajah tegas dan sulit diartikan. Sudah seharusnya ia merubah wajah lembut di hadapan Sascha menjadi wajah mafia.
"Ayo kita berangkat!" ucap Dewa. "Rubah kecil. Jangan pernah membawa ponsel! Taruh saja ponsel itu di kamar!"
Sascha menuruti keinginan Dewa. Ia segera menaruh ponsel itu dan keluar dari kamar. Setelah itu Kobe membawa mereka pergi ke jalan rahasia.
"Kita kemana?" tanya Sascha.
"Jangan banyak bicara.Teruskan langkah kamu dan jangan menyerah," jawab Dewa yang sembari memberikan nasehat.
Sascha memilih untuk diam dan ikut dengannya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya. Ia sengaja membiarkan Kobe dan Dewa membawanya.
Tak lama Kobe berhenti dan menempelkan tangannya sambil menunggu beberapa saat kemudian dinding yang sudah disentuh oleh Kobe terbuka. Lalu mereka masuk dan pintu itu tertutup kembali.
"Ruang apa ini?" tanya Sascha dalam hati.
"Lalu, kenapa Kak Dewa bia jalan?" tanya Sascha.
"Kakiku sebenarnya tidak apa-apa. Kakiku baik-baik saja. Aku sengaja mengatakan ini demi menarik perhatian Tuan Devan. Nyatanya Tuan Devan tidak memperdulikan aku," jawab Dewa dengan kesal.
Kobe hanya bisa menahan tawanya. Ia sekilas menatap wajah Dewa yang tiba-tiba saja berubah menjadi konyol.
"Lagian kamu ada-ada saja. Dokter yang aku panggil semuanya sudah berkompeten di bidangnya masing-masing. Jadi kamu langsung ditangani tanpa harus menunggu. Di sisi lain mereka adalah anggota dari Klan Nakata. Tuh kakimu langsung sembuh dengan sentuhan jari tangan langsung sembuh," jelas Kobe.
__ADS_1
"Apakah kamu serius?" tanya Dewa. "Berarti tadi kamu berbohong?"
"Dengan terpaksa aku berbohong. Mereka juga berada disini dan menunggu perintahku," jawab Kobe.
"Apakah mereka tidak berdinas?" tanya Sascha.
"Untuk saat ini enggak. Mereka sengaja aku panggil untuk menangani kamu untuk sementara waktu," jelas Kobe. "Namun nyatanya kamu berhasil sembuh dari perkiraan aku."
"Ambil ponsel baru di lemari kaca itu," suruh Dewa sembari menatap wajah Sascha.
Sascha melihat lemari kaca dengan mata membulat sempurna. Banyak sekali ponsel yang berlogo apel digigit keluaran baru disana. Ia segera mengambil kotak itu dan membukanya.
"Ponsel itu keluaran terbaru. Aku sengaja menyetok satu persatu dan membiarkan terpasang disana. Ponsel itu sekali pakai lalu dibuang atau dibakar di tempat ini," jawab Kobe. "Jadi jejak kalian akan aman jika sudah menghabisi para musuh."
"Amazing sekali," puji Sascha. "Apakah ini rencana kak Dewa? Rencana yang semalam aku tidak mengetahuinya?"
"Ya... itu benar. Aku menyuruh paman Kobe untuk bersatu denganku," jawab Dewa.
"Terus rencana saat kakak ditabrak?" tanya Sascha yang mulai curiga terhadap mereka berdua.
"Itu rencanaku. Sebenarnya Daffa berada di pihak kita. Dia juga berada di tim dokter itu. Kalau bekas sayatan memang sengaja aku melakukannya," jawab Dewa sambil tersenyum manis.
"Daffa akan tertangkap sama Kak Bima!" celetuk Sascha.
__ADS_1
"Enggak bisa. Daffa langsung pergi meninggalkan negara ini. Aku menyuruhnya ke Ontario untuk menjadi mata-mata," Dewa tersenyum melihat Sascha yang bingung.
"Apa?" pekik Sascha.