
"Ya... kamu harus terlibat. Jika tidak kamu enggak sangat penasaran sekali dan ingin bertemu dengan nenek sihir tersebut," jelas Dewa yang membenarkan posisi duduknya.
"Pokoknya kamu harus tampil di hadapan publik," ucap Gerre. "Papa ingin membuat pernyataan kalau kamu itu anakku," jelas Gerre.
"Ya... baiklah," sahut Sascha.
"Bubar jalan. Ayo kita pergi ke dapur," ajak Dewa.
Mendengar kata dapur, mata Sascha berbinar. Ia menatap wajah Devan sambil menelan salivanya dengan suah payah. Lalu matanya beralih ke Gerre. Ia tersenyum sambil bertanya, "Bisakah kalian membuatkan aku nasi goreng?"
Glek.
"Kamu menyuruh siapa?" tanya Dewa.
"Mereka berdua," jawab Sascha sambil menunjuk ke arah Devan dan Gerre. '
Dewa dan Leo hanya bisa menepuk jidatnya. Bagaimana bisa seorang Sascha menyuruh mereka membuat nasi goreng? Jujur saat ini sangat mengerikan sekali.
Kedua pria paruh baya itu hanya bisa terdiam dan menelan salivanya. Mereka langsung menggelengkan kepalanya.
"Maaf kami tidak bisa memasak," ucap Gerre dan Devan secara bersamaan.
__ADS_1
"Ayolah papa. Ini demi kebaikan cucu kalian. Cucu kalian inign memakan nasi goreng buatan papa. Tapi aku enggak mau kalian meminta bantuan kepada para mama,'' jelas Sascha.
"Bagaimana ini? Apakah yang harus kita lakukan?" tanya Devan.
Dewa dan Leo hanya bisa mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk pergi ke dapur.
"Ini demi cucu kita!" teriak Gerre dengan semangat.
"Ya... itu benar," teriak Devan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk membuatkan nasi goreng. Sedangkan Sascha memegang perutnya sambil membayangkan memakan nasi goreng buatan para papa.
Dewa yang melihat Sascha sangat aneh sekali menatap Leo. Leo pun paham dan memberikan sebuah artikel tentang seputar kehamilan. Ia menyodorkan tab-nya ke arah Dewa.
Dewa segera mengambil tabnya itu dan membaca semua artikel tentang ibu hamil. Dirinya sangat terkejut membaca satu persatu artikel tersebut. Mau tidak mau ia harus menghadapi yang aneh bin super ajaib.
"Sepertinya sabar harus aku charger setiap hari. Kalau meminta nasi goreng buatan para papa tidak menjadi masalah. Tapi kalau mau minta nasi goreng buatan seluruh presiden di dunia ini membuat aku menjadi kelimpungan," jawab Dewa.
Leo hanya terkekeh mendengar ucapan Dewa. Ia memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Di sana Leo mendapatkan tugas untuk mencari berkas-berkas tentang kejahatan Anette. Leo juga bekerja sama dengan Matias.
"Kasihan Tommy dan Hanson," celetuk Dewa.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sascha.
"Banyak yang harus kita lakukan satu persatu. Aku sendiri sangat bingung sekali. Langkah awal adalah kamu harus muncul ke publik terlebih dahulu. Kamu harus memakai identitas Aulia. Langkah kedua kamu menemui nenek sihir tersebut. Jika kamu sudah menemuinya. Kamu bisa menggertaknya. Tapi sebelumnya kita harus menyabotase akses jalan milik nenek sihir itu. Terus orang-orang yang bekerja sama dengannya akan berpikir ulang," jelas Dewa.
"Kenapa ya nasibnya Kak Tommy sama dengan aku?" tanya Sascha.
"Ini hanya kebetulan saja. Kalau Tommy sangat parah sekali. Dia jatuh ke tangan yang salah. Kedua orang tuanya sudah tidak ada. Itu berarti Tommy hanya dimanfaatkan saja sama mereka ketika berada di lingkungan mereka," jawab Dewa yang memperkirakan nasib Tommy.
"Kenapa nenek sihir itu telah membuat semua orang menderita ya? Aku jadi ragu tentang kualitas nenek sihir itu," tanya Sascha.
"Feelingku mengatakan kalau nenek sihir itu sama Fatin memiliki sifat yang sama. Keadaan ekonomi nenek sihir itu juga tidak seperti kita. Nenek sihir itu memiliki ambisi yang sangat kuat sekali. Jadinya dia memutar otaknya untuk mengelabui para korbannya. Untung saja si nenek sihir itu dipegang oleh tangan kita," jawab Dewa yang menjelaskan kondisi Anette.
Sascha paham dengan apa yang dijelaskan oleh Dewa. Jujur dirinya sendiri mengakui kalau nenek sihir itu memiliki bakat untuk mengelabui orang. Jadi sekarang ia harus mencari cara agar ia bisa bertemu dengan nenek sihir itu.
"Apakah aku boleh menemui nenek sihir sebelum jadwal yang kamu tentukan?" tanya Sascha.
"Jangan dulu. Nenek sihir itu sepertinya mau membuat rancangan rencana untuk membasmi kita semuanya," jawab Dewa.
"Rasanya itu tidak mungkin. Apakah aku harus berdiam diri di sini dulu? Adakah kau harus menemui Meilin dan Marvin? Jujur aku sendiri sudah bosan tinggal di sini," kesal Sascha.
"Bersabarlah terlebih dahulu. Jangan gegabah untuk melakukannya. Kalau kamu gegabah si nenek sihir itu akan agresif untuk mendapatkan perusahaanmu dengan mudah. Bisa saja si nenek sihir itu memutar balikan fakta media massa," ungkap Dewa yang membeberkan suatu fakta tentang nenek sihir itu.
__ADS_1
"Apakah itu benar?" tanya Sascha.