Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BATAL BULAN MADU.


__ADS_3

"Itu bukan namanya menginap. Melainkan hidup di sini hingga tua nanti," jawab Dewa.


"Tapi itu tidak mungkin deh. Bagaimana dengan perusahaan kita?" tanya Sascha lagi.


"Kamu itu menggoyahkan hatiku saja. Aku sendiri ya juga ingin tinggal di sini. Ada rasa damai dan bahagia. Sebentar lagi kakek pensiun dari dunia bisnis. Mau nggak mau aku harus menjadi penerusnya kembali. Dan kita tidak akan tinggal di sini lagi," jawab Dewa.


"Sepanjang perjalanan ke sini Kok aku merasa nggak ada yang baik ya. Bukan masalah bulan madu ini. Tapi perasaanku ke Kakek Aoyama. Jujur setelah aku collaps dari rumah sakit, aku tidak mendengar kabar kakek Aoyama bagaimana? Kok rasanya aku memiliki firasat yang tidak enak?" ucap Sascha.


"Aku juga sama. Bahkan beberapa hari yang lalu. Aku pengen ke sana tapi," ujar Dewa yang menggantung.


"Jika kita ke sana hari ini bagaimana ya? Aku hanya memastikannya saja. Biar hatiku ini tenang," pinta Sascha.


"Kalau kamu mau aja nggak apa-apa. Aku tidak memaksamu. Jujur selama kita di Nganjuk sana Paman taruh menghubungiku dan menanyakan kabarku. Lalu paman Taro mengatakan kalau kesehatannya agak menurun sedikit," ucap Dewa yang membuat Sascha sedih.


"Apakah papa tahu?" tanya Sascha.


"Kakek enggak begitu dekat dengan papa. Meskipun papa adalah anak kandungnya. Malahan papa jarang sekali ke Jepang," jawab Dewa.


Tak lama Sascha menatap wajah Dewa yang merasa kasihan sekali. Wajah tampannya itu sedang sendu namun hatinya berada di tempat lain. Sascha mengerti akan keadaan Dewa saat ini. Ia tidak mau egois dan melanjutkan bulan madu ini dengan cara bersenang-senang. Diam-diam Sascha memutuskan untuk memesan tiket ke Jepang.


"Kak," panggil Sascha. "Aku sudah mau pesan tiket ke Jepang."


"Apakah kamu yakin kita akan ke sana?" tanya Dewa yang tidak mau mengecewakan Sascha.


"Ya aku yakin," jawab Sascha. "Besok malam kita berangkat ke sana. Untuk penerbangan hari ini tidak ada kak."


"Tidak apa-apa. Maafkanlah kakak ya," ucap Dewa.


"Ngapain juga minta maaf. Selagi kakek masih ada, Kenapa kita nggak mengunjunginya?"


"Bagaimana dengan bulan madu kita? Apakah kamu tidak kecewa sama aku?"


"Buat apa aku kecewa sama kakak. Bukankah kita akan melakukan bulan madu setiap hari? Walau tanpa harus di tempat seperti ini? Kita bisa melakukannya setiap hari di rumah. Bukannya kakak akan bahagia jika mendapatkan reward dari sang istri," hibur Sascha yang membuat Dewa mengulas senyumnya.


"Bener juga sih. Bulan madu ya begini aja. Sebelum menikah kita sudah menghabiskan waktu jalan-jalan ke tempat negara-negara lainnya. Jadi ngapain juga kita ngadain bulan mati seperti ini?" tanya Dewa sambil memberikan teka-teki buat Sascha.


"Jangan buat teka-teki seperti itu. Bulan madu nggak usah jauh-jauh. Cepat atau lambat aku akan menjadi asisten kakak. Mau tidak mau aku harus ikut perjalanan bisnis dari negara ke negara lainnya. Apakah itu tidak cukup buat aku dan kakak? Ujung-ujungnya nanti tidur bersama kan?"


"Aku ingin membuat semua ini menjadi kenangan. Tapi aku membatalkannya saja. Cerita ini akan berkembang ketika kita memiliki anak dan cucu. Meskipun di sini tapi aku masih mengerjakan tugas-tugas kantor. Apakah itu tidak aneh?"


"Menurut aku tidak. Entah pendapat orang lain bagaimana," Sascha mengulas senyumnya dan melihat Dewa.


"Jujur Baru kali ini kamu tidak protes kepadaku. Seharusnya jika orang melakukan bulan madu sang perempuannya protes habis-habisan. Jangan gini jangan gitu. Bisa nggak sih mengabaikan pekerjaan? Bisa nggak sih perhatian kamu untukku? Semua perempuan pasti mintanya begitu. Lalu kamu berbeda dari yang lain," Dewa menatap wajah teduh sang istri yang tersenyum itu.


"Aku nggak marah soal itu. Bukankah Kakak adalah seorang pengusaha? Selain itu juga Kakak itu adalah orang yang suka memberi lapangan pekerjaan buat orang-orang sekitarnya. Buat apa aku marah? Justru itu aku malah bahagia sekali. Aku akan marah jika kakak membuat ulah. Contohnya diam-diam berani jalan sama perempuan lain. Diam-diam sudah punya yang lain padahal kakak sudah menikah," jelas Sascha yang memandang Dewa.

__ADS_1


Uhuk... Uhuk... Uhuk....


Tiba-tiba saja Dewa tersedak oleh salivanya sendiri. Ia menatap wajah sang istri sambil menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Aku tidak mungkin melakukannya."


"Awas saja kamu melakukannya. Aku bisa menghajarmu dan menjadikan lele penyet!" tegas Sascha.


"Mana mungkin aku melakukannya sayang. Tidak ada seorang wanita yang sempurna buatku kecuali kamu," rayu Dewa yang membuat Sascha pergi ke dapur.


"Yang... mau kemana?" tanya Dewa yang melihat Sascha masuk dapur.


"Aku lapar," jawab Sascha yang tersenyum manis sambil membuka kulkas.


"makanlah... aku enggak mau melihat kamu kurus," suruh Dewa yang sangat mencintai Sascha.


"Aish... aku harus makan masak dulu," ucap Sascha yang melihat isi kulkas penuh.


Tiba-tiba saja ponsel Dewa berdering. Ia segera meraih benda pipih itu di meja lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Tumben... Paman Taro menghubungi aku," ucap Dewa sambil menggeser warna hijau itu.


"Kak," seru Sascha sambil berlari mendekati Dewa.


Dewa memberikan kode agar Sascha diam di tempat. Lalu ia menyapa seseorang berada di seberang sana.


"Halo," sapa Dewa.


"Apakah itu benar?" tanya Dewa.


"Iya," jawab Taro.


"Kalau begitu aku akan ke sana sekarang!" tegas Dewa.


"Bukannya Anda sedang bulan madu bersama nona Sascha?" tanya Taro dengan wajah pucat.


"Aku tidak peduli dengan bulan madu itu," kesal Dewa yang memberikan kode buat Sascha.


"Jika anda ke sini, bagaimana dengan Nona Sascha?" tanya Taro yang tidak mau mengganggu acara bulan madu Dewa.


"Aku akan mengajak Sascha sekalian berkunjung ke sana," jawab Dewa yang masih serius.


"Baiklah," balas Taro.


Sambungan terputus.


"Coba kamu hubungi Pak Fabian untuk menyiapkan jet pribadiku yang lain. Sore ini kita akan pergi ke Nagoya!" pinta Dewa.

__ADS_1


Sascha menatap ponselnya lalu melihat wajah Dewa. Ia meraih ponsel itu dan mencari nomor telepon Pak Ardy.


Setelah menemukan nomor itu, Sascha langsung menghubungi nomor itu dan meminta Pak Ardy untuk menyiapkan jet pribadi milik Dewa yang lainnya. Pak Ardy menyetujuinya dan langsung melaksanakan tugasnya.


Sambil menunggu Dewa melihat wajah Sascha yang masih tenang. Ia masih belum cerita apa yang telah terjadi?


"Ada apa sih? Kok Kakak mulai panik seperti itu?" tanya Sascha.


"Kesehatan kakek mulai menurun. Kakek dirawat di rumah sakit. Kita harus ke sana terlebih dahulu. Soal bulan madu aku minta maaf," jawab Dewa dengan menyesal.


"Tidak perlu menyesal sama sekali. Setelah kakek sembuh, kita bisa melanjutkan bulan madu yang tertunda," ucap Sascha.


"Terima kasih kalau begitu. Maafkan aku dan kakek ya," sahut Dewa.


"Nggak apa-apa. Kita bisa menggantinya lain hari. Aku juga rindu sama kakek. Sudah lama aku tidak bertemu," Sascha mulai mendekati Dewa dan membungkuk.


"Kamu memang wanita yang paling pengertian buatku. Apakah kamu sudah menghubungi Pak Ardi?" Dewa langsung memegang tangan Sascha dan menariknya hingga jatuh ke dalam pangkuannya.


"Sudah... Pesawatnya akan ke sini sebentar lagi," ucap Sascha sambil memeluk Dewa.


"Kenapa nggak dari dulu ya begini? Harusnya setelah lulus sekolah aku menikahimu. Lalu membawamu ke Amerika," jawab Dewa.


"Yang namanya jodoh baru sekarang Kak. Kalau kemarin belum. Itulah rahasia ilahi yang masih menjadi misteri. Kita nggak tahu dengan siapa jodoh kita. Banyak lho orang-orang mendapatkan jodoh dengan unik sekali. Contohnya... Dita... Aku nggak menyangka kalau Dita berpacaran dengan Kak Tommy."


"Aku juga sama. Itulah yang namanya keunikan jodoh."


"Semoga saja kakek tidak apa-apa."


"Amin," ucap Dewa. "Apakah aku boleh meminta sesuatu?"


"Apa itu?" Tanya Sascha balik.


"Bantulah aku untuk memecahkan kasus di kantor pusat. Beberapa hari terakhir Paman terus selalu menghubungiku. Katanya ada yang tidak beres di dalam perusahaan pusat."


"Aku mah siap kapan saja. Kalau kamu menyuruhku sekarang aku akan jalan. Kalau kamu menyuruhnya tahun depan. Aku akan berangkat melakukan penyidikan di tahun depan."


"Ngapain tahun depan? Kasusnya aja sekarang terjadi. Kamu ini aneh."


"Aku tidak aneh. Kan sudah aku bilang, kapan saja Kakak memintaku pasti aku jalan."


"Bonus ada di belakang ya?"


"Belum kerja udah ngomongin bonus. Kamu itu jadi bos harus profesional dikit napa. Kalau nggak aku bisa ambil alih."


"Ambil alih saja sana. Aku tidak apa-apa. Aku lagi pengen menjalankan pekerjaanku ke kamu."

__ADS_1


"Apakah kamu yakin menerima pekerjaanku yang cukup berat ini?" tanya Dewa.


__ADS_2