
"Izinkanlah aku memakai nama Aulia Atmaja. Aku ingin membeli seluruh saham milik DT Groups,'' jawab Sascha.
Gerre tersenyum manis lalu menyodorkan ponselnya ke arah Sascha. Gerre menyunggingkan senyumnya sambil berkata, "Belilah semua saham milik DT Groups sebelum pergantian hari. Jika kamu membelinya semua, kamu akan menjadi pemilik DT sepenuhnya.''
Sascha menganggukan kepalanya lalu meraih ponselnya itu. Sascha segera searching ke pasar saham. Dengan senyum yang merekah Sascha melihat harga saham DT yang merosot drastis. Sedangkan Dewa melihat jam di tangan sambil mengingatkan Sascha, "Lima belas menit lagi akan berganti hari."
"Baiklah,'' balas Sascha.
Sascha mulai berseluncur di pasar saham dunia. Mata Sascha berbinar seketika melihat harga saham milik Masters Corps memiliki harga tertinggi. Tiba-tiba saja Sascha memiliki ide konyol yang terlintas di dalam otaknya. Sascha menatap Choi sambil memanggilnya, "Kak Choi.''
"Ada apa?" tanya Choi.
"Hmmp... bisa bantu enggak?' tanya Sascha dengan senyum sumringah nya.
"Apa itu?' tanya Choi balik.
"Bisakah kakak menurunkan harga saham milik Master Corps sekarang hingga lima persen?" tanya Sascha yang sedang merayu Choi.
"Jangankan lima persen. Aku akan menurunkan hingga satu persen bahkan nol koma lima,'' jawab Choi.
"Ah... baiklah. Sekarang lakukanlah,'' suruh Sascha dengan lembut.
Choi menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Choi langsung mengeksekusi harga saham milik Masters Groups. Sementara Sascha sedang melakukan transaksi untuk membeli saham milik DT Groups di pasar saham. Tidak sampai lima menit Sascha langsung mendapatkan seluruh saham milik DT Groups.
Dewa dan Gerre hanya memandang Sascha yang sedang asyik di depan laptopnya. Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ulah Sascha yang habis merayu Choi.
"Sepertinya Sascha akan menjadi sultan,'' celetuk Choi yang selesai menurunkan harga saham Masters Corps hingga nol koma nol satu persen.
"Itu benar. Aku memang ingin menjadi sultan untuk dipamerkan kepada mantan calon mertuaku,'' jawab Sascha yang dalam mode senang.
__ADS_1
"What?'' pekik Dewa.
"Tenanglah. Aku tidak akan balik lagi ke Billi sialan itu. Kan sudah kubilang kalau aku bisa menjadi wanita sukses tanpa bantuan siapapun,'' jawab Sascha yang mendapatkan acungan jempol dari Dewa.
"Kak, apakah sudah menurunkan harga saham Masters Corps?" tanya Sascha.
"Oh... sudah. Bisa kamu cek,'' jawab Choi.
"Kamu mau apa membeli saham Masters Corps?" tanya Dewa yang mulai curiga terhadap sikap Sascha.
"Aku akan membelinya. Tapi ini harganya turun drastis. Aku suka ini,'' jawab Sascha dengan mata berbinar karena harga saham milik Masters Corps turun drastis.
"Terserahlah,'' ucap Dewa dengan lemah.
Sascha langsung membeli saham tersebut dengan bahagia. Entah kenapa sikap baik Sascha menghilang tatkala melihat harga saham milik Masters Corps terus meroket. Mau tak mau Sascha melakukan dengan cara licik. Karena sang pemilik perusahaan ingin menghancurkan perusahaan milik sang calon papa mertua.
Akhirnya saham milik Masters Corps sekarang berubah nama tanpa sepengetahuan sang pemilik. Sascha akhirnya menoleh melihat Devan yang tertidur di sofa. Ia menghela nafasnya dengan lega.
Sascha menyodorkan ponselnya sambil mengucapkan terima kasih. Entah berapa uang yang dipakai untuk membeli saham dari kedua perusahaan tersebut. Namun itu tidak menjadi masalah bagi Gerre.
"Memangnya harus aku mengakuisisi perusahaan tersebut?" tanya Sascha.
"Yang dikatakan oleh Dewa betul. Jika kamu tidak mengakuisisi perusahaan tersebut bisa dipastikan sang pemilik akan mengklaim perusahaan tersebut atas nama sang pemilik,'' jawab Gerre yang menjelaskan kepada Sascha.
"Bagaimana kalau aku gabung sama DT Groups?" tanya Sascha.
"Tidak apa-apa. Itu lebih bagus. Kemungkinan besar perusahaan DT Groups menjadi besar dan bisa melepaskan diri dari Nakata's Groups untuk menjadi perusahaan mandiri,'' jawab Gerre.
"Memangnya bisa ya?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Semuanya bisa. Yang penting itu tergantung kamu,'' jawab Gerre.
"Aku akan membicarakan ini kepada papa Gerre. Aku tidak bisa memutuskan begitu saja. Jika aku memutuskan begitu saja bagaimana nasib Papa dan mama?" tanya Sascha yang mulai sendu.
"Pensiunkan saja. Beri uang bulanan yang sepantasnya. Terus jika kita memiliki anak, biar anak kita yang ikut dengan mereka. Aku tahu mereka akan bahagia di mansion. Apalagi papa sudah merancang ide pensiun beberapa tahun yang lalu,'' bisik Dewa yang tersenyum bahagia karena ide konyolnya itu.
"Sepertinya ada konspirasi di dalam ruangan ini,'' sindir Choi.
"Bukan konspirasi. Tapi ini kenyataan yang harus dikerjakan secara matang,'' ujar Dewa yang tersenyum polos.
Gerre hanya bisa memandang Sascha dan Dewa secara bergantian. Gerre tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka untuk masa depan perusahaan itu. Masalah satu sudah selesai mereka harus mencari Hugo sampai ketemu. Setelah pergantian waktu Dewa meenghubungi Leo dan Kobe untuk segera kesini. Lalu Sascha memutuskan untuk bersantai.
Malam berganti pagi Sascha memutuskan untuk pulang ke mansion. Dewa kembali lagi ke apartemennya. Sedangkan Choi diajak Gerre untuk kembali ke apartemen pribadinya. Gerre tahu kalau Choi sedang mendapat masalah pelik setelah kepindahannya ke Kanada. Ketika ingin kembali ke New York, Gerre yang mengubah data pribadi hingga masuk ke Amerika.
"Ada apa sebenarnya hingga kamu butuh bantuanku?' tanya Gerre dengan dingin.
"Maafkan saya tuan. Saya tidak ingin merepotkan anda. Tapi mau bagaimana lagi aku harus melakukannya. Aku tidak mau meminta bantuan ke Tuan Devan. Karena Tuan Devan sudah memblock nomorku dan memblacklist namaku di pusat,'' jawab Choi yang merasa tidak enak.
"Kamu tahu enggak kalau aku saat itu memiliki mood yang bagus. Jadi aku masih bisa menolongmu,'' ujar Gerre. "Kamu ada masalah dengan Devan?"
"Sebenarnya tidak ada masalah sama sekali. Entah kenapa tiba-tiba saja Devan membuangku ke Kanada dengan alasan perusahaan cabang di sana sedang membutuhkan seorang IT,'' jawab Choi yang menundukkan kepalanya.
"Aku telah mengenal Devan cukup lama. Kami dari kecil hingga saat ini selalu bersama. Aku mengenal salah satu sifat Devan yang satu ini. Devan orangnya tidak bisa melepaskan seseorang yang sudah membantunya. ia akan mempertahankan orang itu dengan teguh. Jika dia melepaskan seseorang dengan tiba-tiba, maka orang itu sudah berkhianat dengannya begitu saja. Aku tahu kamu bukanlah seorang pengkhianat. Kamu memiliki sebuah prestasi yang membanggakan buat Devan. Tapi aku merasakan ada sesuatu dibalik ini semuanya yaitu konspirasi,'' jelas Gerre.
"Semalam Tuan Dewa mengatakan kalau nyonya Tara pernah melihat pertemuan Rosita Yi sang manager pemasaran dengan Theodore Yi di sebuah kafe di pusat kota,'' ucap Choi.
"Theodore Yi?" tanya Gerre yang menatap tajam wajah Choi.
"Iya tuan,'' jawab Choi.
__ADS_1
Sontak saja Gerre terkejut mendengar nama Theodore Yi. Baru kali ini sang putri sedang menyenggol Theodore Yi. Gerre hanya bisa menghela nafasnya sambil berkata, "Aku kena spot jantung gara-gara putriku sendiri.''
"Putrimu?" tanya Choi yang terkejut dengan perkataan Gerre.