Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SASCHA SADAR.


__ADS_3

Dewa menarik kursi dan duduk di tepi brankar. Genggaman tangan Dewa semakin erat tak akan terlepas. Dewa sungguh rindu sekali. Di tempat lain Gerre dan Devan sedang berada di kantin. Gerre sudah mendapatkan hasil tes DNA antara Sascha dan dirinya. Bahkan gen yang dimiliki Sascha sembilan puluh sembilan persen sama persis. Gerre ingin memeluk Sascha dan ingin mengajaknya pulang ke mansion.


"Aku ingin membawanya pulang ke mansion," ucap Gerre.


"Aku sarankan jangan sekarang. Aku yakin ada banyak pihak yang ingin membunuh Sascha," ujar Devan.


"Aku harus bagaimana?" tanya Gerre.


"Lebih baik kamu menyetujui rencana Dewa. Sebentar lagi Dewa mengajaknya ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan. Kita bisa nikahkan mereka agar tidak melakukan **** bebas. Syukur-syukur kalau Sascha mengandung. Bukankah itu baik untuk kita?" tanya Devan yang memang ingin sedari dulu menjodohkan mereka.


"Kamu benar. Kita bisa bicarakan pada Sascha kalau sudah sadar," jawab Gerre.


"Rencana kamu apa selanjutnya?" tanya Devan.


"Belum ada rencana. Jika rencana Dewa sangat baik dan ingin Sascha kuliah lagi, why not? Tapi setelah ini aku akan membawa Sascha ke Hamburg untuk pengobatan. Aku harap Dewa menyetujuinya," jawab Gerre.


Nganjuk Indonesia.


Bu Nirmala sedari malam sangat gelisah memikirkan Sascha. Terakhir kali mendengar suara Sascha sebelum Sascha tidur. Sascha masih sempat untuk bertukar pesan kepada Bu Nirmala. Lalu bagaimana dengan Pak Andika? Pak Andika juga cemas. Setiap dua jam sekali Sacha menanyakan kabar di rumah. Pak Andika berharap Idak terjadi apa-apa pada Sascha.


"Kok perasaan bapak tidak enak ya?" tanya Pak Andika.


"Ibu juga sama," jawab Bu Nirmala.

__ADS_1


"Tumben-tumbenan Sascha tidak telepon?" tanya Pak Andika.


Tak lama ada seorang wanita yang sedang hamil muda keluar dari kamar. Wanita itu mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. dengan kesal wanita itu menyambar dengan kata-kata yang menyakitkan, "Biarkan saja Sascha mati! Aku malah seneng dengarnya!"


Seketika Pak Andika murka dengan kalimat yang dilontarkan itu. Pak Andika mengangkat tangannya lalu mendaratkannya ke arah Kinanti.


Plakkkkkk!


Wanita itu tidak takut sama sang ayah. Wanita itu memasang wajah nyalang lalu memaki Pak Andika, "Sudah puaskan bapak menamparku! Sudah puaskan! Bapak selalu membela Sascha si wanita ****** itu! Bapak tahukan kalau Sascha memiliki uang banyak dari jual tubuhnya!"


"Apa yang kamu katakan!" bentak Bu Nirmala.


"Selama ini ibu enggak sadar telah diperdaya oleh Sascha? Sascha di Jakarta telah menjual dirinya Bu! Bahkan orang yang bernama Dewa itupun pernah merasakan tubuhnya," ucap Kinanti nama wanita itu yang mulai bermain drama agar mereka percaya.


"Kalau kalian tidak percaya ya sudah. Ibu tahu apa penyebabnya Mas Billi meninggalkan Sascha itu? Karena mas Billi mengetahui kalau Sascha itu menjual tubuhnya ke para hidung belang supaya memiliki uang banyak. makanya pihak keluarga Billi tidak menyetujuinya," tambah Kinanti.


"Kamu dapat informasi itu dari mana? Bapak enggak yakin kalau pihak keluarga Billi memutuskan secara sepihak hanya karena masalah itu. Kamu jangan mengada-ada dech. Bapak juga engga percaya apa yang kamu katakan!" geram Pak Andika.


"Ya sudah kalau nggak percaya. Aku bicara jujur kepada kalian!" bentak Kinanti yang pergi meninggalkan mereka.


Pak Andika menatap nanar atas kepergian sang putri kandungnya itu. Semakin hari sikap sang putri semakin melunjak. Dari kecil hingga detik ini selalu mempermalukan keluarga. Namun mereka tetap bersabar menghadapi Kinanti.


Kinanti adalah seorang wanita yang berusia dua puluh dua tahun. Kinanti sangat membenci kehadiran Sascha yang memiliki otak di atas rata-rata. Bahkan Sascha sering membuat Pak Andika bangga atas prestasi yang telah diraihnya itu. Seiring berjalannya waktu Kinanti tidak menyukai Sascha. Bahkan Kinanti bersama sang suami ingin menghabisi nyawa Sascha. Keberuntungan selalu berpihak pada Sascha. Setiap Kinanti ingin mencelakai ada saja yang melindunginya.

__ADS_1


Brakkkkkkkk!


Suara bantingan pintu cukup keras. Pak Andika dan Bu Nirmala hanya bisa mengelus dadanya. Bahkan mengucapkan istighfar berkali-kali untuk menahan sabar. Sementara Kinanti mulai memaki dengan cara mengabsen nama-nama penghuni kebun binatang. Kinanti berjanji akan melenyapkan Sascha dengan tangannya sendiri.


Seoul Korea Selatan.


Dewa masih saja terdiam dan menangis tanpa suara. Dewa meluapkan semua kegundahannya di depan Sascha yang masih tidur. Dewa berharap agar Sascha bisa terbangun dari tidurnya. Beberapa saat kemudian Dewa sangat kecapekan. Dewa menaruh kepalanya di ranjang Sascha hingga terlelap.


Dua jam sebelum matahari terbit. Sascha mulai membuka mata dan melihat keadaan sekitarnya. Sascha bingung apa yang telah menimpanya itu? Sascha teringat wajah Chloe nan lembut ketika masih kecil. Lalu Sascha teringat akan akan seorang pria tampan yang murah senyum itu. Sascha mulai memanggil mereka dengan sebutan mama papa secara lirih.


Sascha melihat ada sesosok pria yang tidur terlelap. Sascha berharap kalau pria itu adalah teman masa keclnya. Siapa lagi kalau bukan Dewa. Sascha sangat merindukan teman masa kecilnya itu. Namun Sascha ragu dan mulai menarik tangannya. Namun Sascha tidak bisa melakukannya. Karena genggaman Dewa kuat.


"Bisakah aku melepaskan genggaman tangan pria ini?" tanya Sascha dalam hati.


Sascha mulai mengingat masa kecilnya. Sascha teringat bahwa dirinya adalah Aulia. Yang dimana Aulia adalah gadis yang periang. Lalu otak Sascha mulai berputar dengan kejadian di masa sekarang. Sascha mengingat bahwa dirinya akan menikah. Sascha mulai mengingat Billi. Akan tetapi Sascha menggelengkan kepalanya sambil berkata dalam hati, "Billi... Siapakah itu Billi? Sebentar lagi aku menikah dengannya? Tapi kenapa aku tidak mencintai Billi?"


Kejadian demi kejadian tersusun rapi di dalam kepala. Ternyata selama ini Sascha tidak pernah mendapatkan perlakuan enak. Sascha juga mengingat penderitaan yang dialami ketika berpacaran dengan Billi. Tapi yang membuat Sascha janggal, kenapa dirinya mau jatuh cinta pria seperti itu? Lalu otaknya mulai berputar mengingat seorang pria yang pernah menyelamatkan dirinya. Sascha bahagia dan ingin bersamanya. Sascha tahu kalau pria itu sangat mencintainya. Sascha mulai melihat pria yang masih tertidur lelap. Tangan Sascha mulai melepaskan dari genggamannya. Ketika melepaskan secara pelan-pelan Sascha terkejut karena mendapat respon sang empunya tangan. Sedangkan Dewa terkejut apa yang dirasakannya. Dewa membuka mata dan menatap wajah Sascha.


"Apakah kamu sudah bangun?" tanya Dewa dengan suara parau.


Sascha menganggukan kepalanya sambil tersenyum, "Bisakah kamu memberikan aku minum? Tenggorokan aku sangat kering. Aku butuh air."


Dengan sabar Dewa mengambilkan air mineral di atas nakas. Dewa menyodorkan air itu ke arah Sascha, "Ini minumlah."

__ADS_1


__ADS_2