Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
TIDAK JADI.


__ADS_3

"Sascha tidak boleh mengetahui akan hal ini!" geram Dewa.


"Kenapa tidak boleh? Apakah kamu cemburu kepada mereka?" tanya Gerre sambil meledek Dewa.


"Karena dia adalah istriku," jawab Dewa secara terang-terangan. "Aku sudah membersihkan mereka dari sosial medianya Sascha. Mereka tidak akan berani lagi mengganggu Sascha. Kalau sampai mereka berani. Mereka akan berhubungan dengan aku."


"Yang namanya posesif tetap posesif ya. Makanya kamu jaga anakku. Jika tidak dijaga, kemungkinan besar mereka bisa mengambilnya tanpa harus susah payah," ledek Gerre yang membuat Dewa semakin kesal.


"Sudah lama aku tidak menghabisi sate ayam. Jangan sampai aku menghabiskan sate ayam di ujung jalan itu satu gerobak," ucap Dewa sambil mengepalkan kedua tangannya.


Kedua pria paruh baya itu sangat kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Dewa. Dewa telah mengultimatum kepada seluruh orang-orang yang mengejar Sascha. Jika sampai terjadi, Dewa akan melakukan penghancuran secara besar-besaran.


Ini sangat mengerikan sekali bagi kedua pria paruh baya itu. Namun mereka juga sadar. bahwa yang dimilikinya tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. Jujur, kedua pria itu sangat kejam. Jika ada pria yang mengganggu pasangannya.


"Kamu jangan marah gitu. Aku hanya memberitahukan semuanya tentang mereka ketika mengejar Sascha. Kamu tidak boleh menghancurkan secara massal usaha mereka. Biarkan saja. Toh Sascha juga bukan wanita sembarangan. Dia itu juga sudah bucin sama kamu. kalau sudah bucin tak akan ada orang yang mampu memisahkan kalian," pesan Gerre.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Dewa.


"Nggak usah ngapa-ngapain. Biarin saja. Lagian juga mereka nggak punya taring jika bertemu denganmu. Mereka sudah menganggapmu sebagai musuh besar dalam dunia bisnis," hibur Devan ke Dewa.


"Rasanya aku ingin melemparkan saja mereka ke daerah konflik. Agar mereka tahu bagaimana cara mendamaikan orang. Bukan cara merusak hubungan orang," jelas Dewa.


"Ide kamu sangat bagus sekali Wa. Kalau begitu lakukanlah sesukamu. Bukankah kita kekurangan orang untuk mendamaikan dan menyelesaikan banyak konflik?" tanya Gerre.


"Nah itu dia. Makanya kita harus memanfaatkan waktu dan orang-orang tersebut. Ya sudah deh kalau begitu," jawab Dewa sambil tersenyum licik.


"Kamu mau kemana? Malam-malam begini sangat rapi sekali," tanya Devan.


"Aku mau pergi ke dokter kandungan bersama Sascha. Kemungkinan besar aku akan menyuruhnya untuk USG. Aku sangat penasaran sekali dengan calon bayiku," jawab Dewa.


"Dasar, Ya sudah pergi sana. Berikanlah kami kabar yang baik," usir Devan.


"Tapi masalahnya, Sascha sedari tadi tidak keluar," ucap Dewa.


"Lihatlah di dalam. Kalau menurut papa, istrimu itu sedang disandera oleh ketiga wanita yang berada di rumah ini," jelas Gerre yang menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Waduh, ini sangat bahaya sekali. Kalau mereka menyandera istriku. Aku tidak bisa ngapa-ngapain lagi," tahu Dewa yang mendapatkan ledakan dari Gerre.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Gerre. Sascha sekarang sedang memakan rujak manis buatan Chloe. Di dalam wanita berparas cantik itu sangat menikmatinya. Bahkan ia lupa hari ini mau pergi ke mana.


''Sepertinya Mama tahu kalau aku ingin meminta rujak?" Tanya Sascha.


"Kamu nggak bilang saja Mama sudah tahu. Ya sudah dimakan rujaknya itu. Mumpung kita masih berada di sini. Kita bisa menikmati buah-buahan dari kebun belakang. Di sana banyak bermacam-macam buah-buahan. Aku sudah menyuruh mereka untuk memetik buah-buahan itu," jawab Chloe. "Tapi?"


"Tapi apa ma?" tanya Sascha.


"Mama mertuamu hobinya ternyata manjat pohon. Gara-gara Mama mertuamu manjat pohon. Seluruh pengawal pada heboh dan menyuruhnya turun," jawab Chloe yang membuat Sascha tertawa.


"Jangankan aku Chloe. Putrimu itu diam-diam bisa memanjat pohon. Pohon yang berada di rumahnya Dewa, dijadikan markas olehnya. Bahkan dia sendiri membangun rumah pohon. Yang dimana rumah pohon itu dijadikan sebagai tempat berteduhnya ketika kepanasan. Uniknya rumah pohon itu sengaja ditambahkan kulkas mini dan kasur busa. Bayangkan saja siang-siang kesal dengan anak buahnya. Sascha memilih kabur pulang ke rumah dan bersembunyi," jelas Tara yang membuat Sascha malu.


"Gara-gara rumah pohon itu. Aku pernah ketiduran sehari semalam. Untung saja tidak ada ular masuk ke dalam. Kalau ada aku bisa-bisa menangis," sambung Sascha sambil memakan buah mangga yang baru masak.


"Ngeri juga ya di atas pohon. Terus kamu nggak tidur di sana lagi?" Tanya Chloe.


"Sudah nggak. Aku sempat dimarahin Dita gara-gara tidur di atas pohon. Soalnya di sana itu masih banyak ular bergelantungan. Makanya aku kalau ngantuk sudah turun lalu ke kamar Dita," jawab Sascha.


"Kan enak tidur di sana. Nggak capek-capek cari angin. Setelah kamu memberitahukan Ada ular bergelantungan di pohon. Aku nggak pernah tidur lagi di sana. Aku malah terjaga dan makan buah di dalam rumah pohon itu," ujar Sascha dengan jujur.


"Ya maaf Kak. Soalnya aku pernah mengerjakan tugas-tugas sekolah di rumah pohon itu bareng beberapa pengawal. Tugasnya sih susah banget. Makanya aku sengaja membawa mereka ke atas pohon sambil berpesta. Pas selesai minum Ada ular turun dari atap langsung masuk ke dalam. Aku sama para pengawal memutuskan untuk kabur. Nggak tanggung-tanggung ularnya. Malah ular kobra yang datang," sahut Dita yang bergidik ngeri ketika mengingat ular itu berada di dalam rumah pohon.


"Terus kamu trauma?" tanya Sascha.


"Trauma banget ketika aku melihat ular itu. Untung saja ada Kak Tommy dan Kak Dewa berada di taman. Mereka langsung menuju ke rumah pohon dan mengeluarkan ular tersebut. Jadinya aku sekarang masih ketakutan," jawab Dita.


"Bukankah rumah pohonmu udah dibongkar?" tanya Tara.


"Belum. Rumah itu sengaja tidak dibongkar dan biarkan saja. Enak juga sih tinggal di rumah pohon itu. Jadi kalau ada orang yang mencari seluruh pengawal tidak akan tahu. Kecuali ponsel kalau sudah berbunyi pasti ketahuan," jawab Dita.


"Sepertinya aku akan mengajukan lagi rumah pohon," ucap Sascha.


"Dimana itu?" tanya Dita.

__ADS_1


"Di mansion milik siapa yang berada di Hamburg. Sepertinya tempat itu sangat enak sekali. Apalagi pada pagi hari. Cuacanya sangat sejuk dan bisa melihat matahari saat terbit," jawab Sascha.


"Ya kan sudah waktunya musim panas bisa lihat. Kalau musim dingin Jangan harap. Kamu bisa terkena hipotermia. Karena di sana kalau sudah musim dingin, bisa-bisa membeku seperti batu es," jelas Chloe. "Apalagi kalau ada serangan badai salju. Kamu tidak akan bisa keluar dari rumah pohonmu itu."


"Sangat disayangkan. Padahal aku sudah berencana membuatnya. Tapi setelah mendengar pengakuan dari mana. Aku tidak akan lagi membuat rumah pohon itu," ucap Sascha dengan sendu.


"Lebih baik kamu urungkan saja niatmu. Lagian badai salju itu tidak bisa diprediksi kapan datangnya," sahut Tara yang memandang Dita sedang makan.


"Ternyata mengerikan sekali ya ma. Aku juga berencana ingin membuatnya. Tapi mau bagaimana lagi. Aku nggak akan bisa melakukannya," ujar Dita semakin sedih.


"Janganlah kamu berbuat aneh-aneh. Sudahlah, lebih baik kita tidur di dalam rumah saja. Lagian di rumah ada alat penghangatnya. Jadi kita bisa terlindungi dari hipotermia," sambung Sascha yang menghibur Dita.


"Oh, ternyata istri kecilku di sini ya?" tanya Dewa sambil berdiri di ambang pintu.


Sascha tertawa kecil menanggapi Dewa. Ia memang dirayu oleh ketiga wanita itu untuk tidak keluar malam-malam. Rayuan mautnya seakan bisa membius Sascha. Bayangkan saja jika para Mama sudah memberikan ultimatum, Sascha akan diam dan menuruti keinginannya.


"Sudah berapa lama kamu memblokade Saschaku?" tanya Tara sambil menampakan wajah marahnya.


Tidak sengaja Dewa melihat wajah sang Mama menjadi marah. Ia mulai menelan salivanya dengan susah payah. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dewa terpaksa mengalah dan mundur pelan-pelan. Ternyata apa yang dikatakan oleh masyarakat. Jika emak-emak sudah mengeluarkan power. Maka tidak ada satupun yang berani melawannya. Maka dari itu Dewa akhirnya kembali ke para papa.


Dengan wajah lesunya, Dewa akhirnya menghempaskan bokongnya di hadapan Devan. Mereka mengerutkan keningnya sambil memeriksa keadaan Dewa. Setelah itu Gerre mulai bertanya, "Ada apa?"


"Anu pa. Para mama tidak mengizinkan Aku membawa Sascha," jawab Dewa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa seorang mafia kalah dari kedua powernya para wanita tersebut? Lantas Devan mulai bertanya, "Kenapa kamu tidak boleh membawanya?"


"Ish... Papa kok malah nanya begitu. Jujur saja aku sangat ketakutan sekali dengan istri papa itu. Tiba-tiba saja istri papa bertanya, Sudah berapa lama kamu memblokade Saschaku?" jawab Dewa dengan jujur.


Seketika mereka langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka kalau Dewa benar-benar sangat ketakutan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Tara. Semenjak sore hingga malam, Sascha sudah dikurung oleh Dewa. Maka dari itu Dewa mendapatkan hukuman dari mereka.


"Sudah berapa lama kamu melakukannya?" tanya Devan yang menirukan istrinya itu.


"Aku nggak melakukannya papa. Aku sendiri yang mengajak Sascha diam di dalam kamar," jawab Dewa.


"Kamu tahukan apa kesalahanmu?" tanya Devan lagi.

__ADS_1


__ADS_2