
"Kalau begitu kita akan pergi ke Okinawa. Aku ingin melihat di mana tempatku menghilang," jawab Sascha.
"Aku juga sudah lama tidak kesana. Sepertinya aku ingin berlibur di sana dan menikmati hari yang indah," ucap Kobe.
"Lalu bagaimana dengan diriku?" tanya Ayako.
"Memangnya Kakak nggak bisa ke sana?" tanya Sascha balik.
"Besok aku harus syuting lagi. Kamu tahu kan kalau beberapa bulan terakhir ini aku sangat sibuk sekali," jawab Ayako.
"Memangnya Kakak syuting film apa? Sepertinya setting ceritanya sangat megah sekali?" tanya Sascha yang penasaran sekali dengan Ayako.
"Aku syuting film yang berjudul My heart is bleeding. Ceritanya aku yang menjadi seorang pemeran utama. Yang di mana aku disakiti oleh suamiku sendiri. Tapi syutingnya kemarin memergoki suamiku sedang selingkuh," jawab Ayako.
"Aku tahu itu sangat menyakitkan sekali," sahut Kobe.
"Kalau kenyataannya memang menyakitkan. Tapi di saat aku syuting selalu tertawa terbahak-bahak dan tidak pernah berhenti. Aku nggak bisa ngambil perasaanku yang sedang bersedih. Kayaknya aku harus disakiti terlebih dahulu. Biar mendapatkan rasa yang indah," ucap Ayako.
"Jangan kak. Jangan mau disakiti. Aku pernah merasakan rasa sakit itu. Hatiku perih seperti ditusuk pisau," timpal Sascha.
"Memangnya kamu pernah disakiti sama Kak Dewa?" tanya Sascha yang membuat mata Dewa membulat sempurna.
Sascha menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Kak Dewa nggak pernah menyakiti aku. Sebelum aku menikah dengan Kak Dewa. Aku pernah ditipu oleh seorang pria. Aku hanya dimanfaatin dan hatiku menjadi perih."
"Kalau boleh tahu siapa orangnya? Aku ingin menghajarnya," tanya Ayako.
"Tidak usah Kak. Aku sudah tidak pernah berhubungan lagi sama dia. Aku menyerahkan kasus ini kepada sang pencipta. Biarkanlah orang itu akan mendapat karmanya sendiri," jawab Sascha yang membuat Ayako bernafas lega.
"Syukurlah kalau begitu. Jangan pernah sakit hati hanya karena seorang pria. Jika pria itu menyakitimu kamu berhak memutuskan hubunganmu," tandas Ayako. "Jadilah wanita super agar tidak disakiti oleh pria."
Sascha memilih tersenyum dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Ayako. Setelah membenarkan perkataan dari Ayako, Dewa dan Kobe hanya melirik kedua wanita itu dengan ketakutan.
Melihat kedua pria itu, Sascha dan Ayako tersenyum sumringah. Mereka berdua menatap para suami yang sedang ketakutan.
"Janganlah kamu takut seperti itu Kak," hibur Sascha ke Dewa.
__ADS_1
"Kalau kamu memutuskan hubungan ini. Kamu akan mendapatkan akibatnya. Kamu akan terkurung di dalam kamar selama seribu tahun lamanya. Aku yakin kamu tidak akan kabur dariku selamanya," bisik Dewa yang membuat Sascha bergidik ngeri.
Tak lama datang Bibi Kaori yang membawa dua mangkok mie ramen. Bibi Kaori menaruh nampannya di hadapan saja. Kemudian Sascha membantu mengangkat kedua mie ramen itu. Setelah selesai Sascha mengucapkan terima kasih kepada bibi Kaori. Setelah itu Bibi Kaori berpamitan terlebih dahulu.
"Aromanya sangat enak sekali. Aku selalu diberikan topping yang sangat spesial sekali," ucap Sascha kepada Dewa sambil mencium aroma mie ramen tersebut.
"Sepertinya aku sangat menyukai mie ramen ini," sahut Dewa yang melihat mie ramennya berkuah bening.
"Kalian tidak makan?" tanya saja sambil menatap Ayako dan Kobe.
"Aku sudah makan ketika kalian sedang berjalan-jalan," jawab Kobe. "Kalau begitu makanlah terlebih dahulu. Nanti kita bicarakan lagi. Mau liburan ke mana kita?"
Akhirnya sepasang suami istri muda itu pun makan mie ramen dengan santai. Sedangkan di hotel, Bima dan Bryan mendapatkan satu pesan yang sama. Mereka membaca pesan itu sambil menatap satu sama lain.
"Ada masalah gawat ternyata," ucap Bryan.
"Masalah berat yang harus kita hadapi. Kalau saja Khans Company goyang. Maka kami yang bekerja sama dengannya. Ikutan goyang," ujar Bima.
"Bagaimana ini?" tanya Bryan.
"Dimana Dewa berada?" tanya Bryan.
"Kita harus menghubungi Dewa. Dewa harus kembali saat ini juga. Jika Dewa tidak mau kembali. Para pengawal akan menangkapnya dan membawanya ke hotel ini," jawab Bima yang kesal terhadap Dewa.
"Kalau begitu aku yang akan menghubunginya terlebih dahulu. Aku harap Dewa tidak mengajak Sascha ke tempat yang jauh dari Tokyo," kesal Bryan sambil menatap layar ponselnya untuk mencari nomor Dewa.
"Berita terakhir yang aku dengar dari pengawal bayangannya. Dewa berada di Tokyo. Mereka sedang berjalan-jalan dan menikmati siang yang dingin di sekitaran toko mie ramen," sahut Bima.
"Kalau begitu syukurlah. Jadi kita nggak jauh-jauh juga menyuruhnya pulang," balas Bryan sambil menghubungi Dewa.
Di saat sedang asyik menikmati mie ramen tanpa rasa pedas, Dewa mendengar ponselnya berdering. Dengan terpaksa Dewa menaruh sumpit dan sendoknya itu lalu meraih ponselnya.
"Memangnya siapa Kak Yang telepon siang-siang begini?" tanya Sascha.
"Bryan. Itu orang jarang sekali menghubungiku. Sekali menghubungiku pasti ada masalah besar. Aku sangat jengkel sama orang itu. Jujur aku ingin melemparnya ke daerah konflik sana untuk membuat gencatan senjata," jawab Dewa yang sangat kesal sekali kepada Bryan.
__ADS_1
"Benar juga ya. Kira-kira Ada apa ya? Kok aku jadi penasaran begini," tanya Sascha.
"Lebih baik kamu angkat saja. Ketimbang kamu penasaran seperti itu," jawab Dewa sambil meraih ponselnya dan diberikan kepada Sascha.
Kemudian Sascha mengangkat ponsel itu dan menyapa Bryan yang berada di seberang sana, "Halo."
Bryan yang mendengar suara Sascha langsung tersenyum sumringah sambil menyapanya balik, "Halo Sa."
"Ada apa kak?" tanya Sascha.
"Di mana Dewa?" tanya Bryan balik.
"Kok Dewa sedang makan," jawab Sascha. "Ada apa ya Kak?"
"Papa Gerre meminta kalian untuk terbang ke New York city sore ini juga. Ada sebuah masalah di perusahaan Khans Company," jawab Bryan.
"Bisa nggak ditunda beberapa hari ke depan?" tanya Sascha.
"Maaf… nggak bisa ditunda sampai beberapa hari ke depan. Kita harus terbang sore ini juga. Papamu sedang menuju ke sana pada pagi ini. Beliau sedang membuat rencana. Papamu ingin sekali kamu sudah berada di sana saat esok tiba," jawab Bryan.
"Kalau begitu aku akan menghubungi pilotku. Agar pesawatku mendarat pada siang ini. Aku akan menghubungi papa terlebih dahulu. Terima kasih ya Kak atas informasinya," ucap Sascha.
"Sama-sama. Jika pesawatmu sudah siap. Nanti hubungi kami. Kami juga akan terbang sore ini juga," sahut Bryan.
"Baiklah Kak. Nanti akan aku hubungi kalian semuanya. Kalau begitu aku akan melanjutkan makan siang terlebih dahulu," pinta Sascha.
Sambungan terputus.
"Bagaimana?" tanya Bima.
"Sudah aku hubungi. Kata Sascha, mereka akan terbang siang ini juga," jawab Bryan.
"Lebih baik kita berkumpul saja terlebih dahulu. Aku akan mengkoordinasi mereka semua di kamar ini," putus Bima.
"Kapan itu?" tanya Bryan.
__ADS_1