Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RUBAH KECIL YANG IMUT.


__ADS_3

"Waduh, bumil sangat kejam sekali," ucap Timothy yang sengaja menurunkan kakinya.


Dewa paham apa yang dilakukan oleh Sascha. Sebab Dewa juga menangkap ada beberapa orang yang sedang berjaga dengan memakai baju serba hitam.


Kedua mobil yang berada dipanggilnya tadi langsung meluncur di hadapan mereka. Dewa bersama Daniel dan juga Sascha. Sedangkan Timothy bersama Kobe.


Di dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, Sascha sengaja beristirahat. Tiba-tiba saja sopir taksi yang sedang mengendarai mobilnya menyetel radio. Yang isinya adalah berita siang ini.


Dewa, Daniel dan Sascha tidak sengaja mendengar siaran berita itu. Matanya membulat sempurna.


Inti berita itu adalah


Sebuah perampokan di bank swasta yang cukup terkenal menghebohkan jagat maya Ontario. Mereka telah menggondol banyak uang sebanyak lima puluh juta dolar. Wajah tersangka utamanya belum diketahui. Karena wajah tersangka utamanya ditutupi sama penutup. Usianya kurang lebih delapan puluh lima tahun.


Mereka menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Bagaimana bisa usia sekitar delapan puluh tahunan bisa merampok uang. Ini sangat aneh sekali.


Sesampainya di tempat tujuan kedua mobil itu berhenti. Sascha sangat bingung dan bertanya-tanya, tempat apa ini?


"Ketimbang kamu melamun begini. Lebih baik kita beristirahat di dalam. Kita hanya memiliki waktu sepuluh hari. Kita akan mengeksekusi orang-orang yang ingin merebut Khans Company," ucap Dewa yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.


Sascha akhirnya masuk ke dalam dan melihat rumah itu. Jujur rumah ini sangat luas sekali. Ia semakin bingung dengan apa yang telah terjadi saat ini.


"Kenapa kita tinggal disini?" tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.


"Rumah ini hanya sementara untuk kita tinggali. Rumah ini adalah rumah milik Kakek Aoyama," jawab Dewa.


"Sama saja kita bisa dilacak sama mereka," celetuk Sascha.


"Ya... tidaklah. Rumah ini adalah rumah rahasia kakek. Papa Devan tidak akan tahu tentang rumah ini," ujar Dewa.


Sascha menghempaskan nafasnya dengan kasar. Ia mengakui kalau sang suami memiliki banyak rahasia yang tidak bisa ditebak sama sekali.


"Rubah kecil," panggil Timothy sambil membawa kembang gula yang sangat besar sekali.


Melihat kembang gula mata Sascha berbinar. Sascha langsung berubah menjadi anak kecil yang manis. Ia lalu menatap Timothy seakan ingin memintanya.


"Kembang gula kesukaanku," pekik Sascha yang terdiam.


"Sekarang jelaskan, kenapa tadi menginjak kaki aku tadi?" tanya Timothy yang menatap Sascha.


"Ya elah bang Tim. Hanya ingin mendapatkan jawaban tersebut. Abang membelikan aku kembang gula seperti itu. Enggak usah beli kali bang," jawab Sascha sambil tersenyum manis. '


"Merayu atau gimana ini?" tanya Dewa yang menatap Timothy.


"Aku tidak merayunya. Aku hanya ingin membelikan Sascha kembang gula. Karena semalam Sascha memintaku kembang gula," jawab Timothy yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin meminta kepada kakak. Berhubung kaki kakak sakit. Sascha terpaksa minta kepada bang Tim untuk sementara waktu," ucap Sascha yang membenarkan perkataan Timothy.


Timothy langsung memberikan kembang gula itu dengan cuma-cuma. Ia menghempaskan bokongnya di sofa single sambil menunggu jawaban dari Sascha.


"Sebenarnya aku memang sengaja menginjaknya karena ada beberapa orang yang berbaju hitam. Aku rasa mereka bukan dari aparat setempat bahkan agen rahasia dari pemerintahan," kata Sascha.


"Nah, kenapa aku sengaja tidak memanggil seseorang untuk menjemput?" tanya Kobe yang baru saja datang bersama seseorang dengan membawa beberapa box makanan.


"Aneh juga ya?" tanya Sascha sembari memakan kembang gula itu.


"Menurut informasi dari Benny Wang. Anette meminta Jackie Lari untuk memperketat bandara. Alasannya Anette tidak mau kalau dirinya dilacak oleh Black Tiger," jawab Kobe.


"Dia belum tahu kalau Anette sedang dilacak keberadaannya Kakek Aoyama," celetuk Daniel.


"Dokumen itu bagaimana ceritanya?" tanya Dewa.


'Tenang saja. Dokumen itu adalah dokumen palsu. Yang dimana Anette tidak bisa meresmikan secara langsung. Ditambah lagi dia enggak bisa menandatanganinya," jawab Daniel. "Karena tanda tangan Sascha asli sudah aku cantumkan ke surat resmi di dokumen digital milik hukum setempat."


"Canggih ya kamu," puji Dewa.


"Dia memang anak didiknya Master We. Sekalinya mengenai dokumen resmi dia langsung bertindak habis-habisan. Memalsukan surat jago. Apalagi memalsukan identitas," jelas Kobe yang mengetahui semuanya.


"Bukannya tadi ada berita tentang perampokan bank swasta ya?" celetuk Sascha.


"Iya itu benar. Aku sudah menelusuri berita tersebut. Aku udah menganalisis wajah perampokan tersebut," jawab Daniel yang membuka ponselnya itu dan mengirimkan ke beberapa ponsel itu.


Beberapa ponsel yang berada di atas meja serempak berbunyi. Dewa langsung membuka ponsel itu dan menatap wajah sang perampok tersebut.


"Hmmmp... sudah aku tebak," celetuk Sascha.


"Apa yang kamu tebak?" tanya Daniel.


"Ya itu perampoknya. Aku sudah merasa kalau Anette memang sudah merampok," jawab Sascha.


"Tebakan Sascha benar. Aku juga merasa akan hal itu," ucap Dewa yang tersenyum manis.


"Bang Dewa," seru Sascha.


"Ada apa?" tanya Dewa.


"Senyum kakak mengandung luka. Karena mereka sudah tidak bisa mendapatkan kakak," celetuk Sascha.


"Ada-ada saja," sahut Kobe tersenyum manis.


"Makan dulu. Nanti kita pikirkan selanjutnya," suruh Dewa.

__ADS_1


"Bukankah ini kesempatan emas kita untuk mencari keberadaan nenek sihir itu? Nanti aku bantu untuk melacak keberadaan Anette?' celetuk Sascha.


"Hemmp," ucap mereka secara serempak.


"Ternyata ide kamu sangat bagus sekali," puji Dewa.


"Dua ronde lima ratus ribu dolar," sahut Sascha dengan cepat.


"Apa?" pekik Dewa yang menatap Sascha dengan cepat.


"Iya. Setelah ini aku akan liburan bersama Dita di Bali," celetuk Sascha.


"Beberapa hari kamu disana?" tanya Dewa.


"Sepuasnya," jawab Sascha sambil tersenyum lucu.


Seluruh orang yang berada disana langsung meledakkan tawanya, kecuali Dewa yang menepuk jidatnya. Baru kali ini Sascha memasang tarif yang cukup mahal ketika dua ronde di atas ranjang. Bayangkan saja dua ronde harganya lima ratus ribu dolar.


"Baru saja dipuji langsung memasang tarif yang sangat mahal sekali," ucap Timothy yang kembali tertawa.


Dewa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia hanya menganggukan kepalanya dan menyanggupi keinginan Sascha.


"Rubah kecil yang imut," rayu Timothy.


"Ini juga merayuku ternyata," celetuk Sascha.


"Aku enggak merayu kamu," sahut Timothy.


"Kenapa kamu enggak jadi merayu Sascha?" tanya Dewa yang seakan Sascha meminta barang mahal.


"Enggak jadi merayu. Nanti kamu meminta mobil sport keluaran baru," jawab Timothy.


"Iya itu benar," seru Sascha. "Lagian aku pengen mobil keluaran baru."


"Mobil kamu kemana?' tanya Kobe.


"Selama aku berada di New York. Aku tidak memiliki mobil," jawab Sascha.


"Apakah kamu ingin memiliki sebuah mobil sport?" tanya Dewa.


"Aku tidak butuh mobil sport," jawab Sascha. "Aku hanya ingin memiliki mobil biasa saja."


"Timothy," panggil Dewa dengan serius.


"Yupz, ada apa?' tanya Timothy segera mengambil satu kotak nasi itu.

__ADS_1


"Belikan Sascha beberapa mobil yang sedang happening banget!" titah Dewa.


"Kapan?" tanya Timothy.


__ADS_2