Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK CABANG SURABAYA.


__ADS_3

"Kakek belum datang sama sekali. Mereka mungkin terjebak macet," Jawab Tommy sambil menghempaskan bokongnya di hadapan mereka.


"Akhir-akhir ini kok aku merasa Kakek sedang gelisah ya?" tanya Tommy.


"Ada masalah di rumah. Kamu tahu kan kalau rumah kakek itu sangat besar sekali?" tanya Dewa.


"Tahu," Jawab Tommy. "Apa hubungannya?"


"Rumah itu ditinggali oleh tiga keluarga sekaligus. Yang satu adalah keluarga kakek. Yang satu adalah sepupu kakek. Yang satunya adalah adik almarhum nenek. Mereka berusaha untuk membunuh kakek. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, hidup kakek merasa tidak aman tinggal di rumah itu. Jadi apa yang akan aku lakukan? Agar kakek ceria terus," jelas Dewa.


"Tiga keluarga sekaligus dalam satu rumah. Ini sangat gila sekali. Bagaimana bisa mereka hidup dalam satu rumah sekaligus? Aku rasa ini harus dibicarakan dengan baik-baik. Satu-satunya Jalan mereka harus keluar dari rumah itu. Kakek harus memberikan masing-masing satu rumah. Agar mereka tidak campur di sini," jawab Tommy yang memberikan solusi.


"Kalau tidak mau bagaimana?" Tanya Sascha.


"Mau tidak mau mereka harus keluar dari rumah itu. Biar bagaimanapun juga mereka tidak berhak menempati rumah itu," jelas Tommy.


"Masalahnya bukan itu. Satu keluarga ada yang mengancam kakek. Jika kakek mengusir mereka dari sana. Makanya itu aku sendiri berat untuk memecahkan masalah ini. Aku masih menghormati kakek untuk saat ini. Kakak nggak mau semuanya menjadi besar," ucap Dewa dengan pasrah.


"Ya nggak gitu kali. Kalau masalah ini dibiarkan berlarut-larut. Masa depan kalian akan terancam. Kalau kita memberikan rumah satu-satu buat mereka masing-masing. Mereka akan pergi dari sana sendiri-sendiri. Coba saja saranku ini. Kalau nggak berhasil ya sudah. Kita harus mengusirnya dengan cepat. Kasihan kakek hidupnya sangat tertekan sekali," ucap Tommy yang memberikan solusi terbaiknya.


"Jujur inilah yang membuat aku bingung setengah mati," kata Dewa yang bingung.


"Kamu nggak bu saya bingung seperti itu. Jalani aja. Kalau mereka tidak mau Terusir dari rumah itu. Buatlah perjanjian. Kalau mereka melanggar, Tuh ada rubah kecil di sampingmu. Masukkan saja rubah kecil itu di dalam rumah kakek. Nggak lama rubah kecil itu akan mengusir mereka dengan cara halus atau barbar. Aku yakin mereka tidak akan berani menginjakkan kakinya di rumah kakek," jelas Tommy.

__ADS_1


"Kamu itu sama saja. Rubah kecil berkata seperti itu. Rasanya aku ingin menangis melihat rumah kecil yang selalu mengobrak-abrik musuhnya dengan cara barbar. Terus aku bagaimana?" tanya Dewa sambil mengusap wajahnya berkali-kali.


"Sepertinya ada yang gak beres. Kak Tommy," panggil Sascha dengan lembut.


"Roti ayam panggang yang kamu makan sudah nggak ada. Sisanya dimakan oleh Bryan. Jadinya aku tidak memberikannya lagi kepadamu," sahut Tommy dengan jujur.


"Aku nggak mau itu. Sepertinya dia nggak beres dengan Kak Dewa dan keluarganya ini. Apakah aku harus membacakan masalah ini dengan sendiri?" tanya Sascha.


"Terserah kamu lah. Aku hanya menurutimu saja. Kamu memang sungguh luar biasa. Hanya sekali memijiti keyboard laptop. Semua masalah bisa teratasi dengan cepat dan baik. Lama-lama Aku ingin menangis saja melihatmu seperti itu," kata Tommy.


"Kayaknya yang harus disalahkan adalah Leo. Leo benar-benar harus disalahkan tentang Sascha. Nggak seharusnya Istriku itu bermain internet sampai malam-malam seperti itu," kesal Dewa terhadap Leo.


Tidak sengaja tawa Sascha pecah seketika. Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyerah. Tapi ada sisi baiknya juga jika Sascha mengetahui akan hal itu. Dewa tidak perlu lagi memanggil para hacker untuk mengerjakan tugasnya. Ia akan menyuruh sang istri untuk melakukannya dengan sukarela.


"Juara Abangku ini. Memang benar aku yang selalu mengerjakan tugas-tugasnya jika malam kalau ada hacker yang datang. Bahkan Kak Dewa langsung tidur dan meninggalkanku sendirian," ungkap Sascha dengan jujur.


"Kamu benar Tom. Jujur aku sudah tidak perlu lagi hacker di kantorku itu. Ngapain coba membangunkan mereka? Sementara istriku saja sudah bisa melakukannya," ucap Dewa yang kegirangan.


"Terus bayarannya apa?" tanya Tommy.


"Aku nggak minta apa-apa. Aku hanya meminta kesehatan buat Kak Dewa. Lagian juga aku sangat terima kasih telah dipertemukan oleh kedua orang tuaku sama Kak Dewa. Makanya aku harus membalasnya dengan kebaikan," ucap Sascha yang membuat Dewa terharu.


"Syukurlah kalau begitu. Itulah yang dinamakan cinta sejati. Memberi tanpa harus menerima. Ah rasanya aku ingin menyanyi," ujar Tommy.

__ADS_1


"Sepertinya kamu tidak perlu menyanyi Kak Tom. Kasihan aku nantinya. Aku Nanti bisa pingsan seketika," Ledek saja terhadap Tommy hingga akhirnya bisa membuatnya tertawa.


Selang beberapa detik kemudian, Kakek Aoyama datang bersama lainnya. Mereka Langsung memutuskan mengadakan rapat penting ini. Mereka membahas tentang betapa pentingnya nasib cabang Surabaya itu. Kemudian kakek Aoyama meminta pendapat Dewa. Dewa menceritakan solusi terbaiknya. Hingga akhirnya mereka pun setuju.


Hampir satu jam kemudian, Mereka membicarakan tentang nasib cabang Surabaya. Mereka sangat beruntung memilik kepala presiden yang sangat baik sekali. Dengan begitu cabang Surabaya sekarang menjadi tanggung jawab mereka. Dewa langsung membagi tugasnya agar mereka bekerja dengan baik. Dewa berharap masalah ini cepat selesai dalam satu bulan ke depan. Paling lambat yaitu tiga bulan ke depan. Mereka pun menyetujui keputusan Dewa.


Tepat jam 10.00 pagi, mereka akhirnya bubar. Sascha akhirnya bergabung bersama Leo. Mereka berdua bisa dikatakan partner sejati. Mereka sangat kompak sekali ketika bekerja. Lalu bagaimana dengan perasaan Dewa? Dewa tidak cemburu sama sekali kepada Leo. Sedari dulu mereka memiliki tali persahabatan yang sangat kuat. Bahkan Leo menganggap Sascha adalah Adiknya sendiri.


Sebelum bekerja Sascha dipanggil oleh kakek Aoyama. Mau tidak mau Sasha bertemu dengan kakek Aoyama terlebih dahulu. Ia meminta izin dulu kepada Leo. Akhirnya Leo mengijinkan dan membiarkan Sascha pergi terlebih dahulu.


"Mau ke mana kamu?" tanya Dewa kepada Sascha tanpa melihat sang istri sedang berdiri di hadapannya.


"Kakek sebentar lagi akan terbang ke Tokyo. Aku ingin menemuinya terlebih dahulu. Bisakah kamu tidak marah kepadaku hari ini?" tanya Sascha.


"Siapa lagi yang marah sama kamu. Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Kamu tahu kenapa aku bertanya itu? Karena aku tidak ingin kamu pergi dari sini tanpa seorangpun yang menemanimu," jawab Dewa sambil tersenyum manis.


"Boleh ya aku ke sana?" Pintas Sascha.


"Boleh. Pergilah. Temui kakek terlebih dahulu. Kakak sangat merindukanmu. Tapi sama aku tidak," Jawab Dewa dan mengusir Sascha dari ruangan itu untuk bertemu kakek.


Sascha tersenyum bahagia lalu meninggalkan ruangan itu. Ia diantarkan oleh salah satu pengawal Black Tiger. Sesampainya di sana Sascha masuk ke dalam ruangan kakek Aoyama. Lalu Sascha memanggilnya, "Kakek."


"Kemarilah sayangku," Sahut kakek Aoyama sambil Melambaikan tangannya ke arah Sascha.

__ADS_1


Lantas Sasha mendekati kakek Aoyama. Sasha bertanya terlebih dahulu sebelum memeluk sang kakek, "Apakah aku mengganggu kakek hari ini?".


__ADS_2