Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Dita Mengajak Tommy Untuk Menikah.


__ADS_3

"Iya papa," jawab Dita yang membuat Devan tersenyum manis. "Memangnya papa tahu kalau aku sedang berjalan dengan siapa sekarang?"


"Tahulah. Siapa saja yang menjadi pengawal bayangan kamu papa mengenalnya. Ditambah lagi papa memang sengaja meminta mereka untuk membuat laporan tentang kamu."


"terus siapa pacarku sekarang?" tanya Dita.


"Pacarmu sekarang adalah Tommy Wijaya. Yang dimana almarhum papanya adalah teman papa," jawab Devan yang membuat Dita matanya membulat sempurna.


"Oke... papa benar kali ini. Papa," rengek Dita.


"Apa lagi? Kekasih sudah punya. Terus sekarang?" tanya Devan yang sangat merindukan suara manja Dita.


"Suruh Kak Dewa buat adik bayi dari Kak Sascha," jawab Dita.


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Maaf pa," ucap Sascha yang tiba-tiba saja masuk dan melihat ada Dita sedang merengek manja.


"Tidak apa-apa," seru Devan yang memberikan Sascha kode untuk masuk.


"Ada apa ya?" tanya Sascha yang bingung.


Mendengar ada suara Sascha, Dita akhirnya menoleh ke arah Sascha. Dengan senyumnya yang manis, Dita segera mendekat dan menarik tangan Sascha agar masuk ke dalam.


"Ada apa sih Dita?" tanya Sascha.


"Itu. Si Dita pengen punya adik bay," jawab Devan yang blak-blakan.


"Ah... sepertinya sebentar lagi akan ada jamur kuning melengkung di rumah nich," ledek Sascha sambil menatap Dita.


Blush.


Wajah Dita yang semula normal berubah menjadi memerah karena malu. Dengan beraninya Sascha meledek Dita di hadapan Devan.


"Kapan aku menikah?" tanya Dita yang bingung dengan pernyataan Sascha.


"Memangnya Kak Tommy enggak bilang kalau sebentar lagi mau menikah?" tanya Sascha.


Dita menggelengkan kepalanya sambil menjawab dengan jantung yang berdetak kencang. Entah kenapa dirinya merasakan perih di dalam dada. Ia baru tahu kalau Tommy akan menikah.


"Huahaha... Kak Tommy kejam," seru Dita yang tidak terima dengan pernyataan Sascha.


Devan dan Sascha saling memandang. mereka tersenyum manis dan saling kompak untuk mengerjai Dita. Memang sebelumnya mereka tidak memberitahukan kalau mau mengerjai Dita. Entah kenapa rasanya ingin mengerjai Dita.


Dita keluar dan mencari keberadaan Tommy. Lalu ia mencari keberadaan Tommy hingga berkeliling markas ini. Setelah berkeliling mencari keberadaan Tommy. Ia menangkap siluet Tommy yang sedang berdiri tegak.


Dita mendekatinya dan menatap punggung Tommy sambil kesal. Ia mulai mengangkat kakinya dan menendang kaki Tommy dengan kuat. Hingga akhirnya,

__ADS_1


Bruuukkkk!


Salah satu dari pengawal Tommy mendekati dan menolongnya. Ia berteriak sambil mengangkat tubuh Tommy, "Tuan Muda."


"Aku enggak apa-apa," sahut Tommy dengan santai lalu berdiri.


Pengawal itu mulai mendekati Dita langsung mengangkat tangannya. Ketika ingin melayangkan tangannya ke arah Dita. Tommy berteriak, "Jangan kamu sentuh wanitaku!"


Pengawal itu langsung menunduk ketakutan. Ia tidak berani menatap wajah Tommy dan bersuara. lalu Tommy mendekatinya sambil menepuk bahu sang pengawal bayangannya itu.


"Dia bukan orang jahat. dia adalah wanitaku. Kamu harus menghormatinya juga sama seperti kamu menghormatimu," jelas Tommy yang membuat pengawalnya menganggukan kepalanya.


"Baiklah tuan. Saya meminta maaf," ucap pengawal itu sambil meminta maaf.


"Menjauhkan dari aku. Aku tidak apa-apa," usir Tommy.


Pengawal itu segera meninggalkan Tommy dan mengajak lainnya untuk menjauh sementara. Lalu Tommy melihat Dita sedang marah. Kemudian Tommy mendekatinya sambil tersenyum manis, "Kamu kenapa?"


"Apakah kakak mau menikah?" tanya Dita balik.


"Ya... aku ingin menikah," jawab Tommy. "Tapi apakah kamu mau?"


"Maksud kakak?" tanya Dita yang bingung dengan jawaban Tommy.


"Aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai," jawab Tommy yang tersenyum manis.


"Ya... itu benar. Aku memang mencintaimu. Tapi apakah kamu mau? Jika tahun depan kita menikah?"


"Kok cepat sekali?" tanya Dita.


"Jika aku tidak menikah dengan cepat. Aku nanti bisa dijodohkan sama wanita lain," jawab Tommy.


Tiba-tiba saja wajah Dita bersedih. Ia seakan tidak rela jika kekasihnya menikahi wanita lain. Lalu ia menatap wajah Tommy sambil meremas bajunya.


"Apakah kakak benar-benar mencintaiku?' tanya Dita.


"ya... itu benar. Aku memang sangat mencintaimu. Aku harap kamu mengerti. Aku ingin menikah sekali dalam seumur hidupku," jawab Tommy.


"Kalau begitu mari kita menikah," ajak Dita sambil melambaikan tangannya dan merayu Dita.


"Sepertinya kamu ingin menikah?" tanya Tommy sambil meledek Dita.


"Ya, ketimbang kamu menikah dengan wanita lain," jawab Dita.


Serasa mendapatkan lampu hijau dari Dita, Tommy langsung memeluknya. Ia memang ingin sekali menikah dengan Dita. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengambil keputusan dengan cepat.


Tidak sengaja Dewa yang membawa kopi terkejut dengan Tommy dan juga Dita. Dewa melihat adegan berpelukan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari sang istri.


"Dimana istriku?" tasnya Dewa dalam hati.

__ADS_1


Sascha yang baru saja berdiskusi dengan Devan melihat Dewa Ia merasakan ada sesuatu dari dalam tubuh sang suami. Lalu ia memutuskan untuk mendekatinya sambil bertanya, "Ada apa?"


"Aku tidak apa-apa," jawab Dewa yang menyodorkan kopi itu ke arah Sascha.


Sascha meraih kopi itu lalu meminumnya. Ia merasakan kopi itu sambil mencium aroma kopi dan berkata, "Kopi ini sangat enak sekali. Siapa yang buat kopi seenak ini?"


"Almond. Dia adalah seorang pria yang ditugaskan untuk menjadi pengawalmu. Selain itu juga dia sangat jago membuat kopi. Makanya itu aku suruh buat kopi. Ternyata dia adalah barista dari perusahaan kopi terbesar di dunia ini," jelas Dewa.


"Pantas saja. Jago sekali dia membuat kopi," puji Sascha kepada Almond. "Sepertinya aku harus belajar membuat kopi."


"Kamu enggak perlu belajar membuat kopi. Lebih baik kamu membuatkan aku teh hijau saja," ucap Dewa yang melarang Sascha untuk membuat kopi.


"Seharusnya wanita itu ditakdirkan untuk membuat kopi buat suaminya," sahut Sascha.


"Tidak perlu. Dari dulu aku kan tidak menyukai kopi. Kalau minum kopi pun itu juga jarang sekali. aku juga tidak menuntut Kalau kamu tidak bisa membuat kopi. Memangnya aku orangnya tukang suruh apa?"


"Kan aneh saja. Kalau perempuan itu tidak bisa membuat kopi. Malahan nanti akan banyak cibiran datang dari segala penjuru mata angin ke aku."


"Jadi wanita itu tidak sempurna, tidak apa-apa. Aku sebagai laki-laki tidak pernah menyuruhmu untuk menjadi wanita sempurna. Aku ingin melihat kamu tersenyum bahagia itu sudah cukup."


"Setiap laki-laki memiliki pandangan yang berbeda-beda. Banyak pria yang ingin membuat istrinya menjadi wanita sempurna. Jika tidak sempurna, kita sebagai wanita siap-siap untuk diselingkuhin."


"Nggak juga kali. Buktinya saja mama dan papa. Mama tidak pernah lulus dari SMP. Tapi mama memiliki kecerdasan otak yang tidak bisa ditebak. Kalau papa itu orangnya sudah mengenyam pendidikan S3. Kamu tahu apa bedanya mereka? Mama itu orangnya bisa membuat strategi pangsa pasar produksi mobil-mobil Nakata's Groups. Papa mengendalikan perusahaan dari dalam. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Mereka juga sudah memiliki komitmen yang kuat. Agar mereka bisa hidup damai dan selamanya."


"Tapi Kak?"


"Nggak usah pakai tapi-tapian. Ketika mereka berbicara, Apa kelemahan kamu? Mereka tidak paham dengan kelebihanmu. Mereka juga meremehkan kelebihanmu itu. Kamu nggak perlu takut dengan omongan mereka. Memangnya kamu makan meminta mereka? Biarinlah mereka mencampuri urusanmu. Asal mereka tidak membuatmu terluka. Lebih baik kamu tutup kuping dan tutup mata saja."


"Baik kak. Semakin hari Kakak semakin bijak untuk menghadapi mereka. Tapi kenapa aku kok nggak bisa ya?"


"Kamu terlalu memasukkan omongan mereka dalam hati. Nggak usah kamu ributkan mereka. Biarkanlah mereka menganggapmu sampah. Asalkan kamu tidak mengganggu mereka. Aku harap kamu paham dengan pembicaraanku ini."


"Terima kasih Kak."


Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Dirinya sering sekali memasukkan pembicaraan ke dalam hati. Padahal ia ingin sekali menutup mata dan telinga. Akan tetapi mereka selalu membuat luka yang dalam terhadap Sascha.


"Sudah cukup rasa sakit hatimu itu. Lebih baik kamu bangkit dan buktikan kepada mereka semua. Kalau kamu bisa dan bekerja dengan puas. Jika kamu sudah mendapatkan hasil yang maksimal. Maka mereka akan kepanasan melihat kamu menjadi orang sukses. Yang penting kamu sekarang semangat dan tidak boleh goyah. Karena kamu adalah kaki tangan mafia setelah ini."


Saacha menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia tidak mungkin menjadi wanita lemah di hadapan para musuh. Ia ingin sekali membuat kejutan demi kejutan buat para musuhnya satu persatu.


"Jadi pergi nggak ke Surabaya?" seru Dita yang masuk bersama Tommy.


"Sepertinya tidak dulu ya. Aku benar-benar capek dan ingin istirahat. Hari ini sangat melelahkan bagi aku. Masalah satu sudah selesai. Tinggal satu masalah lagi yang segera kuselesaikan," ucap Sascha ke arah Dita.


"Nanti malam kita berangkat ke Surabaya. Kalau kita menunda terus kapan akan selesai berkunjung menemui Ibu Nirmala dan Pak Andika," sahut Dewa.


"Upz... Aku lupa," ucap Sascha.


"Maksud kamu?" tanya Dewa.

__ADS_1


__ADS_2