
"Aku masih merindukan kamu. Aku takut jika kamu tidur lagi dan tidak bangun-bangun," jawab Dewa yang serius.
"What?" pekik Sascha.
"Itu benar. Aku takut kamu tertidur seperti itu lagi," jawab Dewa.
Sascha menggelengkan kepalanya sambil menatap Dewa. Lalu Sascha berkata, "Aku tidak akan tidur lagi. Aku capek. Bahkan aku ingin kerja."
"Kamu tidak boleh kerja. Kamu harus sembuhkan lukamu itu. Dan aku akan tetap di sini menjaga kamu hingga sembuh," jelas Dewa.
"Kak Dewa sekarang bucin," cebik Sascha.
"Biarin! Kan itu juga gara-gara kamu," ucap Dewa yang mengembangkan senyumnya,
"Astaga... Bagaimana ini?" tanya Sascha.
"Enggak usah gimana-gimana. Kamu tahukan kalau aku cinta pertamamu," ujar Dewa dengan penuh percaya diri.
"Darimana kakak tahu? Kalau kakak adalah cinta pertamaku?" tanya Sascha yang penuh dengan curiga.
"Kamu tahu... selama ini aku sering membaca buku dairymu," jawab Dewa yang blak-blakan.
"A... a... a... apa maksudnya?" tanya Sascha.
"Ya... kamu menuliskan tentang aku. Bahkan kamu sangat mengagumi aku," jawab Dewa yang tersenyum jahat.
"Duh Gusti... iki piye?" tanya Sascha yang meringis.
"Enggak gimana-gimana. Lagian kalau kagum itu langsung ngomong. Enggak usah ditutupi. Untung saja orang yang kagumi itu memiliki kepekaan yang tinggi," ledek Dewa.
"Terserah kamu saja," balas Sascha yang memuat bolanya dengan malas.
Gerre dan Chloe tidak sengaja melihat dan mendengar mereka berdebat. Mereka tersenyum melihat Sascha yang jengkel kepada Dewa. Hati mereka menjadi hangat ketika Sascha telah kembali seperti dulu.
"Sepertinya Aulia telah kembali. Aulia kalau berbicara suka ceplas-ceplos telah hadir di keluarga kita," ucap Chloe yang bahagia.
__ADS_1
"Ya... Kamu benar," balas Gerre yang menutup pintunya pelan.
"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Chloe.
"Aku akan membawanya ke Hamburg. Aku akan menghubungi Matias untuk mengobati Sascha. Sascha harus sembuh dari sakitnya," ujar Gerre.
"Jika Sascha ke Hamburg, apakah Dewa ikut?" tanya Chloe.
"Seharusnya aku tidak mengajaknya. Biarkan Sascha melakukan pengobatan secara damai," kata Gerre yang bimbang.
Chloe menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku tidak yakin kalau Dewa mau ditinggal pergi sementara. Kisah putriku sama sepertiku. Yang dimana kamu selalu mengejarku. Jujur saja saat itu aku sangat membenciku."
Cup.
Gerre sengaja mencium mulut Chloe agar tidak banyak bicara. Gerre tersenyum lucu melihat sang istri wajahnya berubah menjadi merah. Ah... rasanya Gerre sangat suka sekali menggoda sang istri.
Nganjuk Indonesia.
Tepat pukul 4.00 sore ponsel Kinanti berdering. Kinanti segera meraih ponselnya sambil melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kemudian Kinanti tersenyum mengembang dan langsung mengangkatnya.
"Lu masih ingat gue kagak?" tanya Santi yang memakai nada sombong.
"Ya... kenal. Lu kan bukannya Santi adiknya Billi?" tanya Kinanti balik.
"Iyalah.. masa lu kagak tahu sih. Gue orang yang tercantik dan termodis sepanjang tahun ini," ejek Santi secara halus.
"Ada apa lu telepon gue?" tanya Kinanti.
"Gue mau bisnis sama lu. Gue mau bayar lu lima puluh juta. Ya... kalau lu mau menyanggupi permintaan gue," jawab Santi.
"Lima puluh juta?" pekik Kinanti.
"Iya.... Lu mau apa kagak?' tanya Santi.
"Mau mau saja sih," jawab Kinanti yang membayangkan uang lima puluh juta berada di tangannya.
__ADS_1
"Ya... Kalau begitu lu mau bunuh Sascha enggak?" tanya Santi.
"Bunuh?" pekik Kinanti.
"Lu bunuh dia... Eh... jangan... jangan... lu enggak usah bunuh Sascha sekarang. Lu gue tugasin membuat menderita. Ya... semuanya terserah lu. Kalau enggak lu buat celaka hingga cacat... Atau lu santet... pokoknya terserah lu mau lakuin apa. Yang penting Sascha menderita," suruh Santi.
"Nyantet... Eh... kalau itu gue butuh duit banyak. Kalau lu enggak ngasih gue duit. Mana mau tuh dukun. Lima puluh juta itu uang gue. Kalau yang itu lain. Gue enggak mau keluar uang banyak," ucap Kinanti yang ngegas.
"Kalau itu sudah gue siapin. Uang lima puluh juta itu hanya uang muka. Kalau lu berhasil membuat Sascha menderita.. bisa dipastikan gue ngasih uang lebih banyak dari itu," jelas Santi. "Kalau begitu lu lakuin dech. Gue mau denger hasilnya."
Sementara Bu Nirmala terkejut mendengar pembicaraan Kinanti yang menyinggung Sascha. Bu Nirmala hanya bisa mengelus dada karena mendengar jelas apa yang direncanakan. Bahkan Bu Nirmala sangat takut kalau rencana itu dijalankan. Selama ini perekonomian keluarga Bu Nirmala ditopang oleh Sascha. Semenjak Pak Andika mengalami kecelakaan, Saschalah yang bekerja keras demi mencukupi keluarga tersebut. Bahkan uang SPP milik Kinanti yang membayar Sascha.
Sascha termasuk gadis yang kreatif. Sascha sering ikut EO mendesain acara pesta. Selesai pulang sekolah Sascha suka berkumpul dengan Maya, Della dan Intan. Disinilah Sascha mulai belajar mandiri.
Bu Nirmala segera mendekati Kinanti lalu menampar keras pipi sang putri. Sedari dulu Bu Nirmala sangat muak melihat perlakuan sang putri. Bu Nirmala sangat kecewa dengan perlakuan Kinanti kepada Sascha.
Plaaaaakkkk!
Kinanti hampir terhuyung jatuh. Namun dengan cepat Kinanti menahan berat tubuhnya agar tidak terjatuh. Dengan mata menyalang Bu Nirmala bertanya, "Apa yang kamu rencanakan kepada Sascha?"
Kinanti memegang pipinya merasakan perih. Kinanti malah berdiri tegak lalu berkata dengan suara meninggi, "Ibu enggak usah ikut-ikutan rencanaku!"
"Rencana apa! Rencana melenyapkan Sascha! Begitukan!" bentak Bu Nirmala.
"Aku memang sedari dulu ingin membunuh Sascha! Aku memang sangat membencinya! Ibu tahu selama ini membanggakan Sascha! Lalu aku apa! Aku hanya mendapat caci maki dari kalian! Sudah saatnya Sascha pergi dari bumi ini!" bentak Kinanti yang tidak terima dengan kenyataan.
"Oh... kamu minta dipuji! Pujian apa yang kamu inginkan! Sedari dulu kamu selalu membuat kami kecewa! Ibu tahu kamu pergi kemana waktu sekolah! Kamu pergi bersama teman priamu hingga mabuk. Kamu tidur bersama mereka sampai kamu hamil. Apakah itu yang dinamakan pujian yang membuat hati ibu sakit!" bentak Bu Nirmala. "Dan kamu harus tahu meskipun Sascha jauh dari ibu. Sascha adalah gadis mandiri. Semenjak bapakmu kecelakaan Saschalah yang menopang perekonomian kita. Dan satu lagi yang perlu kamu tahu, Saschalah yang membiayai kamu hingga lulus!" bentak Bu Nirmala.
"Halah... alasannya saja. Ibu tahu kalau Sascha suka menjual dirinya ke para pria tua! Diam-diam Sascha menjajakan tubuhnya ke pria hidung belang!" kesal Kinanti yang berusaha menfitnah Sascha.
"Jaga ucapanmu itu!" bentak Bu Nirmala.
Kinanti begitu kesal ketika Bu Nirmala selalu membela Sascha. Kinanti terus saja melemparkan ancaman demi ancaman buat Sascha sambil meninggalkan Bu Nirmala. Sedangkan Bu Nirmala berdoa agar Sascha selalu dilindungi sang pencipta. Bu NIrmala tidak mau pertengkaran adik kakak itu terjadi.
Seoul, Korea Selatan.
__ADS_1
Dita yang baru saja sampai langsung mencari kamar Sascha. Dita sangat sedih sekali dan berharap Sascha tidak terjadi apa-apa. Ketika sudah sampai di depan ruangan Sascha, Dita terkejut melihat Chloe dan Gerre. Dita bingung apa yang dilihatnya itu. Kemudian Dita bertanya dalam hati, "Apakah aku bermimpi bertemu dengan artis Hollywood di sini?"