
"Kalian ini adalah seorang tuan putri dan pangeran dari kerajaan Nakata's Groups. Tapi nyatanya kalian tidak pernah mencerminkan, siapa diri kalian masing-masing?" Ucap Sascha.
"Memangnya itu perlu ya? Kita ini sebagai manusia biasa. Gelar-gelar seperti itu juga hanya titipan. Jujur untuk saat ini aku memang suka menjadi manusia biasa. Ketimbang menjadi pangeran atau apapun itu. Bahkan Bang Kobe melepaskan seluruh jabatannya di perusahaan besar itu. Aku selalu sama pamanku itu. Aku sering mendapatkan pelajaran yang sangat indah darinya," sahut Dewa.
"Memang bener sih. Kita nggak perlu melakukan dan berkata kepada setiap orang. Kalau kita memiliki status sosial yang tinggi. Jadi orang biasa itu banyak untungnya. Untungnya kita ke mana-mana tidak ada yang mengganggu. Mau melakukan hal gila pun tidak ada yang menyorot sama sekali. Melakukan apapun itu semua orang tidak peduli akan hal itu. Dan aku sendiri merasakannya. Banyak orang yang tidak mengenalku. Kalau aku adalah seorang putri dari Gerre," ujar Sascha.
"Nah itu bener Kak. Aku setuju. Jujur saja malah nyaman hidup seperti ini. Aku tidak menyangka kalau diriku adalah seorang putri," jelas Dita. "Jadi rencana kita ngapain ya di sini?"
"Kita di sini hanya tiga hari saja. Setelah itu kita kembali ke Jakarta untuk menengok rumah terlebih dahulu. Katanya sih Timothy sudah memberikan kamu dua anjing yang sangat lucu. Maka dari itu kita lihat Bagaimana anjing tersebut? Lalu kita bawa ke Amerika untuk diadopsi. Aku sudah membeli rumah baru di sana. Lalu apartemen aku jual. Sebab rumah itu berdekatan dengan kantor miliknya Sascha dan milikku. Jadinya untuk saat ini aku tidak memerlukan apartemen lagi," ucap Dewa yang sengaja menjual apartemennya itu.
"Kenapa kamu jual? Lebih baik nggak usah dijual. Kamu sewakan saja. Lagian apartemen itu bisa menjadi aset jangka panjang," tanya Sascha.
"Jangka panjang sih jangka panjang. Aku takutnya nanti kamu curiga. Jika kamu ngambek aku tidur di apartemen. Kamu bilangnya selingkuh. Kan gawat jadinya," jelas Dewa yang membuat Dita tertawa.
"Iya juga sih Apa katamu. Lebih baik jual sajalah. Aku ikhlas kok. Lagian kalau kita memiliki banyak rumah. Siapa coba yang mau menempatinya. Kalau lagi mengadakan perjalanan bisnis. Kita hanya menyewa hotel untuk beberapa hari kedepan saja," sambung Sascha.
"Nah bener Kak aku setuju dengan pendapatmu. Aku jadi ingat dengan temanku sendiri. Dia sengaja membeli apartemen setelah menikah. Tapi dia nggak bilang sama istrinya. Diam-diam apartemen itu dijadikan tempat perselingkuhannya," tambah Dita.
__ADS_1
"Lalu Bagaimana ceritanya?" tanya Sascha.
"Rame Kak ceritanya. Bahkan cerita itu masuk ke dalam paparazzi. Yang lebih parahnya Dia itu suka bergonta ganti pasangan. Aku sendiri sampai bingung melihatnya," jawab Dita.
“Apakah dia seorang aktor?” Tanya Sascha yang sangat penasaran sekali.
“Ya, dia memang seorang aktor. Dia juga sebagai teman lawan mainku. Orang itu sering sekali melakukan perselingkuhan di dunia nyata. Hingga akhirnya dia digerebek oleh istrinya sendiri. Berita itu viral hingga ke seluruh negeri ini. Bahkan Kakak juga pernah ditawari untuk melakukan hubungan yang tidak boleh dilakukannya,” jawab Dita dengan jujur.
“Oh iya, aku baru tahu. Kalau nggak salah dia habis nikah nawarin aku melakukan itu. Jujur pas waktu itu aku langsung menolaknya dengan mentah-mentah. Aku sendiri bingung dengannya. Lalu aku biarkan saja,” sahut Sascha.
“Jujur saja waktu itu orangnya sangat aneh sekali. Aku sampai takut karena diteror habis-habisan. Jadinya aku kesal sama dia,” sahut Sascha.
“Nah makanya kan... Jangan pernah percaya pada omongan cowok. Mereka itu seperti itu sifatnya. Untung saja kejadian itu sudah lama. Kalau masih baru akulah orang yang pertama yang menghajarnya. Aku tidak peduli dengan hal itu. Apalagi orang itu adalah orang yang sangat berbahaya sekali,” jelas Dewa yang memperhatikan obrolan mereka.
“Ya mau bagaimana lagi. Namanya orang berkenalan lalu meminta nomor ponsel. Bisa jadi kita pakai dia sebagai brand ambassador baru. Eh ujung-ujungnya begitu deh,” sahut Sascha.
“Kakak ipar benar. Lagian juga Kakak saat itu sedang membangun beberapa apartemen. Terus belum lagi resortnya. Kan kakak menjurusnya ke artis-artis ibukota yang sangat terkenal. Nah di bidang marketing Kalau kita memakai dia untuk dijadikan brand ambassador. Aku yakin dalam beberapa hari unit apartemen kakak yang dilemparkan itu ludes terjual,” sambung Dita sambil menganalisis keadaan.
__ADS_1
“Kamu memang benar. Tapi ya sudahlah. Kejadian itu tidak akan terulang lagi. Kalaupun terulang berarti itu sama aku,” sahut Dewa.
Mata Dita membulat sempurna. Bagaimana bisa si abangnya berkata seperti itu? Namun kenyataannya itu benar. akan mempertanggungjawabkan atas kejahilannya itu. Namun dalam hati Dita, dirinya sangat bahagia sekali.
Mereka akhirnya melanjutkan untuk makan siang. Dengan diiringi terpaan angin dari sawah, membuat mereka semakin nikmat saja berada di sawah. Setelah makan mereka diam di dalam saung. Lalu mereka bermain game online. Sambil menghabiskan waktu, mereka mengasah bakat dalam permainan game online. Tidak disangka-sangka, Sascha akhirnya bisa memenangkan pertandingan. Dengan mudahnya si rubah kecil itu mengalahkan si serigala licik. Sampai si kelinci mungil hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
Waktu menjelang sore, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Di perjalanan menuju rumah, banyak sekali yang menyapa mereka. Mereka dengan ramahnya menyapa balik dan berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain. Sesampainya di rumah, mereka membagi tugasnya. Dewa membersihkan rumah. Sedangkan Dita dan Sascha memasak untuk makan malam.
Saat memasak makan malam, mereka tidak sengaja melihat bayangan Bu Nirmala dan Pak Budiman sedang duduk di meja. Mereka sangat terkejut sekali dan tetap berada di posisinya. Untung saja mereka tidak takut dengan kehadiran Bu Nirmala dan Pak Andika. Akhirnya bayangan itu menghilang dan membuat mereka menjadi lega.
“Kok jadi horor gini ya Kak?” tanya Dita.
“Aku nggak tahu. Aku juga sepertinya merasakan hawa yang dingin tadi. Besok pagi ikut aku yuk ke makamnya mereka. Sepertinya mereka sangat rindu kita,” jawab Sascha.
“Ya Kakak benar. Kemungkinan besar sih mereka merindukan kita. Jujur ketika mereka hidup, aku berencana untuk ke sini dan liburan. Tapi jadwalku saat itu sangat padat sekali. Aku tidak bisa ke mana-mana. Aku harus bangun pagi pulang malam kadang-kadang pulang pagi. Liburan pun hanya dikasih sehari saja dalam waktu seminggu. Bayangkan saja kalau itu terjadi? Aku sendiri aja bingung,” ucap Dita secara blak-blakan.
__ADS_1