
"Aku nggak marah sama papa. Aku juga nggak marah sama Kak Dewa. Lagian aku kesel saja sama orang itu. Bisa-bisanya aku dituduh merebut suaminya. Buat aku sangat aneh sekali. Padahal aku sendiri nggak pernah pulang ke sini. Kalau pulang juga ada perlunya," jawab Sascha yang berhenti mendadak.
Kedua pria berbeda generasi itu pun hanya terdiam. Mereka sangat lega ketika Sascha tidak marah kepadanya. Andai saja Sascha saat ini marah-marah. Mereka menjadi bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Sascha akhirnya mencari pasien wanita itu. Sascha sangat penasaran sekali dengan keadaan ibu hamil itu. Ia berharap tak akan ada korban jiwa dalam kasus ini.
Setelah mendapatkan konfirmasi, Sascha sangat lega sekali. Wanita itu langsung mendapatkan perawatan khusus. Untungnya warga desa setempat sangat sigap dengan warga lainnya.
Tak lama Pak RT pun datang. Lalu Pak RT bertanya kepada Sascha, ada apa sebenarnya. Hingga akhirnya Sascha bercerita kronologi kejadian tentang kasus tadi. Pak RT pun mengerti dan meminta maaf kepada Sascha.
"Tidak usah meminta maaf kepada saya. Saya tidak apa-apa. Saya juga tidak bermaksud untuk membuat ibu itu pingsan. Saya dituduh sebagai pelakor. Bapak tahu sendiri kan kalau saya jarang ada di rumah. Paling saya di rumah hanya sehari dua hari saja. Karena saya rindu sama Pak Andika maupun Bu Nirmala," jelas Sascha.
"Saya paham itu nak. Saya mengerti Kalau kamu tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tenang saja, semuanya akan diproses oleh hukum. Soalnya Linda sering sekali membuat warga resah. Yang dimana Linda suka menuduh para perempuan merebut suaminya," Ucap pak RT.
"Begini Pak. Biaya persalinan ibu itu biar saya yang menanggungnya. Saya tahu ibu itu sangat menderita sekali karena Linda. Kapan-kapan ajak saya ke rumah ibu itu. kalau ada yang diperbaiki maka saya harus melakukannya. Bapak tidak perlu pusing lagi untuk ibu itu," sambung Sascha sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih. Kamu sudah memberikan kami kebahagiaan tiada tara di sini. Semoga apa yang diceritakan kamu tercapai. Banyak warga yang sangat sayang sama kamu. Mereka berterima kasih atas program desa semuanya tercapai," Ucap pak RT yang membuat Sascha terharu.
"Ya sudah deh Pak. Saya undur diri dulu. Kasihan papa dan suami saya telah menunggu," pamit Sascha lalu pergi meninggalkan Pak RT dan mendekati Dewa.
Yang dikatakan Pak RT itu benar. Seluruh warga desa di sana sangat menyayangi Sascha. Meskipun saja adalah wanita karir, Sascha tidak akan pernah melupakan adatnya sebagai orang desa. Bahkan Sascha sendiri juga sangat menyayangi mereka.
Sascha akhirnya mengajak mereka pulang ke rumah. Jalan-jalan kali ini gagal total. Seharusnya ia mengajak sang Papa pergi ke sawah. Namun gara-gara Linda acara tersebut menjadi selesai.
__ADS_1
"Kemana Devan?" tanya Gerre.
"Setelah dari sawah, papa ikut para pengawal berlari-lari kecil mengelilingi kampung. Tapi aku tidak ikut karena rindu pada istri kecilku ini," jawab Dewa sembari mencari alasan yang tepat agar bisa mendekati Sascha.
"Sepertinya kamu itu sudah terkena setan bucin. Sasha tidak akan pergi kemana-mana," kesal Gerre terhadap Dewa.
"Papa ih. Yang namanya orang jatuh cinta ya seperti itu. Kemanapun aku pergi dia pasti mencarinya," ucap Sascha yang sebenarnya tidak ingin membela Dewa.
"Papa juga gitu kan sama mama Chloe," ledek Dewa yang sengaja membuat Gerre menahan malu.
Sebenarnya Gerre tidak malu kepada Dewa. Namun ia sekarang diledek habis-habisan oleh menantunya itu. Akan tetapi yang dibicarakan oleh Dewa memang benar apa adanya. Ternyata Gerre juga sangat parah. Tingkat kebucinannya melebihi Dewa.
Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Mereka tidak jadi merasakan suasana damai ketika berada di tengah-tengah sawah. Jujur, peristiwa tadi memang tidak bisa diprediksi begitu saja. Peristiwa ini adalah sebuah misteri. Namun wanita berparas cantik itu hanya bisa berlapang dada. Untungnya Dewa memegang rahasia Sascha. Hingga seluruh orang percaya kepada Dewa.
"Ada apa? Kamu kok seneng banget," tanya Dewa.
"Wanita tadi sudah melahirkan. Wanita itu memiliki seorang putri yang sangat cantik kata Pak RT. Syukurlah semuanya selamat. Aku tidak bisa membayangkan kalau terjadi apa-apa dengan mereka," jawab Sascha.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Dewa sambil menatap wajah sang istri.
"Aku akan memberikan sejumlah uang untuk membiayai anak itu. Aku yakin anak itu akan menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya," jawab Sascha sambil membalas tatapan Dewa.
"Sekarang yang jadi pertanyaannya untuk saat ini. Di mana bapak yang telah membuahi ibu itu hingga hamil besar?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Aku nggak tahu Kak. Lagian juga aku belum mencari informasi tentang ayahnya. Yang menjadi pertanyaannya, Apakah ayahnya masih hidup atau tidak?" tanya Sascha balik.
"Kamu benar. Apakah aku harus menurunkan beberapa orang untuk mencari keberadaan ayahnya?" tanya Dewa dengan serius.
"Kita tanya saja kepada warga. Aku yakin sang ayah masih hidup. Tapi kok perasaanku nggak enak ya?"
"Maksud kamu apa?"
"Antara ada dan tiada.''
"Lalu bagaimana selanjutnya?"
"Jalan satu-satunya ya tanya. Nggak mungkin aku diam saja seperti ini. Pasti ada itu suaminya. Kalau ada aku akan menyuruhnya pulang. Kalau nggak ya sudah. Kenapa sih pihak cewek selalu tersakiti seperti ini? Padahal kami ini selalu membuat para pria bahagia. Apakah kami wanita tersakiti tidak sempurna di mata semua pria?" tanya Sascha sembari curhat kepada Dewa.
"Nggak semuanya laki-laki seperti itu. Merekalah orang yang gak puas terhadap istrinya. Mereka mau enaknya saja tapi nggak mau bertanggung jawab. Kalau aku pengen jadi pria yang bertanggung jawab. Seburuk-buruknya aku, aku ingin membangun bahtera rumah tangga menjadi sangat indah."
"Apakah kakak marah sama aku?"
"Aku nggak pernah marah sama kamu. Kamu itu kalau ngomong terlalu jujur. Itulah yang aku suka darimu. Kalau kamu nggak jujur, bagaimana bisa aku mengintropeksikan diriku ini. Kamu itu sudah menjadi cambuk buat diriku. Jika ada cambuk, aku berusaha untuk menjadi pria sempurna di matamu," jelas Dewa sambil memeluk Sascha.
"Kamu sangat puitis sekali. Dari mana kamu belajar puitis seperti itu? Padahal kamu sendiri bukan seorang pujangga," tanya Sascha dengan jujur.
"Belajar neng. Kalau nggak belajar ya nggak bisa. Semuanya itu harus membuat dan merangkai kata-kata. Merayumu itu sangat susah sekali. Tolong rayu orang lain malah lebih gampang," jawab Dewa.
__ADS_1
Sascha tersenyum dibuatnya oleh Dewa. Meskipun rencana pagi ini hancur, hati Sascha tidak hancur seperti itu. Melainkan Sascha sangat bahagia sekali.