Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SEMUANYA BERADA DI PIHAK SASCHA.


__ADS_3

Sascha segera mendekati para mama dengan wajah cemberut. Ia menghempaskan bokongnya duduk di samping Chloe.


"Ma?" panggil Sascha ambil merengek manja.


"Ada apa?" tanya Chloe yang merasakan Sascha sedang merengek manja.


"Kenapa Kak Dewa sangat jelek sekali?" tanya Sascha yang membuat Tara menahan tawanya.


"Apa maksud kamu? Bukannya kamu memuja-mujanya? Lalu kamu bilang Kak Dewa sangatlah tampan ketimbang Papa kamu?" tanya Chloe yang memijiti keningnya.


"Itu dulu," ucap Sascha dengan jujur. "Sekarang sangat jelek sekali."


Ketika Sascha berkata seperti itu, Tara langsung meledakkan tawanya. Ia tidak menyangka kalau sang menantu kesayangannya berkata blak-blakan terhadap Dewa.


"Tuh kan ma. Mama mertua sangat setuju dengan pendapatku," ucap Sascha.


"Kamu ini kenapa?" tanya Chloe yang bingung dengan Sascha.


Tara memberikan kode untuk menyetujui pembicaraan Sascha. Mau tidak mau Chloe akhirnya menyetujui apa kata Sascha. Ia langsung memeluk Sascha dari samping.


"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba saja kamu sangat membencinya," tanya Chloe yang menatap wajah Sascha.


"Entahlah ma. Tiba-tiba saja aku sangat membencinya," ucap Sascha dengan jujur.


"Kamu itu ada-ada saja. Kamu lagi ngidam ya?" tanya Tara.


"Enggak ma," jawab Sascha. "Aku lagi enggak ngidam sama sekali."


"Itu namanya lagi ngidam sayang. Kamu ngidam sangat membenci Dewa. Biasanya kalau wanita hamil itu sudah biasa. Nanti kalau bayinya lahir, kamu tidak perlu membencinya lagi," kata Tara yang pernah mengalami hal sama.


"Oh... begitu ya ma. Tapi kenapa aku membenci Kak Dewa ya? Padahal aku sangat mencintainya?" tanya Sascha yang memegang dagunya.


"Itu hal yang wajar. Semuanya tidak menjadi masalah buat kamu," jawab Tara. "Jangankan kamu. Mama juga pernah merasakan hal sama."


"Lalu bagaimana dengan papa Devan?' tanya Sascha.


"Papa Devan sudah paham dengan mama. Malahan Papa Devan masih setia mendampingi mama sampai melahirkan Dewa ke dunia ini," jawab Tara.


"Apakah mama marah sama aku? Sebab aku mengucapkan putra mama sangat jelek sekali," tanya Sascha yang tiba-tiba saja ketakutan.


"Mama tidak pernah marah sama sekali sama kamu," jawab Tara yang menatap Sascha yang tiba-tiba saja ketakutan.

__ADS_1


"Sascha sangat ketakutan sekali loh," ucap Chloe.


Sascha hanya menganggukan kepalanya dan bersembunyi di pelukan Chloe seperti anak kecil ingin menangis.


Tara tersenyum manis sambil lalu berkata, "Jangan takut. Mama tidak akan marah sama kamu. Malah mama senang kalau kamu ngidam."


"Hmmmp... Kok aku jadi bersalah sama Kak Dewa ya?'" tanya Sascha yang sudah selesai bersembunyi.


"Kamu enggak bersalah sama sekali. Itu hanyalah bawaan bayi kamu," ucap Chloe.


"Lalu bagaimana deengan Kak Dewa nanti? Kak Dewa sangat membenciku," tanya Sascha yang membayangkan kalau Dewa sangat membencinya.


"Dia tidak akan membenci kamu. Dia memang sangat menyayangi kamu.bahkan cintanya tidak akan pernah luntur sama sekali," jelas Tara yang mulai menenangkan Sascha.


Kemudian Sascha mulai tenang. Ia tidak menyangka kalau dirinya memang tidak ingin membenci Dewa. Namun apa dikata? Hatinya mash sangat membenci Dewa.


Sedangkan Dewa, Dewa malah memilih berkumpul dengan para pria. Ia lalu melihat Devan sambil bertanya, "Apakah aku kurang tampan?"


Ketika Dewa berkata seperti itu, mereka menahan tawanya. Mereka baru sadar kalau Dewa sepertinya memiliki masalah. Namun Mereka tidak membantunya sama sekai. Malah mereka meledakkan tawanya.


Biasanya suasana di dalam pesawat sepi dan sunyi langsung ramai. Para pramugari dan pramugara bertanya-tanya di ruangannya, ada apa ini? Hingga akhirnya mereka tidak memperdulikan sama sekali.


"Kata siapa kamu kurang tampan? Bahkan yang namanya Bima sang playboy kalah telak tampannya dari kamu," ucap Devan yang menghibur Dewa.


Dewa hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia menatap wajah Gerre sambil berdoa dalam hati. Jujur dirinya sangat takut sekali jika papa mertuanya itu menyemprotnya habis-habisan.


"Hmmmp.... anu pa?" tanya Dewa.


"Anu apa?' tanya Devan dan Gerre secara bersamaan.


"Aulia Atmaja yang mengatakan aku kurang tampan. Bahkan Aulia Atmaja sendiri mengatakan kalau dirinya sangat membenciku," jawab Dewa.


Seketika mereka meledakkan tawanya lagi. Mereka paham apa yang dirasakan Dewa, ketika sang istrinya sedang hamil.


"Hmmmp.... aku rasa Aulia tidak salah kalau berkata jujur seperti itu," jelas Bima yang sengaja meledek Dewa.


"Ah... sialan kamu," kesal Dewa.


"Aku pun juga sama sependapat dengan Aulia," seru Eric yang bersemangat sekali untuk meledek habis-habisan Dewa.


"Aku pun sama. Aku berada di pihak Aulia Atmaja," ucap Leo yang mendukung Sascha.

__ADS_1


Mereka serempak mendukung Sascha. Mereka sudah lama tidak membully Dewa habis-habisan. Inilah waktu yang tepat mereka melakukannya. Bahkan para papa juga berada di pihak Aulia. Sungguh apes nasib Dewa sekarang.


Beberapa saat kemudian Gerre mendapatkan sebuah pesan dari Matias. Ia membuka pesan itu dan membacanya. Ia sangat terkejut sekali dengan pernyataan Matias.


Melihat Gerre terkejut,Dewa mengerutkan keningnya. Ia menatap wajah Gerre sambil bertanya, "Papa ada apa?"


"Papa mendapatkan sebuah pesan dari Matias,'' jawab Gerre.


"Pesan apa itu?" tanya Dewa yang sepertinya menaruh curiga.


"Apakah Dita pernah diculik?" tanya Gerre.


"Hmmmp," jawab Dewa sambil mengingat kejadian di masa lalunya itu. "Pernah."


"Kapan itu?" tanya Bima yang baru mengetahui kalau Dita pernah diculik.


"Kejadian itu sudah lama. Aku sendiri masih ingat betul ketika kehilangan Dita," jawab Dewa.


"Diculik dimana?" tanya Ian.


"Di rumah," jawab Dewa.


"Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Putriku memang pernah diculik di mansion," ucap Devan yang membenarkan jawaban Dewa.


"Aku enggak percaya soal itu. Soalnya mansion yang kamu tempati itu sangatlah ketat," ujar Ian.


"Ada yang mengkhianati kami. Mereka ada dua orang. Satu pelayan perempuan dan satu pengawal yang berjaga di pintu masuk," sahut Devan yang mengetahui semuanya.


"Kalau Dita diculik di dalam mansion, aku seakan tidak percaya. Kalau ada orang dalam baru aku percaya," sambung Leo.


"Kalau di luar mansion aku percaya. Soalnya aku sendiri paham dengan apa yang berada di luar mansion,'' sahut Ian.


"Mereka sengaja bekerja sama dengan satu organisasi bawah tanah di bidang human trafficking," ucap Gerre yang membuat mereka terkejut.


"Memangnya ada ya? Mafia di bidang human trafficking," tanya Eric. "Setahuku sih obat-obatan terlarang dan dunia persenjataan."


"Ada. Mereka berkedok sebagai agen rahasia mata-mata. Agen rahasia mata-mata itu berasal dari Kanada," jelas Gerre.


"Kalau itu aku sudah tahu pa," celetuk Dewa.


"Ada sebuah fakta yang disembunyikan oleh mereka," sahut Gerre.

__ADS_1


"Apa itu pa? Jangan bilang agen rahasia itu bekerja sama dengan seseorang?" tanya Ian yang sangat penasaran sekali.


__ADS_2