
"Iya itu benar," jawab Sascha sambil melihat Damar yang sudah kacau sekali. "Aku selama ini disiksa oleh Damar."
"Kenapa kamu tidak bilang sama papa saat itu juga?" tanya Gerre.
"Kenapa aku enggak bilang sama papa? karena aku tidak mau papa memecatnya," jawab Sascha.
Tertegun sudah jawaban Sascha. Dahulu Sascha tidak pernah bilang kepada Gerre karena kasihan. Ia membiarkan Damar untuk bekerja dan membiayai keluarganya.
"Biar bagaimanapun kamu harus bilang kepada papa. Sebab kamu adalah permata Hati papa. Papa bisa mencari seseorang yang sanggup mengerjakan tugas-tugasnya. Nggak kayak orang ini. Jika tahu, papa kan mama catnya dan memiskinkan orang ini," ucap Gerre dengan dingin.
Bugh....
Bugh....
Bugh...
Gerre hanya memukul tiga kali saja. Namun pukulan yang sangat mantap dan berbunyi dengan kencang. Ia tidak akan pernah memaafkan Damar lagi. Ia juga akan menarik seluruh fasilitas yang dimilikinya.
"Sudah cukup bagiku Damar. Kamu sudah menyakiti putriku. Kamu sudah menyakiti istriku. Kamu sudah memisahkan putriku dengan aku. Sekarang kamu akan menderita dan menjadi bulan-bulanan. Aku akan menghukummu di bawah sel ruangan bawah tanah. Aku juga tidak akan melepaskanmu begitu saja!" perintah Gerre.
Damar hanya bisa menyesali perbuatannya. Luka lama yang dirasakan oleh Sascha terbuka jelas. Ia hanya menangis dan membiarkan air matanya jatuh. Hanya demi aset milik Khans Company, Damar sudah melakukan hal di luar nalar.
Malam itu juga Gerre langsung meminta Bima untuk mengirimkannya ke Amerika. Gerre menyuruh Bima agar mengawalnya sampai tujuan.
Namun Sascha menggelengkan kepalanya. Ia tahu kemungkinan Damar kabur itu sangat besar sekali. Rasanya ia juga ikut mengawalnya hingga sampai ke Amerika.
__ADS_1
"Aku akan ikut dengan Kak Bima," ucap Sascha.
"Kamu serius ingin ikut?" tanya Gerre.
"Iya. Aku yakin dia akan kabur di bandara nanti. Aku akan mengawalnya dan tidak akan kabur dari pandanganku. Kalau dia sampai kabur," jawab Sascha. "Aku Yang akan mengejarnya hingga ke ujung dunia. Aku Yang akan membunuhnya."
Damar hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Anak sekecil itu sekarang sudah menjadi dewasa. Ia tidak pernah menyangka, kalau Sascha menjadi beringas untuk saat ini.
Damar memilih untuk pasrah. Meski begitu Damar sendiri sudah sangat ketakutan sekali. Lalu bagaimana dengan Dewa? Dewa menatap tajam ke arah Damar. Ia sengaja mengincar Damar dan ingin membunuhnya. Darah panas yang berada di tubuhnya sudah bergejolak. Sebab Dewa tidak akan membiarkan sang istri menderita.
Kalau dulu Damar tidak melakukan kekerasan terhadap Sascha, kemungkinan besar dirinya tidak akan susah seperti ini. Damar memang pantas mendapatkannya. Kenapa dirinya dibutakan oleh kekayaan milik Gerre. Andai saja dirinya tidak terpengaruh oleh Cathy, mungkin saja ia akan hidup bahagia.
Riwayat Damar selama bekerja di perusahaan milik Sascha.
Selama bekerja di perusahaan itu, Damar mendapatkan banyak reward. Yang di mana reward itu membuat dirinya semangat bekerja. Sebenarnya ia sangat jenius sekali. Banyak sekali ide-ide yang dituangkan untuk membangun perusahaan tersebut. Gerre sudah menganggap Damar sebagai anak emas. Akan tetapi Damar telah berkhianat.
"Kamu nggak pernah salah. Kamu sudah benar melakukannya. Kamu berniat ingin menolongnya. Tapi dia tidak mengerti apa maksudmu itu. Menurut informasi yang kudapatkan, Damar itu sebenarnya orang baik. Dia salah pergaulan. Andai saja dia tidak bergaul dengan Cathy, dan menikahinya. Kemungkinan besar Damar tidak akan menjadi seperti ini. Sekarang keputusannya berada di tangan papamu. Kamu jangan terlalu ikut campur dalam masalah ini. Dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal sekali. Jika papamu harus membunuhnya. Biarkanlah," jelas Dewa yang menghapus air mata Sascha.
"Aku sudah angkat tangan. Aku tidak akan membiarkan Damar melakukannya lagi. Terserah mau diapakan itu Damar. Sekarang kita harus memulihkan seluruh perusahaan," tambah Sascha.
"Ya itu benar. Aku akan membantumu untuk melakukannya. Cepat atau lambat perusahaanmu harus dibuka untuk umum. Sebab banyak sekali yang tidak masuk bekerja dan mereka ingin makan apa?" Ucap Dewa yang mencium kening Sascha.
"Kalau aku hamil Bagaimana Kak?" tanya Sascha yang bingung sambil melihat Dewa.
"Kamu itu lucu juga ya. Seharusnya kamu bahagia dengan kehamilanmu. Aku tidak mempersalahkannya. Kamu mau hamil kapan saja. Lagian juga kamu tidak memakan obat-obatan apapun untuk menjaga kehamilan kan. Lalu sekarang Apa masalahnya?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Begini, Kak Dewa pernah bercerita kepadaku akan menunda memiliki anak," jawab Sascha yang memegang dada Dewa.
"Memang. Tapi aku sangat bodoh sekali tidak membeli obat-obatan penghambat kehamilan. Jadinya ya sudah. Dia juga bagian dari hidupku. Kenapa kamu harus risau seperti itu? Biarkanlah mereka tumbuh dengan sendirinya," ucap Dewa yang tersenyum sambil memeluk Sascha.
Sebenarnya kehamilan Sascha tidak jadi masalah buat Dewa. Ia memang sengaja tidak membeli obat-obatan untuk menghambat kehamilan sang istri. Justru Dewa membiarkannya saja dan berharap ingin memiliki seorang anak.
"Bagaimana perasaanmu untuk sekarang ini?" tanya Dewa.
"Aku baik-baik saja," jawab Sascha. "Apakah kita jadi ke Nganjuk?"
"Terserah kamu. Tapi menurutku kita harus menundanya terlebih dahulu. Kita nggak bisa membiarkan perusahaan tutup. Kita harus membersihkan orang-orang yang berada di dalam sana. Semakin cepat akan semakin baik kita bergerak," jawab Dewa.
"Oh ya Kak. Aku pengen ngomong sebentar ya. Perasaanku semenjak pulang dari perusahaan cabang, aku mencium aroma yang tidak enak. Aku menemukan sebuah catatan kecil. Yang di mana catatan kecil itu ditulis pakai tangan. Aku mengenal tulisan itu. Kemungkinan besar tulisan tangan itu milik Fatin. Aku mengambil kertas itu dan menyimpannya," ujar Sascha.
"Apa boleh aku lihat?" tanya Dewa yang melepaskan Sascha.
"Kakak boleh melihatnya. Sebentar akan aku ambil dari tasku," jawab Sascha yang mengambil tasnya dan mencari secarik kertas itu.
Tak lama Sascha menemukannya dan melihat secarik kertas itu. Ia meraihnya dan memberikannya ke Dewa. Dewa pun menerimanya dan membaca isi kertas itu, "Ini semuanya berhubungan dengan kamu loh?"
"Apa maksud kakak?" tanya Sascha.
"Dia ingin menangkapmu dan dijadikan sebagai menantu. Kalau kamu nggak mau. Dia akan memaksamu dan melaporkan ke polisi. Ini sangat lucu sekali. Orang sudah menikah kok malah disuruh bercerai. Padahal Tuhan tidak akan menyuruh umatnya untuk bercerai," jawab Dewa sambil tersenyum manis.
"Dia masih saja kayak gitu. Sepertinya ada yang janggal. Aku harus memeriksanya," celetuk Sascha.
__ADS_1
Dewa mengerutkan keningnya dan memandang wajah sang istri. Sepertinya Dewa merasakan ada yang janggal dengan surat itu. Tiba-tiba saja Dewa menatap Sascha, sambil bertanya, "Apakah Fatin bekerja di perusahaan cabang?"