Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SASCHA MENGETAHUI RAHASIA BIMA.


__ADS_3

“Berubahlah sesuai dengan strata sosial kalian. Jangan pernah kalian menjadi orang biasa lagi. Ingatlah suatu hari nanti kalian akan bisa membawa perusahaan kalian menjadi besar.”


Jelas Dewa yang membuat mereka paham.


Dewa memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia ingin beristirahat di sofa. Lalu bagaimana dengan mereka? Meskipun bukan keluarga atau adik kandungnya, Dewa sangat perduli kepada mereka.


Dewa tidak tahu lagi dengan mereka. Akhir-akhir ini Dewa mendapatkan surat dari orang tua mereka. Yang dimana isinya menjelaskan kalau mereka harus kembali ke perusahaan. Mau tidak mau malam ini Dewa mencurahkan isi hatinya.


Dewa dengan lainnya berbeda jauh. Dewa memang memiliki ruang tua yang dimana mereka adalah pekerja keras. Namun berbeda dengan mereka. Meski orang tua Dewa pekerja keras, namun Devan dan Tara tetap memperhatikannya seperti anak lainnya.


Apakah Sascha tahu? Ya... Sascha tahu dengan surat itu. Awalnya Sascha terkejut dengan apa yang dibacanya? Lalu Sascha mengecek semua surat yang berada di kotak masuk Black Tiger.


Sascha tidak lebih bertanya kepada Dewa. Ia malah mencari identitas sang pengirim tersebut. Alangkah terkejutnya Sascha setelah mengetahui siapa mereka. Bahkan mereka adalah calon CEO dari perusahaan besar di dunia. Semua aset yang dimilikinya tidak main-main. Malahan asetnya bisa membeli beberapa pulau dan juga barang mewah lainnya.


Saat tahu berita itu Sascha menanyakan berita tersebut ke Dewa. Dengan senang hati Dewa berkata jujur. Ia menceritakan apa yang telah terjadi dengan mereka. Sascha paham lalu menyuruh Dewa mengembalikan para kakak ke orang tuanya. Siapa tahu kita bisa mengajaknya bekerja sama. Dewa pun menyetujuinya dan meminta Sascha untuk mendoakannya agar semua lancar.


Pagi yang cerah. Bryan dan Bima sengaja pergi ke sawah. Mereka sangat dilema dengan permintaan Dewa. Jujur dirinya merasa nyaman ketika berada di sini. Menjadi orang biasa dan mengenal orang yang memiliki profesi berbeda.


“Apa yang harus kamu lakukan sekarang?”


Tanya Bima yang menghirup udara segar di pagi hari.


“Apakah kamu akan kembali lagi ke rumah?”


Tanya Bryan yang menatap sawah.


“Sudah saatnya kita kembali ke perusahaan milik keluarga. Kita tidak akan seperti ini terus. Kita sudah diberikan kesempatan untuk hidup mengenal dunia bersama Dewa. Aku sangat menyukainya.  Dewa adalah orang yang membuat kita berubah drastis. Yang dulunya kita menjadi arogan dan meremehkan orang sekarang tidak.”


Jawab Bima yang membuat Bryan yang menganggukan kepalanya.


“Ada benarnya  juga tentang persahabatan ini. Kita tidak selamanya begini terus. Lalu bagaimana dengan lainnya?”


Tanya Bryan yang masih mencari keputusan lainnya.


“Kalau mereka tidak mau, apakah mereka harus menurutinya?”


Tanya Bima yang menatap Bryan.


“Ini masalah dengan orang tua kita. Bukan orang tua mereka. Aku akan memimpin perusahaan pembuat kapal siar. Kamu harus memimpin advokasi milik kedua orang tuamu. Kalau kita menuruti mereka. Bagaimana dengan orang tua kita? Kita masih berhubungan dengan Dewa. Dewa juga masih memakaiku untuk sebagai pengacara international. Begitu juga dengan kamu. Kalau kamu membutuhkan onderdil, kamu bisa memesan dari Desa. Semua kualitas yang didapatkan sangatlah bagus. Bahkan kualitasnya melebihi standar internasioal. Jika kamu yang memesan untuk kapal pesiar.”


Jelas Bryan yang membuat Bima tersenyum lalu melihat para ibu-ibu yang berdatangan untuk menanam padi.


“Apakah kita akan merayu mereka?”


Tanya Bima.


“Tidak perlu. Biarkanlah semua menjadi urusan kedua orang tuanya masing-masing.”


Jawab Bryan mengajak Bima agar tidak mencampuri masalah mereka.


“Syukurlah Dewa sekarang sudah menjadi dewasa.”

__ADS_1


Puji Bima yang memasukkan tangannya masuk ke dalam kantongnya.


“Semenjak dia menikah dengan gadis pujaannya, Dewa semakin dewasa dan matang. Jika dia belum menikah. Dewa tidak akan seperti ini.”


Jelas Bryan yang merasakan perubahan Dewa.


“Apakah Sascha sudah bangun?”


Tanya Bima yang sengaja menanyakan Sascha.


“Sascha tadi mual dan muntah. Setelah dari toilet wajahnya sangat pucat sekali. Kemungkinan darahnya turun.”


Jawab Bryan yang mengetahui Sascha tidak baik-baik saja.


“Kamu benar. Sascha memiliki riwayat anemia. Makanya juga pernah memiliki penyakit yang sama.”


Celetuk Bima yang membuat Bryan bertanya.


“Siapa ibunya?”


“Yang pasti bukan Ibu Nirmala. Dia adalah Chloe Atmaja.”


“Jangan bilang kamu mengetahui semuanya?”


“Bukan rahasia umum lagi. Jika Mama Chloe memiliki riwayat darah rendah. Media masa sudah mengetahuinya. Bahkan seluruh dunia pun tahu.”


Jawab Bima yang sering mengetahui berita tentang Chloe.


“Ya... aku memang mengikutinya. Kamu tahukan kalau aku dulu memang ngefans banget sama Mama Chloe?”


“Aish... jangan bilang kalau mama Chloe itu seksi?”


“Aku enggak bilang kalau dia seksi. Aku bilang beliau memiliki akting yang sangat bagus sekali ketika sedang membintangi film Hollywood.”


Jawab Bima yang secara blak-blakan.


“Berarti kamu adalah fans beratnya?”


Tanya Bryan yang mulai curiga.


“Ya... memang aku adalah fans beratnya. Tapi tidak ada yang tahu.”


“Terserahlah apa katamu. Ayo kita pulang. Sedari tadi kita di sawah.”


“Sudah nikmati saja di sini. Lagian di Amerika tidak ada sawah seperti ini.”


Ucap Bima dengan blak-blakan.


Bryan terkekeh mendengarnya. Lalu langkahkan kakinya untuk meninggalkan Bima sendirian di sawah. Bima yang merasakan Brian pergi langsung segera menyusulnya. Mereka berjalan melalui setapak kaki. Mereka melihat padi yang sudah mulai menguning. Andai saja dirinya memiliki rumah di sini. Kemungkinan besar mereka akan membeli sawah berhektar-hektar. Namun apa daya, mereka disuruh pulang ke rumahnya untuk mengurus semua perusahaan. Inilah yang membuat mereka kesal kepada orang tuanya.


Sascha yang merasakan perutnya tidak enak, mencari keberadaan Dewa. Ia menemukannya sedang melihat kebun. Akhirnya Sascha mendekati Dewa lalu memeluknya dari belakang.

__ADS_1


“Apakah kamu sudah baikan?”


Tanya Dewa yang merasakan perutnya juga tidak enak.


“Ya beginilah. Kemungkinan besar darahku turun.”


Jawab Sascha yang membuat Dewa menganggukkan kepalanya.


“Lebih baik kamu periksa ke dokter saja. Aku ingin kamu mendapatkan diagnosis yang tepat. Agar aku tidak terlalu khawatir soal kesehatan kamu.”


“Please deh Kak. Aku masih baik-baik saja. Aku lupa membeli vitamin penambah darah. Jadinya ya gini.”


“Selalu saja aku tanya. Pasti jawabannya baik-baik saja. Kamu kira aku bodoh ya,” ucap Dewa dengan menohok.


“Bukan begitu kak. Aku sendiri baik-baik saja. Aku tidak ingin melihat Kakak khawatir. Jadi Kakak tenang saja ya.”


“Selalu saja begitu jawabannya. Kita ini sudah ditakdirkan untuk satu raga. Jika ada yang sakit maka semuanya akan sakit. Jika ada yang tidak sakit.. maka kita akan sehat terus. Sepertinya kamu harus periksa deh. Aku curiga kalau kamu bukan anemia.”


“Anemia.”


“Ya.. jalan satu-satunya check up ke dokter. Kamu nggak bisa membiarkan ini terus-terusan. Kamu harus sehat agar bisa tersenyum untukku.”


“Sejak Kakak sekarang menjadi puitis banget kayak gitu?”


“Semenjak menikah denganmu. Aku baru tahu kalau diriku bisa romantis ketika bersamamu.”


“Atau jangan-jangan kamu belajar dari Kak Bima. Yang di mana Kak Bima sendiri adalah tukang ngegombal habis-habisan.”


“Maaf. Aku tidak pernah belajar dari Bima. Bahkan Bima sendiri memiliki kata-kata yang sangat privasi. Kamu tahu apa kata privasinya?”


“Aku pernah mengetahuinya dan tidak pernah mempelajarinya. Ya gitu deh. Ujung-ujungnya nanti lari ke sana. Yang tidak kamu mengerti sama sekali.”


“Apa maksudmu?”


“Kak Bima diam-diam ternyata sering masuk ke klub malam. Mulai dari yang tidak terkenal hingga terkenal. Aku saat itu sudah menegurnya. Jangan keseringan ke klub malam apalagi memakai pasangan bergonta-ganti yang tidak ada seriusnya.”


“Lalu jawabannya apa?”


“Brengsek dengan semuanya. Dia hanya menghormati beberapa wanita. Yang lainnya adalah wanita brengs*k.”


“Kamu mau tahu kenapa Bima seperti itu?”


“Aku tidak ingin menjauhi urusan seseorang.”


“Dia korban sakit hati. Dia memiliki teman perempuan. Dia sangat suka sama teman perempuannya itu. Aku pun mengenalnya. aku sudah menyelidikinya kalau perempuan itu bukan perempuan baik-baik. Tapi Bima Nggak sadar juga. Bima memacari perempuan itu sampai kuliah. Sekali dua kali sudah aku peringatkan. Aku tidak menyetujui jika Bima berpacaran dengan perempuan itu. Tapi dia tidak menghubungiku. Malahan Dia memutuskan untuk tunangan. Beberapa tahun lalu dia memutuskan untuk menikah muda. Sontak saja kami dan para keluarga Bima tidak menyetujuinya. Kami tidak memberikan restu sama sekali. Hingga kami berantem sama Bima. Ketika tidak mendapatkan restu dari siapapun. Bima tetap menikahinya. Sebelum terjadi pernikahan itu. Bima memergoki pacarnya tidur dengan pria lain. Yang menjadi tempat tidurnya adalah kamar Bima sendiri. Dan kamu tahu apartemen yang diberikan perempuan itu adalah milik Bima. Hancur sudah hatinya. Bima mengangkat tangannya dan mengobrak-abrik mereka. Kalau nggak salah kejadian itu nggak sama aku. Bima lah yang bersama Timothy dan juga Eric. Hingga saat ini Bima seperti itu. Perempuan yang dihormatinya adalah kamu, Dita, mamanya, mama Tara, adik perempuannya dan juga Ibu Nirmala. Yang lainnya tidak sama sekali. Itulah kenapa Bima menjadi seperti itu.”


“Apakah Kak Bima bisa sadar dari kelakuannya itu?”


Tanya Sascha yang sangat kasihan sekali kepada Bima.


 

__ADS_1


 


__ADS_2