Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KEMBALI KE JAKARTA.


__ADS_3

"Beberapa hari terakhir ini banyak pihak yang mendesak agar aku mengumumkan ahli waris," jawab Gerre nama pria itu.


“Mereka benar. Sudah lebih dari tiga tahun kita menundanya,” ucap Chloe yang membenarkan perkataan mereka.


“Tapi, apakah Sascha siap untuk menerima beban ini?” tanya Gerre.


“Mau tidak mau Sascha harus menerimanya. Jujur beberapa hari terakhir ini aku merasa gelisah. Aku enggak mau memberikan perusahaan itu ke Cathy. Kamu tahukan Cathy seperti apa?,” ucap Chloe dengan lemah.


“Aku tahu itu. Sepertinya Sascha belum siap,” ujar Gerre.


“Jika belum siap maka perusahaan itu akan jatuh ke tangan Cathy,” sahut Chloe.


“Kok aku memiliki feeling yang tidak enak ya?” tanya Gerre yang menatap wajah sang istri.


“Apa itu?” tanya Chloe balik.


“Aku rasa ada dalang di balik ini semuanya,” jawab Gerre.


“Hmmp... sepertinya kamu harus menyelidikinya,” pinta Chloe.


“Baiklah... sepertinya aku harus meminta bantuan kepada Sascha dan Dewa,” ujar Gerre.


“Kalau begitu tunggulah Sascha akan kembali dari Indonesia,” balas Chloe.


Hampir dua empat jam mereka mengelilingi awan demi sampai ke Indonesia. Namun sebelum ke Labuhan Baik, Dewa meminta pilot mendarat ke Jakarta. Sang pilot akhirnya menuruti keinginan Dewa.


Ketika mereka turun dari pesawat, mereka disambut oleh Timothy beberapa pengawal lainnya. Timothy tersenyum melihat Sascha dan Dewa. Ia memuji kedua insan itu adalah pasangan yang sangat cocok sekali.


“Bro,” seru Timothy.


“Apa?” tanya Dewa.


“Gue sangka lu enggak pulang?” tanya Timothy.


“Pengennya sih gue. Berhubung gue kangen sama di sini ya terpaksa,” jawab Dewa.


“Sascha... tambah cantik saja,” puji Timothy.


“Enggak biasa... gue jarang dandan,” ujar Sascha.


“Langsung ke perusahaan?” tanya Timothy.


“Makan dulu. Setelah itu ke rumah. Panggil anak-anak sekalian. Kita akan bakar ayam sekalian ngobrolin AA Groups ke depannya bagaimana?” suruh Dewa.


“Lu enggak bilang kalau mau makan,” ujar Timothy.

__ADS_1


“Enggak kepikiran pengen makan. Datangnya kan sore takutnya menebak macet dan takutnya lama di jalan. Lu tahukan Jakarta bagaimana?” tanya Dewa. “Terus sepertinya lu keberatan?”


“Enggak keberatan. Gue enggak mereservasi tempat buat lu makan. Gini-gini gue masih asisten lu,” jawab Timothy.


“Enggak mereservasi. Kita kan makan doang. Enggak usah terlalu formal,” sahut Sascha yang serius membaca semua pesan di ponselnya.


“Enggak enak tahu aku sama kamu. Kamu itu anaknya Tuan Gerre,” ujar Timothy.


“Maksudnya apaan? Aku enggak suka kalau kak Timothy ngomong gitu. Biarpun aku anak dari Gerre Atmaja. Aku tidak perduli jitu. Aku tidak ingin kakak mengintimidasi seperti itu. Aku adalah Sascha tetaplah Sascha. Sascha yang memiliki sifat pertemanan dengan tulus. Setelah aku menemukan keluarga asliku kakak berusaha ingin mengistimewakan aku?” tanya Sascha.


“Bukannya begitu Sa. Jujur kamu sekarang berbeda. Kamu adalah wanita yang memiliki sosial menengah atas,” jawab Timothy.


“Jujur... aku sangat terkejut ketika kakak mengatakan aku masuk ke dalam sosial menengah ke atas. Terus aku langsung berubah menjadi sosialita begitu? Enggak kak. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku juga tidak ingin besar kepala. Biarkan aku seperti ini waktu sebelum kembali ke keluargaku,” kesal Sascha.


“Ya maaf. Bukannya aku membuat kamu sakit hati. Aku kira kamu sudah berubah,” ucap Timothy yang menyesal.


“Aku akan berubah kak. Aku masih tetap Sascha yang dulu dan perduli sama pada kakak di sini... kecuali?” tutur Sascha dengan lembut.


“Kecuali apa?” tanya Dewa mulai curiga.


Sascha dan Timothy menatap horor ke Dewa. Entah kenapa mereka seakan protes karena Dewa tidak maksudnya. Dewa hanya membuang wajahnya sambil berkata, “Sepertinya aku dilupakan oleh kekasihku.”


“Aku tidak melupakan kamu. Kamunya yang enggak paham,” sahut Sascha yang membuat Timothy tertawa.


“Parah... banget ini kakak,” ledek Sascha. “Aku sangat perduli sama pada kakak kecuali... kecuali kakak. Bukannya aku tidak peduli sama kakak. Hanya kak Dewalah kakakku paling spesial.”


“Memangnya perlu apa?” tanya Sascha.


Gloodakkkkkkkkkkkk!


Kedua pria itu terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Sascha. Entah kenapa mereka baru sadar kalau Sascha ternyata sangat polos sekali. Lalu bagaimana dengan sang sopir yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka? Sopir itu sangat bingung dan baru pertama kali mengetahui kalau mereka berpacaran. Untung saja sopir itu bukan orang lain. Melainkan pengawal Black Tiger.


“Ini sangat aneh sekali dengan gaya pacaran kalian. Bisa-bisanya kalian tidak memiliki panggilan sayang sama sekali,” kesal Timothy.


“Itu enggak perlu. Kita bukan pasangan romantis. Aku memang sengaja tidak membicarakan seperti itu,” ujar Dewa.


Nah... itulah sedikit pembicaraan dari Sascha dan Dewa jika bersama teman-temannya. Mereka bukan tipe orang yang membedakan kelas sosial. Mereka ingin b setelah dengan siapapun,dimanapun dan siapapun.


Sesampainya di restoran langganan mereka. Mereka segera turun dari mobil. Kemudian Timothy mengajaknya makan di taman. Mereka duduk berhadapan dan menikmati keindahan Kota Jakarta.


Beberapa meja dari mereka, ada Risa makan bersama teman-temannya. Lalu Sascha menangkap bayangan Risa dan menatap wajah Dewa.


“Ada apa?” tanya Dewa.


“Di sebelah sana ada Risa,” jawab Sascha.

__ADS_1


“Enggak perlu takut. Selama Risa masih dalam mode enggak sadar maka kamu masih aman,” jawab Dewa.


“Kenapa ada kuntilanak di sini ya?” tanya Timothy.


“Siapa yang kamu bilang kuntilanak?” tanya Dewa.


“Itu Risa,” jawab Timothy yang membuat Sascha menganga.


“Apakah kakak enggak salah mengatai Risa kuntilanak?” tanya Sascha yang menahan tawanya.


“Enggak salah. Bener kok dia kuntilanak,” celetuk Timothy.


“Aish... Lain kali yang bagusan apa ngasih nama,” kesal Sascha.


“Terus kamu mau ngasih nama apa?” tanya Dewa.


“Cocoklah sebagai pelakor,” jawab Sascha. “Aku bingung mau ngasih nama apa? Ya... Udah dech aku setuju dengan pendapat Kak Timothy.”


“Ya udah gih pesan... Sedari tadi kamu belum pesan,” suruh Dewa.


“Baiklah,” balas Sascha.


Di meja tadi Risa juga menangkap keberadaan Sascha. Ia sangat terkejut dengan mata membola. Otak Risa mulai berpikir dan mendapati satu pertanyaan. Kenapa Sascha masih hidup ya? Padahal aku sudah menghubungi penembak jitu untuk menghabisi Sascha?


“Risa, lu tahu enggak cewek yang berada di sana?” tanya Dewi nama teman Risa.


“Sascha, maksudnya?” tanya Risa.


“Iya... Bukannya dia pelakor ya?” tanya Erin.


“Pelakor maksudnya?” tanya Risa dan Dewi secara bersamaan.


“Lu tahu pas waktu itu si Billi pacaran sama sepupu gue direbut tuh sama Sascha,” kesal Dewi.


“Siapa ya sepupu lu itu ya?” tanya Risa.


“Namanya Fitriani. Dia adalah penyanyi dangdut yang sedang happening,” jawab Dewi.


“Kok gue baru tahu ya?” tanya Risa.


“Kalau lu enggak percaya, coba saja tanya sama Fitriani. Padahal mereka dulu ingin menikah,” jawab Risa dan Erin.


“Berita itu masih mencuat dan sepupu gue stres dan bunuh diri,” tambah Dewi.


“Apa benar itu?” tanya Risa yang bersorak kegirangan.

__ADS_1


 


__ADS_2