Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PERSIAPAN BULAN MADU.


__ADS_3

"Aku baik-baik saja," jawab Sascha.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dewa.


"Melanjutkan hidup lagi. Dan selalu berdoa untuk mereka. Aku tidak akan memutuskan untuk kembali ke sana. Seharusnya pernikahan ini menjadi kabar yang bahagia. Malah kabarin menyedihkan buat aku," jawab Sascha.


"Jangan bersedih lagi. Mereka di sana sudah bahagia," hibur Chloe.


"Itu benar ma," sahut Sascha sambil menyunggingkan senyumnya yang manis.


"Bagaimana dengan Kinanti?" tanya Leo yang tiba-tiba saja mengingatkan Sascha pada Kinanti.


"Aku sudah tidak peduli lagi dengan Kinanti. Jika akhir hayat ibu bapak angkatku Kinanti berubah menjadi baik. Aku masih bisa menolongnya. Para warga mengadu kepadaku kalau Kinanti sudah berbuat jahat. Hampir setiap hari Kinanti membawa Pak Darto ke rumah. Ibunya disuruh menyiapkan dan membersihkan rumah layaknya pembantu. Yang lebih parahnya lagi Kinanti meminta uang hanya pergi ke klub dan mentraktir teman-temannya itu. Bagaimana bisa aku menolongnya? Aku harus menghukumnya dan berharap segera sadar," jawab Sascha.


"Kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Dewa.


"Ya aku yakin. Beberapa hari terakhir Ibu Nirmala dan Pak Andika mendatangiku lewat mimpi. Mereka menyuruhku untuk tidak melepaskan Kinanti dari penjara. Kata mereka ini yang kesekian kalinya masuk dalam penjara. Semua orang pun tahu Kinanti masuk dalam penjara. Hari itu juga Pak Darto memutuskan untuk tidak bersama Kinanti lagi. Dengan kata lain tidak ada yang membantu Kinanti," jawab Sascha dengan jujur.


"Memangnya kasus apa yang menjerat Kinanti?" tanya Devan.


"Kinanti sering menjual anak gadis di bawah umur yang sedang membutuhkan uang. Kinanti sengaja menjualnya ke pria hidung belang di berbagai kota Jawa Timur. Aku tidak menyangka kalau Kinanti menjadi seperti itu," jawab Sascha lagi.


"Kemungkinan besar Kinanti iri hati sama kamu. Kamu bisa mendapatkan uang dengan cara cepat. Lalu dia menuduh kamu penjual tubuhmu ke pria hidung belang," jelas Dewa yang menyimpulkan masalah sebenarnya.


"Menjual diri ke pria hidung belang? Itu sangat lucu sekali. Jujur tuduhan itu sangat meresahkan buat aku. Hampir setiap hari aku mendapat makian dari Kinanti dengan kata-kata seperti itu. Yang lebih parahnya lagi aku pernah diusir sama Kak Leo dari rumah. Padahal saat itu kami lagi tugas di Surabaya. Aku sengaja mengajak Kak Leo untuk berlibur beberapa hari. Kebetulan juga Kakak memberikanku tugas meninjau lahan di Kertosono untuk didirikan pabrik baru," jelas Sascha yang membuat Dewa mengangguk paham.


"Parah sekali hidupmu. Sampai-sampai mereka mencibirmu seperti itu," ujar Devan.


"Lidah Tidak bertulang pa. Kinanti seenaknya bisa melemparkan tuduhan seperti itu. Jika aku menjual tubuhku, maka Kak Dewa orang yang pertama menjamahku. Lalu kak Dewa tidak akan membiarkan aku menjualnya ke orang lain," ucap Sascha yang membaca pikiran Dewa.


"Tapi yang nggak segitunya kali. Masa saudaranya dituduh seperti itu? Sama saja membuang air jatuh ke mukanya sendiri," kesal Leo.


"Kinanti tidak tahu apa yang dilakukan oleh kakaknya ini. Pas aku bertemu dengannya waktu pertama kali, aku menemukan kecerdasan di dalam diri Sascha dengan sendirinya. Lalu, dirinya mengajukan magang di perusahaanku. Di sanalah Sascha mulai berkontribusi pada perusahaanku. Dengan mati-matian aku bersama mereka sengaja mempertahankan Sascha agar tidak keluar dari perusahaan. Itu artinya aku sudah menobatkan Sascha sebagai karyawan," jelas Dewa.


"Oh jadi gitu ceritanya. Meskipun Mas Kobemu ada di sana. Berarti istrimu sudah menjadi karyawan tetap. Dengan gaji separuh pada umumnya," ucap Devan yang mengetahui kenyataan sesungguhnya.

__ADS_1


"Kok aku merasa Ada yang aneh ya? Sepertinya papa mengetahui kasus ini?" tanya Dewa.


"Kobe sendiri yang cerita kepadaku. Memang Kobe sengaja mengikat Sascha dengan cara yang unik. Aku tahu kamu tidak menyuruhnya. Tapi Kobe tahu, bagaimana kamu sangat menginginkannya? Itulah kenapa Kobe mengikatnya. Di sisi lain meskipun masih sekolah Kobe sangat menghargainya. Bahkan Sascha orang yang pertama kali dipertahankannya. Karena istrimu itu memiliki potensi yang besar dan bisa membangun aspek kehidupan di dalam perusahaan," jelas Devan yang membuat Gerre bangga terhadap Sang Putri.


"Aku dulu memang melanjutkan hidupku dengan cara bekerja di D'Stars Inc. Setelah magang Aku diminta untuk masuk ke dalam perusahaan hanya beberapa jam saja. Dengan kata lain Aku bekerja separuh waktu. Di sana para kakak mengajariku berbagai hal tentang bisnis," tambah Sascha.


"Beruntunglah kamu. Karena di dalam tubuh kamu mengalir pria arogan dan dingin. Ditambah dengan seorang wanita yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dua gen masuk ke dalam satu tubuh lalu menghasilkan kamu," ledek Devan.


"Yang Papa katakan itu benar kok. Sebelum ketemu dengan mereka, aku sendiri sudah merasa aneh. Kenapa otakku isinya sangat aneh sekali. Bahkan anehnya bisa menganalisis keadaan," sahut Sascha yang membuat mereka tertawa.


"Syukuri saja apa yang sudah kamu punya. Suatu hari nanti kamu bisa menurunkan ilmu-ilmu itu ke anak-anakmu," pesan Gerre.


"Siap Pa," balas Sascha.


"Setelah ini pergilah ke Labuan Bajo," ucap Devan.


"Ngapain aku ke sana pa?" tanya Sascha dengan polos.


"Bulan madu," jawab Devan.


"Apakah perlu aku bulan madu?" tanya Sascha langsung mendapatkan kecupan dari Dewa agar tidak banyak bicara di hadapan Papa mertuanya itu.


"Kakak,'' pekik Sascha.


"Ada apa sih?" tanya Dewa pura-pura tidak tahu.


"Nggak ada apa-apa. Ada jerapah datang kepadaku lalu menciumku seperti kelaparan saja," jawab Sascha yang diiringi gelak tawa para orang tuanya itu.


"Aku malu tahu," kesal Sascha.


"Benar-benar deh Dewa. Bisa-bisanya nyasar kayak bebek," ledek Tara.


Beberapa saat kemudian datang Timothy dengan Bima. Mereka sedang mendekat dan duduk di hadapan Dewa.


"Sepertinya kamu tidak boleh ke Jakarta," sahut Bima.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Dewa.


"Kamu akan pergi ke Labuan Bajo hari ini juga. Tiket sudah aku pesan lagi. Kurang lebih kalian berangkat jam tujuh pagi besok," jawab Timothy.


"Sia-sia dong aku ke sini," kesal Dewa.


"Maaf aku lupa. Harusnya semalam aku bilang," ujar Timothy.


"Kalau begitu aku mau lanjut lagi liburanku. Ya itu pergi ke raja Ampat. Setelah itu aku akan kembali ke Jakarta dan bersiap untuk mengerjakan tugas akhir tahun," sahut Dewa.


"Nggak apa-apa. Nikmatilah bulan madumu pertama kalinya. Setelah itu kalian tidak bisa berbulan madu untuk kedua kalinya. Karena tahun depan kamu harus mengajari istrimu menjadi CEO selama 3 bulan. Kemudian kamu dan Sascha akan merebut tahta kerajaan Khans Company," pesan Devan.


"Yang dikatakan papa Devan benar. Kalian sudah tidak bisa kemana-mana lagi. Kalian juga harus fokus untuk merebut semua dari wanita tamak itu. Jika Sascha sudah selesai uji cobanya, cepat atau lambat aku memutuskan siapa yang memegang Khans Company. Ditambah lagi dengan pengumuman kembalinya putriku ke dalam pelukanku," jelas Gerre.


"Baiklah aku sepakat. Aku juga ingin fokus ke sana dulu," sahut Dewa.


"Kalau begitu Pergilah dari sini. Kami akan pulang sendiri," usir Devan.


"Oh iya... Aku sudah memesan satu kamar hotel buat kalian. Pagi ini kalian check in. Jam lima besok bisa meninggalkannya. Aku sudah memberi semua tinggal ditempati. Bukalah pesanmu itu," ucap Timothy.


"Di mana kamu memesan hotelnya?" tanya Dewa.


"Di depan bandara ini," jawab Timothy.


"Aku pamit," pamit Dewa.


Sebelum pergi meninggalkan bandara, Dewa dan Sascha berpamitan pergi meninggalkan mereka. Tak lama mereka memutuskan untuk masuk ke ruangan VVIP. Sedangkan Dewa mengajak Sascha keluarga dari bandara.


"Aku nggak mau kamu marah sama aku," ucap Dewa sambil memegang tangan istrinya itu.


"Aku nggak marah. Bahkan aku sangat senang sekali hari ini. Soal pekerjaan di pending aja dulu. Masa hidup dibuat kerja terus. Sekali-sekali kita mengambil cuti untuk liburan," sahut Sascha.


"Kamu benar. Kapan lagi kita liburan seperti ini? Kamu ngerti sendiri kan kalau pekerjaannya si bos itu tidak pernah berhenti secara mendadak. Hampir setiap hari kita disuguhi sama map-map yang menumpuk. Berapa hari ya kita di sana?" tanya Dewa.


"Kamu maunya berapa? Kalau kamu habis sepuluh hari nggak apa-apa. Bukankah kamu ingin ke raja Ampat selama tiga hari?" tanya Sascha balik.

__ADS_1


"Atau sampai liburan akhir tahun saja kita kembali," saran Dewa.


"Apa?" Pekik Sascha.


__ADS_2