Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ADA UDANG DIBALIK PEYEK.


__ADS_3

"Apa itu ma?" tanya Ian.


"Bisakah kamu membuat keluarga Billi mendekap di dalam penjara beberapa tahun ke depan?" tanya Tara yang mengelupas kan bokongnya di depan Ian secara elegan. "Aku ingin mereka mendekam di sana.''


"Kami sudah memasukkan semua berkas-berkasnya ke pihak kepolisian,'' jawab Ian dengan serius.


"Paling lama empat tahun penjara,'' ucap Leo yang berdiri sambil memegang pantatnya.


"Baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan putrinya itu?" tanya Tara.


"Delapan tahun penjara,'' jawab Leo. "Dan Dewa akan memberikan bukti penggelapan uang perusahaan yang dilakukan oleh Santi. Aku harap ini sangat memberatkan sekali. Kurungan bisa dua belas tahun penjara.''


"Kalau begitu syukurlah. Aku harap putrinya akan kapok setelah keluar penjara. Aku sendiri tidak menyangka terhadap putrinya itu. Sudah ditolong oleh Sascha untuk bekerja di perusahaannya Dewa malah dia menusuk dari belakang!" geram Tara.


"Tenang saja ma... semuanya akan baik-baik saja,'' ujar Ian.


"Ya... kamu benar,'' balas Tara yang masih tidak mengerti kelakuan keluarga Billi. "Kalau sudah clear... aku tidak perlu turun tangan lagi.''


"Jika mereka keluar?" celetuk Ian yang membuat pernyataan semuanya terkejut.


"Ada udang dibalik bakwan. Kamu tahu jika mereka keluar pasti ada yang mengeluarkannya,'' jawab Leo.


"Dan ketika mereka keluar Sascha sedang hamil cucuku. Jika Sascha hamil bagaimana reaksi keluarga Billi? Mereka akan mencak-mencak kehilangan aset berharganya,'' jawab Tara.


"Aset?" tanya Leo yang tersenyum.


"Ya... aset berharga. kamu tahukan kalau Sascha itu sumber keuangan mereka. Mereka seenaknya memeras Sascha hingga saldo tabungannya nol. Dia bekerja dari pagi hingga malam kadang sampai pagi lagi. Dan mereka berhura-hura memakai uang itu dengan tertawa terbahak-bahak,'' jawab Tara.


"Itu namanya menari di atas penderitaan orang,'' ujar Ian Anny berhasil membuat Tara tertawa terbahak-bahak.


"Bagaimana reaksi mereka jika tahu Sascha adalah anaknya papa Gerre?" tanya Ian.

__ADS_1


"Mereka tidak berhak menyuruh Sascha balik lagi ke Billi. Dan orangtuanya itu tidak boleh memaksa. Kalau memaksa Gerre tidak akan tinggal diam. Bisa jadi Gerre akan menuntutnya untuk kasus penculikan jaman dahulu. Gerre akan membawa kasus ini ke hukum internasional,'' jawab Tarra yang membuat mereka melongo bersamaan.


Memang betul kasus ini telah diketahui ke seluruh penjuru dunia. Banyak pihak bersedih ketika Sascha hilang. Pihak tersebut sangat mencintai Sascha dan selalu mendoakannya sehat selalu. Setelah kejadian itu Fatin dan Fiirly menghilang ditelan bumi. Muncul-muncul ketika mengenal Sascha telah menjadi dewasa dan memacari anaknya. Tapi mereka tidak tahu siapa Sascha sebenarnya? Jika tahu mereka tidak akan bisa berkutik atas kasusnya itu.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit!" titah Tarra.


"Maaf ma... kami ke kantor karena masih banyak pekerjaan,'' tolak Ian.


"Kalau begitu aku akan pergi bersama Cindy,'' pamit Tarra. "Ayo Cindy kita akan pergi dari sini!"


New York CIty USA.


Ketika sampai di apartemen Dewa, Sascha menggelengkan kepalanya. Jujur Sascha terkejut dengan penampakan apartemen Dewa yang mewah dan elegan. Sascha mulai menghitung berapa uang yang harus dikeluarkan oleh Dewa. Sascha hanya menghela nafasnya secara kasar.


"Kakak ternyata buang-buang uang ya membuat membeli sebuah apartemen mewah dengan harga sepuluh juta dolar,'' kesal Sascha.


"Dulu saat usiaku sepuluh tahun apartemen ini seharga lima ratus ribu dolar. Dan apartemen ini adalah hadiah ulang tahunku dari mama. Setelah dewasa aku merenovasinya seperti ini hingga harga jualnya mencapai dua puluh juta dolar. Aku sudah untung banyak jika menjualnya lagi,'' ucap Dewa yang tersenyum lucu.


"Setelah dipikir-pikir semalam aku tidak akan menjualnya. Aku ingin menjadikan tempat ini sebagai tempat ini memadu kasih setelah kita memiliki anak,'' celetuk Dewa yang membuat Sascha berbinar.


"Ya kakak benar. Paling enggak seminggu sekali,'' ujar Sascha yang membuat Dewa mengacungkan jempolnya.


"Ide yang sangat bagus sekali,'' puji Dewa. "Kamu tahu kenapa kita harus memiliki waktu sehari bersama tanpa anak-anak?"


"Untuk mengeratkan hubungan suami istri,'' jawab Sascha yang membuat menganggukkan kepalanya.


"Selain itu bisa mencegah pelakor dan pebinor tidak akan bisa mendekat. Kita bisa bermesraan sampai pagi, berolahraga di ranjang berdua Dan aku akan menindih tubuh mungilmu di ranjang,'' tambah Dewa yang berhasil membuat Sascha paham.


Sascha segera mendekati Dewa lalu memeluknya dari belakang. Dewa meemgang tanya Sascha sambil menggenggamnya erat. Setelah itu Dewa berbalik dan menatap Sascha dengan sayu.


"Bisakah kamu melepaskan aku?" tanya Dewa yang melepaskan Sascha.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Sascha yang terkejut.


"Kamu harus tahu akan satu hal dalam diriku,'' ucap Dewa.


"Apa itu?" tanya Sascha.


"Ada yang menegang di bawah,'' jawab Dewa dengan lirih.


"Apa?" pekik Sascha lalu matanya turun ke bawah dan melihat ada sesuatu yang membesar dibalik celana Dewa.


"Maafkan aku!" teriak Dewa sambil berlari menuju ke toilet.


Sascha tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya itu. Bagaimana bisa kejadian ini terulang lagi. Padahal Sascha hanya memluknya. Ketimbang memikirkan hal yang tidak penting seperti ini Sascha memutuskan untuk ke dapur.


Sascha melihat sebuah dinding yang berisikan foto masa kecilnya Dewa. Sascha tersenyum lalu berhenti dan memandangi foto itu. Terlihat jelas Dewa kecil itu sangat lucu dan menggemaskan. Sascha masih mengingat kata-kata yang terngiang sampai saat ini. Kata-kata itu adalah maukah kamu menjadi istriku ketika sudah dewasa? Sascha pun akhirnya menjawab pertanyaan Dewa kecil di dalam hati. Ya aku mau.


Tak lama Sascha melihat sebuah foto ketika berada di taman. Sascha tersenyum melihat Dewa kecil yang menghampiri anak perempuan yang memakai gaun putih dan pita putih. Dewa tersenyum manis sambil memandang gadis d kecil itu. Ternyata gadis itu adalah dirinya. Semakin lama melihat foto-foto itu, Sascha tidak bisa membendung air matanya. Ternyata selama ini Dewa telah menunggunya. Sascha tidak tahu lagi harus berkata apa. Sascha hanya mampu berkata terima kasih.


Sascha memutuskan untuk pergi ke dapur. Di sana Sascha melihat dapur yang sangat bersih dan terawat. Sascha menyunggingkan senyum terindahnya dengan mata berbinar. Suda lama Sascha tidak terjun ke dapur semenjak di Seoul, Hamburg dan New York. Bahkan Sascha sangat merindukan perang dengan alat-alat dapur.


"Masak apa ya malam ini?" tanya Sascha dalam hati.


Sascha mengambil ponselnya yang berada di kantong celana. Lalu ia membuka menu makan malam di ponselnya itu. hingga akhirnya Sascha memutuskan untuk membuat steak. Ketika ingin membuat steak tiba-tiba saja Sascha dikejutkan kedatangan oleh Kobe dengan membawa makanan. Sascha terperanjat kaget dan hampir saja berteriak kencang.


"Kamu disini?' tanya Kobe yang menaruh papperbag yang berisi bahan mentah.


"Ya... akui di sini. Aku ingin menemani Kak Dewa,'' jawab Sascha.


"Hmmmp... ada udang dibalik peyek,'' celetuk Kobe.


"Maksudnya?" tanya Sascha.

__ADS_1


__ADS_2