Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MEMBUKA TABIR RAHASIA.


__ADS_3

Mereka akhirnya memutuskan untuk memasak makan malam. Meskipun begitu dengan hadirnya Pak Andika maupun Bu Nirmala mereka tidak takut sama sekali. Setelah menghilang mereka mendoakan agar tenang di alam sana. Setelah memasak Sascha dan Dita membantu Dewa membersihkan rumah. Sebenarnya rumah ini sudah bersih. Hanya saja Dewa itu orangnya menyukai kebersihan. Di apartemen maupun di rumahnya, Dewa selalu membersihkan kamarnya sendiri. Dewa memang sangat suka sekali yang namanya bersih-bersih.


Setelah bersih-bersih, mereka memutuskan untuk membersihkan tubuhnya masing-masing. Kemudian mereka makan malam bersama. Saat makan, Bu Nirmala dan Pak Andika hadir kembali. Sascha yang memiliki kepekaan tinggi, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan di rumah ini. Baru setengah jalan Saysha makan, otaknya terlintas pada kamar Bu Nirmala. Entah kenapa dirinya menjadi penasaran saat ini. Lalu bagaimana dengan tanggapan Dewa? Dewa juga merasakan hal yang sama. Bahkan Dewa memilih untuk diam agar tidak menjadi gaduh. Takutnya nanti Dita yang sedang makan langsung kabur dan tidak melanjutkan makan malamnya itu.


“Habis makan. Kamu pergi deh ke kamarnya Bu Nirmala. Kamu buka di laci lemari besar. Sepertinya ada sesuatu di sana,” ucap Dewa yang menyuruh Sascha untuk pergi ke kamar Bu Nirmala.


“Sebenarnya sih nggak ada apa-apa kak. Aku kemarin sudah mengecek semuanya. Adanya bagian-bagian Bu Nirmala dan Pak Andika yang masih utuh di sana,” sahut Sascha.


“Kamu buka lagi. Siapa tahu ada yang ketinggalan. Apakah kamu pernah mendapatkan pesan dari mereka? Tapi ini sebelum kematiannya ya. Di dalam lemari kan ada laci. Terus laci itu sepertinya ada isinya. Yang jadi pertanyaannya adalah kamu disuruh mengambilnya. Sepertinya rumah ini harus dijual saja. Aku tadi berkomunikasi dengan Bu Nirmala. Bu Nirmala dan Pak Andika menyuruh menjual rumah ini. Biar rumah ini ada yang menempatinya,” ucap Dewa yang mengaku mendapatkan permintaan Bu Nirmala dan Pak Andika.


Mau tidak mau Sascha mengalah dan menjual rumah ini. Bu Nirmala tahu jika dirinya tidak akan pernah ke sini lagi. Kalaupun ke sini hanya beberapa hari saja. Bu Nirmala berharap rumah ini bisa dijual dan ada yang merawatnya.


Memang hati Sascha sangat sedih sekali. Banyak sekali kenangan-kenangan yang sudah ditorehkan di sini. Namun apa boleh buat? Sascha harus mengalah pada keadaan. Selesai makan Sascha mengajak sita pergi ke kamar Bu Nirmala dan Pak Andika. Di sana mereka mencari dokumen-dokumen tersebut. Jujur dokumen-dokumen itu berada di dalam sana. Ia menatap wajah Dita yang ingin menangis. Kalau boleh memilih, rumah ini akan menjadi miliknya. Namun ia tidak boleh egois sama sekali. Ia harus merelakan rumah ini beserta sawah-sawahnya.


Kemudian mereka menuju ke ruang tamu. Mereka memberikan surat-surat itu ke Dewa. Dengan wajah sendunya, Sascha menatap wajah Dewa. Namun Dewa memajukan tubuhnya dan mengelus rambut sang istri.


“Yang namanya amanat yang amanat. Kita tidak boleh egois dengan semuanya. Memang rencana kita itu baik. Sawah-sawah kita kembangkan untuk menjadi hasil panen yang lebih bagus lagi. Tapi sang pemilik Rumah ini tidak mengijinkan? Kamu mau apa? Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh salah satu dari mereka. Ini pasti berhubungan dengan Pak Andika,” jelas Dewa.

__ADS_1


Deg.


“Maksud kakak apa?” tanya Sascha.


“Tadi Bryan cerita. Kalau selama ini hidup Kinanti hancur berantakan. Yang membuat hancur itu adalah adik kandungnya Pak Andika. Dia memang sudah menyelidiki semuanya tanpa seizin kita. Tapi aku nggak marah sama sekali dengan dia. Malah aku sangat berterima kasih. Pak Andika itu sebenarnya masih memiliki keluarga. Asal usulnya Pak Andika itu sengaja di buang oleh adiknya itu. Aku nggak tahu alasannya apa. Kemungkinan besar Bu Nirmala dan Pak Andika sengaja menjual rumah ini. Agar adiknya itu tidak boleh mencicipi hasil keringat yang sudah diperjuangkan oleh mereka. Ini menurutku saja. Jika kita memegangnya, otomatis orang itu masih seenaknya mengklaim rumah ini,” jelas Dewa.


“Aku nggak tahu lagi Kak. Kalau ini demi kepentingan Bu Nirmala dan Pak Andika. Ya sudah kita jual saja. Lebih baik dijual dengan harga murah tapi cepat laku. Terus uangnya disumbangkan saja. Aku sendiri tidak akan mengambil uang itu,” tambah Sascha.


“Apakah kamu serius?” tanya Dewa.


“Kalau sudah bermain internet. Kami akan dilupakannya begitu saja. Tapi jujur Kak Sascha adalah kakak iparku yang paling terbaik sekali,” puji Dita.


“Jadi Kakak selama ini tidak salah kan memilih seorang istri yang baik?” tanya Dewa ke Dita.


“Yang jadi pertanyaannya, Kenapa Kak Sascha mau banget sama Kak Dewa. Padahal kalau yang namanya hari libur. Kak Dewa itu jarang mandi loh,” ucap Dita yang membuat Dewa menatap tajam ke arahnya.


“Tenang saja. Aku sudah tahu siapa Kak Dewa sebenarnya. Jarang mandi iya, tukang tidur iya, tukang ngambek iya, tukang rese iya, tukang apalagi ya? Tukang bangunan sepertinya. Tapi sayang, sekarang dirinya sedang membangun hatiku yang sedang roboh ini,” celetuk Sascha yang membuat Dewa dan Dita tertawa.

__ADS_1


Sascha juga ikutan tertawa. Memang ada benarnya sih, kalau manusia itu harus banyak-banyak tertawa. Tapi tertawanya itu harus melihat kondisi. Jika tidak memiliki kondisi apapun, kemungkinan besar kita dianggap sebagai orang gila di jalanan sama orang.


“Kamu benar sekali. Sepertinya aku harus membangunnya lagi,” sahut Dewa yang sangat ingin sekali menggoda kedua wanita tersebut.


“Bagaimana Kakak membangunnya? Sementara Kakak sendiri tidak mengetahui apakah hati seorang perempuan?” ledek Dita


“Perempuan yang mana dulu Dita. Kalau perempuannya kamu, mama dan Kakak iparmu. Kakak tahu itu semua. Nggak usah ngomong langsung jadi. ayo kita belajar lagi soal pengenalan tentang hati dan perasaan tersebut,” celetuk Dewa.


“Sudahlah. Waktu sudah menunjukkan malam hari. Lebih baik kita tidur dan menyambut hari baru lagi. Pagi-pagi aku akan ke pasar. Mau masak spesial buat kalian berdua,” pamit Sascha.


“Baiklah Kak. Aku juga ingin tidur,” sahut Dita yang mulai mengantuk.


“Tunggu! Aku baru saja menemukan siapa keluarganya pak Andika sebenarnya,” seru Sascha. “Ternyata Pak Andika sendiri, memiliki satu adik dan satu kakak. Tapi nasib kakaknya juga sama kayak Pak Andika. Ada apa ini sebenarnya? Kok rasanya menjadi sangat aneh sekali.”


“Wah ini kasus baru nich. Sepertinya kita harus membuka tabir rahasia ini. Kalau menurutku Ada udang di balik batu,” kata Dewa.


“Bagaimana kalau kita disini beberapa dan mencari kakaknya Pak Andika? Aku yakin kakaknya Pak Andika masih hidup,” tanya Sascha.

__ADS_1


__ADS_2