Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ADA APA DENGAN DEWA?


__ADS_3

"Tenang rubah kecil tidak akan menyusahkan Dewa. Bahkan rubah kecil sekarang semakin cerdik. Diam-diam dia sudah menyelidiki nenek sihir itu tanpa bantuan siapapun," jelas Kobe.


"Ya... tapi semakin lama dia sangat berbahaya. Aku nanti takut jika dia benar-benar membuat keonaran jika sudah menangkap nenek sihir itu," ucap Timothy.


"Sudah jangan takut. Biarkanlah nyonya kamu bertambah cerdik dan berada di garda di depan. Dia memang pantas untuk mendampingi Dewa," tutur Kobe sambil menepuk pundak Timothy.


"Apa kabar mas?" tanya Sascha yang tiba-tiba saja hadir di hadapan Kobe.


"Kabar aku baik," jawab Kobe sambil menatap wajah Sascha,


"Dimana Dewa?" tanya Kobe yang sengaja memberikan sebuah berkas ke arah Sascha.


Sascha melihat berkas itu dan melihatnya, "Mas Dewa berada di area parkir."


"Hmmmp... enggak bawa Almond atau Heri atau Marty?" tanya Timothy.


"Bawa. Bahkan kami satu mobil," jawab Sascha yang mengerutkan keningnya.


Tak lama ponsel Sascha berdering. Sascha segera mengambil ponselnya sambil menatap nama seseorang yang berada di layar tersebut.


"Kak Bima?" pekik Sascha sembari menggeser ikon hijau tersebut.


"Ada apa dengan Bima?" tanya Kobe,


"Halo," sapa Sascha.


"Apakah Timothy ada disana?" tanya Bima.


"Ada," jawab Sascha.


"Bilang sama Timothy Dewa kecelakaan. Ada seseorang yang memakai baju serba hitam menabrak Dewa dari belakang. Orang itu memakai motor. Sekarang orang itu kabur entah kemana?" ucap Bima.


"Oh... kakak dimana?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Sedang perjalanan menuju ke rumah sakit," jawab Bima yang memegangi Dewa yang mengeluarkan darah.


"Share lokasi saja," suruh Sascha. "Aku kesana bersama Paman Kobe."


Sambungan terputus.


"Ada apa?" tanya Timothy dan Kobe bersamaan.


"Kak Dewa kecelakaan," jawab Sascha dengan wajah datar. 'Kak Bima mengantarkan Kak Dewa ke rumah sakit."


Kobe menatap wajah Sascha yang datar. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Ia tahu ketika Sascha memasang wajah datarnya. Kobe merasakan ada peperangan yang akan tejadi.


"Kak Timothy disini ya. Kakak akan berjaga dan menghalau musuh dari dalam. Aku tahu beberapa musuh sedang berjaga disini untuk merusak perusahaan!" perintah Sascha yang menatap Timothy.


"Nanti aku kabari," sahut Kobe yang menepuk bahunya Timothy.


Sascha dan Kobe bergegas menuju ke lobi. Kobe menghubungi seseorang agar membawa mobil ke lobi perusahaan.


"Wajahmu kok datar banget kayak gitu?" tanya Kobe.


"Kalau begitu bersabarlah. Kamu nggak boleh menyerah dari keadaan ini. Aku yakin kamu kuat. Karena kamu adalah wanita tangguh sama seperti istri tercintaku Ayako," puji Kobe dengan setulus hatinya.


Beberapa saat kemudian ada sebuah mobil berwarna putih menghampiri mereka. Lalu Kobe mengajak Sascha masuk ke dalam. Kobe langsung menyuruh sang sopir menuju ke rumah sakit yang ditujunya.


Mobil putih yang ditumpangi oleh Sascha berhenti sejenak. Tiba-tiba saja dirinya melihat kaca spion. Sascha tidak sengaja ada seseorang yang mendekatinya.


"Itu siapa bang?" tanya Sascha.


"Itu pengawalku. Pengaruh yang diberikan oleh kakek Aoyama. Dia memang selalu mengikutiku kemana pergi. Beberapa hari terakhir aku sengaja menurunkan dia sebagai mata-mata nenek sihir," jawab Kobe sembari memberikan kode agar orang tersebut masuk ke dalam.


Orang itu masuk ke dalam dan duduk di samping sopir. Kobe menyuruh sopir untuk berangkat terlebih dahulu. Di sana mereka berdua sedang berbicara memakai bahasa Jepang. Meskipun Sascha tidak bisa memakai bahasa Jepang, ia mengerti apa yang dimaksud oleh percakapan pria tersebut.


"Apakah kamu mengerti?" tanya Kobe.

__ADS_1


"Aku mengerti Bang. Orang yang menabrak Kak Dewa sudah tertangkap kan?" tanya Sascha balik.


"Ya kamu benar. Dia sekarang sudah berada di markas Black Swan. Aku sengaja memakai markas Black Swan untuk menyiksanya habis-habisan malam ini juga," jawab Kobe.


"Jangan disiksa. Biar aku saja yang melakukan interogasi sedikit demi sedikit!" tegas Sascha.


Mereka pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Sascha yang akan mengambil kendali untuk sementara waktu. Pria yang berada di depannya sudah mengetahui siapa Sascha sebenarnya. Mereka sering bertemu dan tidak saling menyapa. Hal ini dikarenakan Sascha sangat takut sekali berhadapan dengan gangster yang terkenal di Jepang.


Sementara di rumah sakit, Bima sedang menunggu dokter keluar. Tak lama Devan bersama Tara datang dan mendekatinya. Mereka berdua menatap Bima untuk memberikan kode. Bima Bun tersenyum sambil memberikan kode agar tidak berbicara terlebih dahulu.


"Di area sekitar sini, ada beberapa orang yang sangat mencurigakan. Aku tidak bisa berbicara dengan blak-blakan seperti ini. Aku yakin mereka adalah suruhan seseorang yang sengaja menabrak Dewa," ucap Bima dengan nada pelan.


"Lalu di mana Aulia?" tanya Devan yang mengkhawatirkan nasib Sascha.


"Sekarang Aulia berada di dalam mobil bersama paman Kobe. Mereka sedang menuju ke sini agar bisa menjenguk Dewa," jawab Bima.


Pasangan suami istri pun menghalau nafasnya tanda lega. Untung saja sang menantu tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi hatinya sangat khawatir tentang keadaan putranya itu. Mereka paham yang terjadi untuk saat ini. Serangan demi serangan akan menghantui mereka. Karena mereka masih berhubungan dengan keluarga Atmaja.


"Semuanya ini salah nenek sihir itu. Aku nggak tahu apa yang harus kita lakukan untuk saat ini. Jujur aku sendiri tidak bisa menyalahkan Chloe begitu saja. Karena Chloe adalah korban dari Anette," jelas Tara.


"Ya kamu benar. Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku juga tidak ingin diam seperti ini. Aku sudah menganggap Gerre sebagai saudara kandungku sendiri. Kami sedari kecil sudah berteman. Kami hidup dan tumbuh bersama seiring berjalannya waktu. Mulai dari sekolah hingga meraih kesuksesan bersama-sama," jelas Devan.


"Begitu juga dengan Dewa. Aku juga tidak akan lepas tangan dan membiarkan masalah ini bergulir begitu saja. Mereka sengaja melakukannya agar untuk menghancurkan Aulia dan lainnya. Sekarang kita diam terlebih dahulu," ucap Bima.


Mereka menganggukkan kepalanya dan memilih untuk diam. Mau tidak mau mereka menunggu sambil melihat di sekelilingnya.


"Benar juga apa yang dikatakan oleh Bima. Sepertinya aku harus menurunkan beberapa pengawal untuk menjaga ketat area ini," ujar Devan.


Selang lima menit kemudian, Sascha datang sambil menatap Tara. Ia menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Hatinya bergejolak, matanya memandang ruang unit gawat darurat.


Brakkkkkkkkk!


Sascha sengaja membuka pintu itu dan melihat beberapa suster sedang membedah tubuh Dewa. Ia mendekati mereka sambil menatap wajah para suster itu.

__ADS_1


"Sedang apa kalian?" tanya Sascha dengan nada dinginnya.


"Nyonya! Keluar sekarang! Anda tidak perlu masuk ke dalam sini!" perintah salah satu suster tersebut.


__ADS_2