
“Enggak, gue nggak akan ngelepasin lo!” bentak Liodra dengan nada meninggi.
“Ealah... Lepasin dulu nanti baru dilanjut,” pinta Sascha.
“Gue nggak akan ngelepasin lo!” geram Liodra.
“Gue udah telat. Lepasin mumpung gue masih punya sabar. Kalau gue nggak punya sabar. Lu pasti masuk dalam penjara. Pilih yang mana?” tanya Sascha sambil memberikan opsi.
Liodra tetap saja tidak melepaskannya sama sekali. Ia segera menariknya dan menyeret Sascha keluar. Bersamaan Liodra menyeret Sascha pintu lift terbuka. Dewa dan Timothy melangkahkan kakinya untuk segera keluar. Mereka tidak sengaja melihat Sascha sedang disiksa. Dewa langsung mendekati Sascha sambil meraih tubuh sang kekasih. Ia mulai menyiratkan amarah kepada Liodra. Begitu juga dengan Timothy, pria itu langsung memegang tangan Liodra sambil menatapnya dengan tajam. Ia tidak sadar ada kedua petinggi perusahaan sedang menatapnya. Ia malah tertawa terkikik hingga membuat Sascha berdecih. Liodra itupun sangat senang sekali telah menyiksa Sascha. Namun tanpa sadar Dewa dan Timothy sudah berada di hadapannya.
“Apa yang lu sudah lakuin?” tanya Timothy dengan ada meninggi.
“Gue sudah ngelakuin hal yang belum pernah gue lakuin. Terutama pada cewek j4l4ng ini. Gara-gara dia sahabat gue yang namanya Santi dipecat. Gue nggak habis pikir kenapa perusahaan lebih memilih j4l4ng ini ketimbang Santi yang sudah memberikan distribusi pada perusahaan ini. Sedangkan dia, dia itu nggak pinter. Tebar pesona ke bos, sok cantik, kuliah saja enggak... masa orang kampung pengen deketin bos gue. Gue nggak habis pikir kenapa para petinggi kepincut sama ****** ini,” ungkap Liodra dengan nada kecewa.
Dewa yang mengetahui apa isi hati Liodra langsung memerah padam. Ia tidak habis pikir, kenapa Liodra sangat membenci Sascha. Ia langsung melepaskan Sascha sambil mendekati Liodra. Dengan tatapan membunuhnya Dewa berkata dengan sinis, “Oh... Kamu temannya Santi ya?”
__ADS_1
Suara berat dengan menekan langsung membuat Liodra melepaskan rambut Sascha. Matanya tertuju kepada sosok yang selama ini dikaguminya. Liodra pura-pura tersenyum manis sambil menjawab, “Enggak Pak.”
“Sudah jelas apa yang kamu keluarkan dalam isi hatimu. Aku sudah mendengarkannya semua. Kamu tahu siapa yang tanya baru saja? Dia adalah asistenku dan kepercayaanku di perusahaan ini. Aku sebagai CEO di sini tidak terima atas perlakuan kamu di perusahaan. Kamu sangat pintar memutar balikan fakta. Kamu sudah berkata kalau Sascha tebar pesona. Nggak pintar! Nggak kuliah! Terus merayu saya! Semuanya itu salah. Kamu tidak pernah bergaul dengan Sascha. Kamu bergaulnya dengan manusia sampah. Satu fakta yang harus kamu tahu, Sascha sudah ikut membangun perusahaan ini dan membawanya ke atas. Padahal dia hanya sebagai asisten keuangan di perusahaan ini. Yang artinya asisten keuangan hanya mengurusi Pak Eric dan keuangan!” tegas Dewa yang memberikan satu fakta yang membuat Liodra terkejut.
“Tapi Pak, dia sudah korupsi miliaran rupiah, dia sudah memiliki rencana untuk menghancurkan perusahaan ini. Asal bapak tahu saja kalau Sascha itu wanita picik dan sok suci. Diam-diam dirinya sudah melemparkan tubuhnya ke pria hidung belang,” ucap Liodra yang tak mau kalah.
“Oh... Dia melemparkan tubuhnya ke pria hidung belang? Iya memang sudah. Dan pria hidung belang itu adalah saya sendiri. Saya membayarnya dengan uang sepuluh miliar. Lalu kamu mau apa? Sebegitu bencinya anda kepada pegawai spesialku ini. Kamu tahu kenapa dia spesial? Dia sudah memberikan kontribusi besar pada perusahaan sini maupun pusat. Tidak ada pegawai di sini bisa masuk ke pusat tanpa harus memakai tes. Dan Sascha dengan hebatnya memiliki kemampuan yang tidak kamu miliki bisa masuk ke sana. Apakah kamu masih menyanjung teman kamu itu? Please deh... nona kalau kamu nggak tahu fakta sesungguhnya jangan pernah memutar balikkannya. Dan jangan bilang kalau aku yang memberikan tiket ke sana menuju pusat. Kamu paham maksud aku apa? Aku tidak pernah pilih-pilih karyawan. Jika dia memiliki prestasi maka aku kirim ke pusat. Jika Santi tidak melakukan korupsi, menindas teman-temannya, tidak menyuruh bosnya untuk membersihkan meja, apalagi menghinanya dan sering mempermalukan rahasia di pertemuan-pertemuan besar sering kami adakan. Sikapnya sangat baik maka dia berhak mendapatkan tiket ke pusat. Sekarang kamu nggak bisa mengelak apa lagi. Ayo, mengelak apa lagi kamu!” bentak Dewa dengan nada meninggi.
Liodrapun terkejut dengan pernyataan Dewa. Ia tidak menyangka kalau Dewalah yang membayarnya. Hatinya seakan tidak rela mendengar pernyataan sang pria pujaannya itu. Namun dirinya tidak sadar kalau Dewa akan menikahi Sascha. Bagaimana jika dirinya tidak tahu mendapati kabar seperti itu? Apakah dirinya menangis? Atau membuat sebuah drama agar Sascha ditindas lagi?
“Mulai saat ini kamu bebas tugas tanpa pesangon sepeserpun. Kamu nggak usah datang lagi ke kantor ini. Dan sekarang kemasi barang-barangmu. Karena aku memecatmu!” tegas Dewa tanpa melalui Tommy.
“Timothy!” tegas Dewa saat memanggilnya.
Pria bertubuh kekar itu pun mendekatinya sambil menyahutinnya, “Ada apa?”
__ADS_1
“Suruh Tommy mencari penggantinya!” perintah Dewa. “Dan panggil para pengawal untuk mengusir wanita ini dari perusahaan. Aku sudah muak melihat perlakuannya sesama karyawan. Ditambah lagi dia pernah mengusir mamaku dari sini dan menghina adikku di tempat umum.”
“Apakah itu benar pak?” tanya Sascha.
Liodra sudah tidak bisa membela dirinya. Ternyata selama ini perlakuannya sudah diketahui oleh Dewa. Memang benar apa yang dikatakan oleh bos besarnya itu. Wanita itu sering menindas para karyawan yang tidak memiliki apa-apa. Yang lebih parahnya perlakuan itu ditujukan untuk office boy dan office girl yang berada di sana. Banyak sekali office boy dan office girl nya keluar tanpa sebab. Yang lebih parahnya lagi Liodra pernah mengusir Tarra dari perusahaan hanya karena memakai baju sederhana. Menghina Dita di depan para pemegang saham tahunan dan menindas Sascha. Ia melangkahkan kakinya dan membereskan barang-barangnya. Jika keputusan ini sudah diambil oleh dua belah pihak maka nasib Liodra berakhir sampai di sini.
Satu kata buat Sascha adalah kesal. Jujur selama ini hidupnya tidak pernah menggantungkan ke orang lain. Jarang sekali dirinya meminta tolong agar bisa mendapatkan bantuan. Namun Sascha bukan tipe seperti itu. Jika ia bisa mengerjakannya Kenapa harus meminta tolong. Soal Dewa memberikan tiket ke pusat bukan berarti saya diberikan secara cuma-cuma. Melainkan Sascha memberikan kontribusi besar terhadap perusahaannya tersebut. Tiket itu berasal dari sang kakek lalu diberikan ke dewa. Awal pertemuan dengan sang kakek telah membuatnya jatuh cinta. Sang kakak tidak pernah salah memilih orang bergabung dengannya. Malahan sang kakek melihat potensi Sascha memiliki kemampuan yang hebat. Banyak sekali yang iri hati kepada Sascha dan berusaha menjatuhkannya. Tapi dirinya menanggapinya dengan senyuman manis.
“Apakah kamu sudah selesai di sini?” tanya Dewa.
“Sepertinya sih belum,” jawab Sascha hingga membuat Dewa gemas.
“Baiklah kalau itu maumu,” ucap Dewa sambil tersenyum iblis.
Melihat senyuman iblis Dewa, Sascha langsung bergidik ngeri. Ia mengatur nafasnya sambil membaca banyak doa. Namun Dewa segera mengangkat Sascha dan menggendongnya seperti karung beras. Ia sengaja melakukannya agar sang kekasih tidak kabur lagi. Sekilas Liodra melihatnya kemudian hatinya berdenyut hebat. Bisa-bisanya Sascha diperlakukan seperti itu. Dirinya akan memakai cara agar Dewa menjauhinya.
__ADS_1
“Pak Dewa Apa yang bapak lakukan?” tanya Sascha yang diam saja tanpa berontak.