
Saat Dita berteriak, Sascha tidak menggubrisnya. Ia langsung mencari keberadaan sang penyusup. Ia melihat beberapa orang yang memakai baju serba hitam dengan membawa senjata berjenis AK 47.
Mereka menghadang Sascha dengan cara menodongkan senjata itu ke arahnya. sontak saja Sascha terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka kalau dirinya sedang bahaya.
Tiba-tiba saja Sascha merasakan tubuhnya bergetar dan berkeringat. Ia bingung dengan apa yang dirasakan saat ini.
Di dalam sana Dewa juga disandera sama orang sama. Dewa tidak bisa melakukan apa-apa. Ia juga tidak membawa senjata api sekalipun. Sepertinya ia mendapatkan kesialan bertubi-tubi. Ia sedang memikirkan bagaimana dengan nasib Sascha di depan. Apakah Sascha jadi pergi ke pusat perbelanjaan di depan kantor sana? Jika Sascha berada di depan, bisa jadi nyawa sang istri dalam bahaya.
Argh!
Sial!
Dua kata ini yang sedang bersarang di dalam hati Dewa. Ia tidak boleh panik. Ia harus tetap tenang dalam menghadapi masalah baru ini.
Bandara Soekarno-Hatta.
Sebuah jet pribadi mendarat dengan sempurna. Beberapa saat kemudian pintu pesawat terbuka. Beberapa orang keluar dari sana dengan memakai baju serba hitam. Mereka langsung menuju bergeser menuju ke helikopter. Di sana heli milik Dewa sudah menunggu kedatangan mereka.
Satu persatu mereka naik ke dalam. Mereka terdiri dari Gerre, Devan, Bima, Timothy, Ian dan Tommy.
Setelah di dalam Timothy menyuruh sang. pilot untuk menuju ke kantor D'Stars Inc.
Jarak menuju ke kantor tersebut membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Mereka berharap tidak terjadi apa-apa. Lalu mereka diam sambil memanjatkan doa.
Sepuluh menit kemudian heli itu turun dengan perlahan. Lalu mereka segera menuju ke ruangan Dewa dengan dipandu Timothy.
Masih di dalam posisi sama, Sascha belum bisa bergerak sama sekali. Ia sangat kesal dan ingin memaki mereka. Kenapa bisa mereka berada di sini? Padahal semenjak kedatangan Sascha, semuanya aman dan terkendali.
"Sialan tuh orang. Bisa-bisanya nggak mau minggir. Apakah aku harus memakai jurus membelah tubuh?" tanya Sascha dengan kesal.
Tak lama datang seorang pria paruh baya datang. Di tangannya sedang membawa pistol jenis airsoftgun. Pria itu malah tersenyum tipis melihat keberadaan Sascha. Pria itu mulai mendekati Sascha sambil berkata, "Jadilah wanitaku! Aku bisa memberikan permintaanmu."
__ADS_1
Sejenak Sascha tertegun. Ia tidak menyangka kalau seorang pria tua mendekatinya sambil mengatakan seperti itu. Namun di dalam hatinya, Ia menolak tawaran dari pria itu.
"Siapa kamu?' tanya Sascha dengan tegas.
"Kamu nggak kenal aku?" tanya pria itu.
"Aku tidak mengenalmu!" tegas Sascha yang mulai memiliki keberanian penuh
Sudah saatnya menyerang. Sascha tidak akan mundur lagi. Jika waktunya terjadi maka terjadilah. Biarkanlah ia menjadi orang berguna buat semua orang terkasihnya.
"Oke... aku adalah David. semenjak Gerre menemukan kamu... posisiku semakin sulit untuk menduduki jabatan CEO di Khans Company," jawab David nama pria itu.
"Apa maksud kamu?" tanya Sascha yang tidak paham dengan maksud David.
"Maksudku adalah kamu adalah penghalang jalanku. Semenjak dulu aku sudah mengincar kursi jabatan CEO. Aku yang mengajak kerjasama Fatin dan Cathy untuk sengaja menyingkirkan kamu dari pelukan hangat ibumu," jawab David.
Jujur David terkejut dengan apa yang didengarkannya. Ia benar-benar berada di zona benang kusut. Mengapa banyak sekali orang yang ingin menyingkirkannya sedari kecil? Padahal dirinya tidak pernah meributkan soal itu.
"Mau kamu apa sih?" tanya Sascha.
"Mau aku adalah kamu mati," jawab David yang tersenyum manis.
"Oh... jadi itu," ucap Sascha. "Oke! Aku minta satu syarat."
"Syarat apa itu?" tanya David.
"Syarat yang di mana kamu harus memenuhinya," jawab Sascha yang mulai mengibarkan bendera perorangan.
"Lepaskan Dewa!" tegas Sascha yang membuat David tertawa.
"Syarat bodoh yang kamu ajukan itu!" David mulai tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Itu bukan syarat bodoh tahu! Aku ingin memintamu untuk melepaskan Dewa! Dewa tidak ikut-ikutan dalam masalah ini!" geram Sascha yang ingin menyerang David saat ini juga.
"Dia ikut-ikutan dalam masalah ini! Dia akan menggabungkan Khans Company menjadi satu dengan Nakata's Groups!" bentak David dengan meninggi yang membuat Sascha memicingkan matanya.
Deg.
Selama ini David tahu akan terjadi penyatuan antara Khans Company dan Nakata's Groups. Lalu yang jadi pertanyaan dari mana ia. dia tahu? Sementara itu masih rencana yang akan dilaksanakan setelah Sascha memiliki.
"Dari mana dia tahu? Kalau sebentar lagi akan ada penyatuan kedua perusahaan raksasa itu menjadi satu? Lalu, siapakah David sebenarnya? Kenapa dia baru muncul setelah huru-hara ini terjadi?" tanya Sascha dalam hati.
Sascha semakin curiga, perasaannya terhadap orang ini sangat aneh sekali. Siapakah David sebenarnya? Apakah dia orang dibalik huru-hara ini? Sascha harus mencari jawaban ini.
"Okelah. Jika kamu menyuruhku melepaskan Dewa. Kamu harus melepaskan Damar untukku," ucap David yang tidak main-main.
"Jadi Damar selama ini adalah... bisa jadi kaki tangannya. Oh aku baru tahu sekarang. Orang ini bersembunyi di suatu tempat. Dan dia adalah biang keladinya. Pintar sekali ya ini orang," kata Sascha dalam hati.
"Ya... memang pintar. Sekarang taktiknya sudah terbaca. Aku suka tantangan seperti ini," ucap Sascha sambil tersenyum smirk.
Tiba-tiba saja wajah David berubah menjadi geram. Sascha mendekati David sambil memutarinya. Akhirnya Sascha tersenyum manis sambil berkata, "Well... otak kamu sangat cerdas sekali. Kamu sengaja mengajak musuh utama Atmaja. Lalu kamu mengajak Damar sebagai perusak utama. Begitulah maksud kamu itu."
"kamu!" teriak David.
"Tuan David... please... jangan berteriak seperti itu. Sayangilah jantung kamu itu. Sekalinya kamu berteriak nanti lewat begitu saja bagaimana? Aku sangat bingung ketika kamu pingsan. Saat pingsan nyawa kamu lepas dan perlahan keluar lalu terbang ke angkasa. Lalu kamu meminta pertanggung jawaban dari aku?" ledek Sascha yang tidak takut sama sekali.
"Dasar wanita rubah!" seru David yang tidak suka dipermainkan.
"Memangnya aku rubah? Ups... aku lupa. Aku memang rubah. Yang di mana rubah kecil yang akan menghantui pikiran kamu dan bisa membuat mental jatuh hingga titik jurang terdalam," sahut Sascha yang membuat David semakin geram.
David mengangkat tangannya sambil terkepal dengan kuat. Lalu David menghempaskan wajah Sascha. Namun Sascha lebih cepat dulu untuk menghindari dari David.
David lalu merasakan ada sesuatu yang aneh sekali. Tangannya tidak bisa mendarat dengan sempurna. Namun ia memukul angin saja. Kemudian ia berteriak frustasi dan mengatakan, "Dasar benalu."
__ADS_1
"Ups... Sebentar... sebentar... Tiba-tiba saja kamu mengatakan aku benalu. Tapi kamu adalah benalunya sendiri. Kamu kok lama-lama jadi aneh ya Dav?" Tanya saja.