
''Kata siapa DTGroups mengganggu Matters Corps?" tanya Rosita geram kepada Sacha.
"Kata siapa?" tanya Sascha balik.
"Iya... kata siapa!" bentak Rosita yang tidak suka dengan kehadiran sascha
"Kamu sendiri yang bilang. DT Groups tidak pernah mengganggu Masters Corps. Mereka adalah perusahaan mandiri tanpa ada sokongan dari siapapun,'' jawab Sascha yang mengetahui sejarah berdirinya DT Groups.
"Sokongan?" tanya Rosita yang menggeram.
"Ya... mereka tidak perlu sokongan. Dan kamu tahu perjuangan sang pemilik? Sang pemilik memang anak dari Aoyama Nakata. Tapi sang pemilik tidak manja seperti kalian yang meminta uang kepada orangtua kalian. Apalagi uangnya itu hasil dari korupsi dari perusahaan Nakata's Groups,'' jelas Sascha yang membuat mata Dewa membelalak sempurna.
"Apa benar?" tanya Dewa.
"Ya... aku memang menyelidikinya semalam. Dan sebuah fakta yang sangat mencengangkan buat kamu,'' jawab Sascha.
"Hmmp... baguslah. Ternyata selama ini orangtua kalian berkhianat kepada Nakata's Groups demi tercapainya perusahaan ini,'' ucap Dewa.
"Ya... itu benar,'' jawab Sascha. "Plis.. kalo kalian mengelak, kalian akan kalah dariku. Aku memang sudah mendapatkan informasi sesungguhnya. Jika kalian melawan otomatis aku yang akan menjebloskan kalian ke dalam penjara,'' ucap Sascha.
Mereka terdiam dan tidak dapat berbicara. Mereka bingung harus berkata apa-apa. Fakta yang mereka tutupi ternyata terbongkar oleh Sascha. Kedua kakak adik itu langsung berlutut di kaki Sascha. Mereka meminta maaf atas kesalahan kedua orangtuanya itu.
Sascha yang melihat itu tidak tega sama sekali. Sascha meminta mereka untuk berdiri. Ia tidak bisa memutuskan secara sepihak. Namun ia meminta Dewa dan Kobe untuk berdiskusi. Dengan berat hati kedua bersaudara itu melepaskan Master Corps. Sebagai gantinya Sascha akan meminta sang papa untuk memberikannya pekerjaan baru.
Bagaimana dengan tanggapan Dewa? Dewa terserah kepada Sascha. Karena perusahaan ini sudah sepenuhnya milik Sascha. Lalu, bagaimana dengan Sascha yang akan memenjarakan mereka? Tidak, Sascha akan membiarkan mereka bekerja. Sebagai gantinya aset mereka yang akan disita oleh Sascha untuk mengganti kerugian itu.
Rosita dan Theodore sangat berterima kasih kepada Sascha. Mereka tidak akan pernah melupakan jasa Sascha. Kemungkinan besar Sascha akan meminta bantuan jika ada kesusahan. Menyesal... pasti. Mereka menyesal karena orangtuanya. Kenapa sedari dulu mereka tidak menghentikan pengambilan uang secara berkala milik Nakata's Groups.
__ADS_1
Hari semakin sore Rosita memperkenalkan seluruh perusahaan itu ke Sascha. Dengan lembutnya Rosita menjelaskan bagaimana sistem kerjanya perusahaan. Rosita tahu kalau Sascha memiliki sebuah bakat berbisnis yang mumpuni. Mereka mengobrol secara lepas dan tidak ada beban sama sekali.
Begitu juga dengan Theodore Yi, yang dimana dirinya sempat bersitegang sama Dewa. Sebenarnya Theodore Yi mengakui kemampuan Dewa yang mumpuni. Diam-diam saat Dewa memegang DT Groups, Theodore Yi telah memperhatikannya. Namun ia gengsi untuk mengakuinya. Apalagi Dewa adalah seorang pria yang berpengaruh di dunia bisnis.
Pertemuan awal ,mereka tidak semenakutkan yang dibayangkan. Mereka mengakui kesalahannya dan kedua orangtuanya. Sascha tidak bisa menolong mereka karena ini menyangkut perusahaan pusat.
"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Dewa.
"Ya... aku sudah selesai. Aku akan merubah semua konsepnya. Aku ingin semuanya normal kembali buat para pekerja disini,'' jawab Sascha yang mengambil tasnya. "Apakah kakak bisa memberikan hasil keputusan buat mereka?"
"Maaf Sa. Ini menyangkut pusat. Kita tidak bisa melakukan apapun. Kalaupun bisa itu hanya lima persen,'' jawab Dewa yang paham akan Sascha. "Kalau masalah kantor cabang keputusan berada di tangan kita.''
"Kakak tahukan bagi siapa saja yang melakukan korupsi di kantor pusat maka hukumannya adalah bunuh diri di depan sang presider. Aku pernah mendengar itu saat mengungkap kasus korupsi,'' ucap Sascha.
"Kan sudah resikonya. Peraturan yang dibuat oleh leluhur secara turun temurun agar membuat mereka jera. Karena nyawa mereka diganti dengan pengkhianatan,'' jelas Dewa.
"Kalau aku korupsi uang bulananku, bagaimana?" tanya Sascha.
"Kalau begitu belikan aku steak lada hitam," pinta Sascha yang kelaparan.
"Kamu meminta itu?" tanya Dewa.
"Iya," jawab Sascha yang membuat Dewa menggelengkan kepalanya.
"Kalau soal makanan aku akan memberikan kamu setiap hari. Tapi kenapa kamu meminta itu? Harusnya kamu meminta mobil sport, mansion mewah, jet pribadi atau pulau kepadaku?" tanya Dewa.
"Sepertinya aku sudah memiliki semuanya. Papa sudah memberikan aku semuanya. Jadi aku bingung minta apa lagi sama kakak," jawab Sascha. "Ayo pulang!"
__ADS_1
Nganjuk Indonesia.
Bu Nirmala terkejut dengan apa uang tabungan yang menambah banyak. Bu Nirmala bingung dengan uang yang berada di ATM-NYA itu.
"Pak," panggil Ibu Nirmala.
"Iya Bu," sahut Pak Andika yang membawa pulpen.
''Oh ya pak... kenapa uang ibu ada seratus juta?" Tanya Bu Nirmala.
"Apakah itu benar?" tanya Pak Andika .
"Ya... itu benar," jawab Bu Nirmala.
"Kemarin Sascha menghubungi bapak. Sascha memberikan uang bulanan buat ibu," ucap Pak Andika.
"Tapi ini kebanyakan pak. Biasanya Sascha memberikan uang sebesar tiga juta. Ini malah seratus juta. Bisa-bisa ibu membeli tanah lagi," celetuk Bu Nirmala.
"Kata Sascha tidak apa-apa kalau ibu membeli sawah lagi. Toh nanti sawahnya akan disewakan oleh orang-orang," ucap Pak Andika. "Sascha cerita kalau disana dirinya sudah bekerja."
"Bekerja?" pekik Ibu Nirmala.
"Ya... Sascha baru mendapatkan gaji dari perusahaannya," jawab Pak Andika.
"Kenapa Sascha bekerja? Sementara Sascha sudah memiliki banyak uang dari keluarganya?" tanya Bu Nirmala.
"Ibu tahu kalau Sascha itu tipe anak yang bekerja keras. Apakah ibu ingat saat libur lebaran Sascha turun ke sawah? Dan dia enggak malu sama sekali. Padahal dirinya adalah orang kota. Pegangannya komputer dan hp yang canggih. Itulah yang membuat bapak salut," jawab Pak Andika yang mengingat kejadian Sascha sedang berlibur.
__ADS_1
"Sekarang kita tidak bisa berharap banyak ke Sascha. Karena Sascha sudah menemukan dan tinggal bersama mereka. Bapak enggak yakin kalau Sascha akan pulang kesini. Karena Sascha sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya. Andaikan Kinanti seperti itu. Bapak tidak akan kecewa terlalu dalam. Setiap hari selalu membuat dadaku sesak. Bahkan nyesek setengah mati," ucap Pak Andika yang kecewa dengan kelakuan Kinanti.
"Sabar saja pak. Kita doakan semoga Kinanti cepat sadar dari kesalahannya. Ibu tahu kalau Kinanti itu anak baik. Tapi Kinanti salah pergaulan. Kita juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya. Lebih baik kita instopeksi diri untuk mencari kesalahan. Jika sudah bertemu maka kita bisa memperbaikinya," saran dari Pak Andika.