
“Kalau aku seperti kamu. Langkah pertama yang aku lakukan adalah mencari semua bukti dan informasi yang valid. Kemudian aku mencoba untuk menganalisis keadaan. Setelah itu aku mulai mencocokkan dengan bukti dan juga keadaan. Jika ada indikasi yang mengarah ke orang itu, aku langsung memberikannya ke Kak Tommy dan bilang orang inilah yang menindasku selama ini. Buat perjanjian terlebih dahulu. Jika Kak Tommy nggak mau melakukannya, maka kamu yang berhak untuk maju ke sana. Jika kamu tidak percaya diri, telepon aku saja. Nanti aku ajari satu persatu,” jelas Sascha.
“Ternyata kakak adalah pemberani. Nanti Kak aku coba jika sudah waktunya,” sahut Dita yang sudah mendapatkan kunci untuk menyelamatkan hidup dari para musuh di sekitarnya.
Betapa bahagianya Dita hari ini. Dita langsung berdiri dan mengucapkan rasa syukur. Lalu Dita membuka kopernya sambil mencari pakaian, “Kak, Aku mau jalan-jalan ya sama Kak Tommy ke sawah. Mumpung kita masih berada di sini. Sebenarnya kalau di Amerika sudah tidak ada sawah lagi,” minta Dita yang meminta izin kepada Sascha.
“Ya udah gih. Pergilah ke sana. Tapi hati-hati ya. Nanti kalau ada ular yang melintas jangan kaget dan takut,” pesan Sascha.
“Baiklah Kak,” sahut Dita yang memutuskan untuk pergi ke toilet.
Sascha akhirnya keluar dari kamar. Ia mencari keberadaan Dewa namun tidak menemukannya. Ia memutuskan untuk ke dapur dan melihat para pengawal yang masih memasak. Jujur, selama ini Sascha dibuat terkejut oleh mereka. Ternyata pengawal Black Tiger adalah pengawal yang tidak kaleng-kaleng. Selain itu juga, para pengawal milik Black Tiger harus bisa memiliki banyak sekali keterampilan. Salah satunya adalah memasak. Mau tidak mau Sascha berbalik badan dan menuju ke samping rumah. Di sana Bima dan Dewa sedang menikmati mangga muda. Alhasil Sascha menepuk jidatnya sambil berkata, “Aku sangka Kalian sedang apa?”
“Biasalah. Tuh abangmu pengen banget mangga muda. Dari tadi kirim pesan menanyakan mangga muda di samping rumah aku jawab ada. Ternyata abang langsung mengajakku ke sini,” jawab Bima.
“Ya sudahlah kalau begitu,” ucap Sascha.
“Kamu mau ke mana?” tanya Dewa.
“Aku tidak kemana-mana. Lebih baik aku menunggumu di sini saja,” jawab Sascha yang bingung mau ngapain.
Selang beberapa hari kemudian, Brian sedang menikmati semilirnya angin sawah. Yang memiliki tinggi 170 cm itu hanya bisa menghela nafasnya. Brian tidak menyangka kalau rumah itu akan terlepas juga. Ia sendiri meminta keajaiban agar rumah itu ada yang merawatnya. Selain itu juga dirinya berharap rumah itu bisa dikunjungi kembali oleh anggota Black Tiger.
“Memang sungguh berat melupakan kenangan yang sudah terukir jelas di rumah kecil itu. Aku sendiri tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan untuk saat ini. Sascha, Dewa, Leo, Bima dan lainnya mengharapkan bisa datang ke rumah ini lagi. Satu kata buat Kami sekarang ini adalah sedih. Tuhan, kalau aku jodoh dengan rumah ini. Aku akan kembali dan menjenguknya. Gara-gara Sascha, aku sendiri menemukan diriku di rumah ini,” ucap Bryan dalam hati.
Tak lama Brian mendengar ponselnya berdering. Ia lalu mengangkatnya dan berbicara kepada seseorang. Bryan tidak menyangka, kalau orang itu sudah menuju ke rumah ini. Setelah itu Brian memutuskan sambungan teleponnya. Ia masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Dewa di dapur.
__ADS_1
“Relakan ya semuanya,” ucap Dewa kepada Sascha dan Dita.
“Sudah kuat Kak. Bahkan aku ikhlas sendiri. Biarkanlah rumah ini ada yang merawatnya. Selamat tinggal kenangan masa lalu,” sahut Sascha.
Brian yang mendengarnya juga tidak rela. Ia harus berbuat apa untuk saat ini. Ia memberanikan diri untuk masuk ke dapur dan menemui Dewa.
“Wa,” panggil Bryan.
“Ada apa Bray?” tanya Dewa.
“Orang yang ingin membeli rumah ini akan datang. Semoga saja kita cocok dengan harganya lalu pergi dari sini,” jawab Bryan.
“Yang penting uangnya dibagi dua. Sesuai dengan kesepakatan Antara Aku dan istriku. Aku harap uang itu akan menjadi berguna bagi kakaknya Pak Andika dan anak-anak yatim,” ucap Dewa.
Jawab mereka serempak.
Brian memutuskan bergabung bersama Dewa. Sedangkan lainnya sedang berjalan-jalan menyusuri kabupaten Nganjuk dan sekitarnya. Meskipun sedih mereka harus menghibur dirinya agar tidak stres saat kembali ke New York City.
Hampir sejam, mereka menunggu dengan hati berdebar. Mereka saling melihat dan memandang. Mereka berdoa agar harganya sangat pas dan tidak ada negosiasi lagi.
Beberapa saat kemudian datang Marty bersama Almond. Marty langsung menyampaikan pesan. Ada beberapa mobil sudah berada di depan.
“Maaf kak. Di depan ada beberapa mobil terparkir di luar. Mereka adalah pengaku membeli rumah ini,” ucap Marty.
“Beberapa mobil?” tanya Bryan yang mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Iya... beberapa mobil kak,” jawab Marty.
“Okelah. Aku akan kesana,” sahut Sascha yang menyambut kedatangan sang calon pembeli.
“Apakah kamu serius?” tanya Dewa yang melihat Sascha yang masih berat melepaskannya.
“Ya... aku akan kesana. Aku ingin bernegosiasi dengan baik. Karena rumah ini banyak kenangan,” jawab Sascha yang membuat Bryan mengedikkan bahunya.
“Buka dengan harga lima milyar sekalian sama tanah dan juga sawahnya,” pinta Dewa. “Kalau bisa dengan harga tertinggi.”
Sascha menganggukan tanda paham. Ia akan membuat perjanjian asal mau merawat rumah ini dengan baik. Dewa dan Bryan pun menyetujuinya. Sascha segera keluar dari dapur dan menantang sang pembeli. Ia berjalan dengan santai sambil membaca doa. Ia keluar lalu melihat beberapa mobil mewah berada di hadapannya.
“Kok aku merasa mengenal beberapa mobil ini ya?” tanya Sascha dalam hati sambil melihat dan mengelilingi mobil tersebut.
Sascha mengerutkan keningnya sambil memutar-mutar mobilnya itu. Ia mulai menandai kalau mobil itu adalah milik Gerre. Kemudian Sascha beralih ke satu mobil lainnya. Ia juga tidak menyangka kalau mobil itu adalah milik Devan. Sascha menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa mobil kedua orang tuanya dan mertuanya disini? Katanya Marty sang calon pembeli. Ia semakin bingung dan menggelengkan kepalanya.
Sementara di dalam mobil, Gerre bersama Chloe sengaja datang kesini bersama Mark. Chloe sengaja membeli rumah ini sekaligus sawahnya. Chloe tidak mau sang Putri memiliki kesedihan mendalam. Karena ia tahu kalau rumah ini memiliki banyak kenangan.
“Fix... rumah ini sudah menjadi milik kita selamanya. Aku tidak menyangka kalau rumah ini banyak sekali kenangan buat Putri kita,” ucap Chloe.
“Untunglah saat itu kamu langsung membeli rumah tersebut. Bagaimana jika rumah itu jatuh ke tangan orang lain? Aku yakin Sascha akan kembali ke tempat ini beberapa bulan kemudian,” ujar Gerre. “Terimakasih sayang telah mengembalikan keceriaan putri kita.”
“Sama-sama sayang,” jawab Chloe. “Sudah seharusnya kita mengembalikan keceriaan putri kita.”
“Apakah kita akan tetap disini?” tanya Gerre.
__ADS_1