
"Sascha sakit otak. sekarang dirawat di rumah sakit Jakarta," jawab Dewa dengan lesu.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau Sascha sakit?" tanya Aoyama yang benar-benar marah kepada Dewa.
"Maaf kek. Aku tidak bisa memberitahukannya," jawab Dewa yang takut sang kakek marah.
Kakek Aoyama menghela nafasnya secara kasar. Bagaimana bisa Sascha sakit tidak ada kabar berita? Harusnya Dewa bercerita tentang dengan keadaan Sascha.
"Maafkan Dewa kek," pinta Dewa.
"Kalau begitu antarkan aku ke rumah sakit!" titah Kakek Aoyama.
"Baik kek," balas Dewa.
Taro segera menghubungi supir untuk mempersiapkan mobil. Setelah itu Kakek Aoyama pergi meninggalkan Dewa. Setelah menjauh Dewa merasakan jantungnya berdetak kencang.
"Aku ikut dengan kamu ke rumah sakit," pinta Timothy.
Dewa melemparkan kunci mobilnya ke arah Timothy. Timothy segera menangkapnya dan berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Sascha sangat jenuh sekali dengan keadaan. Sascha memutuskan untuk turun dari brangkar. Namun Dita menghalanginya. Sascha memasang wajah masam sehingga membuat Dita terbahak-bahak.
"Kenapa kamu tertawa terbahak-bahak?" tanya Sascha yang kesal.
"Ah.... Mbak Sascha sangat lucu ketika berubah menjadi masam seperti mangganya milik Pak Tomo di depan rumah," jawab Dita.
"Cih... kamu menyamakan aku dengan mangga Pak Tomo itu?" tanya Sascha lalu tersenyum lucu. "Eh... kayaknya enak tuh mangganya Pak Tomo. Sudah lama enggak makan."
"Iya mbak. Malah Pak Tomo mencari mbak disuruh mengambilnya," jawab Dita.
"Nanti dech nunggu aku pulang. Kemungkinan besar setelah ini aku harus ke Hamburg untuk kesembuhanku," ucap Sascha dengan nada sedih.
"Enggak usah sedih begitu. Jika pohon mangganya berbuah aku akan memborongnya semua dan membawanya ke Hamburg," ujar Dita yang tersenyum.
"Kamu naik apa?" tanya Sascha yang curiga.
"Naik jet pribadinya kak Dewa," jawab Dita yang tersenyum manis.
"Ah... yang namanya Sultan tetap saja Sultan," kesal Sascha.
"Mbak juga Sultan. Lihatlah kekayaan yang dimiliki oleh papa mbak," celetuk Dita.
"Itukan lain," jawab Sascha yang merendah.
Yang dikatakan Sascha benar. Sascha belum berhak untuk mendapatkan semua yang dimiliki oleh kedua orang tuanya itu. Sementara itu Dita bersedih karena Sascha yang hampir jatuh miskin. Dita merasa kasihan kepada Sascha karena ulah Billi dan keluarganya itu.
"Yang sabar mbak. Nanti akan ada waktu dimana Mbak Sascha akan menjadi wanita yang sukses tanpa ada embel-embel dari Tuan Gerre," ucap Dita yang mendinginkan suasana hati Sascha.
__ADS_1
"Amin," balas Sascha. "Terima kasih Dit."
Ceklek.
Pintu terbuka.
Gerre melangkahkan kakinya untuk mendekati Sascha. Gerre merentangkan kedua tangannya sambil memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang. Melihat momen itu Dita tersenyum manis. Dita mendoakan Sascha agar bahagia selalu.
"Papa," panggil Sascha.
"Iya sayang," sahut Gerre yang melepaskan pelukannya.
"Apakah aku boleh berjalan-jalan?" tanya Sascha.
"Apakah kepalamu sudah enggak sakit lagi?" tanya Gerre.
"Enggak terlalu sakit. Sudah mendingan," jawab Sascha.
"Syukurlah. Tapi kamu enggak boleh keluar dari rumah sakit terlebih dahulu. Kamu akan berjalan-jalan di sekeliling rumah sakit ini," ucap Gerre.
"Apakah Kak Dewa belum pulang?" tanya Sascha.
"Belum," jawab Gerre.
"Kemana mama?" tanya Sascha lagi.
Tak lama Kakek Aoyama datang bersama Taro, Dewa dan Timothy. Mata Sascha membulat sempurna sambil menyunggingkan senyumnya. Sascha segera turun dari brangkar. Namun Dita masih tetap menahan Sascha agar tidak turun dari brangkar. Ketika Kakek Aoyama melihat sang cucu perempuannya posesif, Kakek Aoyama meminta Sascha agar tetap di tempat. Akhirnya Sascha menurutinya.
"Tidak usah turun dari brangkar. Tuh lihatlah Dita sangat posesif sekali sama kamu," ucap Kakek Aoyama sambil tersenyum.
"Aku tidak posesif sama Mbak Sascha. Tapi aku sedang melindungi jodoh dari kak Dewa," celetuk Dita.
Mereka menahan tawa karena celetukkan Dita yang menyeleneh itu. Mereka tidak bisa menahan tawanya. Hingga mereka tertawa pecah.
"Dita, apaan sih kamu?" tanya Sascha yang malu dan menutup wajahnya.
"Ya kan... Mbak Sascha kan jodoh Kak Dewa. Lihatlah wajah mbak yang sangat mirip sekali sama Kak Dewa," jawab Dita dengan jujur.
"Kapan kakakmu akan menikah?" tanya Kakek Aoyama.
"Kalau bisa besok kek," sahut Dewa yang berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya.
"Apa?" pekik Kakek Aoyama.
"Aku masih belum mengijinkan kamu menikahi Sascha!" geram Gerre.
__ADS_1
"Jika papa tidak mengijinkan aku menikahinya. Besok putrimu itu aku bawa kabur," kesal Dewa.
"Pokoknya aku tidak mengijinkan kamu menikahinya," tambah Gerre dengan mata menyalang.
"Aish papa. Bukannya papa sudah setuju dari dulu," celetuk Dewa yang segera mendekati Sascha.
"Kapan aku menyetujuinya? Apakah kamu sedang bermimpi?" tanya Gerre.
"Sepertinya pertengkaran ini akan berlangsung lama," kesal Sascha.
"Mereka sangat keras kepala. Semoga kamu bersabar menghadapi mereka yang memiliki kepala batu seperti mereka," celetuk Kakek Aoyama.
Dita, Taro, dan Timothy hanya menggelengkan kepalanya. Mereka tidak menyangka seorang Dewa pria mapan yang memiliki sejuta pesona ditolak. Mereka tertawa bersama-sama. Namun tidak lama Devan, Tara dan Chloe datang. Mereka langsung menghentikan tawa.
"Ada apa ini?" tanya Devan yang melihat ketiga makhluk tertawa.
"Begini pa... Kakak ditolak sama Tuan Gerre," celetuk Dita.
Devan, Chloe dan Tara juga tertawa melihat penderitaan Dewa. Devan tidak menyangka kalau Dewa ditolak mentah-mentah. Devan mendekati Dewa sambil menepuk bahu sang putra, "Kamu harus menaklukan papa mertuamu itu."
"Bagaimana caranya? Papa tahukan kalau Papanya Sascha mempunyai watak sangat keras sekali?" tanya Dewa.
"Tidak tahu," jawab Devan yang mengedikkan bahunya.
Rasanya Dewa ingin membawa kabur Sascha. Dewa sangat kesal terhadap Gerre yang tidak memberikan restu kepadanya. Gerre menatap Sascha dengan lembut. Lalu Gerre bertanya, "Apakah kamu mau menikah dengan Dewa?"
"Aku belum tahu pa. Aku masih ingin mengejar cita-citaku," jawab Sascha.
"Itu terserah kamu. Papa enggak akan memaksa kamu," ucap Gerre.
"Sa... Bilang sama papa kamu. Akulah pria yang pantas untukmu. Biarkan aku yang mendampingimu," ucap Dewa yang menatap nanar wajah Sascha.
Sascha menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Sascha akan menerima Dewa apa adanya. Cepat atau lambat Dewa akan menjadi suaminya. Sascha tidak ingin membuat Dewa patah hati apalagi hingga drop.
"Ah... Baiklah. Aku menerima kakak menjadi pendamping hidupku. Tapi dengan satu syarat," pinta Sascha.
"Syarat apa?" tanya Dewa.
"Izinkan aku bersekolah. Karena aku ingin meraih cita-citaku," jawab Sascha yang ingin mendapatkan restu dari Dewa.
"Kalau itu aku mengijinkan kamu," sahut Dewa yang tersenyum manis. "Papa... Bagaimana menurutmu?"
"Ya... Dech kamu menang," jawab Gerre yang melihat Dewa yang tersenyum. "Kalau begitu bulan depan kalian menikah."
"Secepat itukah pa?" tanya Sascha yang terkejut.
__ADS_1
"Iyalah. Coba kamu lihat wajah Dewa yang sudah tidak sabar," celetuk Gerre.
Dewa terkekeh memasang wajah tengilnya itu. Dewa langsung meninggalkan ruangan itu karena malu. Sedangkan Kakek Aoyama sangat lega mendengar sang cucu tengilnya itu akhirnya laku. Kakek Aoyama berharap agar pernikahan mereka awet hingga kakek nenek. Sedari tadi Taro sangat bingung terhadap Gerre yang masih berada di kamar Sascha. Taro segera membisiki Kakek Aoyama untuk menanyakan hubungan Gerre dengan Sascha. Kakek Aoyama pun tersadar atas kejadian ini. Akhirnya kakek Aoyama bertanya, "Gerre... Kenapa kamu berada di sini?"