
“Ya itu benar. Aku harus mencari cara agar nenek sihir itu tunduk sama kita,” jawab Dewa.
“Lalu bagaimana caranya? Kita enggak tahu caranya bagaimana?” tanya Sascha.
“Caranya, nanti saja. Aku ingin kita bercinta malam ini,” jawab Dewa.
“Kamu ini? Kamu itu selalu saja begitu,” cebik Sascha sembari membuang wajahnya.
“Lagian kamu itu sangat lucu sekali. Ya udah aku masih memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menjebak nenek sihir,” ucap Dewa.
“Ya sudah kalau begitu,” ujar Sascha yang melipatkan kedua tangannya di dada.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Dewa.
“Aku sudah sangat baik sekali. Aku merasa bahagia sekarang. Aku ingin membuat semuanya menjadi lebih baik lagi,” jawab Sascha.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Sascha. Ia segera mengambil pesan itu dan membacanya. Ia lalu terkejut dan menatap Dewa.
“Bolehkah aku jujur sama kamu?” tanya Sascha yang bingung mau mengatakan apa terhadap Dewa.
"Kamu harus jujur kepadaku," jawab Dewa. "Seharusnya orang yang sudah menikah bukannya harus terbuka? Apakah kamu memiliki kekasih lagi?"
"Aku tidak akan mau memiliki kekasih lagi. Aku diam-diam telah berkhianat sama kamu," jawab Sascha.
"Lalu?'' tanya Dewa yang sengaja melihat mata Sascha penuh kejujuran.
"Aku telah bekerja sama dengan mafia yang bernama D-Trex. Jujur aku sangat kepo banget dengan kehidupan nenek sihir," jawab Sascha.
"Hanya itu saja! Aku kira kamu memiliki seorang kekasih baru. Kalau kamu memiliki kekasih baru. Awas saja kamu!" ancam Dewa yang serius.
"Lha, kamu mengancam aku?" tanya Sascha.
"Enggak. Aku tidak mengancam kamu. Aku tidak pernah melakukan akan hal itu," elak Dewa yang membuat Sascha terkekeh. "Tapi pria itu harus mati di tangan aku!"
"Ha? Mati aku. Berarti aku harus menyerahkan ketua mafia yang bernama D-Trex?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Enggak juga kali. Aku kan bilang. Kalau dia kekasih kamu. Dia yang harus mati di tangan aku," jawab Dewa yang sedikit ketakutan dengan ketua mafia D-Trex.
"Aku ini orangnya enggak kepo sama sekali. Jadi mendengar nama Anette, kok aku jadi kepo ya?" tanya Sascha.
"Lagian kamu ada-ada saja. Tapi kamu termasuk hebat bisa mengimbangi aku. Kamu juga diam-diam sudah melakukan rencana yang cukup hebat. Ditambah lagi dengan kamu telah menyewa seseorang untuk dijadikan mata-mata," jawab Dewa.
"Ya... seharusnya aku bilang dulu sama kamu," ucap Sascha.
"Nggak perlu bilang sama aku. Kamu haru mencari jati diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Yang namanya mafia harus mencari jati diri masing-masing. Aku harap kamu bisa melakukannya tanpa siapapun. Bentuklah diri kamu yang sesungguhnya. Agar kamu bisa berdiri tegak," sahut Dewa.
"Terima kasih ya.. atas nasehatnya. Kamu telah membuat aku bahagia walau sederhana. Aku mencintai kamu," kata Sascha yang memandang wajah Dewa sambil tersenyum manis.
"Aku juga," bisik Dewa yang sengaja mencium Sascha di depan para pengawal.
Pengawal yang berada di samping mereka hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Mereka diam-diam memaki sang bosnya di dalam hatinya. Bagaimana bisa sang bos super dingin luluh kepada seorang perempuan seperti ini?
"Kamu ini kebiasaan pake cium-cium segala?" kesal Sascha.
"Kamunya sangat luc sekali sih. Kadang-kadang kamu bisa membuat aku leleh seperti es di Antartika," ujar Dewa.
"Cih," decak Sascha.
"Si nenek sihir bertemu dengan seseorang pria yang wajahnya buruk rupa. Dia sudah memberikan share location kesini," jawab Sascha.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak menjadi masalah seperti ini," jelas Dewa.
"Sepertinya otakku sedang berpikir untuk mengajak kerja sama dengan pria itu," celetuk Sascha.
"Apa itu?" tanya Dewa.
"Nanti saja. Aku sedang menunggu kedatangan nasi goreng buatan para papa," jawab Sascha yang sedang membayangkan nasi goreng buatan mereka.
"Bersabarlah. Aku juga sedang menunggunya. Sejujurnya mereka engga bisa memasak. Hanya bisa memasak makanan instan. Tapi itu jarang sekali," jelas Dewa.
"Apakah itu benar?" tanya Sascha.
"Ya.. itu benar," jawab Dewa yang memegang tangan Sascha sambil menciumnya.
__ADS_1
Sedangkan Devan dan Gerre sedang bingung memikirkan apa yamg akan dimasak? Mereka sangat bingung ingin memasak nasi goreng apa?
"Apakah kita akan memasak nasi goreng bertabur dengan ayam?" tanya Gerre.
"Hmmp... sepertinya itu sudah sering dech," jawab Devan yang memegang dagunya sambil mencari nasi goreng apa yang cocok dengan selera Sascha.
"Kalau Sascha, sering banget makan nasi goreng ayam. Katanya sih Sascha malah suka dengan ayamnya disuir-suir," ucap Gerre.
"Tapi disini enggak ada ayam yang disuir-suir. Adanya ayam yang utuh," ujar Devan.
"Apakah anakku suka seafood?" tanya Gerre.
"Aulia pemakan segalanya. Apapun semuanya bisa dimakan," jawab Devan yang mengetahui kelebihan Sascha.
"Syukurlah. Jujur anakku tidak rewel dan mau makan semuanya," puji Gerre.
"Putrimu adalah putri yang sangat hebat sekali. Apapun semuanya dimakan sama dia. Makanan yang aneh-aneh pun dicobanya. Tapi satu yang dia nggak suka. Yaitu makanan yang berbau-bau seledri. Kalau kita sampai memasukkan seledri. Jangan harap Sascha akan makan semuanya," jelas Devan.
"Itu juga aku nggak suka sama sekali. Aku pernah muntah gara-gara makan yang ada seledrinya. Jadi jangan salahkan kalau Aulia tidak menyukai seledri. Itu semuanya dari aku," ucap Gerre.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku sendiri juga bingung mau masak apa hari ini? Kalau begitu nasi goreng seafood aja," ujar Devan yang memiliki ide untuk membuat nasi goreng seafood.
"Sepertinya Itu ide yang sangat bagus sekali. Ngomong-ngomong kamu bisa masak nasi goreng seafood itu?" tanya Gerre yang ragu atas keputusan Devan.
"Kalau begitu ayo kita masak," ajak Devan yang benar-benar ingin mengajak Gerry masuk ke dalam dapur dan memasak bersama.
Di saat membuka kulkas, Gerre mendapatkan sebuah ide. Yang di mana ide itu muncul seketika dan membuat Gerre semakin semangat saja memasakkan nasi goreng buat putrinya itu.
"Lebih baik kamu mundur saja dari sini. Ah tidak, kamu harus membantuku untuk membersihkan sayur-sayuran ini dan juga ikan yang segera aku ambil," tunjuk Gerry sambil melihat isi kulkasnya itu.
"Boleh juga. Memangnya kamu pandai memasak?" tanya Devan yang masih berdiri.
"Aku tidak pandai memasak. Tapi aku harus melakukannya. Ini demi Aulia dan juga cucuku," jawab Gerre.
"Sepertinya itu ide yang sangat bagus. Aku juga akan belajar memasak hari ini. Siapa tahu nanti kalau aku sudah pensiun mendadak menjadi koki," jelas Devan yang membuat rencana ingin menjadi koki.
"Itu ide yang sangat buruk sekali buat aku. Kamu nggak bisa membedakan mana garam dan gula. Jika kamu tidak bisa membedakan mana gula dan garam. Kamu akan mencampurkannya ke masakan Itu semua. Lebih baik kamu belajar dulu membedakan mana garam dan gula," ucap Gerre.
__ADS_1
"Ngapain kalian di sini?" tanya Tara yang sengaja masuk ke dapur ingin mengambil air.