Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
DI LUAR KENDALI.


__ADS_3

"Jangan mengelak seperti itu. Percuma kamu mengelak,'' ujar Dewa yang memojokkan Sascha.


"Baiklah. Aku memang sudah jatuh cinta sama kamu semenjak di tempat fotokopi itu,'' ucap Sascha dengan lirih.


"Aku adalah orang yang sangat beruntung mendapatkan cinta pertama dari kamu,'' ucap Dewa yang memegang tangan Sascha.


"Aku juga wanita berhasil membuat seorang CEO dari perusahaan terkenal di Indonesia jatuh cinta,'' celetuk Sascha.


"Kamu maunya kemana?" tanya Sascha.


"Bukannya kita akan mengintai seseorang yang bernama Rosita?" tanya Sascha.


"Tidak perlu diintai. Aku sudah meminta data-data Rosita ke Leo,'' jawab Dewa. "Sekarang aku akan mengajakmu pergi ke markas besar milik Black Tiger."


"Apakah aku akan menjadi lady mafia?" tanya Sascha.


"Ya... Kamu akan menjadi lady mafia. Sudah aku katakan kalau akan menjadi ratu milik Black Tiger," jawab Dewa.


"Huahaa... Aku sangat keren sekali menjadi ratu mafia," ucap Sascha yang bahagia.


Dewa menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Bagaimana tidak Sascha yang notabenenya perempuan tidak takut dengan kata mafia?


Dewa langsung menancapkan gasnya dan melajukan mobilnya ke sebuah hutan lebat. Ia sekarang tidak lagi kucing-kucingan menjadi ketua mafia. Dirinya juga tidak takut dengan image yang sedang disandag di hadapan Sascha.


Jakarta Indonesia.


Selesai mengacau di kantor D'Stars Inc keluarga Billi sekarang ditahan. Mereka tidak bisa berkutik lagi. Mereka tidak sadar siapa sebenarnya Dewa. Mereka terlalu meremehkan Dewa.


Tommy yang terus memantau perkembangan Keluarga Billi sangat puas. Tommy sangat geram atas kelakukan Billi dan keluarganya. Mereka sering menindas Sascha dengan kalimat yang tidak pantas.


Brakk!


Bryan yang baru saja datang langsung melemparkan koran di depan Tommy. Tommy memegang pelipisnya sambil menatap Bryan. Sebelum mengeluarkan suaranya, Tommy membetulkan posisi duduknya, "Ada apa?"


"Enggak ada apa-apa. Aku hanya ingin kesini," jawab Bryan. "Bagaimana perkembangan Billi?"

__ADS_1


"Mereka akan mendekam selama kurang lebih empat tahun penjara," jawab Tommy.


"Apakah kamu serius?" tanya Bryan. "Bukannya mereka hanya mengacau di kantor?"


"Kamu belum tahu permasalah sebenarnya. Aku sudah memiliki bukti tentang Billi yang memfitnah Sascha di media sosial," jawab Tommy.


"Apakah Dewa tahu?" tanya Bryan.


"Semua bukti yang aku serahkan itu dari Dewa. Dewa memang sengaja mengumpulkannya," jawab Tommy.


"Untung saja Dewa tidak mengeluarkan jiwa iblisnya untuk menghajar mereka," ucap Bryan.


"Dewa lebih memilih jalan aman meski dirinya adalah seorang ketua mafia," ujar Tommy. "Dia tidak mau mengotori tangannya dengan darah mereka."


"Aku berharap Sascha tidak takut sama Dewa," sahut Bima yang sedari tadi berdiri di ambang pintu sambil mencerna apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu.


"Sascha tidak pernah takut sama yang namanya Dewa. Justru sebaliknya Dewa takut sama Sascha jika didiamkan," ujar Bryan yang terkekeh.


"Ah... Mereka adalah pasangan kocak," jawab Tommy. "Sangking kocaknya mereka tidak pantas menjadi pasangan mafia."


Saat ingin memanggil pelayan toko, Dita tidak sengaja bertemu dengan Santi. Dita membiarkan Santi lewat tanpa ada sapaan. Namun ketika Santi menoleh, Santi tidak sengaja melihat Dita.


Entah kenapa Santi sangat membenci Dita. Padahal Dita tidak membuat masalah sama sekali dengan orang. Ya... Dita sangat mirip sekali dengan Sascha. Bahkan mereka cukup dikatakan sebelas dua belas. Mereka saling menganggumi satu sama lain. Selain itu juga mereka belajar tentang kehidupan.


Santi mendekati Dita sambil berteriak dengan kata yang tidak senonoh. Santi memaki Dita karena dipecat dari perusahaan kakaknya. Namun Dita tidak tahu duduk permasalahannya apa? Sehingga Dita menjadi sasarannya.


"Augh!" pekik Dita yang memegang rambutnya.


"Lu Andita kan... Adik dari Dewa!" bentak Santi dengan mata menyalang.


"Lu kenapa kok nyerang gue?" tanya Dita yang kesakitan.


"Lu tahu gara-gara kakak lu sialan itu gue dipecat!" bentak Santi.


"Gue enggak tahu masalahnya apa. Tapi lu jangan nyerang gue seenaknya," ucap Dita yang masih sabar menghadapi Santi.

__ADS_1


"Gara-gara kakak lu! Gue jadi pengangguran!" geram Santi yang tidak terima lalu mendorong Dita hingga merubuhkan manekin tadi.


Dita jatuh ke belakang hingga kepalanya terbentur manekin. Dita merasakan kepalanya pusing dan pingsan. Sedangkan Santi sangat bahagia melihat Dita yang pingsan. Santi sempat menendang Dita di bagian perut.


Di ujung jalan Leo dan Ian sedang mengecek keadaan area itu. Mereka memang sengaja melakukannya agar mengetahui keamanan tersebut. Mereka menyusuri stand demi stand dan menilai keadaan area tersebut aman.


Tanpa diketahui oleh Santi, sang pemilik tempat ini adalah Dewa. Dewa sengaja membangun pusat perbelanjaan ini hanya untuk Sascha. Jawabannya sangat klise sekali ketika membangun tempat ini. Dewa ingin mengembangkan jiwa belanja Sascha. Namun niatnya tidak berhasil. Malahan Sascha meminta Dewa supaya berhemat.


Di saat lewat di toko lingerie Ian terkejut dengan keadaan Dita. Ian melihat Dita pingsan dan kacau. Setelah itu Ian tidak sengaja menoleh dan melihat Santi. Merasa tidak berdosa Santi pun lari dari tempat itu.


Leo yang mengerti tentang situasi ini langsung mengejar Santi. Leo tidak akan melepaskan Santi dari sana. Sedangkan Ian segera jongkok dan menatap Dita yang mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Dit... Bangun Dit," panggil Ian.


Tidak mendapat respon dari Dita, Ian mengangkat tubuh mungil Dita. Ian bergegas meninggalkan pusat perbelanjaan itu untuk menuju ke rumah sakit. Ian tidak habis pikir dengan Santi, kenapa Dita yang menjadi sasarannya? Untung saja suasana saat di area itu sepi.


Di kantor Tommy yang ceria tiba-tiba saja menjadi murung. Entah kenapa Tommy merasakan ada yang tidak beres. Akan tetapi Tommy tidak tahu apa yang telah terjadi.


Sejam berlalu. Tommy yang sedang mengecek beberapa berkas mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat Tommy meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya tersebut.


"Tumben Ian menelpon aku jam segini. Bukannya dia sekarang tugas di mall milik Dewa," gumam Tommy yang mengusap lambang hijau.


"Tom, Dita masuk rumah sakit," seru Ian.


Tommy terkejut dengan apa yang didengarnya. Sebelum sarapan Tommy berkunjung ke rumah Dita dan melihatnya baik-baik saja. Lalu kenapa Dita masuk ke rumah sakit?


"Rumah sakit mana?" tanya Tommy.


"Rumah sakit bunda dan anak yang berada di dekat mallnya Dewa," jawab Ian dengan cemas.


Tommy mematikan ponselnya dan mengambil jasnya. Tanpa pamit sama sekretarisnya Tommy langsung pergi. Pikiran Tommy sedang kacau sekarang. Tommy tidak mau gadis impiannya terluka.


Ian yang masih setia menunggu dokter keluar sangat ketakutan. Ian takut jika Dewa marah. Namun semuanya ini di luar kendali dirinya.


Beberapa pengawal yang mengikuti Ian menjadi ketar-ketir. Pasalnya mereka juga tidak tahu kenapa masalah ini sangat mendadak. Mereka juga tidak mau Dewa mengamuk. Akhirnya salah satu dari mereka mendekati Ian sambil berkata, "Tenanglah Tuan Ian. Kejadian ini adalah di luar kendali kita."

__ADS_1


__ADS_2