
New York USA.
Sesampainya di markas Dewa memarkirkan mobilnya dengan asal. Lalu Dewa melihat Sascha yang santai. Lantas Dewa mengerutkan keningnya. Entah ada perasaan senang atau sedih, Dewa mengajak Sascha pergi ke markas besar Black Tiger.
"Sayang," panggil Dewa dengan hangat.
"Iya," sahut Sascha yang sedari tadi memandangi hutan.
"Apakah kamu tidak takut melihat markas mafia?" tanya Dewa yang menatap wajah Sascha.
"Tidak. Aku tidak pernah takut," jawab Sascha.
Dewa hanya menghela nafasnya secara kasar. Menurutnya ini sangat aneh sekali. Bagaimana bisa Sascha yang notabenenya perempuan tidak takut dengan mafia.
"Di dalam ada siapa kak?" tanya Sascha.
"Ada Mama," jawab Dewa.
Mata Sascha membola sempurna. Sascha sangat terkejut mendengar jawaban Dewa. Sascha menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah di dalam ada mama Tara?"
"Ya... Kamu harus tahu sesuatu. Mama Taralah yang selalu mengendalikan dunia bawah tanah. Mama sebenarnya tidak bekerja. Tapi mamalah kalau di perusahaan menjadi wanita yang paling santai," jawab Dewa yang tersenyum manis.
"Apakah mama adalah lady mafia?" tanya Sascha yang penasaran.
"Sebelum kenal dengan papa, mama adalah seorang lady mafia. Bahkan mama didaulat untuk melindungi perusahaan DT Groups," jawab Dewa. "Namun mama juga tidak pernah ketinggalan memantau perkembangan perusahaan. Diam-diam mama sudah mempelajari semuanya."
"Kenapa mama enggak turun jika ada masalah?" tanya Sascha sekali lagi.
"Ada surat perjanjian antara Black Tiger dengan perusahaan. Mama tidak akan ikut campur dalam internal perusahaan. Karena DT adalah perusahaan dalam naungan Nakata's Groups. Jika ada apa-apa maka pasukan khusus yang akan turun. Intinya jangan harap kamu meminta bantuan kepada Mama."
"Aku masih bingung dengan peran mama. Tapi kenapa mama boleh mengadakan meeting dengan perusahaan lainnya?" tanya Sascha lagi.
"Papa yang memintanya. Jika papa enggak minta mama enggak akan pergi," jawab Dewa dengan sabar menjawab pertanyaan dari Sascha. "Apakah kamu paham dengan jawaban aku?"
__ADS_1
"Ya... Aku paham dengan jawaban kakak. Tapi mama unik sekali. Mama adalah ketua mafia. Sedangkan kakak ketua mafia. Kalau Dita?" tanya Sascha.
Dewa terkekeh mendengar Sascha berceloteh. Entah kenapa malam ini Sascha sangat lucu sekali. Dewa cukup terkesima dengan pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Sascha. Tapi bagi Dewa itu sangat bagus sekali. Dewa berharap agar Sascha paham dengan apa yang dihadapinya besok.
"Kamu harus banyak belajar menjadi lady mafia. Karena di luar sana dunia itu sangat kejam. Banyak orang yang ingin menjatuhkan kamu dengan cara licik. Setelah dari Jakarta kamu akan belajar taktik bisnis," ucap Dewa.
"Baiklah kak. Aku setuju. Kalau begitu semangat," teriak Sascha.
Dewa akhirnya keluar dan memutari mobil itu. Ia membukakan pintu mobilnya sambil berkata, "Keluarlah!"
Sascha memutuskan untuk keluar sambil melihat pemandangan gelap. Matanya yang awas ternyata tidak menemukan apapun. Kemudian Dewa mengulurkan tangannya sambil meraih tangan Sascha. Dewa sama sekali tidak merasakan telapak Sascha berkeringat. Dewa bisa menebak kalau sang kekasih baik-baik saja.
Saat melangkahkan kakinya banyak sekali para pengawal yang berjejer. Mereka memberi hormat dan mengucapkan salam. Namun Dewa hanya menanggapinya dengan dingin. Bahkan Dewa bersikap dingin kepada para pengawal seperti itu.
Lalu bagaimana tanggapan Sascha? Sascha sudah terbiasa melihat ketua dan para petinggi mafia yang dingin dan cuek. Sascha sering sekali membaca novel yang bertemakan mafia. Bahkan Sascha tidak memperdulikan itu.
Dewa mengangkat tangannya sambil memberikan sebuah kode agar mereka bubar. Para pengawal itu akhirnya bubar sendiri-sendiri. Setelan mereka bubar Dewa mengajak Sascha masuk ke dalam.
Tidak sengaja Sascha melihat Chloe yang sedang menikmati coklat panas. Mata Sascha membulat sempurna lalu terpaku apa yang dilihatnya itu.
"Akhirnya kamu sampai juga ke sini?" tanya Chloe.
"Kak Dewa yang mengajakku ke sini," jawab Sascha yang membalas senyuman Chloe.
"Kalau begitu ayo kita masuk!" ajak Chloe.
"Mama," panggil Sascha yang bingung.
"Iya," sahut Chloe. "Ada apa?"
"Kenapa mama ada disini?" tanya Sascha.
"Mama sering kesini untuk latihan menembak," jawab Chloe.
__ADS_1
"Mama enggak di markas papa?" tanya Sascha lagi.
"Kalau disana mama kesepian. Papamu jarang sekali di rumah. Jadinya mama sering lari kesini," jawab Chloe jujur.
Sascha tidak menyangka kalau Chloe kesini hanya latihan menembak. Chloe sengaja latihan menembak di markas ini. Karena markas Gerre sangat menyeramkan. Bukan tempatnya yang seram melainkan para pengawal wajahnya sangat menakutkan.
Chloe mengajak Sascha masuk ke dalam untuk menemui Tara. Sedangkan Dewa hanya bisa menghela nafasnya. Beberapa tahun terakhir Dewa tidak pernah pergi ke markas utama. Karena jaraknya jauh dan menghabiskan waktu. Sesuai dengan kesepakatan dengan kedua orangtuanya, Dewa membangun markas baru di Jakarta. Dewa sengaja membangun markas tersebut hanya ingin melindungi perusahaannya. Diam-diam Dewa juga sering mendesain senjata. Agar seluruh anggota Black Tiger memiliki senjata khusus tanpa harus membeli.
Selagi Sascha bersama Chloe, Dewa akhirnya memanggil kepala pengawal. Dewa menyuruhnya untuk menemuinya di sebuah ruangan khusus nan gelap. Tak berapa lama sang kepala pengawal hadir dan merasakan hawa dingin menusuk ke dalam tulang. Kepala pengawal itu membungkukkan tubuhnya sambil menyapa Dewa.
"Selamat pagi Tuan Muda," panggil sang kepala pengawal yang bernama Edi.
"Pagi," sahut Dewa dingin. "Selama setahun aku tinggalkan, ada berita apa?" tanya Dewa.
"Jayden mulai membuat ulah dengan mengirimkan banyak pasukan untuk memburu Tuan Devan," jawab Edi yang ketakutan.
"Jayden Hudson maksud kamu?" tanya Dewa.
"Iya tuan. Jayden hampir saja menculik Tuan Devan dan menyekapnya. Beruntung saat itu kita mendapatkan bantuan dari Tuan Gerre maka Tuan Devan bisa diselamatkan," jawab Edi.
"Ada lagi?" tanya Dewa.
"Tidak ada. Seluruh pengiriman senjata ke Eropa aman," jawab Edi.
"Kalau begitu keluarlah dari sini!" titah Dewa.
"Baik tuan," balas Edi sang kepala pengawal tersebut sambil meninggalkan Dewa.
Melihat kepergian Edi, Dewa mengusap wajahnya secara kasar. Baru kali ini Dewa mendapatkan sebuah berita yang tidak mengenakkan. Baru saja Dewa mendengar sang papa pernah disekpa oleh Jayden. Lalu siapakah Jayden sebenarnya? Apa motifnya sehingga papa disekap?
Dewa tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Dewa harus mencari informasi tentang Jayden. Sebelum mencari informasi Dewa memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan itu untuk mencari sang mama. Ketika lewat di ruangan santai Dewa melihat Sascha yang tertawa lepas karena kedua wanita yang tidak muda itu. Dewa segera masuk ke dalam untuk memanggil Tara, "Ma."
Tara dan Chloe menoleh secara bersamaan. Lalu Dewa tersenyum sambil berkata, "Aku ingin bertemu dengan mama Tara."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," balas Tara.