
"Kenapa kalian meninggalkan aku?" tanya Sascha dengan malas.
"Maafkan kami yang tidak menarik kamu dari sini,'' jawab Gerre yang berpura-pura sedih.
"Untung saja aku mengaku sebagai anak magang,'' jawab Sascha.
"Apa yang kamu temukan di dua orang itu?" tanya Gerre.
"Lucas orangnya sok percaya diri sepertinya pandai menyembunyikan masalah. Tapi dia terlalu bahaya. Amar dia sepertinya berbahaya. Diam-diam dia bisa menusuk dari belakang,'' jawab Sascha yang menilai mereka.
"Sudah aku tebak,'' ucap Choi. "Dialah orang yang melemparkan aku ke Kanada,'' kesal Choi.
"Lalu apa yang kita lakukan?" tanya Gerre.
"Besok aku mau mengadakan rapat pemegang saham buat mengakuisisi perusahaan Masters Corps dan memecat Theodore Yi. Aku akan menggabungkan Masters dan DT untuk dimasukkan ke D'Stars Inc. Tapi aku harus berbicara pada Kak Dewa terlebih dahulu,'' jawab Sascha.
"Jangan besok. Harusnya lusa. Kamu harus menentukan nasib perusahaan ini terlebih dahulu,'' pinta Gerre.
"Ya udah dech pa,'' balas Sascha.
Dewa yang tiba-tiba menjad mata-mata mulai menyelinap masuk ke tempat HRD. Namun aksinya diketahui oleh beberapa pengawal yang mengawal Amar. Akhirnya Dewa tertangkap oleh mereka dan dibawa lalu dilempar ke hadapan Amar. Dewa hanya tersenyum mengejek sambil menatap tajam ke arah Amar.
Di ruangan IT Sascha yang sedang mengamati ke mana Amar pergi terkejut. Amar masuk ke ruangan HRD bersama pengawal. Namun matanya membola sempurna Dewa tertangkap. Tangannya mengepal dan menggebrak meja. Sascha langsung pergi meninggalkan Gerre, Devan Choi. Entah mengapa Sascha merasakan firasat buruk terhadap Dewa.
"Sa,'' panggil Gerre dengan nada meninggi.
Sascha tidak memperdulikan Gerre memanggil. Ia sangat marah kepada Amar karena telah menangkap Dewa. Sascha tidak akan membiarkan Amar menyakiti Dewa walau seujung rambut.
Gerre yang melihat Sascha pergi langsung mengejarnya. Namun Choi melarangnya dan menunggunya disini. Choi tahu siapa Sascha yang sebenarnya. Choi mengagumi Sascha karena keterampilannya dalam beladiri.
"Maaf pa. Aku melarang papa kesana,'' ucap Choi.
__ADS_1
"Kenapa kamu melarangku kesana!" geram Gerre sambil menatap Choi. "Putriku dalam bahaya!"
"Enggak usah menggeram begitu Gerre. Kamu belum tahu saja kalau sebagian darimu berada di dalam hidup Sascha. Dia adalah wanita tangguh seperti Chloe. Kamu enggak perlu kesana. Kita lihat bagaimana Sascha menyelesaikan masalah ini,'' ujar Devan yang menatap wajah Gerre.
Setelah itu Devan mengajak Gerre duduk dengan tenang. Choi langsung menyambungkan siaran langsung Amar di layar itu. Gerre menatap layar tersebut dengan seksama. Namun saat itu Gerre belum menemukan Sascha sama sekali.
Ruangan IT dan ruangan HRD tepat di bawah satu lantai. Sascha sangat kesulitan ketika turun ke bawah. Karena jam operasional kantor sudah berakhir begitu juga dengan liftnya yang mati. Dengan terpaksa Sascha menuruni tangga darurat untuk mencapai lantai bawah.
Sesampainya di sana Sascha melihat keberadaan pengawal yang rapi dengan formasi ketika ada penyambutan seseorang. Sascha menatap mereka lalu bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang akan datang kesini? Bukannya sang pemilik perusahaannya adalah aku?"
Bagi Sascha ini sangat membingungkan. Hanya karena seorang Amar dan Lucas pengawalannya sangat ketat. Sascha tak habis pikir oleh kedua orang itu. Sedangkan Sascha tahu siapa yang berhak dikawal. Ini tidak mungkin dan terasa lucu.
"Aku ingin ketemu Tuan Dewa!" titah Sascha yang sudah sampai pintu masuk.
Namun para pengawal tersebut hanya tersenyum miring dan menangkap Sascha. Sascha tidak terima dengan perlakuan mereka kasar mereka langsung memberontak.
Sascha mulai menyikut orang yang sedang memegangnya. Lalu mulai menendangnya hingga jatuh tersungkur. Melihat temannya yang jatuh tersungkur mereka akhirnya menyerang Sascha. Dengan senyum liciknya Sascha bisa menilai kalau kedua orang itu ada yang mengendalikannya,
Akan tetapi para pengawal itu tidak menggubris Kobe. Mereka langsung menghajar Sascha. Sementara Sascha tidak pernah menyerah dan menghajar mereka kembali sehingga terjadi baku hantam yang tidak terelakkan.
Kobe dan Yamada segera membantu Sascha dan menghajar mereka. Kobe tidak habis pikir dengan mereka yang membuat keonaran di area DT Groups. Setelah berhasil melumpuhkan mereka, Sascha menatap mereka sudah babak belur.
"Sudah dibilangin kalau aku ingin bertemu dengan Tuan Dewa! Kalian pikir aku lemah gitu! Ya!" bentak Sascha yang tidak terima dihajar mereka. "Kalian tahu kalau aku adalah pemilik perusahaan ini! Aku tahu kalian bekerja dengan siapa! Aku pastikan kalian tidak mendapatkan pekerjaan di negara ini! Dan satu lagi aku akan memblacklist kalian dari negara ini!"
Sascha benar-benar marah dan masuk ke dalam ruangan Amar dengan menggebrak pintu.
Brak!!!
Pintu yang menutup itu terpecah menjadi dua. Benar apa yang pernah dikatakan oleh seseorang, wanita jika marah akan membuat kehancuran. Ya... kehancuran yang mengerikan seperti Sascha.
Mata Sascha menyalang karena Amar telah menyekap Dewa. Dengan penuh amarah Sascha menendang kursi itu hingga terlempar ke tembok. Dewa yang melihat Sascha matanya membelalak sempurna. Dewa langsung bergidik ngeri dan tubuhnya melemas.
__ADS_1
Dewa yang tubuhnya sudah melemas dihajar sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata selama pertarungan Dewa dihajar oleh Amar. Amar memang berani melawan seorang putra pemilik perusahaan. Bahkan Amar tidak mengetahui identitas asli Dewa.
"Apakah kamu sudah puas menghajar Tuan Dewa?" tanya Sascha dingin.
"Jangan ikut campur urusan aku!" bentak Amar.
"Cih... masih membentak! Hey bung... Kamu salah pilih lawan dan salah pilih kawan. Aku jelasin Theodore itu hanya memanfaatkan kamu. Setelah berhasil mendapatkan ambisinya untuk menguasai perusahaan ini kamu akan disingkirkan,'' jelas Sascha yang mengetahui politik licik dari sedang lawan.
Kobe tersenyum manis sambil melipatkan kedua tangannya. Lalu Kobe melihat Sascha yang unjuk gigi. Kemuadian Yamada sang asisten mulai bergidik ngeri sambil berbisik, "Apakah gadis itu adalah nona Sascha?"
"Ya... siapa lagi,'' ucap Kobe.
"Jangan hina Theodore Yi!" bentak Amar.
"Oh... itu bos kamu! Lalu kamu bekerja dengannya! Kenapa kamu pergi ke kantor sini!" sarkas Sascha. "Harusnya kamu tahu diri mana yang kamu bela bukan rival!" bentak Sascha dengan penuh amarah.
"Sascha,'' panggil Dewa yang lemah.
"Kak Dewa!" teriak Sascha yang terkejut dengan Dewa.
"Jangan sentuh buruanku!" geram Amar.
"Kamu bilang apa!" teriak Sascha. "Buruan! Dia adalah manusia! Bukan hewan!" bentak Sascha dengan suara meninggi.
"Jika kamu menyentuhnya! Dia akan mati!" bentak Amar yang mengeluarkan pistol di balik punggungnya.
Sascha terpaku dengan pistol itu. Ia tidak menyangka kalau Dewa sungguh terancam. Sascha menunduk sambil memikirkan cara. Cara dimana Dewa bisa selamat.
"Mundur!" bentak Amar ke Sascha sambil berjalan maju.
Terpaksa Sascha mundur sambil menutup matanya. Entah kenapa malam ini dirinya terlalu sial untuk bertemu dengan penjilat seperti ini.
__ADS_1
"Mundur!" bentak Amar sambil menodongkan senjatanya.