Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KELICIKAN FATIN DAN FIRLY


__ADS_3

"Aku tidak pernah menyiksa orang begitu saja. Karena aku memiliki image yang baik. Biarkan saja dia masuk ke dalam penjara dan membusuk sekalian!" tegas Dewa yang membuat Sascha ketakutan.


"Kakak sangat mengerikan sekali," ucap Sascha dengan lirih sambil menundukkan wajahnya.


"Angkat wajahmu! Kamu adalah seorang lady mafia!" perintah Dewa dengan suara menekan.


"Baiklah," balas Sascha. "Aku keluar dulu ya!"


"Nggak boleh. Kamu sudah membuat otakku menjadi liar lagi," sahur Dewa yang membuat Sascha memutar bola matanya dengan malas.


Tanpa berpamitan Sascha pergi meninggalkan Dewa di ruangannya. Ia kembali ke ruangannya sambil mengecek seluruh email. Saat mendapat email dari Leo, Sascha sangat terkejut. Meskipun Leo berada di Sydney, ia sedang memantau keadaan uang tiga miliar itu.


"Ternyata Kak Leo sedang memantaunya juga," ucap Sascha dalam hati.


"Sascha," panggil Eric.


"Iya Kak," sahut Sascha.


"Kemarilah," ajak Eric sambil melambaikan tangannya ke arah Sascha.


"Ada apa kak?" tanya Sascha.


"Kita masuk ke dalam untuk berdiskusi. Ada masalah yang penting buat kita," jawab Eric sambil berbisik.


Sascha akhirnya menuruti keinginan Eric masuk ke dalam. Mereka merasa curiga setelah mendapatkan pesan dari Leo.


"Apakah kamu mendapatkan pesan dari Leo?" tanya Eric.


"Iya aku mendapatkannya. Ada yang janggal pada divisi keuangan," jawab Sascha.

__ADS_1


"Leo sedang memberikan sebuah clue," ucap Eric. "Jujur saja clue yang diberikan oleh Leo sangat aneh sekali."


"Bukan aneh Kak titik ini adalah beberapa nama virus yang namanya sangat aneh sekali. Tidak ada seorangpun yang tahu virus itu dari mana. Kemungkinan besar sistem keuangan pernah dibobol oleh seseorang. Aksi itu dilakukan pada malam hari. Aku menyesal tidak bisa memantau dari jauh. Karena aku harus kolaps di rumah sakit beberapa hari. Banyak waktu yang aku habiskan di ranjangnya rumah sakit.


"Oh kasihan sekali dirimu. Ternyata kamu tidak alergi masuk rumah sakit," ledek Eric yang membuat Sascha malas.


"Itu terpaksa aku masuk rumah sakit. Beberapa minggu sebelum ke Seoul kepalaku sangat sakit sekali. Tapi aku tetap menahannya. Hingga malam tiba aku sudah pingsan di ranjang," jelas Sascha.


"Syukurlah Kamu udah sehat kembali. Aku harap kamu tidak takut lagi melawan keluarga Billi. Semakin hari mereka semakin gila untuk mengejarmu," ucap Eric.


"Aku sudah tidak takut lagi. Cepat atau lambat aku melawannya. Karena selama ini orang tua Billi telah memisahkan aku dengan orang tua kandungku," ujar Sascha.


"Kamu benar. Lalu ini?" tanya Eric.


"Terpaksa Malam ini aku lembur. Tapi tidak lembur di sini. Aku akan lembur di rumah bersama Kak Dewa," jawab Sascha.


"All about love in Dewa," puji Eric.


"Pertahankanlah hubungan kalian. Cepat atau lambat keluarga Billi akan merusak hubungan kalian. Mereka akan memakai seribu cara untuk menghancurkan kalian terutama Dewa," pesan Eric.


"Ya itu benar. Maksud dari dulu Mereka ingin menghancurkan Kak Dewa. Apalagi yang namanya Fatin. Dia selalu menjelek-jelekkan Kak Dewa di depanku. Tapi mereka tidak memiliki bukti apapun di Kakak Dewa adalah pria tidak baik untukku. Menurutku ini sangat lucu sekali. Karena mereka sedang playing victim," balas Sascha. "Kalau begitu aku pergi dulu."


"Baiklah," ucap Eric sambil menganggukkan kepalanya.


Di tempat lain Billi yang sedang meminum kopi terkejut. Ternyata yang membuatnya terkejut adalah ulah Fatin. Ketika hendak minum kopi, Fatin melemparkan sapu ke arahnya. Hingga membuat Billi hampir melemparkan gelasnya itu.


"Jadi anak nggak tahu diri!" bentak Fatin.


"Ada apa sih mah?" tanya Billi dengan kesal.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak menemukan Sascha?" tanya Fatin.


"Kemarin pas waktu di kantor aku melihat Sascha sedang bersama mamanya Dewa. Mereka sangat akrab sekali. Pas waktu aku mau masuk dan menariknya ke sini, Marty langsung memanggil anak buahnya menghadangku," jawab Billi yang membuat Fatin menggeram.


"Kamu itu jadi pria kalah sama mereka. Kenapa kamu tidak masuk ke dalam? Tarik Sascha untuk ke sini! Setelah berhasil kamu menariknya, kamu bisa menikahinya. Setelah itu kurung dalam rumah. Jadikan dia sebagai pembantu untuk mengurus anak Risa sialan itu!" perintah Fatin yang membuat Billi menurut.


"Baiklah Ma. Aku akan mencari cara masuk ke sana. Oh ya ma... Ternyata Sascha tinggal bersama Dewa di Bekasi," ujar Billi.


"Ngapain dia tinggal di sana? Bukannya dia adalah kekasihmu? Mama nggak mau tahu kalau pacarmu itu nggak pulang ke sini!" kesal Fatin.


"Sepertinya mama ingin sekali mendapatkan menantu wanita yang tidak berguna itu," sahut Firly yang baru datang membawa kunci mobil.


"Memang tidak berguna buat. Papa harus tahu dong. Kalau wanita itu adalah tambang emas buat kita. Kita bisa mengambil upahnya saat bekerja. Kalau sudah miskin lemparkan saja ke jalanan. Yang penting kita bisa membeli barang-barang mewah seperti dulu lagi," jelas Fatin yang membuat Firly tertawa terbahak-bahak.


"Mama sangat pintar sekali. Makanya aku nggak salah memilih Mama untuk dijadikan istri," lanjut Firly sambil tertawa lagi.


"Semoga saja rencana ini tidak ketahuan sampai ke telinga Dewa sialan itu. Minggu depan kita akan pergi ke rumah bapak Andika. Kita akan meminta Sascha untuk dijadikan menantu," tambah Fatin semakin bersemangat untuk mendapatkan Sascha.


Billi mengangguk tanda setuju. Meskipun dirinya mencintai Sascha. Namun tidak akan membiarkan Sascha menjadi ratu di dalam rumah ini. Mereka akan menyusun rencana untuk menyiksa fisik dan batin Sascha. Yang jadi pertanyaannya sekarang, Apakah Sascha mau hidup bersama Billi dan keluarganya?


Nganjuk Indonesia.


Beberapa hari ini Kinanti sudah keluar dari penjara. Ia sengaja dibebaskan oleh pelanggannya. Selama di dalam rumah Kinanti jarang sekali menyapa kedua orang tuanya. Baginya itu tidak penting sama sekali. Yang penting adalah bagaimana cara mendapatkan gadis di bawah umur yang bisa dikatakan masih segel.


Kemudian Kinanti mencari cara untuk merayu anak-anak sekolahan agar masuk ke dalam perangkap. Kinanti akan memakai seribu dengan memberi iming-iming uang yang besar dan memberikan ponsel bergambar Apple groak.


"Akhirnya aku sudah mendapatkan cara untuk mencari anak-anak di bawah umur untuk dijual. Ternyata Pak Darto sangat menginginkan gadis seperti itu. Ah... Rasanya aku ingin bekerja keras. Agar aku bisa mendapatkan impianku," gumam Kinanti sambil tersenyum manis.


"Lalu bagaimana kabar si ****** itu? Apakah sejarah itu sudah mati atau belum ya? Semoga saja sudah mati den nggak usah ke sini. Cepat atau lambat rumah ini beserta sawahnya akan menjadi milikku. Bukan Sascha sialan itu," tambah Kinanti yang bercorak kegirangan.

__ADS_1


"Kinanti," panggil Pak Andika.


"Ngapain sih? Orang tua itu panggil-panggil aku?" geram Kinanti lalu berdiri sambil membuka pintu.


__ADS_2