Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ES DEGAN 1 GEROBAK.


__ADS_3

"Ya... kamu belum tahu saja. Hampir setiap hari dompetnya selalu diisi Dolar, Yuan, Yen, Bath, Pound, Euro dan lainnya. Aku sendiri jika meminta uang untuk bahan operasi diberikan uang tersebut. Sewaktu tugas daerah mana? Aku selalu menukarkan uang tersebut. Tapi ada untungnya juga sih? satu lembar bisa jadi banyak lembaran," jawab Sascha yang tersenyum konyol. "Kalau sekarang sih, uang itu tidak berguna sama sekali." 


"Memang tidak berguna sama sekali. Jika tahu mereka harus mengembalikan uang itu berapa?" nah ini yang jadi pertanyaanku?" tanya Dita. 


"Kata Kak Dewa disuruh membeli es degan satu gerobaknya," jawab Sascha. 


"Memangnya kita mau jualan ya?' tanya Dita. 


"Aku yakin kalau Kak Dewa jualan di jalanan pas waktu anak sekolah keluar bakalan rame," jawab Sascha. "Tapi itu tidak mungkin." 


"Memang tidak mungkin kak. Aku tahu Kak Dewa bagaimana? Ujung-ujungnya dia terkena setan malas," ledek Dita. 


"Oh... jadi kamu berusaha menjelekkan aku di depan Kakak iparmu itu?' tanya Dewa yang mendengar ucapan Sascha dan Dita. 


"Upz," ucap Dita.


"Sepertinya aku mengenal suara itu?" tanya Sascha. 


''Ya aku sangat mengenalnya. Masa kamu tidak mengenalnya? Apalagi si pemilik suara itu adalah suami sendiri," jawab Dewa.


"Oh... baguslah. Yang didengarnya adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan buat dirinya. Lagian juga buat apa beli es degan satu gerobak," kesal Dita. 


Lantas sikap Dewa bagaimana? Dewa tidak marah dengan celotehan Sascha maupun Dita. Malahan mereka menjadi sangat akrab sekali. Inilah yang membuat Dewa bahagia. Yang dimana dirinya tidak memiliki waktu sedikit untuk berkumpul dengan adiknya. Kebetulan hari ini Dewa memang meluangkan waktu untuk beberapa hari ke depan. 


"Bukannya kakak ada di rumah?' tanya Sascha. 


"Memang sengaja tadi di rumah. Tapi aku rindu dengan suasana pedesaan. Jujur saat ini aku sangat merindukannya," jelas Dewa. 


"Rindu pada siapa?" tanya Dita. 


"Aku sangat merindukan dirimu," jawab Dewa sambil menatap wajah Sascha. 

__ADS_1


"Please deh... ingat ada aku," kesal Dita. 


"Iya kau tahu. Aku tidak akan pernah menjadikanmu sebagai obat nyamuk," ucap Dewa. 


"Ya... enggak lah. Aku senang ada kamu disini. Aku memang sengaja mengajakmu," jelas Sascha. 


"Buat apa kak?' tanya Dita. 


"Buat kami tidak melakukan macam-macam," jawab Sascha yang membuat mata Dewa melotot. 


"Benar juga sih kak. Aku takutnya kakak terkena kurungan seharian. Agar kakak tidak bisa keluar dari kamar,' ujar Dita yang baru paham. 


"Nanti kalau kamu menikah dengan Tommy, bakalan kamu terkena kurungan," jelas Dewa. 


"Tapi aku senang," celetuk Dita. 


"Sakarepmulah. Yang namanya cinta ya... cinta. Mau bagaimana lagi? Dikurung akhirnya mau," ujar Dewa. 


"Ya... enggak lah. Kapan nyampenya?" tanya Dita lagi. 


"Kita beli es degan. Lalu kita pergi ke sawah. Lalu kita duduk di saung," ajak Sascha. 


Mereka menganggukan kepalanya tanda setuju. Mereka akhirnya mengikuti Sascha dan menuju ke warung Bu Masitoh. 


Sepanjang perjalanan menuju ke warung, Sascha dan Dewa berjalan beriringan bersama Dita. Sesampainya disana mereka membeli es degan sebanyak sepuluh bungkus. 


Tak lupa juga Dita membeli banyak cemilan. Setelah itu mereka langsung menuju sawah dan melihat padi yang sudah menguning. Betapa bahagianya hati Sascha saat ini. Namun itu hanya sebagian saja. Sascha sangat sedih sekali mengingat Kinanti. Akan tetapi Sascha  berharap agar Kinanti mendapatkan keringanan hukum.


Ketika sampai di saung, mereka duduk dengan santai. Mereka teringat pada masa-masa itu dulu. Terutama pada Dita dan juga Dewa. Kala itu mereka memutuskan untuk liburan di desa ini. Jujur mereka saat itu jenuh dengan suasana perkotaan. Pergi ke luar negeri pun mereka sangat malas sekali. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul Sascha.


"Kakak masih ingat nggak liburan kita di sini?" tanya Dita. 

__ADS_1


"Aku masih mengingatnya. Bahkan di saat Kak Dewa tercebur sawah pun masih ingat," jawab Sascha dengan jujur. 


"Kenapa kamu mengingat hal itu? Bukankah seharusnya hal itu harus dibuang?" tanya Dewa. 


"Sepertinya itu tidak boleh dibuang deh. Lagian juga kenangan itu sangat lucu dan membingungkan. Seorang CEO tercebur sawah. Untung tidak ada paparazzi di sekitar kita saat itu," jawab Sascha. 


"Ya kamu benar. Paparazzi itu memang tidak ada. Kalau adapun banyak para warga bertanya-tanya. Ada apa ini? Bahkan Pak RT pun semakin bingung dengan paparazzi itu," jelas Dewa. "Maaf aku sudah membaca surat itu."


"Oh surat dari Kinanti. Tidak apa-apa. Aku tidak marah sama kamu. Memang Apa isinya Kak?" tanya Sascha. 


"Kinanti meminta kalau rumah mendiang ibunya dijual saja. Lagian sebentar lagi akan ada hukuman mati buatnya. Lalu rumah itu tidak ada yang menempatinya. Terus sawah-sawah lebih baik dijual saja. Uang yang dibuat sekolah dan kehidupannya Kinanti dikembalikannya," jawab Dewa. 


"Sepertinya uang itu nggak usah dikembalikan kepadaku. Lebih baik nggak usah dijual. Kita akan melakukan rencana awal lagi. Yah kemungkinan besar. Rumah itu sebaiknya di kontrakan saja. Agar rumah itu tidak menjadi kosong," ucap Sascha. 


"Bukannya kakak ingin membiarkan rumah itu? Lalu sebagian dari pengawal Black Tiger tinggal di sana?" Tanya Dita. 


"Bener juga ya. Kok aku lupa dengan rencanaku itu. Lebih baik aku akan melakukannya sekarang. Dan sawah-sawah itu dikembalikan dengan fungsi awalnya. Biarkanlah mereka yang mengerjakan untuk pasokan warga di negara ini. Kalau dibiarkan kosong takutnya nanti sawah itu tidak ada gunanya sama sekali," jelas Sascha. 


Mereka tidak sengaja merasakan semilir angin dari sawah. Memang mereka sangat capek sekali namun bahagia. Ternyata kebahagiaannya itu membuahkan hasil yang sangat besar sekali. Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk masa depan. 


"Dita," panggil Dewa. 


"Iya Kak," sahut Dita.


"Nanti kalau sudah nikah. Kamu harus menuruti apa kata Tommy. Jangan pernah membangkang apa katanya. Soalnya Tommy sama aku itu hampir sama. Kami sama-sama memiliki six sense. Yang di mana omongannya itu selalu benar. Dia orangnya sangat peka sekali. Aku harap kamu memakluminya," ucap Dewa yang memberikan nasehat kepada Dita.


"Jadi selama ini kalian memiliki six sense?" tanya Sascha yang baru tahu.


"Memang, Kami memang memiliki itu semenjak lahir. Aku baru tahu setelah menginjak usia dua belas tahun. Tapi aku membiarkannya. Dan tidak menjadikan beban sedikitpun. Namun aku sadar. Jika aku memiliki kelebihan seperti itu. Aku bisa melindungi keluargaku dari hal-hal yang bahaya," jelas Dewa. 


"Aku sih nggak jadi masalah. Tapi kalau kamu memperingatkanku itu lebih baik lagi. Aku malah semalam mendapatkan warning dari kamu. Agar aku bisa waspada untuk saat ini," jelas Sascha. 

__ADS_1


Tidak sengaja mata Sascha melihat Dita yang sedang memakan menu makanan sederhana. Sascha tersenyum simpul sambil menatap wajah Dewa. 


__ADS_2