Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENJEMPUT KAKEK AOYAMA.


__ADS_3

"itu tidak akan merepotkanku sama sekali. Aku sangat senang jika kamu kuliah di rumah. Jika kamu pergi ke kampus dalam keadaan hamil begini. Aku sendiri bingung dan tidak tenang untuk menjagamu," jelas Dewa.


"Aku lapar hari ini. Akhir-akhir ini aku sering lapar sekali. Padahal makanku ya seperti biasa," ucap Sascha.


"Ya iyalah. Di dalam perutmu itu ada dua janin yang belum jadi. Meskipun dia masih kecil dan belum kelihatan. Mereka juga butuh asupan gizi. Mereka hidup dengan baik kok. Aku yakin mereka akan sehat-sehat selalu di dalam perutmu itu," ujar Dewa sambil tersenyum manis. "Kalau begitu aku akan pergi mandi terlebih dahulu."


"Baiklah," sahut Sascha.


Di bandara Juanda, Tommy dan Bima sedang menunggu kedatangan kakek Aoyama. Dewa memang menyuruh kakek Aoyama datang ke Surabaya. Mereka sengaja mengadakan meeting di suatu tempat. Mereka juga akan mengajak kakek Aoyama untuk pergi ke cabang Surabaya.


Mereka tidak akan berlama-lama lagi untuk memberikan kompensasi. Mereka harus menyelesaikan ini dengan cepat. Agar cabang Surabaya bisa hidup dengan damai. Begitu juga dengan Dewa. Dewa juga tidak mau melihat cabang Surabaya sakit secara terus-menerus. Dewa kali ini sudah mengambil langkah yang tepat. Tanpa babibu, Dewa menyuruh para petinggi D'Stars Inc membantu untuk menyelesaikan masalah ini.


Satu jam telah berlalu. Mereka akhirnya pergi meninggalkan hotel. Namun Almond langsung mencegahnya. Almond disuruh sama Tommy agar Dewa tidak pergi terlebih dahulu. Mereka sudah menyiapkan berbagai macam jenis sarapan. Dewa dan Sascha dan menuju ke tempat yang sudah disewanya itu.


"Sudah kumpul kalian di sini?" tanya Dewa.


"Ya kami sudah berkumpul Sudah dari tadi. Kita tinggal menunggu kakek Aoyama yang belum datang. Bima dan Paman Kobe sudah ke bandara sejak dini hari," Jelas Bryan.


"Masak dini hari sih mereka pergi ke bandara," tanya Sascha yang terkejut atas pernyataan Bryan.


"Enggak. Subuh tadi mereka ke sana. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Soalnya mereka tidak mau terlambat untuk menjemput kakek Aoyama," jelas Ian.

__ADS_1


"Jadi gimana perkembangannya?" tanya Dewa.


"Apakah kamu ingin membangkrutkan cabang Surabaya?" tanya Timothy.


"Dengan terpaksa aku melakukannya. Kamu tahu kan cabang Surabaya itu sangat parah sekali keadaannya. Bagaimana caranya aku memulihkannya?" tanya Dewa.


"Seandainya jika cabang Surabaya itu bangkrut, bagaimana nasib karyawan kita?Jangan bilang kamu memecatnya. Soalnya karyawan kita itu banyak sekali. Hampir lima ribu kepala," jelas Tommy.


"Tenang saja. Aku sudah memiliki solusinya tadi pagi. Nanti kita bicarakan setelah kakek Aoyama datang. Mudah-mudahan semuanya jelas," ucap Dewa sambil tersenyum manis.


"Terserah kamu Wa. Aku mengikuti apa kata hatimu saja. Instingmu sangat tajam sekali," ungkap Tommy.


"Sementara di bandara pesawat kakek Aoyama sudah mendarat dengan selamat. Mereka akhirnya menjemput kakek Aoyama di jalur VVIP.


"Cepatlah antar aku. Aku sangat rindu sekali kepada cucu menantuku itu," pinta kakek Aoyama.


Sontak saja mereka terkejut. Ternyata kakak Aoyama ke sini bukan untuk melakukan perjalanan bisnis. Melainkan rindu kepada Sascha. Mereka Langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Lalu mereka saling berpandangan mata dan mengedikkan bahunya. Mau tidak mau mereka mengajak kakek Aoyama pergi ke hotel. Mereka hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar secara serempak.


Di dalam perjalanan menuju hotel, Kakek Aoyama ternyata menyuruh mereka Berhenti sejenak. Tidak sengaja sang kakek melihat tukang buah yang berada di jalanan. Kakek Aoyama pun turun dan membeli beberapa buah-buahan di sana. Sungguh Bima sangat terkejut sekali. Bagaimana bisa orang sekeren itu beli buah-buahan di jalan? Bima menatap Kobe lalu bertanya, "Kenapa kakek membeli buah-buahan di sana? Bukankah sang kakek kalau membeli buah-buahan di supermarket lebih nyaman dan enak?"


"Itulah kakek Aoyama sebenarnya. Kamu belum pernah kenal dekat saja. Kakek Aoyama itu sering menghargai pedagang kecil seperti mereka. Hampir setiap hari kakek Aoyama sering membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan dari pedagang kecil seperti itu. Lalu kakek membaginya kepada para pelayan yang berada di rumah. Kakek memang sengaja memiliki ciri khas ringan tangan. Bahkan kakek sendiri suka membantu orang," jelas Kobe yang mengetahui sifat papanya itu.

__ADS_1


"Jujur aku menjadi minder ketika dekat dengan kakek. Kakek memiliki hati yang sangat baik sekali. Kakek juga adalah pelopor bagi Sascha Untuk berbuat kebaikan," tambah Kobe.


"Sebenarnya sih tidak apa-apa. Aku sangat menyukai orang-orang seperti itu. Semoga saja kakek diberikan umur panjang," ucap Bima yang mendoakan kakek Aoyama.


"Amin," balas Kobe dengan tulus.


"Hei kalian kemarilah. Bantu ibu ini berjualan terlebih dahulu. Setelah semuanya habis kita akan kembali ke hotel," Ajak kakek Aoyama dengan semangat.


Mereka akhirnya menuruti keinginan kakek Aoyama. Sebelum berjualan mereka menghubungi dewa untuk meminta izin. Mereka menceritakan kegiatan kakek Aoyama pagi hari di kota Surabaya. Sontak saja Dewa terkejut dengan cerita mereka. Akhirnya Dewa menyetujui dan mengikuti permintaan sang kakek.


Bima dan Kobe membagi tugas agar buah-buahan itu cepat laku. Bima akhirnya meminta Kobe untuk mencari pelanggan. Karena wajah Kobe sangat mirip sekali seperti artis Korea.


Dalam sekali teriak, Kobe langsung menggaet beberapa pejalan kaki untuk mengunjungi tukang buah itu. Lalu mereka pun datang berbondong-bondong dan melihat tukang buah itu. Dengan ramahnya Ibu buah itu memberitahukan harga-harganya. Bima selaku kasir. mengedipkan matanya. Hanya sekali kedip mereka langsung jatuh hati dan membeli buah-buahan itu. Tidak sampai sejam buah-buahan itu habis tak tersisa. Ibu penjual buah itu sangat berterima kasih. Iya tidak menyangka kalau kakek Aoyama adalah orang baik. Ibu itu bersyukur dan mendoakan Mereka agar dimurahkan rezekinya. Namun sang Ibu tidak tahu, kalau mereka adalah orang Cukup terkenal dan menguasai dunia ini. Kalau tahu mereka adalah pengusaha kaya apa yang akan terjadi dengan ibu itu?


Sebelum pergi mereka menitipkan Uang beberapa juta ke ibu itu. Mereka sengaja memberikannya karena tahu kesusahan sang ibu. Setelah itu mereka berpamitan dan pergi dari sana. Sebelum pergi mereka meminta salah satu pengawalnya untuk menjaga Ibu tersebut. Karena di sekitaran sana banyak sekali copet yang mengincarnya.


"Terima kasih ya kalian semuanya. Kamu tahu kenapa aku membantu ibu itu?" tanya kakek Aoyama kepada mereka berdua.


"Kami nggak tahu kek. Memangnya ada apa kek?" tanya Kobe yang penasaran sekali dengan jawaban kakek Aoyama.


"Ibu itu suaminya sakit. Anak-anaknya terlantar dan tak bisa sekolah. Jadinya ibu itu berjualan buah di pinggir jalan agar semuanya laku. Tapi akhir-akhir ini Ibu itu tidak menjualnya sampai habis. Karena sang suami masuk ke rumah sakit. Kalau kamu nggak percaya turunkan saja salah satu mata-matamu untuk mengikuti ibu itu," jelas kakek Aoyama.

__ADS_1


"Apakah itu benar kek?" tanya Bima yang tidak percaya pada omongannya kakek Aoyama.


__ADS_2