Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
APA YANG DILAKUKAN RISA DI JEPANG?


__ADS_3

"Kurang lebih jam tiga sore," jawab Taro.


"Baguslah, aku bisa tidur lagi," ucap kakek Aoyama sambil mengulas senyum.


"Bagus sih bagus. Jika anda berkeliaran seperti ini aku yang kena semprot," keluh Taro.


"Siapa yang mau menyemprot kamu Taro? Nggak ada yang berani nyemprot kamu. Karena kamu adalah asistenku," kesal kakek Aoyama lalu menarik selimut dan memejamkan matanya.


Lalu Taro tidak menjawab apa yang dikatakan oleh kakek Aoyama. Taro memilih untuk diam dan duduk di sofa sambil mengecek seluruh dokumen yang ada. Untung saja Taro memiliki sifat sabar dan tidak pernah mengeluh sama sekali. Kemudian Taro meraih ponselnya dan melihat isi pesan dari seseorang. Alangkah terkejutnya Taro ketika menerima pesan itu. Mau tidak mau cara menghubungi Dewa yang masih katanya berada di Indonesia.


Namun saat menghubunginya, Dewa terlebih dulu meminta Taro untuk berhati-hati. Dewa Sudah menceritakan tentang Risa saat berada di Jepang. Mau tidak mau Taro menghubungi para anggotanya untuk berjaga di area rumah sakit.


Risa yang sudah sampai hotel langsung menghubungi anak buah milik Anggoro. Sembari menunggu Risa mendapatkan informasi tentang di mana Kakek Aoyama tinggal. Dengan senyum yang sumringah, Risa bersiap-siap menuju sana.


Namun sebelum ke sana, Anggoro dan Melly menghampiri Risa. Risa yang melihat mereka sangat terkejut. Kenapa kedua orang tuanya sudah hadir di hadapannya? Bukankah kedua orang tuanya itu berada di Indonesia?


"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Risa malas.


"Ini kan apartemenku," jawab Anggoro.


"Memang, ini adalah apartemen kalian," ujar Risa. "Lalu, Kenapa kalian di sini? Bukankah kalian sudah memberikan aku wewenang menghabisi kakek tua sialan itu?"


"Kami ingin melihat kamu menyiksa kakak tua itu. Aku rindu akan siksaanmu terhadap orang-orang yang telah menyakiti kita," jawab Melly.


"Kalau begitu Mama dan Papa harus ikut denganku. Aku harap si kakak tua sialan itu tidak bersama para anggota keluarga lainnya," sahut Risa yang berharap si Kakek Aoyama sendirian saja.


"Kalau begitu Pergilah. Jangan kecewakan kami," Anggoro sengaja membakar semangat Risa.

__ADS_1


"Kalau begitu baiklah. Aku meminta anak buah Papa untuk mengawalku hingga ke rumah sakit," pinta Risa.


"Baiklah.... Papa akan menyiapkan dua puluh orang untuk mengawalmu ke sana. Kamu harus melakukannya dengan bersih jangan gegabah dan berisik. Karena kakek sialan itu yang memiliki rumah sakit yang ditempatinya itu," jelas Anggoro.


"Ternyata si Kakek sialan itu ternyata memiliki uang yang banyak. Andaikan saja kalau aku cucunya, seluruh harta yang dimilikinya pasti aku buat belanja habis-habisan," puji Risa.


"Memang.... Harta sialan si Kakek itu adalah sebagian milik kamu. Seluruh aset yang dimiliki kami telah direbutnya. Jadi kamu harus berusaha mengambil aset itu," jelas Melly.


"Baiklah kalau begitu," balas Risa. "Aku tunggu di restoran."


Anggoro hanya mengangguk dan langsung menghubungi seseorang. Di dalam pembicaraannya itu, Anggoro meminta dua puluh lima orang untuk mengawal Risa.


Setelah itu Risa meninggalkan apartemen mewahnya untuk menuju ke restoran. Melihat kepergian Risa, Anggoro dan Melly tersenyum bahagia. Mereka saling memandang dan tertawa terbahak-bahak.


"Inilah cara merampok yang asik. Tanpa harus kita turun tangan. Akhir-akhir ini aku capek melakukan itu. Risa akan yang turun tangan. Mumpung kita memiliki punya anak yang cerdik dan licik," ucap Anggoro.


"Khans Company," jawab Anggoro sambil menatap wajah Melly. "Tapi itu hanya untuk dua bulan ke depan. Kita harus menghambur-hamburkan uang yang telah diambil Risa dan menghabiskannya. Setelah habis kita lakukan lagi."


"Ide bagus pa," balas Melly.


Sepasang suami istri pun melanjutkan tertawanya. Entah bagaimana sepasang suami istri itu sangat bahagia. Ternyata oh ternyata... Inilah pekerjaan kedua orang tua Risa. Selain licik mereka juga sering memanipulasi data para investor.


Kobe yang baru saja sampai rumah sakit terkejut dengan orang-orang yang memakai baju serba hitam. Ketika melangkah mereka membentuk barisan dan membungkukkan badannya sambil berteriak, "Selamat sore tuan muda Kobe."


Contoh saja Kobe terkejut karena ulah mereka. Tiba-tiba saja Kobe segera berlari dari sana. Dirinya memang betul tuan muda milik Nakata's Groups. Namun Kobe sengaja menyembunyikan identitasnya agar tidak ketahuan.


Tak sengaja, mereka melihat Kobe berlari hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Mereka pun menjalankan kepalanya sambil bertanya-tanya, Kenapa dengan tuan muda Kobe. Tiba-tiba saja lari. Bukankah dia adalah calon kandidat ketua buat kita? Ditambah lagi sama Tuan Dewa? Satu pertanyaan itulah yang membuat mereka bertanya-tanya. Apakah si Kakek Aoyama sudah memberitahukan rencananya itu ke Kobe maupun Dewa? Yang pasti belumlah. Kedua pria itu masih saja adem ayem dan betah dalam dua kubu kelompok masing-masing.

__ADS_1


Lantas mereka tidak bertanya apa-apa lagi. Mereka sedang menunggu keputusan dari Kakek Aoyama. Lalu mereka bubar dan berjaga di pos masing-masing.


Beberapa saat kemudian datang Dewa dan Sascha. Mereka berdua langsung masuk ke lobi. Namun pria berbaju hitam itu pun melakukan hal yang sama. Tapi saat Dewa datang hanya sendirian saja. Hal ini untuk mengantisipasi agar sang kandidat kedua tidak kabur dari pandangan mereka.


"Selamat sore tuan," sapa orang itu sambil membungkukkan badannya.


"Sore juga," Dewa pun paham dan mengetahui orang-orang yang sedang berjaga itu. "Bersikaplah biasa. Agar aku tidak dilihat banyak orang. Jika aku adalah pangeran Kanata's Group," pinta Dewa.


Orang itu langsung berdiri tegak sambil melihat Dewa dan Sascha. Kemudian orang itu mempersilakan mereka masuk. Sebelum masuk Dewa membubarkan aktivitas mereka. Agar mereka tidak mencolok dan kelihatan banyak orang.


Setelah itu Dewa menggandeng tangan Sascha sambil diam. Ketika mereka lewat di depan lobby, banyak sekali orang-orang yang melihatnya. Entah itu perawat, dokter, pengunjung, penjaga dan lainnya. Mereka sangat mengagumi kecantikan Sascha dan ketampanan Dewa. Bisa dikatakan mereka adalah pasangan yang sempurna. Sangking sempurnanya banyak orang-orang iri melihatnya.


Sesampainya di kamar kakek Aoyama, Dewa mengajak masuk Sascha. Tidak sengaja Dewa melihat Kobe yang sedang asyik bermain game online. Jujur saja Dewa sangat malas sekali melihat sang paman bermain game di layar ponselnya itu. Ingin sekali Dewa melemparkannya ke kolam. Bukan mas Kobenya yang dilempar. Melainkan ponselnya yang dilempar. Untung saja Kakek Aoyama orangnya sangat sabar sekali menghadapi Kobe.


"Paman Taro," panggil Dewa.


"Iya ada apa?" tanya Taro sambil menatap wajah Dewa.


Sebelum menjawab Dewa menyuruh saja duduk di sofa bersama dirinya. Setelah itu mereka saling memandang dan melihat Taro sambil bertanya-tanya.


"Kenapa aku disuruh ke sini secara mendadak?" tanya Dewa.


"Kakek mau membicarakan sesuatu hal yang penting sama kalian," jelas Taro.


"Tak apa. Kita tunggu saja kakek bangun dari tidurnya," balas Sascha.


"Memangnya ada apa sih? Apakah ada yang harus dibicarakan dengan serius," tanya Kobe.

__ADS_1


__ADS_2