
Jakarta Indonesia.
Tarra yang sedang menikmati secangkir teh mendapatkan sebuah informasi. Ia segera membuka email tersebut dan membacanya dengan wajah datarnya.
Tarra ingin rasanya memukuli samsak untuk melampiaskan amarahnya. Namun Tarra mengendalikan emosinya agar tidak meledak.
Selesai membersihkan tubuhnya, Dita merangkul Tara dari belakang. Kemudian Dita tidak sengaja membaca email sang mama. Matanya membulat dan seakan tidak percaya kalau keluarga Billy sudah keluar dari penjara.
“Apa benar keluarga Billi sudah keluar?“ tanya Dita.
“Memang keluarga Billi sudah keluar. Kamu tahu siapa yang mengeluarkannya?“ tanya Tarra balik.
“Aku tidak tahu pasti siapa yang mengeluarkannya. Feelingku mengatakan kalau Santi yang mengeluarkannya,“ jawab Dita.
“Kamu tahu Santi tidak bisa macam-macam soal itu. Karena mama sudah membayar pengacara handal untuk memperberat hukumannya. Dan hidupnya sekarang sudah berada di tangan Tommy. Kamu tahu kan kalau Tommy itu sangat bucin kepadamu?" tanya Tarra hingga membuat mata Dita membulat sempurna.
“Maksudnya apa?“ tanya Dita lagi.
“Kamu tahu, kalau Tommy itu bucin sama kamu," jawab Tara.
“Ah sepertinya tidak Ma,“ elak Dita.
“Sepertinya kamu sangat polos sekali jadi seorang wanita. Masa kamu nggak tahu pria bucin atau tidaknya?" tanya Tarra yang terkekeh melihat Sang Putri saat tingkah.
Wajah Dita memerah sempurna bagai kepiting rebus yang baru diangkat dari panci. Lalu Dita meninggalkan Tara. Seketika Tarra berteriak agar Dita kembali lagi.
“Sayang.. kamu kok minggat sih. Kita kan belum selesai bicara!“ teriak Tarra.
“Oh iya... Aku melupakan sesuatu. Siapa yang mengeluarkan keluarga Billy ya Ma?“ tanya Dita lalu kembali ke Tarra.
“Makanya kamu ke sini,“ jawab Tarra.
Dita segera menghempaskan bokongnya kemudian menatap wajah Tarra. Ia tidak habis pikir kenapa keluarga Billy bisa keluar dari penjara? Lalu dirinya menerka-nerka apa yang akan terjadi ke depan.
“Mama baru saja mendapatkan jawabannya dari Ian. Orang yang melepaskan keluarga Billy adalah Risa. Mapa belum tahu motifnya apa? Sehingga mereka bisa keluar bebas begitu saja," jawab Tarra.
“Kalau seandainya keluar, cepat atau lambat mereka akan membuat onar lagi. Jika sampai terjadi maka Mbak Sascha akan terancam," ucap Dita yang menganalisis keadaan.
__ADS_1
“Sascha tidak akan pernah terancam sekalipun. Karena kakakmu akan menggembleng Sascha menjadi wanita tangguh!“ tegas Tarra.
“Mama tahu kan Fatin ibunya Billi gimana? Andaikan Mbak Sascha putri dari konglomerat maka dia akan memakai segala cara untuk merebutnya dari Kak Dewa," jelas Dita.
“Tidak akan pernah kembali lagi. Sascha adalah milik Dewa,” balas Tarra.
“Ah... Rasanya aku sudah tidak sabar lagi melihat Kak Dewa menikahi Mbak Sascha,“ ujar Dita semangat.
“Sepertinya mereka akan menikah dua minggu lagi,“ celetuk Tara.
“Benarkah itu mah?“ tanya Dita kegirangan.
“Ya itu benar. Kamu tahu Papa Gerre itu sudah bosan dengan Dewa selalu dekat sama Mbak Sascha saat di Hamburg. Mau tidak mau mereka harus dinikahkan segera,” jawab Tarra.
“Dari dulu kan Kak Dewa begitu. Mana ada yang namanya sahabat bucinnya minta ampun,“ kata Dita.
“Berarti kamu tahu dong rahasia sebenarnya?“ tanya Tarra.
“Mama tahu kan kalau aku adalah mata-mata terbaik. Yang diturunkan untuk memata-matai Kak Dewa,” jawab kita.
“Semenjak dahulu ditawari masuk ke dunia bawah tanah katanya ndak mau. Lalu kenapa sekarang kok mau?“ tanya Tara yang curiga.
“Sepertinya kamu dendam ya sama mereka?“ tanya Tarra.
"Semuanya itu gara-gara Fatin sialan. Aku bingung sama Fatin sialan itu. Wanita itu sering sekali mencari mangsa yang memiliki penghasilan banyak. Akhirnya mereka diperas habis-habisan hanya untuk membeli barang branded. Diam-diam aku sama Kak Bima sudah menyelidikinya. Makanya hingga saat ini aku dendam. Ditambah lagi dengan Mbak Sascha yang jadi korbannya,“ ucap Dita.
“Kata bang haji Rhoma irama mereka itu sungguh terlalu. Tapi kamu tenang saja, mereka bersenang-senang terlebih dahulu asal tidak mengganggu Sascha. Kalau sampai mengganggunya berarti dia mencari masalah dengan Dewa'' hibur Tarra.
New York City USA.
Malam pun tiba di kawasan Manhattan. Sascha yang sedang duduk bingung dengan Dewa. Jadwal yang sudah disusun akhirnya berantakan. Seharusnya malam ini berangkat malah Dewa balik lagi tidur. Entah ada setan apa hingga membuat Dewa malas-malasan seperti ini.
Melihat sang kekasih tidur Sascha mengecek lagi jadwal selanjutnya. Ketika mengecek ia mendengar ponselnya sedang berdering. Lalu Sascja meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel. Akhirnya mengusplambang hijau itu kemudian menyapa orang yang berada di seberang sana.
“Selamat malam di kawasan New York City,'' sapa Sascha dengan ramah.
“Di mana Dewa? Hari ini dia belum laporan ke aku?" tanya Timothy.
__ADS_1
“Waduh.... Habislah dia,'' jawab Sascha hingga membuat Timothy
tertawa.
“Jangan-jangan dia main game semalaman? “ tanya Thimothy lagi.
“Sudah nggak main game lagi. Dia sedang tertidur di sofa ketika mau berangkat ke labuan Bajo“ jawab Sascha.
“Kamu nggak tahu ya kalau Dewa itu memiliki hobi tidur?" tanya Timothy yang membuat Sascha geleng-geleng kepala.
“Sepertinya schedule-nya ngaret? Kalau begitu bisa diundur nggak schedule-nya?“ tanya Sascha.
“Aku sudah mulai curiga semenjak dari pagi karena ponselnya tidak bisa dihubungi,” jawab Timothy. “Biarkan saja pria itu tertidur. Aku ingin meminta bantuanmu untuk mengecek data-data apartemen yang terjual pada bulan ini."
“Ada apa memangnya?“ tanya Sascha.
“Sepertinya ada penggelembungan dana di divisi pemasaran,“ jawab Thimothy.
“Kalau begitu akan aku cek. Siapa yang menjadi kepala divisi pemasaran?" tanya Sascha.
“Namanya Santos. Aku belum mencurigainya karena dia sangat oke ketika sedang bekerja,” jawab Timothy.
“Baiklah... Akan aku selidiki satu persatu," jawab saja.
“Kapan kamu akan berangkat ke Labuan Bajo?" tanya Timothy.
“Aku tidak tahu kapan akan berangkat. Kalau begitu aku usahakan besok pagi akan berangkat dari sini. Semoga saja Kak Dewa nggak ngamuk saat bangun pagi," jawab Sascha.
“Nikmatilah harimu wahai calon istri Dewa. Kamu tidak akan bisa lepas darinya setelah ini. Dan jangan pernah mengeluh karena Dewa itu tukang tidur," balas Timothy. “Aku balik lagi kerja ya.”
“Oke," balas Sascha.
Sambungan telepon terputus.
Sascha melipatkan kedua tangannya di dada sambil menganalisis keadaan AA Groups. Beberapa hari terakhir Sascha merasakan ada kejanggalan tentang penjualan apartemen yang tidak sesuai dengan data-datanya. Sascha tidak akan mencurigai seseorang namun mencari sebuah fakta sebenarnya.
“Tuh kan... Aku mulai curiga dengan sesuatu. Baru saja dicek ternyata ada kejanggalan. Bagaimana aku memberitahukan pada Kak Dewa? Apakah aku harus turun tangan sendiri tanpa harus Kak Dewa. Jika dibiarkan berlarut-larut terus maka sesuatu hal yang bisa terjadi,“ batin Sascha.
__ADS_1