Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
HALUSINASI.


__ADS_3

“Lama-lama lu belagu juga ya.... Hanya dengan jabatan asisten manajer keuangan belagunya setinggi langit. Gimana udah jadi CEO?” bentak Risa.


“Eh... Itu doa buat gue. Terima kasih ya sudah doain gue jadi CEO. Sebentar lagi gue akan menjadi CEO. Tapi... Gue nggak akan kenal lu lagi. Oh iya... Gue bilangin sama lu, kalau suami elu nyamperin Gue ke kantor. Padahal gue nggak hubungin dia. Ngapain gue hubungin dia? Lebih baik lu pulang gih,” suruh Sascha.


“Pede banget sih lu jadi lo jadi orang. Lo itu hanya mimpi doang. Coba lu bayangin, dari orang miskin bisa jadi CEO itu hanya halusinasi lo,” ejek Risa.


“Ya udah deh terserah lu. Lho kalau nggak minggir dari sini gue tabrak. Lu tahu ini jalan untuk umum bukan jalan elu. Kalau lu masih di sini ya sudah terserah. Gua mau ambil pesanan. Gue mau pulang jangan ganggu gue,” ujar Sascha yang berlalu meninggalkan Risa.


Untung saja tidak ada orang di sekitarnya mereka. Hanya beberapa orang saja yang melihat dan tidak melerai pertengkaran mereka. Sedangkan Dita dan Tara tersenyum lucu melihat pertengkaran mereka. Entah kenapa Sascha memiliki keberanian untuk melawan Risa.


Dahulu Sascha kalah kuat dengan Risa. Meskipun mereka bersahabat namun Risa sering membullynya. Sascha tidak menyadari akan hal itu. Sascha menghadapi masalah ini dengan santai. Semakin lama Risa semakin melunjak dan mulai menginjak-injak Sascha. Akan tetapi ia tidak pernah melawannya dan hanya tersenyum. Bagi sahabat yang lainnya, mereka sudah tahu tabiat Sascha. Mereka tidak terkecoh oleh hasutan Risa. Malah mereka semakin solid berteman bersama Sascha.


Setelah itu Risa menjadi geram lalu pergi meninggalkan area itu. Dalam hatinya bergemuruh Risa memaki-maki Sascha. Ia mulai merencanakan sesuatu untuk melenyapkan Sascha. Akan tetapi Risa harus mencari seorang pembunuh yang handal. Kemudian Risa ingat seorang penembak jitu yang sangat terkenal dari bawah tanah. Ia akan menghubungi pria itu dan memintanya untuk bertemu. Setelah berhasil Risa menancapkan gasnya dan pergi ke markas Dark Impulsif.


Hayo... Coba tebak.... Siapa yang dimaksud oleh Risa?


Selesai mengambil martabak manis, Sascha bersama Dita dan Tara memutuskan untuk pulang. Dita yang membawa mobil hanya bisa terkikik melihat pertengkaran Kakak perempuannya itu. Entah kenapa sang kakak sangat lucu menghadapi Risa. Bahkan Sascha sangat tenang sekali ketika Risa meledak-ledakkan amarahnya di tempat umum.


“Kakak sangat lucu sekali ketika berantem?” tanya Dita.

__ADS_1


“Buat apa di seriusin. Sedari dulu Risa seperti itu. Marah nggak jelas, ngamuk nggak jelas sampai teriak-teriak juga nggak jelas ujungnya. Entah mamanya itu ngidam apa selama hamil Risa,” kesal Sascha.


“Sebaiknya kamu harus belajar deh dari Mama Kak. Kalau kayak gitu musuh malah menginjak-injak kakak. Kakak tahu kan kalau mama adalah seorang mafia. Wajahnya cantik tapi jiwanya sangat menakutkan. Terkadang aku sendiri sangat takut sama mama. Takut dimarahin apalagi ketahuan melirik kak Tommy,” celetuk Dita.


“Jujur sekali ya kamu. Bagus deh kalau kamu jujur. Lama-lama Mama kawinkan sama Tommy nanti!” kesel Tara.


“Syukurlah... Akhirnya mama telah merestui cinta kami. Rasanya Aku sudah lama tidak menghubungi Kak Tommy,” sahut Dita.


“Kamu beneran jadiin sama Kak Tommy?” tanya Sascha.


“sudah jadian dia. Diam-diam malahan,” ungkap Tara.


“Iya sih. Di sana memang seperti itu. Tapi aku sebagai artis di sana malah mengacuhkannya,” tambah Dita.


“Beli jagung sudah. Beli ayam sudah. Beli apa lagi ya yang mau dibeli? Mumpung kita masih di jalan,” celetuk Tara.


“Ma aku punya saran. Gimana kalau beli bahan-bahannya di pasar saja? Biarkan aku yang belanja,” tawar Sascha.


“Kamu tidak malu beli di pasar?” tanya Tara.

__ADS_1


“Ya kalau Mama nggak keberatan. Apalagi Kak Dewa sering sarapan pagi. Makanya itu aku sering belanja ke pasar biar dapat bahan makanan dengan cepat,” ungkap Sascha yang senang pergi ke pasar.


“Terserah kamulah. Dulu Dewa jarang sekali sarapan. Apalagi minum susu di pagi hari. Sekarang rajin banget makan pagi dan minum susu. Mama nggak tahu gimana ngucapin Terima kasih buat kamu. Semenjak kamu hadir, Dewa yang dulu arogan menjadi baik sekali. Jarang sekali seorang wanita yang bisa mengubah seorang pria menjadi baik,” puji Tara ke Sascha.


“Bukannya jarang Ma. Tapi belum kelihatan. Mencari yang tulus itu susah. Semua wanita sangat menginginkan uang. Hanya ada beberapa wanita yang aku kenal sangat mencintai suaminya dan merawatnya tulus. Kalau Kak Sascha jangan diragukan lagi. Semenjak sekolah kak Sascha selalu merawat Kak Dewa. Apalagi Kak Dewa keinginannya banyak sekali. Aku sampai bingung sama Kak Sascha, bisa-bisanya mau masuk sekolah mampir ke rumah. Untung saja rumah dan sekolah kak Sascha sangat dekat,” ungkap Dita yang sangat bahagia.


“Nggak tahu deh... Saat itu perasaanku sangat aneh sama kakakmu itu. Aku memang suka. Tapi aku malu mengatakannya. Karena saat itu aku mendapatkan informasi dari seseorang, kalau Kak Dewa adalah seorang pangeran dari perusahaan terbesar dan ternama di dunia. Mana ada seorang gadis miskin berpacaran dengan orang kaya seperti Kak Dewa,” ungkap Sascha dengan minder.


“Mama nggak peduli dengan status calon istrinya Dewa. Mama lebih suka membiarkan anak-anaknya jatuh cinta sama wanita pilihannya. Kamu tahu kan tentang pernikahan politik perusahaan?” tanya Tara.


“Tahu ma. Malah Kak Dewa sendiri nolak dinikahkan sama cewek seperti itu. Bahkan yang lebih parahnya lagi. Seluruh kolega berbondong-bondong untuk mendapatkan dan menggaet Kak Dewa menjadi menantunya. Itu yang membuat aku resah. Bukan artian resah yang gimana ya. Kak Dewa nggak nyaman soal itu. Malahan Kak Dewa ingin kabur ketika bertemu dengan anak kolega tersebut,” jawab Sascha.


“Itulah kenapa Mama nggak pernah menjodohkan Dewa dan Dita ke lain-lainnya. Mama berharap mereka bisa meraih kebahagiaan. Dulu papamu begitu. Malah Kakek Aoyama membebaskan cucu-cucunya memilih pasangan sendiri,” jelas Tara.


“Mama sengaja mencari calon istrinya Kak Dewa perempuan tangguh. Nggak gampang ditindas apalagi diinjak-injak. Harus berani menghadapi kehidupan di dunia nyata maupun bisnis. Apalagi jika calon istrinya Dewa menguasai dunia bisnis. Itu bisa menjadi nilai plus-plus buat sang calon menantu. Ditambah lagi Mama nggak suka perempuan yang sok jaim. Di depan manis seperti gula. Lalu di belakang menusuk jantung mama. Mama nggak akan biarin itu,” tambah Tara.


“Jadi Kak Sascha beneran sudah direstui sama mama?” tanya Dita yang menghentikan mobilnya karena sudah sampai.


 

__ADS_1


 


__ADS_2