Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
WANITA MANDIRI.


__ADS_3

Sudah menjadi kebiasaan bagi Sascha kalau pagi harus melakukan pekerjaan rumah. Sascha tidak ingin manja dan menyuruh orang-orang. Sascha adalah mandiri dan pekerja keras. Pagi ini memang bukan hari Minggu tapi Sascha sangat senang sekali. Di mansion sang nenek dan orangtuanya Sascha memiliki semangat yang luar biasa.


Selesai membersihkan tubuhnya Sascha membuka walk in closed. Matanya terbelalak melihat tumpukan-tumpukan baju dengan model terbaru dari barang-barang terkenal. Sascha mulai menghitung seluruh harga baju yang berada di sana. Lalu Sascha menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah mama menghabiskan uangnya untuk membeli baju branded seperti ini?"


Sascha memang anak keuangan yang bisa memperhitungkan biaya keseluruhannya. Di D'Stars Inc Sascha sangat energik sekali jika mulai bertemu dengan angka. Entah kenapa dirinya sangat menyukai hal itu.


Setelah mengetahui seluruh uang yang dihabiskan, hati Sascha meringis. Bagaimana bisa sang mama menghabiskan uang sebanyak itu hanya membeli banyak baju? Jujur saja Sascha jarang sekali membeli baju branded dengan harga fantastis. Sascha lebih menyukai barang-barang lokal. Sascha berpikir ternyata model barang-barang lokal sangat bersaing dan bagus. Tapi Sascha sangat menyukainya.


Sascha sengaja mengambil t-shirt hitam polos dan celana jeans hitam. Hari ini Sascha akan memakai pakaian santai dan sederhana. Setelah semuanya beres Sascha turun dari atas dan menghampiri keluarga besarnya.


Sascha langsung memeluk mereka dengan hangat dengan penuh kebahagiaan. Tak lupa juga Sascha memeluk nenek dan kakek buyutnya. Jujur saja Sascha sangat menyayangi mereka.


"Lihatlah pa, Sascha sangat bahagia sekali," ucap Dewa ke Gerre.


"Apakah Sascha tidak sebahagia ini?" tanya Gerre.


"Tidak pa. Sascha selalu ketakutan dengan ulah Keluarga Billi yang sangat kurang ajar. Ketika bahagia Fatin datang dan merusak kebahagiaan Sascha dengan cara dimaki," jawab Dewa.


"Syukurlah papa juga senang melihat Sascha bisa sebahagia ini. Papa tidak bisa membayangkan Sascha menderita," ujar Gerre yang menyunggingkan senyumannya. "Siang ini mama ingin mengajak Sascha ke New York.''


"Ada apa ke New York?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.


"Mama mau memperkenalkan rumah modenya ke Sascha agar tahu pekerjaan sang mama. Papa berharap Sascha tertarik pada fashion,'' jawab Gerre. "Kamu tahukan status Sascha bagaimana?"


Dewa mengangguk paham apa yang dibicarakan oleh Gerre. Sascha sekarang harus mengenal statusnya bagaimana? Dewa sebenarnya tidak keberatan jika Sascha harus mengenal semua pekerjaan orangtuanya.


Kemudian keluarga Sascha mengadakan sarapan. Mereka makan dalam kesunyian tanpa suara. Sascha paham betul kalau keluarga besarnya masih menjunjung kesopanan di dalam keluarga. Jika Sascha bertemu dengan teman-temannya saat jam makan siang. Sascha bisa berceloteh hingga teman-temannya sangat terhibur.


Siang pun tiba, jet pribadi milik Chloe mendarat tepat berada di taman belakang. Gerre sudah mendesain rumah mertuanya itu untuk pendaratan jet pribadi. Agar mereka tidak susah-susah pergi ke bandara. Jarak mansion ke bandara lumayan jauh. Gerre kasihan melihat mereka yang terlalu lama duduk di mobil. Mereka juga tidak menyukai perjalanan memakai mobil pribadi.

__ADS_1


"Aulia,'' panggil Chloe sambil membuka pintu.


"Iya ma,'' sahut Sascha yang membetulkan dandanannya


"Ayo kita berangkat!" ajak Chloe.


"Apakah kak Dewa ikut?" tanya Sascha.


"Iya. Sekalian fitting baju pernikahan. dan kita akan mengunjungi mama dan papa mertuamu,'' jawab Chloe.


Sascha segera mengambil tas ranselnya. Sascha membawa sedikit baju. Sebenarnya Sascha tidak perlu membawa baju karena di sana Chloe sudah mempersiapkannya. Namun ini sudah menjadi kebiasaan Sascha. Kemanapun dirinya selalu membawa tas ransel.


"Kenapa kamu membawa tas ransel?' tanya Chloe.


"Ini kebiasaan aku ma. Kemanapun aku selalu membawa tas ransel ketika pergi. Kak Dewa juga tahu soal itu,'' jawab Sascha.


Chloe langsung melarang Sascha membawa apapun. Chloe tidak mau memberatkan sang anak. Wanita paruh baya itupun tersenyum manis sambil berkata dengan lembut, "Tidak usah kamu bawa tas ransel kamu. Disana maka sudah menyiapkan baju kamu di mansion papamu.''


Sebelum mengeluarkan suaranya Sascha langsung ditarik sama Chloe.Chloe paham karena sang putri bingung. Pelan-pelan Chloe menjelaskan semuanya jika Sascha sudah sembu total.


Sesampainya di bawah Gerre memberikan sesuatu ke tangan Sascha. Sascha melihat kartu yang berwarna hitam dengan mata membola. Sascha tidak percaya jika dirinya memiliki kartu hitam.


Sascha pernah melihat kartu hitam milik Dewa ketika sang empunya sedang membongkar dompetnya. Sascha tidak bertanya tentang itu. Ia tahu fungsi kartu hitam itu dipakai apa? Ia juga paham kalau Dewa jarang memakainya.


"Papa memberimu uang sepuluh juta dolar perbulan. Terserah kamu mau pake apa,'' ucap Gerre.


"Satu juta dollar aku belikan mainan anak-anak lalu aku sumbangkan buat anak-anak. Satu juta lagi aku buat membeli perlengkapan dan peralatan sekolah untuk anak-anak yang membutuhkan,'' ucap Sascha yang mengambil keputusan dengan cepat.


"Itu terserah kamu. Papa tidak marah sama kamu,'' ujar Gerre yang senang dengan keputusan Sascha.

__ADS_1


"Mulia sekali hati kamu sayang. Jika begitu mama akan menambahkan uang untuk membeli peralatan dan perlengkapan sekolah,'' puji Chloe.


Sang nenek dan kakek mengacungkan jempolnya karena kebaikan Sascha. Mereka bersyukur mendapatkan cucu yang baik dan cerdas.


"Kenapa kamu enggak inves beli saham perusahaan terbesar di dunia?" tanya Dewa yang sengaja memancing Sasha.


"Ah... itu tidak usah. Aku sudah memiliki semuanya. Aku ingin menginvestasikan dalam bentuk lain. Jika kita melakukan kebaikan maka kita akan mendapatkan kebaikan,'' jawab Sascha.


Mereka tersenyum dan melihat Sascha yang semakin dewasa. Mereka tidak menyangka kalau dirinya memang dikaruniai seorang malaikat jelmaan manusia. Disisi lain Dewa juga salut dengan calon istrinya Dewa memang tidak salah memilih perempuan untuk dijadikan pendamping hidup.


"Kapan berangkatnya kalau kalian disini terus?' tanya Gerre.


"Apakah papa ikut?' tanya Sascha balik sambil menatap wajah Gerre.


"Sore ini papa akan mengadakan meeting dengan perusahaan. Kemungkinan nanti malam papa akan menyusul kalian kesana,'' jawab Gerre.


"Kalau begitu tunggu aku,'' sahut Sascha.


Siang ini juga mereka berangkat kecuali Gerre, nenek buyut, nenek buyut dan kek. Gerre akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


Nganjuk Indonesia.


Tak sengaja Pak Andika membuka sosial media di ponselnya. Pak Andika mulai menscroll sosial medianya dan melihat-lihat isinya. Ketika menemukan akun milik Dewa, mata Pak Andika membola sempurna. Pak Andika melihat Sascha berfoto dengan keluarga konglomerat di dunia.


"Apakah ini keluarga Atmaja?" tanya Pak Andika yang sangat terkejut.


Sementara Ibu Nirmala yang selesai menyelesaikan tugas menggosok bergegas masuk dapur. Bu Nirmala segera mengambil air di teko lalu meminumnya. Melihat sang istri ada di sekitarnya, Pak Andika memandangnya.


"Bu,'' panggil Pak Andika.

__ADS_1


"Ada apa?' tanya Bu Nirmala yang merasakan hawanya panas.


"Ibu pasti tidak percaya dengan soal ini?' tanya Pak Andika balik.


__ADS_2