Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENGKHAWATIRKAN DITA.


__ADS_3

"Kamu harus tahu sesuatu. Karena Risa ingin benar-benar melenyapkanmu dari dunia ini. Sampai saat ini dirinya berusaha untuk mencari cara untuk menghabisimu," jawab Dewa yang membuat sang istri terkejut.


"Jujur setelah pulang dari New York, aku sering bertemu dengan Risa. Kalau ketemu dengan Risa hawanya sangat malas sekali aku. Orang tidak ngapa-ngapain selalu diancam. Sepertinya aku butuh pengawal agar bisa menghalau Risa," ujar Sascha.


"Aku sudah memberikanmu tiga orang pengawal sekaligus. Semenjak kamu datang ke sini, aku tidak mengaktifkannya terlebih dahulu. Aku sengaja memakai Marty untuk menjagamu. Setelah mendapat laporan dari Marty, aku harus mengaktifkan Mereka lagi. Di sisi lain mereka harus melindungimu dari keluarga Billi," ucap Dewa.


"Ya aku tahu itu. Seandainya mereka tidak menyerangku, kemungkinan besar aku tidak memakai para pengawal. Aku bisa bebas ke mana saja tanpa harus merepotkan orang," kata Sascha.


"Kalau begitu ya sudahlah. Jangan pernah bersedih seperti itu. Mereka tetap saja membuat masalah. Mau tidak mau aku harus menambah lagi menjadi lima orang. Mereka adalah pengawal bayanganmu," ucap Dewa.


"Kita pergi ke Labuan Bajo sangat pagi sekali. Terpaksa Malam ini kita tidak bisa kemana-mana. Rasanya aku sudah lama tidak berkeliling kota ini," Sascha hanya bisa menghela nafasnya secara kasar.


"Aku berencana ingin membangun pabrik lagi di sini. Bagaimana menurutmu?" tanya Dewa.


"Bangun pabrik itu aja Khans Company. Kita bisa membuat roti kering. Yang di mana pabrik itu bisa menampung banyak karyawan," jawab Sascha.


"Jangan semuanya roti. Lebih baik kita membuat makanan kering. Seperti nasi goreng kering, mie goreng atau apapun. Rencanaku adalah untuk semua kalangan. Nggak mahal ataupun murah. Bisa dikatakan harganya standar," tutur Dewa.


"Kalau begitu kita harus survei terlebih dahulu. Nggak bisa kita mengambil harga seenaknya kalau untuk kalangan bawah dan ke atas. Kalau untuk kalangan ke atas kita bisa mematok sendiri. Kalau kalangan bawah bisa dipastikan Kita harus mencari masukkan dari masyarakat," tambah Sascha.


"Sepertinya Tommy harus bekerja keras kali ini," celetuk Dewa.


"Tidak perlu. Aku akan berbicara semuanya kepada papa. Soalnya masalah ini bener-bener harus dirundingkan terlebih dahulu," ucap Sascha.


"Kalau begitu ya sudahlah. Lebih baik kita berunding terlebih dahulu. Aku harap kamu bersabar," bisik Dewa.


"Maksudnya bersabar apa coba? Kok bisa-bisanya aku disuruh bersabar? Ini masalah perusahaan kapan saja kita bisa membuatnya," Sascha bingung dengan Dewa.


"Maksudku membangun pabrik itu. Kok aku jadi semangat ya? Ya sudah nanti aku yang berbicara soal ini. Kemungkinan besar pabrik ini akan masuk ke dalam perusahaan induk D'Stars Inc," Dewa menatap Sascha dengan penuh kasih sayang.


"Sepertinya itu sangat bagus sekali. Jarang ada perusahaan menjual onderdil mobil memiliki pabrik makanan. Kalau yang ini tidak usah bilang ke papa. Kak Dewa saja yang membangunnya," saran Sascha kepada Dewa.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Jadi selesai pulang dari Labuan Bajo aku akan meminta anak-anak meeting untuk membuat pabrik baru," jawab Dewa.


"Lalu bagaimana dengan di Nganjuk itu?" tanya Sascha.


"Bukankah itu pabriknya papa?mereka akan berkolaborasi untuk membuat suatu barang yang bisa dijual dalam maupun luar?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Soalnya kemarin aku tidak mendengar apapun tentang wacana itu. Aku kemarin hanya bantu-bantu memasak untuk selamatannya mereka," jawab Sascha.


"Aku nggak tahu apa yang mereka bikin. Mereka masih sangat merahasiakan soal itu. Kemungkinan besar pabrik itu akan menjadi ujung tombak kehidupan Papa ke depan. Bisa dikatakan papa akan pensiun dari dunia bisnis internasional. Lalu membangun bisnis di area Jawa Timur. Jujur saja sangat sederhana sekali sih. Sesuai dengan perjanjian Aku tidak akan mengusiknya. Soal investor kemungkinan besar aku pasti melakukannya," jelas Dewa.


"Baiklah kalau begitu. Kita akan fokus pada Nakata's Groups dan Khans Company. Kita harus fokus ke sana semua. Cepat atau lambat kedua perusahaan itu akan digabung," balas Sascha.


Tak lama ada orang yang mengetuk pintu kamar mereka. Lalu Dewa segera berdiri dan menuju ke pintu tersebut.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Dewa melihat beberapa pelayan membawa pesanannya. Ia menyuruh mereka masuk ke dalam dan menaruhnya di meja. Setelah menaruhnya di meja Dewa memberikan uang tips kepada mereka. Kemudian mereka pergi dari sana.


"Kakak pesan apa?" tanya Sascha.


"Makanan favoritmu," jawab Dewa sambil menutup pintunya.


Mata Sascha melihat banyaknya pesanan di atas meja. Matanya membulat sempurna sambil menggaruk kepalanya.


"Kakak yang bener saja. Pesan makanan sebanyak ini. Nanti aku tidak bisa tidur," kesal Sascha.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Dewa, Sascha akhirnya makan malam bersama sang suami di kamar hotel. Untung saja dirinya tidak menyusahkan semua orang. Semua makanan di lahapnya tidak pandang bulu. Sascha tidak memiliki makanan yang difavoritkan. Itulah kenapa Dewa tidak perlu susah payah mencari makanan untuk sang istri.


Beda lagi dengan Dewa. Ketika ingin makan dirinya selalu kebanyakan drama. Hampir setiap hari Dewa meminta makanan yang berkuah. Sascha sudah menyadari hal itu ketika baru pertama bertemu.


Seperti malam ini Dewa memesan satu porsi soto ayam lamongan. Dirinya sangat berselera ketika makan makanan berkuah. Dewa jarang sekali makanan yang tidak mengandung kuah.


Selesai makan mereka memutuskan untuk melihat film-film action di laptop Dewa. Mereka memang hobi melihat film seperti itu. Ketika pergi ke bioskop mereka selalu memilih film-film keras seperti itu. Jujur teman-temannya pernah mencibir kalau mereka jarang sekali nonton film-film romance.


Bukannya mereka tidak mau. Dahulu mereka hanya sahabat saja. Jujur jika mereka terhanyut dalam perasaan, maka mereka tidak bisa mengungkapkannya kepada pasangannya. Itulah uniknya hubungan mereka.


Waktu subuh telah tiba. Mereka memutuskan untuk bersiap-siap. Sascha dan Dewa sangat kompak jika sedang mengepak pakaian. Memang Sascha mengakui sang suami tidak tinggal diam. Dengan cepat tanggap Dewa langsung turun tangan.


"Jadwalnya pagi sekali," keluh Dewa.


"Ada penerbangan malam. Tapi aku tidak menyukainya. Aku ingin sekali melihat awan-awan putih bertebaran di mana-mana," ucap Sascha.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau kamu. Lain kali kita akan melakukan perjalanan malam," ajak Dewa.


"Kalau memakai pesawat pribadi nggak masalah. Aku lebih baik memilih untuk tidur kembali," ujar Sascha.


"Kenapa juga kita nggak memakai pesawat pribadi?" tanya Dewa.


"Bukannya pesawat kamu sedang dalam perawatan?" tanya Sascha balik.


"Oh iya aku lupa. Timothy sudah mengatakan itu ketika pergi ke sini. Begitu juga dengan pesawatmu. Semuanya harus dicek ulang," jawab Dewa.


"Kalau begitu ayolah kita berangkat sekarang. Sekalian kita mencari makanan khas Surabaya," ucap Sascha.


"Tiada hari tanpa ngemil. Itulah moto kamu. Tapi sayangnya tubuhmu tidak bisa melar. Jujur Dita bingung sama kamu," sahut Dewa.


"Oh iya kak. Bagaimana kabarnya Dita ya? Apakah Dita jadi keluar dari PH tersebut?" tanya Sascha.


"Katanya Dita ceritanya dibuat ulang. Jadi yang diperankan oleh Dita akan meninggal dunia. Penyebabnya masih dicari sama sang penulis. Kemungkinan besar Dita selesai dua bulan ke depan. Jujur aku ingin sekali Dita keluar dari PH tersebut," jawab Dewa yang menutup koper.


"Ya sudah kalau begitu," balas Sascha. "Apakah Dita memakai manajer pribadi?"


"Selama ini Eric dan Bima turun tangan. Dita tidak memakai manajer pribadi secara khusus. Mereka berdua sengaja aku tugaskan untuk mengatur jadwalnya. Jika terjadi apa-apa akulah orang pertama yang turun tangan. Aku nggak mau ada drama-drama yang aneh-aneh sama pihak manajemen. Bisa dikatakan mereka mendapatkan gaji lebih," jawab Dewa yang membuat Sascha bingung.


"Nggak usah bingung seperti itu. Aku memang sengaja melakukannya. Lagian juga aku tidak mau repot-repot mengambil orang lain. Di sisi lain aku sudah memberikan asisten pribadi. Aku memberikannya dua orang. Mereka dari pengawalku sendiri. Agar mereka bisa melindungi Dita. Kamu tahu kan selama ini Dita tidak pernah mengumbar identitasnya keluar?" tanya Dewa balik.


"Aku nggak bingung kak. Tapi ya aneh saja. Kakak terlalu posesif kepada Dita. Aku takut Dita menjadi sebel sama kakak," jawab Sascha dengan jujur.


"Aku masih trauma ketika kehilangan kamu. Semenjak kamu hilang aku sangat protektif sekali sama Dita. Aku tidak mau kehilangan orang-orang tercintaku lagi. Begitu juga dengan papa dan mama. Aku sengaja mengajak kerjasama salah satu pengawal mereka. Hampir setiap hari aku mendapatkan informasi apa yang mereka lakukan."


"Apakah mereka tidak keberatan sama sekali?"


"Tidak. Mereka sangat bahagia karena aku memperhatikannya. Begitu juga dengan Dita. Dita juga sangat bahagia sekali."


"Aku takutnya ruang gerak Dita itu semakin terbatas. Tidak boleh ini tidak boleh itu."


"Justru itu Dita memintaku untuk mengawasinya. Jika tidak Dita bisa melakukan hal-hal di luar dugaanku. Memang benar usia segitu masih labil-labilnya untuk menjalani kehidupan. Ditambah lagi kita memiliki profesi seorang entertainment."


"Aku juga sama melihat Dita terjun ke sana. Aku sudah menyelami dunia itu. Jujur aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku juga ingin melarang kita untuk melanjutkan pekerjaan tersebut."

__ADS_1


"Kenapa kamu ingin Dita berhenti dari dunia itu?"


__ADS_2