Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Keterkejutan Devan.


__ADS_3

Para pengawal itu segera pergi meninggalkan Sascha. Saat Sascha menuju ke dalam mobilnya, Dewa segera mendekati Sascha. Dewa langsung memeluknya dari belakang. 


“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Dewa sambil berbisik.


“Ya...aku baik-baik saja,” jawab Sascha sambil tersenyum manis.


“Syukurlah,” ucap Dewa dengan penuh dengan rasa syukur.


“Tinggalkan mobilmu disini! Biarkan Marty membawanya ke apartemen!” titah Dewa sambil melepaskan pelukannya sambil melepaskan Sascha.


Sascha hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh Dewa. Lalu Dewa mengajaknya ke mobil paling ujung.


“Aku sangka kamu lagi tidur?” tanya Sascha.


“Bagaimana bisa tidur? Jika sang istri mendapatkan bahaya yang besar seperti ini,” jawab Dewa.


“Memangnya kamu tahu apa bahaya yang sedang menyerangku kali ini?” tanya Sascha.


“Ya... adalah. Masa kamu enggak tahu apa?” tanya Dewa sambil membuka pintu mobilnya.


“Terserah kamu deh,” Sascha sangat pasrah sekali dengan jawaban Dewa.


Dewa menutup pintu mobilnya. Ia lalu memutari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam pintu kemudi. Kemudian Dewa masuk dan menatap wajah Sascha sambil menatapnya, “Kamu tahu, apa ketakutanku selama ini?” 


“Apa itu?” tanya Sascha sambil melihat beberapa pesan email dari Gerre. 


“Ketika ada musuh menyergap seperti tadi. Lalu aku tidak berada di tempat. Itulah ketakutan sebenarnya,” jawab Dewa. 


“Bagaimana caranya kamu menemukan aku?” tanya Sascha. 


“Di ponselmu itu ada chip yang sengaja aku sisipkan. Aku bisa melacak keberadaan mu. Meskipun ponsel kamu mati, aku masih bisa melakukannya,” jawab Dewa. 


Sascha menganggukkan kepalanya dan percaya apa yang dikatakan oleh Dewa. Karena Dewa sangat protek sekali dengan dirinya.


“Baiklah... kamu boleh melakukan apapun terhadap diriku,” ucap Sascha yang pasrah dengan keadaan Desa.


“Seharusnya. Aku kan suami kamu,” ujar Dewa sambil memiringkan badannya.


“Ada yang tidak boleh yang kamu lakukan,” ucap Sascha.


“Apa itu?” tanya Dewa.


“Waduh. Jangan-jangan istriku tidak akan memberikan sebuah jatah,” celetuk Dewa dalam hati.


“Kamu tidak boleh selingkuh dari saya. Jika kamu selingkuh dari aku. Aku akan pergi dari hidupmu selamanya,” ucap Sascha dengan serius. 


“Tidak akan,” jawab Dewa.


“Aku percaya sama kamu,” Sascha melihat wajah Dewa sambil tersenyum manis.


Cup.


Sebuah ciuman hangat mendarat bebas di bibir Sascha. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh ia lalu sekalian sepak terjang Dewa yang mulai nakal itu.


“Kakak,” ucap Sascha yang menurunkan kedua tangannya. 

__ADS_1


“Kamunya sih. Kamu jangan pergi dariku selamanya,” pinta Dewa. 


“Hmmp... orang itu enaknya diapain ya?” tanya Sascha.


“Kita lemparkan saja ke New York. Biarkan papa Gerre yang menanganinya,” jawab Dewa. “Kamu jadi mengikuti jadwal syuting milik Dita?” 


“Ya,” jawab Sascha dengan serius.


“Kalau begitu batalkan saja. Aku sudah meminta Marty untuk mengirimkan beberapa pengawal yang berjaga di sana. Mereka adalah orang pilihanmu. Ditambah lagi aku sudah mengaktifkan pengawal bayangan yang dimiliki oleh Dita. Kemungkinan besar Lita tidak akan mendekati Dita,” jawab Dewa yang memprediksi kesadaran Dita. “Dita juga berpesan sama aku, kamu harus beristirahat terlebih dahulu.” 


“Apakah itu benar?” tanya Sascha lagi.


“Ya... itu benar,” jawab Dewa. “Dita sangat mengkhawatirkan keadaan kamu.”


Sascha menganggukan kepalanya. Ia sangat bersyukur sekali Dita sangat memperhatikan dirinya. Selain itu juga Dita sangat menyayangi dirinya. Begitu juga sebaliknya, Sascha sering sekali memperhatikan keadaan Dita dan memperdulikannya. Sascha sudah menganggap Dita adalah adik kandungnya.


New York City Amerika.


Dengan sangat kesal terhadap sang putra. Baru saja sampai lalu pergi meninggalkannya. Ia tidak menyangka kalau Dewa mempermainkannya. 


Dengan terpaksa Devan pergi mengunjungi Gerre di mansionnya. Ia masuk ke dalam dan mencari keberadaan Gerre. Namun sebelum itu Dengan berpapasan dengan Chloe. 


“Kamu mau ke mana?” tanya Devan.


“Mau mengecek rumah mode. Aku sudah lama tidak kesana,” jawab Chloe.


“Apakah Gerre ada?” tanya Devan lagi.


“Ada di ruangan kerjanya. Dia di dalam sana bersama sinyalnya,” jawab Chloe. 


“Terima kasih kak,” balas Chloe yang segera meninggalkan Devan.


Devan bergegas menuju ke ruangan Gerre. Ia langsung masuk dan tidak sengaja melihat singa yang sudah memenuhi sofa panjangnya Gerre. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Ia menatap wajah Gerre sambil bertanya, “Gerre, apakah ini selingkuhan kamu?”


Gerre hanya tertawa terbahak-bahak. Ia tahu kalau Devan sedang bercanda. Ia langsung menatap si singanya itu.


“Apakah dia betina?” tanya Devan.


“Iya... dia betina. Dia bernama Indah,” jawab Gerre yang sengaja memberikan nama singanya Indah. 


“Yang benar saja. Masa kamu memberikan nama singa kamu itu Indah,” kesal Dengan yang menghempaskan bokongnya.


“Memang dia sangat indah untuk dilihat dan dipegang,” celetuk Gerre. “Ada apa kamu ke sini?”


“Aku ingin mencari keberadaan Dewa,” jawab Devan.


“Percuma kamu mencarinya. Dewa berada di Indonesia bersama Sascha,” jawab Gerre.


“Makanya itu,” kesal Dengan yang ingin meledakkan amarahnya. 


Tak lama Gerre melihat Devan yang kesal. Lalu Gerre menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lalu menceritakan tentang keberadaan Dewa dan Sascha saat ke sana.


“Jadi begini, mereka ke sana memiliki tujuan yang sangat penting sekali. Mereka sedang menyelesaikan masalah Dita. Selama ini Dita memiliki masalah besar. Yang di mana Sascha dan Dewa baru mengetahuinya. Diam-diam Dita diperas oleh teman sekolahnya dulu. Masalahnya sepele. Si temannya tidak memiliki peran di sebuah sinetron Indonesia yang cukup populer pada waktu itu. Si temannya ini memang marah dan tidak terima dengannya. Hingga saat ini kasus itu bergulir. Bisa dikatakan di temannya itu memiliki dendam kesumat,” jelas Gerre yang membuat Devan menyesal.


“Astaga! Kenapa aku baru tahu kalau Dita sedang mendapatkan masalah seperti ini?” tanya Devan yang sangat menyesal.

__ADS_1


“Itulah kenapa mereka kembali ke Indonesia untuk sementara waktu,” tambah Gerre.


“Aku sangat menyesali perbuatanku. Seharusnya aku tidak boleh memarahinya seperti ini,” ucap Devan.


“Mereka pergi pasti ada alasannya. Ancamannya nggak main-main yaitu kehormatannya dan nyawa Dita,” imbuh Gerre.


Devan langsung diam membeku. Bisa-bisanya ia tidak mengerti apa yang dirasakan oleh Putri kecilnya itu. Jujur ia gagal menjadi ayah yang b aim buat sang Putri.


“Aku telah gagal menjadi papa yang baik buat Dita,” ucap Devan yang sangat menyesali perbuatannya.


“Jangankan kamu. Aku pun sama. Sekarang aku harus menebusnya dengan cinta dan kasih sayang yang penuh buat Sascha,” ujar Gerre yang menyesali tidak bisa menjadi papa yang baik buat Sascha.


“Bagaimana kabar selanjutnya?” tanya Devan yang mulai khawatir.


“Sangat buruk sekali. Ini sangat rumit sekali,” jawab Gerre yang mulai serius.


“Buruk bagaimana?” tanya Devan yang mulai curiga. 


“Kamu jangan terkejut apa yang aku katakan,” jawab Gerre yang membuat Devan penasaran.


“Maksud kamu apaan?” tanya Devan.


“Kamu mau tahu apa maksud aku sebenarnya?” tanya Gerre.


“Iyalah. Kamu itu kalau ngomong selalu saja membuat ngambang seperti ini,” kesal Devan. 


Gerre terkekeh melihat sang sahabatnya itu menjadi kesal. Ia malah tersenyum sambil memberikan sebuah tabnya ke Devan.


“Coba kamu baca email dari Sascha. Semuanya menjadi jelas di sini,” Gerre menyuruh Devan membaca email dari email Sascha. 


Dengan terpaksa Devan membaca isi email tersebut. Kalimat demi kalimat jantung Devan berdenyut hebat. Ia baru mengetahui kalau nyawa sang Putri dalam bahaya. 


“Berarti ada masalah lainnya,” ucap Devan.


“Ya... masalah rumah pribadi Dita. Kamu tahu rumah yang di sini itu sedang diincar oleh Cathy?’ tanya Gerre. 


“Oh... Tuhan... Kenapa Cathy mengganggu putriku? Aku tidak bisa membiarkan hidup,” jawab Devan.


“Bahkan Cathy sendiri berada di Indonesia untuk bertemu dengan Fatin,” jelas Gerre.


“Satu masalah belum selesai. Sekarang bertambah lagi,” keluh Devan. 


Devan tersenyum kecut sambil memandang wajah Gerre. Ia sangat kesal terhadap Cathy. Jujur ketika masalah Sascha menghilang, Devan menjadi trauma dan ingin membunuh Cathy. Tapi pada waktu itu Gerre menjebloskan Cathy dalam penjara. 


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Devan.


“Bersabarlah, nanti akan ada titik terangnya,” jawab Gerre.


“Eh... bukannya kamu pernah menjebloskan Cathy dalam penjara?” tanya Devan. 


“Ya... itu benar,” jawab Devan.


“Ya... aku memang menjebloskan Cathy dalam penjara,” jawab Gerre.


“Berarti kalau sampai detik ini masa tahanan yang dimiliki Cathy masih berlaku sampai sekarang. Yang jadi pertanyaan untuk sekarang ini adalah siapa yang mengeluarkan Cathy dari dalam tahanan?” tanya Devan yang tidak sengaja membuat Gerre sadar.

__ADS_1


__ADS_2