Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
AKU BENCI WAJAH KAMU.


__ADS_3

"Aku pun juga sama merasakan hal itu," jawab George.


"Tapi kamu tahukan kalau ada satu kasus yaang menggemparkan dunia persilatan. Tentang kasus penculikan anaknya Tuan Devan?" tanya Matias.


"Yang mana? Maksud kamu Dewa?" tanya Goerge.


"Oh... Bukan dia. Tuan Devan memiliki seorang putri bernama Andita Cahya Kamila. Dia adalah anak keduanya tuan Devan bersama Nyonya Tara," jawab Matias.


"Berarti anaknya Dewa ya?" tanya Goerge.


"Bukan. Dia adalah adiknya Dewa," jawab Matias.


"Lalu masalahnya apa? Sampai kasus ini menggemparkan dunia?" tanya Goerge.


"Kasus ini hampir dengan kasusnya Sascha. Tapi bedanya Sascha menghilang. Lalu Dita ketemu selama beberapa jam setelah penculikan tersebut," jawab Matias.


"Maksudnya?" tanya Goerge.


"Ya... Maksudnya setelah terjadi penculikan. Dewa langsung menghubungi Tara. Dia menceritakan kronologinya secara mendetail. Setelah itu Tara mengerahkan pasukannya. Terjadilah Black Tiger mengejar mereka. Enggak sampai berapa lama, ada seorang agen mata-mata membawa Dita dan memberikannya ke Tara. Aku pernah menyelidiki kasus ini secara diam-diam bersama Devan. Aku tahu kasus ini hanyalah permainan mereka. Orang yang menculik Dita adalah orang yang sama. Jadi bisa dikatakan satu orang menculik dan membawanya kemana. Orang itu menyuruh pengawalnya dan memantau keadaan rumah. Dia juga bekerja sama dengan salah satu pengawal dan pelayannya dengan memberikan uang sejumlah yang diinginkan oleh mereka. Jika sang pemilik rumah itu tidak mencarinya. Bisa dikatakan orang itu menjualnya ke mafia. Kalau sang pemilik rumah itu mencarinya, maka dia akan memberikannya. Dengan bayaran sangat fantastis," jelas Matias.

__ADS_1


"Kok lucu sekali ya? Aku mulai curiga kepada mereka," tanya Goerge yang ingin tertawa.


"Hanya kedok dan permainan si nenek sihir saja. Menculik dan menjualnya dapat uang. Memberikannya juga mendapatkan uang. Istilah kotornya mereka itu memeras. Jadi tahu kalau orang itu meminta uang sebanyak mungkin. Apalagi orang itu sudah mengetahui keadaan ekonomi sang penculiknya itu," jelas Matias lagi.


"Sulit untuk dijabarkan satu persatu," ucap Goerge.


"Memang sulit untuk dijelaskan. Jadi ketika memeras Tara, mereka tidak berani sama sekali. Mereka membiarkan saja dan memberikan secara cuma-cuma," ujar Matias.


"Aku bisa membayangkan jika Tara mengamuk dan bisa membakar markas itu dan menuntutnya hingga ke mahkamah internasional," kata Goerge bergidik ngeri.


"Keren juga. Makanya Black Tiger sudah membidik orang tersebut. Jika saja mereka melakukannya lagi. Maka dirinya akan hancur berkeping-keping," beber Matias.


"Bukannya yang membidik Dewa?" tanya Goerge.


"Sangat mengerikan. Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Goerge.


"Tunggu kabar dari Gerre dan Tara. Aku yakin mereka akan turun tangan untuk melakukannya," jawab Matias sambil menengguk wine yang berada di hadapannya.


Mereka terdiam dan memikirkan bagaimana cara menyingkirkan nenek sihir itu. Ini sangat lucu sekali bagi mereka. Firasat mereka mengatakan kalau agen mata-mata ternyata adalah orang yang sangat kuat sekali dalam kasus human trafficking. Yang lebih parahnya lagi, mereka sengaja melakukannya dan memiliki sejuta cara. Agar semuanya tidak terendus oleh pihak kepolisian setempat. Namun mereka harus berhati-hati untuk menangani kasus ini. Jackie Lari adalah seorang yang berpengaruh di dunia ini. Maka dari iru mereka memilih untuk diam dan menunggu komando dari Gerre maupun Tara.

__ADS_1


Di dalam pesawat Sascha memutuskan untuk bermain permainan yang membuat Dewa terkejut. Ia bermain bubble shooter. Meskipun tidak pernah memegang senjata, Sascha selalu saja menang bermain itu. Hingga akhirnya Sascha memberikan tab-nya ke Dewa.


"Ini untuk kamu," ucap Sascha yang sengaja menyodorkan tab tersebut.


"Kenapa?" tanya Dewa yang meraih tab tersebut.


"Aku bosan mau bermain apa? Permainan mafia juga sudah level tertinggi. Semuanya sudah ketebak satu sama lain," jawab Sacha sambil cemberut dan melihat ke arah jendela.


Dewa tertawa terbahak-bahak. Ia baru menyadari kalau Sascha bisa saja bosan dengan permainan apapun. Padahal jika berada di sampingnya, dirinya tidak memperdulikan.


"Apakah kamu tidak melihatku?" tanya Dewa dengan penuh percaya diri.


"Lalu?" tanya Sascha balik yang tetap saja tidak melihat ke arah Dewa.


"Ya... Kalau kamu bosan bermain tab. Biasanya kamu melihat wajahku," jawab Dewa.


"Jujur untuk saat ini hingga beberapa bulan ke depan aku sangat membenci kamu. Terutama pada wajah kamu itu," jawab Sascha dengan kesal.


"Apa?" pekik Dewa. "Apakah wajahku sangat membosankan buat kamu?"

__ADS_1


"Aku ingin muntah melihat wajah kamu. Lebih baik aku melihat awan saja," jawab Sascha.


"Kenapa dengan istriku?" tanya Dewa yang mulai merasakan Sascha membencinya,


__ADS_2