Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENDAPAT TEGURAN.


__ADS_3

"Sepertinya tubuhku kedinginan," jawab Dewa polos.


"Ya terserah," ucap Sascha yang malas dengan rayuan Dewa.


Sascha segera memesan nasi soto ayam Lamongan dua porsi dan minuman hangat. Sambil menunggu Sascha memandang tabnya dan mengecek bahan meeting tersebut. Hari ini Sascha dalam keadaan baik. Jadinya Sascha bisa berkonsentrasi.


"Pak, bisakah setelah dari Seoul aku meminta izin?" tanya Sascha.


"Izin ke mana?" tanya Dewa.


"Tokyo. Aku harus menyerahkan beberapa dokumen ke pusat," jawab Sascha.


"Kalau begitu aku ikut," jawab Dewa.


"Pak... Hanya dua jam aku ke sana. Setelah itu aku kembali ke Jakarta," ujar Sascha.


"Kalau begitu kamu akan berangkat sama saya memakai jet pribadi," sahut Dewa.


"Hmmp... Bisakah aku tidak memakai jet kamu? Aku ingin melanglang buana ke negeri orang tanpa bantuan kamu," tanya Sascha.


"Hmmp... Hey... Bisakah kamu mengerti siapa aku sebenarnya?" tanya Dewa.


"Kamu adalah bosku," jawab Sascha.


"Argh!!!" geram Dewa.


"Ya baiklah. Kamu adalah calon suamiku," kesal Sascha. "Dengarkan aku Wa... Meski kamu adalah calon suamiku... Tapi aku tidak mau memakai barang-barang pribadi kamu. Aku ingin menjadi wanita mandiri!"


"Mengertilah Sa. Barangku barangmu. Kamu tidak boleh menolak itu!" titah Dewa.


Sascha menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah sang calonnya itu. Sumpah demi apa Sascha ingin mandiri dan tidak mau memakai fasilitas yang dimiliki calonnya. Lebih baik Sascha memakai pesawat komersil.


"Pokoknya aku mau ikut sama kamu! Titik enggak pake koma!" titah Dewa.


Terpaksa Sascha menurut apa kata Dewa. Mau bagaimana pun Sascha harus menuruti Dewa. Ah... Memang dari dulu Dewa ingin menjadikan Sascha sebagai sang ratu.


"Hmmp... Terserah dech. Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada kamu? Ini soal Billi. Kalau enggak ya aku tidak jadi tanya," tanya Sascha yang memandang wajah Dewa.


"Tanya saja. Aku pasti menjawabnya," jawab Dewa.

__ADS_1


"Apakah Billi dan Risa berpacaran? Kok akhir-akhir ini aku bermimpi bertemu Billi dengan Risa,"tanya Sascha.


"Selama Billi berpacaran sama kamu. Billi bermain dengan Risa di belakangmu. Billi dan Risa sering memesan hotel dan melakukan hubungan yang seharusnya tidak terjadi. Selain Risa, Billi juga melakukannya dengan orang lain. Jadi jika kamu membanggakan Billi dan mengaguminya sebagai orang baik. Itu salah besar Sa," jawab Dewa. "Sekarang kamu mengertikan siapa Billi sebenarnya? Aku berharap mata dan hatimu terbuka."


Sascha menghembuskan nafasnya secara kasar. Lalu Sascha menganggukan kepalanya sambil berkata, "Aku paham."


"Good girls," ucap Dewa yang mengusap-usap kepala Sascha.


"Terima kasih. Karena kamu sudah memberikan penjelasan tentang Billi," ucap Sascha dengan tulus.


"Sekarang kamu tidak perlu takut lagi. Karena kamu adalah milikku. Aku bisa membalikkan keadaan Billi hingga ke jurang neraka. Aku bisa menghancurkan keluarga Billi dalam waktu sekejap," batin Dewa.


"Sama-sama," balas Dewa.


Tak lama datang pesanan mereka. Mereka akhirnya menyantap soto ayam itu. Di meja lain Gerre memperhatikan Sascha yang bahagia. Ada senyum yang terukir dari mulutnya. Gerre pria paruh baya yang memiliki sifat dingin dan kejam. Gerre yakin wanita bersama Dewa adalah putrinya sendiri.


Dewa yang selesai sarapan segera mengajak Sascha pergi ke aula hotel. Namun sebelum pergi, Sascha melihat Gerre yang sedari tadi memperhatikannya. Sascha semakin bingung apa yang dilakukannya sekarang. Apakah Gerre adalah orang jahat? Atau Gerre adalah sang penguntit? Jika Gerre penguntit, kenapa Dewa tidak cemburu? Menurut Sascha ini sangat aneh sekali.


"Kak," panggil Sascha.


"Ada apa?" tanya Dewa.


"Aku ingin bicara sama tuan Gerre untuk memprotes sikapnya sedari tadi yang memandangiku!" kesal Sascha yang sebenarnya tidak suka diperhatikan.


"Maaf tuan. Bisakah saya duduk di sini?" tanya Sascha yang meminta ijin.


Gerre tersenyum manis menatap Sascha. Gerre menunjuk kursi kosong dan mempersilahkan Sascha duduk di hadapannya, "Silahkan."


Sascha menghempaskan bokongnya lalu menatap Gerre. Entah ada ikatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hatinya seakan terikat dengan pria paruh baya itu di depannya.


"Apakah saya boleh bertanya?" tanya Sascha.


"Tolong jangan memakai bahasa formal. Sebaiknya kita berbicara dengan santai," pinta Gerre yang menghangatkan suasana.


"Baiklah," ucap Sascha. "Kenapa tuan sedari tadi menatapku? Apakah ada yang salah denganku?"


"Tidak. Kamu tidak salah," jawab Gerre. "Kamu tahu kenapa aku selalu menatapmu?"


"Ya... Maaf," jawab Sascha yang tersenyum karena menutupi sungkannya.

__ADS_1


Melihat Sascha yang tersenyum, hati Gerre bahagia sekali. Gerre teringat masa-masa di mana Chloe tersenyum, "Hey... Kamu enggak salah. Kamu tahu kenapa aku memandangmu seperti itu?"


"Aku tidak tahu," jawab Sascha jujur.


"Kamu mirip sekali pada putriku yang hilang," ucap Gerre.


"Apa maksudnya?" tanya Sascha yang tidak paham.


"Aku telah kehilangan putriku lima belas tahun yang lalu," jawab Gerre.


"Hmmp... Kalau boleh tahu, siapa putri anda tuan? Barangkali aku membantu mencarinya jika waktu senggang," tanya Sascha.


"Waktu senggang kamu sering ke mana?" tanya Gerre.


"Aku sering bermain ke panti asuhan dan berkumpul bersama anak-anak jalanan bersama Kak Dewa dan Dita," jawab Sascha.


"Kalau begitu, apakah aku boleh ikut?" tanya Gerre.


"Boleh. Jika tuan tidak keberatan," jawab Sascha.


"Bisakah saya meminta foto putri anda?" tanya Sascha. "Siapa tahu saya membantu mencarinya?"


"Baiklah. Sebelum itu aku boleh meminta nomor pribadimu?" tanya Gerre.


Sascha menganggukan kepalanya. Lalu Gerre memberikan ponselnya ke Sascha. Kemudian Sascha meraihnya dan menulis nomor ponsel pribadinya. Setelah itu Sascha memberikan kepada Gerre.


"Thank's," jawab Gerre dengan tersenyum manis sambil meraih ponselnya.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Sascha.


"Baiklah," balas Gerre. "Selamat bekerja dan tetap semangat."


Sascha tidak menjawabnya dan melambaikan tangannya. Gerre melihat lambaian tangannya itu sangat mirip dengan sang istri. Gerre tersenyum dan berkata dalam hati, "Fix... Kamu adalah putriku. Sebentar lagi aku akan melakukan tes DNA."


Sascha keluar dari restoran itu dan melihat Dewa. Sascha meminta maaf kepada Dewa karena terlalu lama mengajak mengobrol Gerre. Namun Dewa tidak marah malah tersenyum manis. Sepanjang perjalanan Sascha bertanya kepada Dewa, "Apakah kamu tidak marah kepada tuan Gerre? Kamu tahukan kalau tuan Gerre itu pria? Kebanyakan orang sepertimu sangat marah. Jika sang wanitanya mengobrol dengan pria lain?"


"Tergantung," jawab Dewa.


"Lalu?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Aku enggak marah. Kamu tahu tuan Gerre adalah pria sopan. Tuan Gerre tidak pernah memiliki kasus atau skandal dengan wanita mana pun. Kamu sangat beruntung sekali bisa mengajaknya ngobrol dan memegang ponselnya. Saat kamu melambaikan tangannya ketika keluar. Tuan Gerre tidak marah. Malahan aku lihat Tuan Gerre orangnya sangat hangat sekali," jawab Dewa yang mengerti tentang Gerre.


"Apakah kamu melihatnya?" tanya Sascha yang bingung.


__ADS_2