
Setelah melakukan perjalanan jauh, mereka memutuskan untuk menyewa hotel. Di sana mereka memesan hotel masing-masing.
Sascha yang sudah lelah menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk. Ia menatap langit-langit sambil berkata, "Kenapa kejadian ini sangat cepat sekali? Setelah kematian orang tua angkatku. Aku mendengar kakek angkatku juga sakit. Aku bingung harus berkata apa."
"Nggak usah ngomong ya nggak apa-apa. Aku nggak akan marah," sahut Dewa yang membuat istrinya tersenyum.
"Kamu tahu nggak?" Tanya Sacsha yang tidak beranjak dari tempatnya itu.
"Aku nggak tahu. Aku sendiri saja bingung. Kita sebenarnya sama-sama bingung. Bingung tentang kehidupan. Contohnya saja aku nggak menyangka kalau Bu Nirmala dan Pak Andika meninggal secara mendadak. Padahal yang aku tahu mereka itu adalah orang baik. Saking baiknya aku sering mendapatkan wejangan demi wejangan untuk menjalani hidup. Makanya kamu seperti Ibu Nirmala yang tiba-tiba saja bijak. Di sisi lain kamu sering memujiku. Tapi kamu sering menjatuhkanku hingga ke bawah. Bagiku tidak apa-apa. Karena aku sudah biasa. Biasa disakiti oleh orang-orang sekitar," jawab Dewa yang melihat ke luar sambil merangkai kata-kata untuk membuat puisi yang aneh.
"Artinya kamu menyesal gitu?" tanya Sascha.
"Enggak. aku hanya belajar membuat puisi yang bertemakan patah hati," jawab Dewa sambil membalikkan badannya dan tersenyum manis.
"Itu mah bukan puisi. Tapi kata kiasan yang membuat orang sakit hati. Sepertinya kamu cocok dengan kata-kata seperti itu. Rasanya kamu hobinya suka menyindir orang," jelas Sascha.
"Itu bukan hobi tapi pekerjaan. Jika kau tidak menyindir orang-orang itu. Aku bisa diinjak-injak oleh mereka," jelas Dewa.
"Ya Kakak benar. Lama-lama aku jenuh sama orang-orang seperti itu," Sascha menghilang nafasnya ketika ingat dengan seseorang yang di mana pernah mempermalukannya.
"Makanya... Kamu jangan berhenti seperti itu. Kamu masih ingat nggak pesan dari Bu Nirmala sama bapak Andika. Mereka berpesan agar kamu menjadi gadis yang kuat," celetuk Dewa.
"Aku bukan gadis lagi tahu. Aku sekarang menjadi wanita. Wanita seseorang yang sangat posesif sekali," ungkap Sascha kepada Dewa.
"Pria pasti positif kepada wanitanya. Karena wanitanya itu adalah wanita yang sempurna di matanya. Jika priamu itu posesif, kamu harus bangga mendapatkan pria seperti itu. Sebab pria seperti itu sangat langka sekali. Sangking langkanya banyak wanita-wanita yang tua maupun muda yang belum menikah dan sudah menikah akan mengejar pria tersebut," pesan Dewa kepada sang istri.
"Jangan bilang kamu ingin menjadi pujangga cinta. Jika itu terjadi maka siap-siaplah sakit hati seperti Cut Pat Kay. Karena Cut Pat Kay itu sering merasakan kegagalan cinta," pesan saja yang menohok.
"Ah sudahlah... Orang mau bikin puisi tentang cinta malah diledek. Untung saja aku sudah menghabisinya," Dewa menghambatkan tubuhnya di atas ranjang.
Sascha tertawa terbahak-bahak melihat sang suami sedang kesal. Bisa-bisanya dirinya ngeledek sang suami. Tapi Dewa tidak pernah marah sekalipun. Malah Dewa ingin mendengar Sascha berceloteh seperti itu
__ADS_1
Tiba-tiba saja Sascha berhenti dari tawanya. Wanita itu pun langsung terdiam dan memandang wajah Dewa. Lalu dirinya tersenyum sambil berkata, "Maafkanlah Aku. Aku tidak sengaja ngeledekmu seperti itu. Jujur aku nggak suka punya suami yang terlalu mengumbar kata-kata mesra. Aku ingin punya suami menyatakan perasaannya dengan perbuatan."
"Sekali-sekali kan boleh. Karena dirimu itu sangat spesial buat aku. Saking spesialnya Aku pengen memakanmu dicampur sama telur," ledek Dewa yang menatap wajah istrinya sangat menggemaskan.
Beberapa saat kemudian ponsel Dewa berdering. Kemudian Sascha meraih ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar benda pipih itu. Matanya membulat sempurna karena yang menghubungi adalah Jaya.
"Dari mana Jaya tahu nomor teleponmu?" tanya Sascha sambil menyodorkan ponsel itu.
"Oh itu... Memang dari dulu kita sudah bersahabat. Kalau nggak salah zaman SMP. Kamu tahu nggak kenapa persahabatan aku dan Jaya retak bahkan pecah seperti ini?" tanya Dewa balik.
"Aku nggak tahu. Aku hanya melihat kalian bermusuhan dan tidak bertegur sapa sama sekali. Kenapa kamu melakukan seperti itu!" tanya Sascha yang mulai serius.
"Dari dulu hubungan kami itu baik-baik saja. Kami sering berkunjung bergantian. Sekarang tidak malah saya sendiri yang membuat statement kalau aku musuhnya," jawab Dewa. "Semenjak Jaya kenal Risa, kehidupan Jaya rusak. Sedari dulu saya memiliki kepribadian yang baik. Saking baiknya hampir setiap minggu aku dan Jaya membuat nasi kotak dan membagi-bagikan ke panti asuhan."
"Aku nggak tahu kenapa Risa seperti itu. Aku sendiri nggak paham dengan sifatnya itu. Terkadang dirinya bisa menjadi baik. Sering sekali dirinya menunjukkan sifat jahatnya. Waktu kuliah dulu Risa terkenal dengan satu image yaitu sadis. Banyak orang-orang yang tiba-tiba saja terkena Bullyan Risa. Bahkan yang lebih parahnya lagi ada yang sampai meninggal gara-gara omongannya Risa. Tapi Risa tidak merasa bersalah. Malah sangat bahagia ketika temannya ada meninggal. Itulah mengapa Risa mendapat image seperti itu?" jelas Sascha yang mengetahui sifat Risa.
Kemudian Dewa mengangkatnya dan menyapa Jaya yang berada di seberang sana, "Halo bro."
"Gue sekarang berada di Nagoya," jawab Dewa. "Memangnya kenapa?"
"Syukurlah lu berada di sana. Lu tahu nggak Risa menuju ke Nagoya?"
"Tahu... Beberapa jam setelah sampai ke Labuhan Bajo, keluargaku menyusul kami untuk pergi ke Nagoya. Soal Risa aku sudah tahu itu," jawab Dewa.
"Kamu mau tahu nggak? Kenapa bisa berada di Nagoya?" tanya Jaya.
"Oh kalau itu gue nggak tahu. Gue ke sini hanya untuk berkunjung ke Kakek Aoyama. Kesehatan kakek gue sudah mulai menurun. Gue kasihan sama kakek. Gara-gara kesibukan gue jarang sekali bertemu saudara tatap muka," jawab Dewa. "Memangnya kenapa Risa ke sini?"
"Risa mau membunuh kakekmu. Menurut informasi yang gue dapetin tujuan Risa ke sana adalah itu," jawab Jaya.
"Oh baguslah... Ternyata semakin hari bisa membuat ulah sama aku. Jangan sampai lady mafiaku sarung tangan. Jika sampai turun tangan aku tidak akan pernah menghentikannya sama sekali!" geram Dewa.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" Tanya Jaya.
"Sascha sudah menjadi lady mafia. Jika lady mafiaku ngamuk aku membiarkannya saja," jawab Dewa yang membuat Jaya terkejut.
Jujur Jaya terkejut dengan pernyataan Dewa. Selama ini saya tahu kalau Sascha adalah musuh berat Risa. Jika begitu Jaya angkat tangan dan tidak ingin membantunya. Yang lebih parahnya lagi Risa berencana untuk menghabisi Sascha.
"Lu tahu kalau Risa itu sudah nganggap saja adalah musuh bebuyutannya. Billi sudah diklaim sama dia. Dan gue sekarang juga sudah diklaim oleh Risa. Semenjak pertunanganku batal sama Sascha, aku belum pernah bertemu sama sekali. Dia menuduhku berselingkuh dengan Sascha. Tapi sebuah kenyataan yang tidak pernah kulakukan. Yaitu selingkuh sama Sascha. Itu hanya untuk menggertak Risa. Ujung-ujungnya Risa mengancamku agar bisa membunuh wanitamu. Itulah kisah dari SASCHA dan Risa," kesal Jaya. "Gara-gara dia juga hubungan kita berdua menjadi renggang. Aku pengen hubungan kita seperti dulu. Aku pengen kamu memaafkanku."
"Aku selalu memaafkanmu. Aku tidak pernah dendam sama kamu. Tapi kamunya saja yang mulai menjauh dariku. Terkadang kita itu bodoh. Sangking bodohnya kita diadu domba oleh Risa. Makanya itu hubungan kita renggang seperti ini. Kamu ada di mana Jay?" tanya Dewa.
"Aku mau ke Nagoya untuk membantu kalian agar bisa tidak membuat ulah," jawab Jaya dengan tulus.
"Gue tunggu lo. Nanti gue share di mana gue tinggal," ucap Dewa yang mau menerima Jaya sebagai sahabatnya lagi.
"Okelah kalau begitu. Aku ingin pergi dulu," pamit Jaya.
Setelah mendapat telepon dari Jaya, Dewa menghembuskan nafasnya secara Baru kali ini Dewa mau berbicara kepada Jaya. Kenapa tidak di dulu hubungan ini menyambung menjadi satu? Itulah yang menjadi pertanyaan untuk biaya dan Dewa.
"Ada apa?" tanya Sascha.
"Jaya ngasih tahu kalau Risa ingin membunuh kakek. Makanya saya menghubungi aku. Biasanya saya tidak pernah menghubungi aku sama sekali," jawab Dewa.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku ingin hubungan kalian bersatu lagi kayak dulu. Aku nggak mau kalian bermusuhan seperti ini," pinta Sascha yang menginginkan Dewa dan Jaya menjadi sahabat lagi.
"Kamu mau tahu nggak Kenapa kita bermusuhan seperti ini?" tanya Dewa.
"Ya aku tahu itu. Kalian memang diadu domba oleh Risa. Coba saja kalau dulu Risa tidak mengatakan saya kurang ajar atau gimana? Kalian pasti memiliki pertemanan yang solid. Aku sudah menebak semua itu," jawab Sascha.
"Ya kamu benar... Gara-gara Risa saja semuanya jadi hancur. Dulu mama sering menanyai kabar Jaya bahkan sampai sekarang. Soalnya mama sudah mengakui Jaya menjadi anaknya," timpal Dewa.
"Lalu, Apakah kalian akan bersatu?" tanya Sascha.
__ADS_1