
“Kamu nggak salah. Kamu harus tegas menjadi orang agar tidak ditindas. Nanti setelah ini kita antarkan Kak Dewa ke apartemen. Lalu Aku ingin ikut bersamamu. Anggap saja aku adalah asisten pribadimu,” jawab Sascha.
“Bagaimana aku membayar kakak? Jika kakak tiba-tiba saja menjadi asisten pribadiku,” tanya Dita yang bingung membayar komisi untuk Sascha.
“Tidak usah membayar. Semuanya gratis untukmu. Aku juga sudah membawa laptop untuk mengerjakan seluruh pekerjaanku,” jawab Sascha.
“Baiklah,” balas Dita dan menuruti keinginan Sascha.
FLASHBACK ON.
Sebelum berangkat Dita keluar dari kamar dengan wajah murung. Dita sangat ketakutan sekali melihat Dewa. Beberapa saat kemudian Sascha keluar dari kamar dan menatap sang adik ipar. Lalu Sascha bertanya, “Ada apa?”
“Orang itu menerorku berkali-kali. Orang itu meminta sejumlah uang agar tidak menyebarkan video tersebut,” ungkap Dita sambil menatap wajah Sascha.
“Kamu nggak perlu takut sama orang itu. Kamu harus berani menghadapi orang itu. Jika kamu lemah seperti ini. Mereka akan memakai kelemahanmu untuk memeras seluruh tabungan yang kamu punya. Jadi Aku sarankan, kamu angkat telepon itu. Dan bilang saja sebar video tersebut. Jujur... Aku sudah mengecek itu video bukan kamu. Itu video milik orang lain. Yang di mana dia menjadi peran utamanya,” jelas Sascha.
__ADS_1
“Menurutlah pada Kakak iparmu. Cepat atau lambat orang itu terus-terusan menghubungimu. Biar mereka mendapatkan uang tersebut. Jika kamu tegas dan menyuruhnya menyebarkan. Maka Kakak iparmu memiliki sebuah rencana. Kita lihat saja nanti rencana yang sebenarnya akan menjadi bom waktu buat orang itu,” jelas Dewa.
Dita akhirnya menganggukkan kepalanya. Di dalam hatinya Dita harus menguatkan hati kecilnya itu. Kemudian Dewa memegang pundak Dita sambil berkata, “Kamu adalah seorang putri dari Nakata’s. Yang di mana perusahaan itu sangat besar sekali. Kamu ataupun keturunanmu akan memimpin perusahaan itu. Mulai sekarang kamu harus memiliki sifat pemberani seperti Kakak iparmu itu.”
“Baik kak. Aku akan melawannya! Aku tidak akan tinggal diam,” jelas Dita.
FLASHBACK OFF.
Sepanjang perjalanan menuju kota Jakarta, Sascha mendapatkan pesan dari seseorang. Seseorang yang dimaksud oleh Sascha adalah mata-mata milik Black Tiger. Dirinya sudah meminta izin untuk mencari keberadaan orang itu. Kebetulan sekali sang mata-mata menemukan orang tersebut dengan cepat. Dengan senyumnya yang khas, Sascha berseru hingga mengagetkan Dewa, “Abang Dewa.”
“Kok Kak Dewa manggil aku Eneng sih?” tanya Sascha.
“Ya iyalah. Kamu memang manggil aku Abang. Makanya aku punya buktinya dengan manggil kamu Eneng,” sahut Dewa.
“Begini kak. Ternyata orang itu sengaja memeras Dita demi membalas dendam. Mereka sengaja melakukannya agar melihat Dita menderita secara fisik dan mental. Aku tadi sempat mengecek ponselnya Dita, orang itu tidak segan-segan menghubungi Dita sejam sekali. Jika tidak mengangkatnya, orang itu mengancam melalui pesan singkat. Nah... Sekarang aku tahu penyebabnya Dita menjadi takut seperti ini. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Aku tidak akan membuat mereka menjadi tenang. Kenapa mereka tidak kapok juga untuk membuat Dita menderita,” kesal Sascha.
__ADS_1
“Sekarang masalahnya apa? Apakah Dita membuat kesalahan sama orang itu? Jika masalah ini tidak ditemukan dengan baik, maka bisa jadi mereka tidak akan mau membuat kita menjadi tenang,” ucap Dewa.
Sesampainya di apartemen Dewa. Dewa menyuruh Dita ikut dengannya sebentar bersama Sascha. Dewa menyuruh Sascha mencari penyebabnya. Dengan kata lain Sascha harus bertanya secara mendetail pada Dita.
“Lebih baik kamu minta izin kepada produsermu untuk tidak masuk kerja hari ini. Jujur masalah ini harus diluruskan. Kita nggak bisa kucing-kucingan seperti ini. Aku akan menemui orang itu setelah kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Waktuku di sini tidak banyak. Bisa dipastikan paling lama tujuh hari. Kalau bisa dua hari kedepan masalah ini harus selesai!” tegas Sascha.
Dita pun menganggukkan kepalanya sambil menghempaskan bokong di sofa panjang bersama Sascha. Sedangkan Dewa, Dewa memilih untuk diam agar kedua wanitanya bisa berbicara dengan hati ke hati. Kemudian Dewa meraih ponselnya untuk bermain game online.
“Ayo kita bicara sekarang. Aku tidak ingin kita kucing-kucingan seperti ini. Aku dan kamu adalah seorang perempuan. Yang di mana hati perempuan itu sangat rapuh. Aku tahu kamu tidak bisa mencurahkan isi hatimu. Karena kamu takut sekali sama Kak Dewa. Jika takut seharusnya kamu mencurahkan isi hatimu ke aku. Aku akan menyediakan waktu untuk mendengar keluh kesahmu,” ucap Sascha dengan lembut.
Sambil memejamkan matanya, Dita memilih untuk diam. Sebelum mengeluarkan suaranya, gadis mungil itu menarik nafasnya dan membuangnya dengan pelan.
“Baiklah kalau begitu. Masalah ini sudah lama sekali. Jujur aku difitnah oleh orang itu. Sebenarnya orang itu adalah sahabat dekatku ketika sekolah. Kakak tahu sendiri kan kalau aku sekolah di sini. Saat kami berteman dengan baik, ada satu cowok yang mendekatiku. Namanya Nelson asli keturunan Tionghoa. Matanya sipit kulitnya putih seperti susu. Orangnya tinggi. Kami berkenalan dan menjadi teman baik. Saat itu sahabatku datang dan melihat Nelson. Aku memperkenalkannya. Entah kenapa Nelson tidak mau berkenalan sama sahabatku itu. Lama-kelamaan Nelson memperingatkanku kalau sahabatku itu bukan teman yang baik. Anggap saja sahabatku mengambil keuntungan dari pertemanan ini. Beberapa bulan kemudian aku mendapat panggilan dari rumah produksi. Aku disuruh menjadi pemeran figuran untuk sinetron cukup terkenal pada saat itu. Peranku tidak banyak dan berhasil membuat orang terpukau. Gara-gara peranku itu produser memintaku untuk menjadi pemeran figuran lagi. Setelah itu temanku berubah menjadi aneh. Dia tidak mau disapa dan ditegur sekalipun. Aku memutuskan untuk diam saja. Hingga hari kelulusan tiba, temanku bilang begini, seharusnya aku yang menjadi pemeran figuran saat itu. Kok jadinya kamu yang diterima. Kamu sudah main serobot saja peran itu. Aku nggak suka dengan gayamu. Suatu hari nanti aku tidak ingin berteman denganmu. Karena kamu tukang mengambil rezeki orang. Sampai saat ini dia tidak mau menyapa aku. Dia juga mengancamku akan menghancurkan karirku sebagai pemain film. Itulah masalah awalnya Kak. Aku sendiri capek dan tidak menghiraukan orang itu. Tapi lama-kelamaan orang itu sudah berbuat yang tidak wajar. Diam-diam dia sering menjebakku dan melemparkan tubuhku ini ke pria hidung belang. Jika Kakak atau Kak Tommy tidak mengajakku ke mana. Kemungkinan besar aku yang kena. Bahkan jika aku hamil tanpa suami, orang itu akan bertepuk tangan dan menertawaiku,” jelas Dita sambil menatap wajah kakak iparnya itu.
“Jadi masalah sepele seperti itu, kamu mendapatkan teror seperti ini. Lama juga kamu memiliki masalah ini. Kenapa kamu tidak memberitahukannya kepada kakak? Jika kamu memberitahukannya pada waktu itu, aku akan turun tangan untuk membereskannya. Aku tidak habis pikir dengan temanmu. Kenapa semuanya bisa terjadi?” ucap Sascha.
__ADS_1
“Di mana alamat orang itu?” tanya Dewa dengan tegas dan tidak melihat Dita sedikitpun.