Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PENGAKUAN SASCHA.


__ADS_3

"Kamu belum tahu rencanaku sebenarnya. Jika kamu tahu rencanaku sebenarnya. Kamu pasti terkejut mendengarnya. Aku yakin itu," jawab Dewa.


"Rencana apa itu? Bolehkah aku tahu rencana itu?" tanya Sascha.


"Aku sedang mengkoordinasi papa Devan dan papa Gerre. Papa Devan sedang menuju ke sini. Kamu tahu nggak kalau Damar itu adalah musuh bubuyutan papa Devan?" jawab Dewa sambil bertanya kepada Sascha.


"Aku nggak tahu itu. Pokoknya yang penting aku sudah menghancurkan mereka," ucap Sascha.


"Aku berpesan kamu jangan pernah lengah sedikitpun. Bisa saja Cathy akan membalaskan dendamnya kepadamu," bisik Dewa. "Cepat atau lambat Cathy akan melakukan playing victim. Aku harap kamu paham akan hal itu."


"Aku sudah menunggunya. Aku akan melayaninya dengan senang hati. Berperang sama orang-orang serakah seperti itu membuatku sangat muak. Seandainya aku sudah lahir pada zaman dulu. Akulah orang yang pertama menentang nenek memberikan sebagian untuk mereka. Tapi Aku lahirnya zaman sekarang. Makanya aku tidak bisa melarang sang nenek memberikan itu kepada Cathy," kesal Sascha.


"Kenapa kamu kesal seperti itu? Sudah seharusnya kita berbagi kepada orang-orang?" tanya Dewa.


"Aku lebih suka membagi uangku kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Yang tidak memiliki jujur kalau aku membagi sama orang itu. Kemungkinan orang itu meminta lebih. Contohnya aja sudah ada. Cathy mendapatkan sebagian untuk membuka usaha malahan dipakai hal yang tidak berguna untuk dipamerkan kepada teman-temannya," jawab Sascha yang mendapat anggukan dari Dewa.


"Memang kamu benar. Uang yang diberikan oleh nenek jumlahnya tidak terbatas. Membuat 3 perusahaan sekaligus juga bisa. Asalkan mampu bersaing dengan sehat sama orang-orang. Itulah kenapa aku sudah menganalisa semuanya," ucap Dewa sembari menganalisis keadaan.


"Kapan masalah ini akan selesai? Aku sendiri tidak tahu. Ingin membabat habis mereka semua. Apakah aku bisa merubah dewan direksi? Apakah aku bisa merubah semuanya?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Kamu bisa semuanya. Asalkan kamu memiliki saham lebih dari lima puluh persen," jawab Dewa.


"Dari mana aku bisa mendapatkan saham itu? Aku tidak memiliki saham apapun di sana. Karena Aku baru masuk ke keluarga Atmaja baru-baru ini," ucap Sascha.


"Tenanglah. Aku akan bekerja sama dengan Leo dan Bima. Kedua orang itu memiliki jiwa yang licik. Aku akan memberikan tugas kepada mereka untuk mengancam seluruh pemegang saham menjual sahamnya. Jika mereka berhasil aku akan memberikan beberapa saham dari perusahaanku," jelas Dewa.


"Bagaimana caranya mereka memaksa orang-orang itu menjual sahamnya? Sedangkan mereka tidak akan pernah melepaskan saham itu. Bukankah kamu tahu kalau saham Khans Company sekarang memiliki nilai jual tinggi? Atau jangan-jangan mereka sengaja menurunkan harga saham dan membimbingnya secara besar-besaran," ujar Sascha sambil menganalisis mereka berdua.


"Itulah cara licik mereka. Mau tidak mau mereka menurunkan harga saham itu hingga ke jurang. Paling saham itu akan bertahan selama seminggu. Kemungkinan besar pendapatan perusahaanmu juga ikut-ikutan terkena imbasnya. Apakah kamu mau seperti itu? Jika kamu mau maka aku yang akan memberikan perintah kepada mereka untuk segera bekerja," ujar Dewa sambil bertanya kepada Sascha.


"Jika pendapatan kita turun, Aku harus bagaimana? Papa akan marah-marah," jelas Sascha.


"Ya sudah deh. Lebih baik hari ini kita menikmati suasana pantai yang sangat indah sekali," pinta Sascha.


Sore menjelang malam pasangan suami istri itu sedang menikmati matahari terbenam. Matanya sangat indah sedang melihat keindahan alam. Sedangkan Dewa sibuk dengan ponselnya. Dewa mengkoordinasi kepada pengacaranya untuk bersiap-siap. Ia akan menyelidiki Cathy tentang rumahnya Dita.


"Aku masih penasaran dengan rumah itu. aku akan meminta pengacaraku untuk menyelidiki rumahnya Dita," ucap Dewa yang tiba-tiba saja mengingatkan Sascha tentang rumah itu.


"Ah iya... Aku juga baru sadar akan hal itu. Berarti selama ini kamu tahu?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Iya aku tahu itu. Ketika Dita berkunjung ke New York. Dia ingin sekali pergi ke rumahnya itu. Ketika sudah sampai sana Dita masuk ke dalam rumah itu. Diam-diam Dita masuk ke dalam kamar dan melihat kamarnya berantakan. Dita sempat berpikir apakah rumah ini ditinggali oleh Mama atau papa. Tapi tidak mungkin kalau mereka menempati rumah ini. Setahu Dita mereka memilih tinggal di apartemen. Karena jarak apartemen ke perusahaan sangat dekat sekali. Saking dekatnya mereka bisa berjalan kaki untuk menuju ke sana. Tapi ini sangat beda sekali. Dita mencari yang berani tinggal di tempat ini. Akhirnya yang menempati rumah itu datang. Dita malah terusir dari rumahnya sendiri. Dia tidak bisa menunjukkan surat-surat itu kepada penghuni di sana. Kalau rumah ini adalah miliknya. malahan yang menempati rumah itu mengusir Dita dan menganggapnya sebagai pencuri. Dengan kesal Dita kembali ke Jakarta dan mengadukan hal ini ke aku. Pas waktu itu aku sedang sibuk meresmikan beberapa gedung di Asia. Dengan terpaksa aku tidak mengurusinya sama sekali. Eh sekarang kasus itu terbuka kembali. Kemungkinan besar surat itu berada di mansion. Tapi aku sangat sedih sekali. Karena ulahmu rumah Dita menjadi terbakar," beber Dewa sambil tertawa terbahak-bahak.


Sascha mengerutkan keningnya karena bingung. Kenapa bisa sang suami tertawa ketika menceritakan asal muasal Dita meminta rumah itu. Ia langsung memukul lengan kekar Dewa. Lalu Sascha bertanya, "Kenapa kamu tertawa seperti itu? Harusnya kamu marah sama aku. Soalnya rumah itu sudah terbakar hangus."


"Itu tidak penting. Lagian juga kalau Dita tahu bakalan tertawa. Bukannya sedih malah bahagia. Coba bayangkan jika Dita melihat rumah itu dan ada penghuninya tanpa izin. Pasti Dita akan kecewa dan marah. Bahasa kasarnya enak saja tinggal di sini tanpa pemberitahuan. Lalu mengklaimnya begitu saja," jelas Dewa.


"Tapi kan aku nggak enak hati. Kamunya sih tidak melarangku," kesal Sascha.


"Gimana mau melarang. Jika kamu sudah mengancamku dan tidak memberikan aku data selama 3 bulan. Lalu bagaimana dengan pusakaku itu?" tanya Dewa. "Biarkanlah rumah itu terbakar asalkan aku tidak kehilangan jatah selama tiga bulan."


Sontak saja Sascha terkejut karena ulah Dewa. Namun ia tertawa terbahak-bahak. Memang saat memberikan tugas Sascha tidak berpikir dengan jernih. Malahan dirinya mendapatkan badai dahsyat. Ingin rasanya Sascha mengajak Dita. Kemudian memperlihatkan rumahnya hangus terbakar.


"Apakah kamu tidak bilang kepada Dita kalau rumahnya terbakar?" tanya Dewa yang menghentikan tawa Sascha.


"Bagaimana aku bilang? Hari ini kita absen sebentar lalu pulang ke Jakarta. Sepertinya aku memiliki firasat. Firasat di mana semuanya tentang Dita. Aku tidak akan melepaskan Dita begitu saja ketika syuting. Ada seorang pria yang bekerja sama dengan pemeran pembantu yang ingin menghancurkan Dita," jawab Sascha.


"Kalau begitu ya sudahlah. Kamu pesan dulu gih tiketnya ke Jakarta. Sementara kita memakai pesawat komersil," pinta Dewa.


"Kamu nggak usah ikut. Biarkan aku ke sana sendirian. Jika kamu ikut papa Devan bagaimana?" ucap Sascha.

__ADS_1


"Lalu kamu bagaimana?" tanya Dewa.


__ADS_2