
"Aku nggak memiliki kesalahan apapun. Lalu Kenapa mereka marah kepadaku?" Tanya Dewa yang bingung dengan pertanyaan Devan.
"Bayangin saja. Sudah jauh-jauh datang dari Amerika. Mereka ingin bertemu dengan Sascha. Lalu sorenya kamu mengurungnya hingga malam sekarang. Perasaanmu gimana Jo?" tanya Devan jika mulai marah dengan Dewa dan akan memanggilnya Jo.
"Kan aku nggak bermaksud untuk menyembunyikan. Aku hanya menyuruhnya untuk beristirahat saja," jawab Dewa
"Itu namanya menyembunyikan Dewa. Kamu itu gimana sih? Kok malah membuat orang pengen melemparmu saja," kesal Devan.
"Nggak gitu kali. Dari bangun tidur sampai siang nggak berhenti-henti. Aku nanti ada apa-apa dengan Sascha," ujar Dewa.
"Kamu jangan terlalu protektif seperti itu. Lagian hamil itu bukan penyakit. Hamil itu adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Biarkanlah istrimu bergerak dengan bebas. Dia juga butuh olahraga ringan. Apalagi nanti kalau sudah di kantor. Kantor malah nggak ada henti-hentinya. Setiap manusia bisa mengontrol tubuhnya masing-masing. Nggak kamu yang mengontrol tubuh istrimu. Lebih baik kamu ingatkan saja. Agar istrimu itu tidak terlalu over protektif. Sering-sering dia suruh istirahat agar tidak terlalu capek. Kalau kayak gitu ya kasihan. Dia malah tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi orangnya super dan bisa bergaul dengan siapapun. Terus kamu kekang? Ya nggak bisa. Jangan lakukan itu lagi. Kalau kamu gitu, bisa-bisanya istrimu tambah stres. Itulah nasehat dari papa. Hamil kamu sama Dita, mamamu Papa biarkan saja. Mau pergi ke mana saja terserah. Asal dia mengontrol kondisi tubuhnya. Apakah kamu mengerti soal itu?" tutur Devan sambil memberikan pesan buat sang putra.
Dewa menganggukkan kepalanya artinya paham. Memang Dewa terlalu sayang kepada Sascha. Bahkan dirinya terlalu overprotektif terhadap sang istri. Apa yang dilakukan oleh Dewa itu salah? Akhirnya Dewa sadar dan membiarkan sang istri bergerak dengan bebas.
"Mending kamu batalkan saja ke dokter kandungannya untuk sementara waktu. Biarkanlah saja mereka untuk bersenang-senang," ucap Gerre yang meminta Dewa agar membatalkan pergi ke dokter kandungan.
"Ya sudah kalau begitu pa. Terima kasih sudah menyadarkan aku. Kalau nggak, aku bakalan protektif sekali kepada Sascha," ujar Dewa.
"Sama-sama. Kamu coba deh riset ke beberapa karyawanmu. Kamu tanyakan saja perihal hubungan sama kekasihnya yang overprotektif. Nanti kamu akan tahu jawaban sebenarnya apa. Kalau mereka nyaman tidak apa-apa. Kalau mereka tidak nyaman, mereka akan putus. Soalnya nggak ada orang yang ingin terlalu tersiksa pada hubungan over protektif seperti itu. Apalagi istrimu itu adalah wanita yang sangat energik sekali," jelas Devan.
Dewa baru mengerti apa yang dikatakan oleh sang papa. Memang benar Dewa tidak perlu terlalu khawatir. Dewa sepertinya lupa siapa Sascha sebenarnya. Kalau sudah badannya drop, Sascha akan berhenti untuk beristirahat sejenak. Saat itulah tubuhnya mulai beristirahat total.
Malam ini Sascha memutuskan untuk tidur bersama para mama dan juga Dita. Sedangkan Dewa, memutuskan tidur di dalam kamar bersama para papa.
"Sudah malam. Apakah papa tidak tidur?" tanya Dewa.
"Nanti. Suasana di sini sangat sejuk sekali. Kemana yang lainnya? Kok dari tadi nggak ada yang muncul sama sekali," jawab Devan.
Baru saja ditanyakan, beberapa mobil mewah mau memasuki perkarangan rumah. Lalu Dewa menunjukkan mobil-mobil tersebut. Devan paham sambil tersenyum manis.
Tak lama Ian, Bima dan juga Leo segera mendekati Dewa. Ketiga orang itu sangat terkejut sekali. Mereka menatap Devan dan Gerre yang sudah berada di sini.
"Tumben-tumbenan papa berada disini?" tanya Bima.
"Kami memutuskan untuk liburan di sini selama seminggu," jawab Gerre.
"Apakah itu benar papa?" tanya Ian.
__ADS_1
"Ya itu benar," jawab Devan.
"Sebentar, jadi rumah ini siapa yang membelinya?" tanya Leo yang tiba-tiba saja sangat penasaran sekali sama sang pembeli.
"Kamu mau tahu siapa yang beli rumah ini?" tanya Gerre.
"Iyalah pa. Aku memang memutuskan untuk ke sini agar bisa menikmati kenangan yang telah terukir. Jadi hari ini adalah hari terakhirku untuk menikmati kenangan tersebut," jawab Leo dengan wajah sendu.
"Kenapa kamu bilangnya hari ini terakhir? Seharusnya kamu bisa melanjutkan mengukir kenangan di sini untuk selamanya," tanya Devan.
"Kenapa harus selamanya? Seharusnya rumah ini sudah terjual. Inilah hari terakhir kami disini," jawab Leo sambil bertanya balik kepada Devan.
"Akan aku kasih tahu siapa pemilik Sebenarnya rumah ini. Dia adalah Nyonya Chloe Atmaja," ucap Dewa.
"Siapa Wa?" tanya Bima.
"Nyonya Chloe Atmaja," jawab Dewa sekali lagi hingga membuat mereka terkejut.
"Apakah kamu serius dengan jawabanmu itu?" tanya Ian.
"Ayo ikut aku! Ada yang harus aku bicarakan soal ini," ajak Dewa yang beranjak berdiri lalu meninggalkan para papa.
"Mau membicarakan pekerjaan di perusahaan maupun disini," jawab Dewa yang berteriak sehingga mendapatkan anggukan dari Devan.
Dewa mengajak mereka menuju ke sebuah taman di belakang rumah. Mereka duduk dan menyuruh pengawal untuk mempersiapkan minuman beserta snacknya.
"Kamu serius yang beli Itu mamanya Sascha?" Tanya Leo.
"Ya itu benar. Dia membeli atas nama Aulia. Brian sendiri juga nggak tahu siapa yang membelinya. Bertepatan jam sebelas sang pembeli datang. Mereka langsung masuk ke rumah dan mencari Bryan. Seketika Sascha keluar lalu melihat mereka semuanya. Jadinya Rumah ini tidak akan jatuh ke mana-mana.kalian bisa mengunjungi rumah ini kapanpun," jelas Dewa.
"Ah pastinya. Kami akan ke sini Jika ada waktu. Lagian juga ini cam kami ketika bekerja di Surabaya. Dan Sascha pun sering kabur ke sini kalau sedang banyak pekerjaan," ucap Bima.
"Syukurlah. Rumah ini jatuh ke tangan yang tepat. Agar aku tidak kehilangan banyak kenangan disini," sahut Leo.
"Aku pun juga sama. Aku sangat mencintai tempat ini sama seperti Sascha. Oh ya, ada yang tahu nggak kabar dari nenek-nenek itu?" tanya Dewa.
"Nenek-nenek itu sangat cantik sekali. Beberapa jam yang lalu aku mendapatkan informasi dari mata-mataku. Dia telah melakukan sejumlah penipuan terhadap banyak orang. Aku nggak tahu motifnya apa. Yang pasti uang tersebut dibuat foya-foya," jawab Leo dengan jujur.
__ADS_1
"Berarti bahaya ya si nenek-nenek itu. Bisa-bisanya dia melakukan hal sama yaitu dengan penipuan," jelas Bima.
"Jangan kamu remehkan otaknya bro. Meskipun usianya sudah sangat tua. Tapi otaknya boleh juga. Sudah banyak sekali orang-orang tertipu sampai saat ini," sambung Leo.
"Kalau menurutku nggak bisa dibayangkan. Bukankah usia sudah lanjut harusnya beristirahat dan menunggu kedatangan cucu-cucunya," sahut Dewa.
"Percuma saja sama orang tersebut. Kamu sendiri juga nggak tahu. Bagaimana caranya untuk mengelabui sang korban. Dan pihak kepolisian sudah menerima laporan tersebut," ujar Leo.
"Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki rencana untuk mengambil orang tersebut?" tanya Bima.
"Tenanglah. Nggak usah terlalu terburu-buru untuk mengejar wanita tersebut. Pelan-pelan saja jadi orang," jawab Dewa.
"Aku nggak mengerti dengan dirimu. Bisa-bisanya kamu sangat santuy menghadapi wanita itu. Cepat atau lambat orang itu akan membuat pasukan," ucap Ian.
"Maksudnya apa?" Tanya Dewa yang tidak paham dengan Ian.
"Wanita itu sangat kejam sekali. Dia akan melakukan banyak cara asal incarannya mati. Dia lebih kejam daripada Cathy. Hampir setiap hari dia berkeliling mengumpulkan gangster untuk membuat kekuatan baru. Ditambah lagi dengan kematian putrinya. Dia akan membalas dendam agar kita mati," jawab Ian yang mendapatkan informasi itu secara mendetail.
"Bagaimana dengan perusahaan Khans Company?" tanya Dewa.
"Belum aman. Nenek-nenek itu akan memporak-porandakan perusahaan tersebut. Setelah kematian Damar, nenek itu akan mencari seseorang untuk dijadikan pengganti Damar. Aku memang tahu masalah ini. Karena aku sendiri reset dan membaca masa lalunya," jelas Ian.
"Kapan orang itu akan menyerang perusahaan elite seperti Khans Company?" Tanya Dewa lagi.
"Selama ini belum ada. Tapi kalian berhati-hatilah. Cepat atau lambat orang itu akan melakukannya," jelas Ian yang tidak ingin teman-temannya panik.
"Oh ya satu lagi Aku lupa. Tolong semuanya dijaga perusahaannya dan keluarganya. Karena identitas kalian sudah berada di tangan si nenek-nenek itu. Jika kalian melakukan kesalahan. Maka yang berdampak buruk itu adalah perusahaan. Jika itu terjadi kita tidak bisa menanggulanginya lagi," jelas Ian yang baru mengetahui kabar dari nenek-nenek itu.
"Jika tidak mendapatkanku dia akan marah-marah seperti setan gitu ya?" tanya Sascha yang baru saja keluar melalui pintu utama.
"Ya kamu benar. Apa yang kamu katakan itu nyata. Cepat atau lambat dia akan menyerangmu begitu saja. Dia juga tidak akan melepaskanmu sebelum mendapatkan semuanya," jawab Ian yang membuat Sascha menghela nafasnya dengan kasar.
"Selalu saja begitu. Oke, akan aku hadapi nenek-nenek tua itu. Aku sudah mendapatkan hasil kejahatannya," kesal Sascha yang menunjukkan api amarahnya kepada nenek-nenek tua itu.
"Jangan pernah kamu hadapi nenek tua itu sendirian. Si nenek-nenek tua itu ternyata memiliki banyak kenalan gangster yang berada di Amerika," sahut Bima yang tidak ingin Sascha menyerangnya.
"Jadi itu masalah terbesarnya? Oke, kita tidak akan bisa tinggal diam seperti ini. Kita harus melakukannya satu persatu," ucap Sascha dengan licik.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan Sascha?" tanya Dewa yang menatap wajah sang istri.