Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BANYAK PENYUSUP.


__ADS_3

"Karena Black Tiger sering menggagalkan rencana si nenek sihir itu," jawab Tara yang masuk ke dalam sambil mencari senjata favoritnya itu.


"Apakah itu benar ma?" tanya Bryan.


"Ya itu benar. Sebulan terakhir ini mama sudah merencanakan semuanya. Mama sudah tahu kalau ada penyusup masuk ke dalam. Penyusup itu sudah mama tandai satu persatu. Tapi kalian sudah mengetahuinya. Terpaksa Mama menyerahkan kepada kalian untuk memburu mereka habis-habisan. Setelah ini mayatnya kalian kumpulkan dan kirimkan balik ke agen rahasia itu yang berada di Kanada. Mama ingin tahu reaksinya bagaimana?" jawab Tara dengan licik.


"Baik ma. Akan aku kerjakan setelah menghabisi mereka semuanya. Tapi papa menyuruhku menyisakan satu," ucap Bima.


"Nggak usah kamu sisakan. Mama sudah mendapatkan penyusup itu dan sekarang berada di ruangan bawah tanah. Dia yang sudah mengakui semuanya. Kalau Black Tiger akan diserang malam ini juga," jelas Tara yang sudah menemukan senjata andalannya itu.


"Bagaimana dengan Dewa?" tanya Bryan yang melihat sebuah senjata laras panjang.


"Biarkanlah saja Dewa. Dewa harus melindungi Aulia di kamar. Kamu tahu kenapa Dewa harus melindungi Aulia? Karena si nenek sihir itu sudah mengincar nyawa Aulia ketika berada di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Berhubungan kalian sudah membunuh putrinya itu. Jadi si nenek sihir gagal untuk membunuhnya. Begitulah kisah ceritanya si nenek sihir," jawab Tara yang tidak akan membiarkan menantunya dalam bahaya besar.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Tara. Mereka sengaja mengincar nyawa Sascha. Si nenek sihir itu tahu kalau Sascha pulang hari ini juga. Bahkan si nenek sihir telah mengirimkan seratus orang untuk masuk ke dalam kelompok Black Tiger.


Tara sebagai ketua sudah mengetahuinya ketika berada di Indonesia. Namun dirinya meminta para pengawalnya untuk tetap tenang. Tara tidak ingin mereka gegabah dan menangkapnya satu persatu. Biarkanlah mereka bersenang-senang dalam kelompok Black Tiger. Namun mereka tidak tahu kalau nyawanya sedang terancam dalam bahaya.


"Untung saja Sascha tidak berkeliaran kemana-mana," celetuk Bima.


"Aulia tidak akan kemana-mana jika waktu tidur siangnya belum selesai. Dewa memperlakukannya seperti bocah kecil. Dewa ingin sekali membuat Aulia nyaman berada di sisinya," sahut Tara.

__ADS_1


"Lama-lama Dewa bisa menjadi seorang ibu untuk Sascha. Jujur aku sendiri bingung dengan kelakuannya itu. Dewa yang dingin dan kejam ternyata sifatnya itu hilang seketika. Sekarang malah menjadi sangat protektif sekali kepada perempuan," puji Bryan.


"Ya begitu namanya pria kalau sudah menikah. Kamu nggak tahu ya kalau pria sudah menikah Bagaimana rasanya? Enak dan sangat ketagihan sekali untuk merasakan hangatnya ranjang ketika tidur semalam. Bahkan pria kejam manapun, tetap berubah jika Ada wanitanya yang sudah mencuri hatinya sendiri," jelas Bima yang paham dengan sifat pria.


"Makanya cepatlah kamu menikah Bryan. Nanti kamu akan merasakan menjadi pria yang benar-benar bingung dengan istrimu sendiri. Bisa jadi kamu bucin setengah mati sama dia," ucap Tara.


"Siapa yang mau sama aku ma? Setiap wanita yang aku dekati. Nggak ada yang mau sama aku. Jujur aku bingung untuk mendapatkan seseorang yang bisa membuatku bahagia seperti Dewa," ucap Bryan dengan jujur.


"Lalu, bukannya kamu dulu pernah pacaran dengan Maya?" tanya Bima.


"Maya siapa? Aku nggak memiliki pacar yang bernama Maya," tanya Bryan balik.


"Itu, Aulia kenal kok yang namanya Maya. Dulu pernah menjadi asistennya Tommy. Kamu mengejar-ngejar dia sampai dapat. Terus kamu putus hanya karena perbedaan pendapat saja. Ayolah Bray... Janganlah kamu munafik seperti itu. Nanti aku bilangin sama Aulia untuk menjodohkan kamu dengan Maya," jawab Bima yang membuat Tara terkejut.


"Sudah ma. Tapi putus lagi. Masa yang namanya pacaran berantem terus-terusan? Kan aneh ma. Siap ditanya Aulia jawabannya Pak Bryan memang agak brengs*k jadi orang. Yang namanya janjian. Mau pergi ke suatu tempat. Ngomongnya siap berangkat. Ditunggu sejam dua jam tiga jam... Eh baru balas. Jawabannya adalah maaf neng abang ketiduran," jawab Bima dengan jujur.


Tara yang mendengar jawaban Bima langsung tertawa terbahak-bahak. Jujur selama ini dirinya tidak tahu kalau Bryan adalah orang yang sangat unik sekali. Jadi Bryan memiliki suatu sifat yang di mana membuat semua orang menjadi gerah.


"Untung saja yah kalau kamu nggak janjian sama Dewa. Kalau kamu janjian sama Dewa. Terlambat seperti itu. Kamu yang digantung sama Dewa di tower," ujar Tara yang menghentikan tawanya sambil menatap anak asuhnya itu.


"Kalau sama Dewa sih mana berani ma? Terlambat sedikitpun langsung Dewa memblokir seluruh tabungannya," jelas Bima.

__ADS_1


"Kok mengerikan sekali ya?" Tanya Tara.


"Tenang saja ma itu tidak akan terjadi. Lagian aku sendiri juga tidak pernah membuat kesalahan. Aku bekerja pada waktu malam hari. Kalau siang hari memang aku khususkan untuk tidur. Dewa dan Aulia pun sudah tahu. Kalau butuh pasti malam. Kalau ada pertemuan mendadak, aku selalu bersedia menemui mereka. Untuk saat ini aku akan mengorbankan waktu tidurku untuk mengejar para penyusup," jawab Bryan.


Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka berharap bahwa penyusup bisa lenyap dari markas ini. Semakin lama hidup mereka, semakin tidak nyaman. Sebab masalahnya semakin meruncing ke mana-mana.


Sore pun tiba. Dewa masih menahan Sascha untuk di dalam kamar. Sebab dirinya khawatir dengan keselamatan sang istri. Dewa memiliki firasat kalau si nenek sihir itu telah menyuruh mereka untuk mengejar Sascha. Makanya ia lebih baik memilih untuk diam dan tidak kemana-mana.


"Kak, bisakah aku keluar sebentar?" tanya Sascha.


"Untuk saat ini kamu nggak usah keluar dari kamar. Si nenek sihir itu sedang mengejarmu dan ingin membunuhmu. Aku sudah mendapatkan informasi itu dari mama. Jadinya aku harus menjagamu dengan ketat," jawab Dewa.


"Oh jadi itu ya. Baiklah aku akan berperang dengannya melalui dunia bawah tanah. Aku sendiri memiliki banyak bukti yang belum pernah Kakak ketahui," ucap Sascha sambil menghempaskan bokongnya di ujung ranjang.


"Bagaimana kamu bisa berperang dengannya? Padahal kamu di sini nggak boleh ke mana-mana. Kamu tahu kalau si nenek sihir itu akan memakai banyak cara untuk menghancurkanmu," tanya Dewa.


"Tenang saja kak. Aku sudah memiliki banyak bukti yang di mana Kakak nggak tahu semuanya. Sekarang aku kirimkan ke email kakak deh," jawab Sascha yang meraih ponselnya di atas nakas.


Dewa pun menganggukkan kepalanya dan menuruti keinginan sang istri. Lalu ia menatap ke arah jendela. Tak berapa lama, Bima dan Bryan sedang berburu para penyusup itu. Dewa mengerutkan keningnya dan bertanya dalam hati. Berapa orang yang dikirimkan oleh nenek sihir itu ke markas ini?


"Yang, bisa nggak kamu menolongku untuk membobol si nenek sihir itu?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Membobol apa?" Tanya Sascha balik.


__ADS_2