Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RENCANA SASCHA.


__ADS_3

"Aku sudah siap,'' jawab Sascha.


"Kalau begitu,'' ucap Dewa yang mulai mendekat.


Gerre dan Chloe mundur beberapa langkah sejenak. Mereka melihat pemandangan manis antara Dewasa dan Sascha. Gerre merangkul Choel sambil tersenyum manis.


"Ini sebagai penyemangat buat kamu,'' ucap Dewa tersenyum manis sambil menyodorkan bunga mawar putih ke arah Sascha.


Mata Sascha berbinar seketika. Dengan senyumnya yang manis Sascha mengambil bunga itu sambil berkata, "Terima kasih kak.''


"Sama-sama,'' balas Dewa.


"Apakah kakak tidak menciumku?" tanya Sascha.


Dewa menggelengkan kepalanya sambil menoleh ke arah Gerre dan Chloe, "Ada mereka.''


Sejenak Sascha terdiam lalu menganggukan kepalanya. Akhirnya Sascha mengulurkan tangannya sambil mengajaknya, "Ayo.''


"Sebentar sebelum berangkat kalian sarapan dulu. Jangan biarkan perut kamu kosong,'' pesan Chloe.


"Iya... kalau perut kamu kosong, kamu enggak bisa bertarung menghadapi Theodore. Kamu tahu Theodore itu orangnya galak dan menyeramkan?" tanya Gerre yang membuka tabiat sang musuh.


"Aish... kalau aku boleh jujur, aku ingin berdebat sama kak Dewa saja. Aku malas berdebat Asama Theodore Yi apalagi nenek sihir itu,'' celetuk Sascha yang membuat mereka tertawa.


"Kamu tahu darimana kalau Rosita Yi adalah nenek sihir?" tanya Gerre


"Kan aku sudah lihat fotonya pa. Dandanannya mirip sekali sama nene sihir. Kemungkinan aku akan kalah,'' jawab Sascha dengan jujur.


"Kamu enggak akan kalah. Karena kamu adalah pemilik sah Master Corps. Kamu tahu dia yang membuat masalah dengan papa mertua kamu? Jadinya dia yang kena sendiri,'' ujar Gerre.


"Benarkah itu?" tanya Sascha.


"Itu benar. Maka sebelum berangkat kamu sarfapa dulu. Kalau tidak sarapan dulu maka kamu tidak kuat menghadapi tantangan pada pagi ini,'' ajak Gerre yang bijak.


Memang betul apa yang dikatakan dengan Gerre. Setiap pagi diusahakan sarapan pagi. Setelah sarapan pagi kita bisa menjalani aktivitas dengan baik. Jika tidak tubuh kita akan bergetar hebat dan tidak bisa menghadapi kenyataan pagi ini.


Mereka akhirnya memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Saat sarapan mereka kedatangan beberapa orang yang memakai pakaian formal. Mereka adalah pengacara yang siap mendampingi Sascha dan Dewa.

__ADS_1


"Tuan,'' panggil pelayan.


"Iya,'' sahut Gerre yang menaruh sendoknya sambil memandang pelayan itu.


"Ada Tuan Goerge di ruangan kerja,'' jawab pelayan itu.


"Oke tunggu sebentar,'' balas Gerre.


Mereka akhirnya melanjutkan makanannya dengan damai. Lima menit berlalu mereka sudah menyelesaikan makanannya. Kemudian Gerre mengajak Dewa dan Sascha pergi ke ruangan kerja. Sepanjang perjalanan Sascha mulai memikirkan, bagaimana caranya menyerang Theodore dan Rosita? Apakah ia memakai cara kekerasan atau memakai cara elegan?


Ceklek.


Pintu terbuka.


Mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan itu. Gerre melihat para pengacara yang sedang menunggunya. Sebelum acara dimulai, Goerge memberikan informasi kalau Theodore dan Rosita adalah orang paling berbahaya di kota New York.


"Gerre,'' panggil Goerge.


"Iya, ada apa?" tanya Gerre.


"Oh... jadi itu. Baiklah kalau begitu,'' balas Sascha yang sudah siap berperang.


Lalu Goerge menatap wajah Sascha yang sangat mirip sekali sama Gerre. Goerge tersenyum manis sambil bertanya, "Apakah gadis ini adalah Aulia.


"Iya... dia adalah Aulia Atmaja sang penerus Khans Company,'' jawab Gerre.


"Syukurlah,'' ucap Goerge bahagia.


"Apakah kamu mengingat Goerge?" tanya Gerre ke Sascha.


"Ya... aku ingat papa,'' jawab Sascha yang menatap wajah Goerge. "Dia adalah paman yang paling menyebalkan yang aku kenal. Setiap datang kesini sering sekali membuatku menangis.''


"Ya... kamu benar. Syukurlah kamu masih ingat,'' ucap Gerre.


"Aku sudah mendengar ceritaku menemukan putrimu dari Devan. Aku sangat terharu sekali mendengar berita itu,'' ucap Goerge.


"Ya... setelah ini kamu tidak boleh membuatnya menangis lagi, Jika kamu membuatnya menangis, kamu akan berhadapan dengan Dewa,'' sahut Gerre yang memperingatkan Goerge.

__ADS_1


"Apa?'' pekik Goerge yang membuat Gerre terkekeh.


"Anak gadisku sekarang milik Dewa,'' ungkap Gerre yang penuh kemenangan.


Sedangkan Dewa langsung menatap tajam ke arah Goerge. Dewa seakan-akan memperingatkan kalau Sascha adalah miliknya. Ia juga memperingatkan kepada Goerge untuk tidak macam-macam kepada Sascha. Melihat Dewa yang mulai menggila, Goerge hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Kemudian Goerge bergidik ngeri dan membuang wajahnya ke bawah. Jujur Goerge akui, Dewa adalah pria ganas.


"Uough... bapak anak sama saja. Sama gilanya sangat posesif sekali,'' rutuk Goerge.


"Kapan kita akan mengadakan rapat pemegang saham? Aku sudah tidak sabar mengakuisisi perusahaan itu,'' seru Sascha dengan semangat.


"Sekarang,'' jawab Goerge yang meragukan kemampuan Sascha.


"Kalau begitu kita berangkat!" ajak Dewa.


Mereka akhirnya berangkat bersama. Di dalam perjalanan mereka sedang dikawal oleh beberapa mobil berwarna hitam. Mereka adalah pengawal dari Black Tiger. Dewa memang sengaja meminta mereka untuk mengawal mereka khususnya Sascha.


Sesampainya di sana mereka berhenti di depan lobi. Sebelum turun Sascha memandang wajah Dewa. Sascha menghembuskan nafasnya secara kasar dan menetralkan degup jantungnya yang cepat. Sascha memegang tangan Dewa dan meremasnya.


"Kamu pasti bisa merebut Masters Corps dari mereka. Karena sekarang Master Corps adalah milik kamu. Kamu adalah CEO nya. Jadi kamu tidak boleh takut sama mereka,'' ucap Dewa yang memberikan semangat.


"Ya... memang perusahaan ini adalah milikku. Jadi aku harus mempertahankannya dan mulai menyingkirkan mereka. Kakak tahu kenapa aku ingin menyingkirkan mereka? Karena mereka telah korupsi secara besar-besaran,'' ucap Sascha.


"Maksudnya?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.


"Kakak diam saja ya nanti. Biar aku yang bekerja,'' pinta Sascha yang membuat DCewa mengangguk.


Entah apa yang akan dilakukan oleh Sascha kali ini. Apakah Sascha akan membuat ulah seperti semalam? Atau Sascha akan menjadi gadis manis? Kita lihat saja nanti.


Mereka akhirnya memutuska untuk keluar dari mobil. Sebelum melangkahkan kakinya Sascha memandang gedung tinggi itu. Sascha berencana akan merenovasi gedung ini menjadi modern tapi minimalis. Seketika Sascha ada ide, kenapa gedung itu dihuni oleh Masters Corps sendiri? Kenapa gedung itu tidak disewakan ke orang lain? Setelah mendapat ide itu Sascha akan menyimpannya dan akan dirundingkan ke Dewa.


"Ayo kita masuk!" ajak Dewa.


Mereka masuk dengan elegan namun mematikan. Sascha melihat sekitarnya dan di depan tidak ada orang sama sekali. Meja resepsionis pun kosong dan tidak ada penyambutan. Sascha mengambil tabnya lalu mengecek data-data milik Masters Corps. Tangan mungilnya sangat lincah ketika menari di layar tabnya itu. Mata Sascha menyipit lalu membaca semua informasi tersebut.


"Oh... meja resepsionisnya memang kosong. Mereka dipecat tidak hormat karena melakukan kesalahan sepele,'' ucap Sascha yang baru mengetahui meja resepsionis tersebut kosong.


"Masalah sepele apa?" tanya Dewa.

__ADS_1


__ADS_2