
"Menulis tentang kisah cinta kita yang cukup unik sekali," jawab Dewa yang mulai mengecup bibir seksi milik Sascha.
Ehmppp....
Suara des*h*n mulai keluar dari mulut Sascha. Dewa sangat berhasrat sekali mencium sang istri. Hingga akhirnya Dita memergoki mereka sedang beradegan mesra.
"Aduh... mataku tercemar," ucap Dita sambil menutup kedua matanya dengan tangannya dan membalikkan badannya.
Mendengar suara Dita, Sascha langsung mendorong dada Dewa dan melepaskan pelukannya. Lalu Sascha melihat Dita yang masih menutup matanya sambil menyapanya, "Dita."
Dita terkejut mendengar suara Sascha yang dekat. Lalu Dita menatap wajah Sascha dan menyapanya kembali, "Kakak."
Sascha merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum manis. Lalu Dita mulai berhambur ke dalam pelukannya sambil berteriak, "Kak Sascha."
"Iya... ini aku," sahut Sascha sambil tersenyum manis.
Tak sengaja Dewa melihat keakraban sang istri dan sang adik langsung memeluknya. Ia tidak menyangka sebegitu ya sang adik sangat akrab sekali sama Sascha. Lalu ia menuju ke sofa sambil menghempaskan bokongnya di sofa sambil menikmati pemandangan di depannya.
Ada senyum terukir dari bibir Dewa. Hatinya sangat damai melihatnya. Diam-diam Dita sangat menyayanginya dan menempatkan Sascha sebagai seorang kakak sangat spesial sekali.
Bagaimana dengan dirinya? Ia tidak merasa marah. Dewa sangat terbantu dengan kehadiran Sascha. Bahkan dirinya sendiri mengerti apa kata hati Dita dari sang adik.
Selesai berpelukan Sascha melihat Dewa sambil mengulas senyum. Ia memapah Dita lalu membantu Dita duduk dengan santai. Setelah itu Dewa meminta Dita menceritakan kronologinya. Bagaimana Dita sampai diperas oleh temannya itu.
"Bagaimana dirimu diperas oleh mereka? Ini sangat aneh sekali bagiku," tanya Dewa.
"Mereka sengaja memeras aku hanya demi uangku kak. Katanya mereka jika aku tidak memberikan uang. Mereka akan mengancamku untuk menyebarkan foto skandal," jawab Dita.
Sepasang suami istri itu menggelengkan kepalanya serempak. Apa yang dikatakan oleh Dita itu mereka tidak percaya. Sejauh ini Sascha berteman baik sama teman-teman Dita dari kalangan entertainment.
"Bisakah aku meminta akun sosial medianya? Atau nomor teleponnya? Atau fotonya? Aku ingin mencari identitas yang sebenarnya tentang orang itu," pinta Sascha.
"Aku akan memberikannya nanti. Para pelayan sudah mempersiapkan makan siang untuk kalian. Kalian makanlah terlebih dahulu. Kalian kan sangat lelah sekali. Makanya tubuhnya harus diisi makanan terlebih dahulu," ucap Dita yang memberikan nasehat.
Dewa menganggukkan kepalanya. Lalu mereka menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya.
Di tempat lain Fatin yang baru saja selesai makan siang memutuskan untuk tidur. Namun ketika ingin tidur, ada seorang wanita paruh baya masuk sambil menggebrak meja dengan kuat.
Brakkkkk!
__ADS_1
Fatin yang terlelap pun akhirnya memutuskan untuk bangun dan melihat wanita paruh baya itu. Ia segera bangun dan menyambut kedatangan wanita paruh baya itu pun.
"Cathy," Fatin memanggilnya dengan suara tercekat.
"Ya... ini aku," jawab Cathy nama wanita paruh baya itu.
"Bukannya kamu tinggal di New York?' tanya Fatin yang beranjak berdiri.
"Memang. Aku kesini untuk mengunjungi kamu. Kamu tidak pernah menghubungi semenjak kejadian menyelesaikan misi," jawab Cathy.
"Misi apa?" tanya Fatin.
"Jangan pura-pura tidak tahu deh," jawab Cathy.
"Misi apaan?" tanya Fatin yang tidak tahu dengan misi itu.
"Misi dimana aku menyuruhmu untuk menculik Aulia. Ternyata kamu tidak membunuhnya ya?" tanya Cathy.
Sejenak Fatin berpikir lalu mulai mengingat apa misi sebenarnya? Kemudian Fatin mengingat apa yang sebenarnya terjadi tentang misi tersebut.
"Iya... aku mengingatnya," seru Fatin. "Memangnya ada apa? Jujur aku tidak membunuhnya. Tapi aku membuangnya ke hutan."
"Kamu bodoh!" bentak Cathy.
"Satu kata yang akan tersemat dari dalam hidupmu adalah bodoh," jawab Cathy dengan wajah penuh amarah.
Melihat perubahan wajah Cathy, Fatin mulai bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa kok dirinya kena omel seperti ini? Lalu Fatin memutuskan untuk bertanya, "Ada apa?"
"Massa kamu enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Seharusnya kamu harus membunuhnya. Kenapa kamu membiarkan hidup?" tanya Cathy dengan suara meninggi.
"Firly yang membiarkan hidup. Jika dilemparkan ke hutan itu, kemungkinan besar Aulia tidak bisa selamat. kamu tahukan hutan itu sangat berbahaya sekali bagi anak kecil seperti Aulia anak manja itu," jelas Fatin yang mengetahui bagaimana hutan itu tidak bisa dilalui oleh orang lain.
"Kamu itu bodoh!" bentak Cathy lagi.
"Bodoh darimana sih? Sedari tadi bukannya tersenyum... malah membentukku?" tanya Fatin yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Cathy.
"Aulia masih hidup. Dia sekarang hidup sehat walafaiat," jawab Cathy yang membuat Fatin terkejut.
"Apa?" pekik Fatin yang menutup mulutnya.
__ADS_1
"Iya itu benar. Aulia mendatangiku bersama pria berambut pirang. Pria itu pernah menyebut nama Dita," jelas Cathy.
Sontak saja Fatin terkejut untuk kedua kalinya. Ia tahu siapa itu Dita. Jangan-jangan Fatin mulai berpikir kertas. Kalau Aulia adalah Sascha.
"Jangan-jangan Aulia adalah Sascha," celetuk Fatin yang membuat Cathy berpikir sejenak.
"Apa maksud kamu?" tanya Cathy.
"Aku hanya menebaknya," jawab Fatin.
"Berarti kamu mengenal pria itu?" tanya Cathy sekali lagi sambil menghempaskan bokongnya di sofa.
"Iya. Aku mengenalnya. Gara-gara pria itu aku tidak bisa memeras Sascha," jawab Fatin yang menuju ke dapur. "Aku akan membuatkan kamu minuman."
"Boleh," teriak Cathy. "Kalau bisa yang dingin ya," seru Cathy.
"Siap," balas Fatin yang membuat minuman untuk Cathy.
Sembari mengaduk Fatin mengerutkan keningnya.. Bagaimana bisa dirinya sangat dekat dengan Aulia alias Sascha dua tahun belakangan ini. Jika tahu, ia akan membunuhnya.
"Jika tahu Sascha salah Aulia aku pasti membunuhnya. Aku tidak akan mendapatkan bagian Khans Company!" geram Fatin dalam hati.
Setelah selesai membuat minuman, Fatin membawa minuman itu ke depan. Ia menghidangkan ke Cathy sambil menaruh nampan tersebut di bawah meja.
"Kenapa aku tidak menyadari kalau Sascha adalah Aulia?" tanya Fatin yang menghempaskan bokongnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Fatin.
"Ya... selama ini Sascha pernah menjadi kekasihnya putraku. Mereka menjalin hubungan selama dua tahun. Aku menyuruhnya untuk menikahinya. Karena Sascha bisa menjamin hidup aku. Kamu tahukan kalau aku adalah orangnya penyuka barang-barang branded?" keluh Fatin yang menyesali perbuatannya.
"Lalu? Apakah mereka menikah?" tanya Cathy yang penasaran.
"Mereka hanya bertunangan saja. Tapi putraku sangat bodoh sekali. Ia melakukan kesalahan. Yang dimana putraku berselingkuh dengan temannya Sascha," jawab Fatin dengan wajah menyedihkan.
"Andaikan kalau tahu berita tentang pertunangan Sascha dan putramu itu. Aku akan mendukungnya. Aku akan menyusun rencana untuk menjeratnya dan menikahkan mereka," sahut Cathy dengan sedikit kesal.
"Tapi aku tidak bisa melakukannya. Sascha dilindungi oleh Dewa. Kemana pun pergi Dewa selalu bersamanya.
"Siapakah itu Dewa?" tanya Cathy.
__ADS_1
"Dewa adalah sahabatnya. Yang dimana mereka sangat akrab sekali. Hampir setiap hari mereka selalu berbagi," jawab Fatin. "Yang anehnya dia menikah dengan sahabatnya itu. Jika tahu, aku akan membatalkannya."
"Lalu kamu tidak membatalkannya?" tanya Cathy yang sangat penasaran sekali.